Share

Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar
Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar
Author: Vanilla_Nilla

Bab 1 : Masa Subur?

Author: Vanilla_Nilla
last update Last Updated: 2025-09-22 18:02:24

“Ah, Mas~ Aku sedang masa subur. Apa kamu nggak mau makan aku aja?”

Tubuh Maura membeku. Tiba-tiba perutnya terasa mual.

Ia baru saja akan mengejutkan suaminya dengan sebuah pelukan dari belakang, tapi batal setelah mendengar suara dari ponsel sang suami. Seketika ia kaku, tidak mampu berpikir jernih.

Suara siapa itu? Kenapa terdengar familier?

Apakah suaminya selingkuh?

“Lho, Ra. Sejak kapan di sini?” Dimas, suaminya, tampak terkejut. “Nggak ada suaranya.”

Maura menggigit bibir. “Itu tadi siapa, Mas?”

“Siapa maksudmu?”

“Perempuan,” kejar Maura. “Yang kamu telepon.”

“Telepon…? Oh!” Dimas menghela napas. “Tadi pesan suara teman kerjaku. Salah kirim dia, harusnya ke suaminya.”

Maura mengernyit. Benarkah demikian? 

“Sudahlah. Kan kita mau makan malam. Duduk.”

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Karenanya, mereka menjadwalkan makan malam bersama.

Maura berangkat sendiri, karena Dimas langsung datang ke restoran langsung dari kantor. Ia berpikir, Dimas akan memberinya hadiah kejutan. Memang benar Maura terkejut setibanya di restoran, tapi kejutan ini tidak membuat suasana hatinya baik. Meski merupakan ketidaksengajaan.

Apalagi sepanjang malam malam, bukannya fokus berbincang, Dimas justru mengecek ponselnya terus-menerus.

“Mas, kenapa dari tadi pegang ponsel terus? Apa ada yang penting?”

Mendengar keluhan Maura, Dimas tersentak, lalu buru-buru meletakkan ponselnya di atas meja. “Nggak, cuma chat dari kantor,” jawabnya cepat.

Maura tersenyum hambar. Ia berusaha tidak merusak suasana, tapi hatinya mulai terasa gelisah. 

Dimas adalah suami yang baik, selalu memenuhi kebutuhan Maura hingga ia sepenuhnya bergantung pada Dimas. 

Namun, karena hubungan mereka tersebut, belakangan Maura menyadari bahwa suaminya berubah. Dari yang dulu hangat, pengertian, dan selalu ada untuknya, kini Dimas menjadi sosok yang lebih pendiam dan terasa jauh.

Yang paling membuat Maura gelisah, Dimas kini hampir tak pernah lepas dari ponselnya. 

Dengan pesan salah sambung tadi, makin besarlah kecurigaan Maura.

“Aku ke toilet dulu sebentar,” ucap Dimas seraya berdiri dari kursi.

Sementara itu, Maura hanya menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang menuju arah toilet. Helaan napasnya terdengar berat, mencoba menahan kecewa yang sejak tadi berputar di dada.

Beberapa detik kemudian, suara getar ponsel Dimas di atas meja menarik perhatiannya.

Dengan ragu, Maura meraih ponsel itu. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia sempat menatap sekeliling, memastikan Dimas belum kembali.

Tangannya bergetar saat ia mencoba memasukkan tanggal hari jadi mereka. Namun, layar menampilkan tulisan ‘sandi salah’.

Kening Maura berkerut. Ia mencoba lagi. Tetap salah. Sekali lagi ia mencobanya, tapi hasilnya sama.

Ponsel itu kini terkunci, dan di layar tertulis peringatan agar menunggu beberapa menit sebelum bisa mencoba lagi.

Maura mematung. Tatapannya kosong menatap layar ponsel itu. ‘Apa Mas Dimas mengganti sandinya?’

“Maura, apa yang kamu lakukan dengan ponselku?”

Suara bariton Dimas terdengar tiba-tiba, membuat Maura tersentak kaget. Ia menoleh cepat, menemukan suaminya sudah berdiri di samping meja dengan ekspresi tajam. Lelaki itu, dengan kemeja berwarna biru navy yang masih rapi, langsung meraih ponselnya dari tangan Maura dengan cepat.

“M–Mas … tadi ponsel kamu berdering. A–aku cuma mau memastikan siapa yang kirim pesan,” ucap Maura terbata.

Dimas menatap Maura tajam. “Lancang sekali kamu berani membuka ponselku.”

“Mas, aku belum membukanya,” bela Maura cepat. “Kata sandinya salah. Sejak kapan kamu mengganti sandi ponselmu?”

Bukannya menjawab, tatapan Dimas malah semakin keras. Rahangnya mengeras menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

Melihat itu, Maura terpaku, hatinya semakin gelisah. Ia tidak mengerti kenapa Dimas begitu marah hanya karena ia ingin memastikan siapa yang mengirim pesan. Bukankah itu hal wajar bagi seorang istri yang cemas pada suaminya sendiri?

“Mas, kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa aku salah hanya karena ingin tahu siapa yang mengirimmu pesan?”

Dimas menarik napas berat, lalu berkata dingin, “Dengar, Maura. Aku tidak ingin kamu mengusik privasiku.”

Maura terdiam sejenak, menatap suaminya tak percaya. 

“Apa?” ucap Maura getir. Tatapannya tajam, tapi ada air bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya, menahan perih yang tak bisa lagi ia sembunyikan. 

“Sudahlah, Maura. Aku tidak ingin bertengkar dengan kamu.” Nada suara Dimas terdengar dingin, tapi cukup keras untuk menarik perhatian beberapa pengunjung di meja sekitar. “Apa kamu tidak malu? Sedari tadi orang-orang melihat kita.” Ia menghela napas berat, lalu melanjutkan, “Dan satu lagi, aku sudah bilang berapa kali sama kamu kalau aku cuma chat-an karena urusan kerja. Hanya kerja, Maura.”

“Tapi, Mas. Pesan tadi–”

“Jangan mengada-ada!” potong Dimas cepat, kali ini dengan nada yang lebih tajam. “Tadi kan aku sudah jelaskan. Pokoknya aku tidak ingin buang-buang waktu di sini, apalagi cuma untuk bertengkar dengan kamu.”

Tanpa menunggu tanggapan, Dimas meraih jasnya yang tersampir di kursi, lalu melangkah pergi meninggalkan meja mereka. Suara langkahnya terdengar tegas di lantai marmer restoran, meninggalkan aroma wangi kopi dan makanan yang belum sempat disentuh.

Maura sontak berdiri, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit yang membuat beberapa pasang mata menoleh. Ia menatap punggung suaminya yang kian menjauh, lalu berlari mengejarnya.

“Mas! Mas, kamu mau ke mana?” seru Maura dengan napas yang mulai berat. Tangannya berusaha meraih pergelangan tangan Dimas, tapi lelaki itu justru menepisnya pelan, tanpa menatapnya sama sekali.

“Aku ada urusan penting di kantor.”

“Mas, hari ini–”

“Aku tidak ada waktu. Kamu pulang naik taksi aja.” Dimas menarik napas berat. “Dasar perusak suasana.”

Maura menggigit bibirnya, menahan perih yang mulai naik ke tenggorokan. “Tapi Mas … ini sudah malam. Apa kamu tega membiarkan aku pulang sendirian?”

“Sudahlah, Maura! Kenapa sih kamu jadi wanita begitu manja? Aku ini mau kerja, bukan jalan-jalan. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan!”

Kalimat itu menghantam Maura lebih keras daripada angin malam yang menusuk kulitnya.

Dimas langsung membuka pintu mobil, masuk tanpa sepatah kata pun. Suara pintu yang tertutup terdengar begitu keras di telinga Maura.

“Manja … aku?”

Dada Maura terasa perih, begitu sesak hingga napasnya nyaris tak beraturan. Kata-kata Dimas terus terngiang di kepalanya. Ia memejamkan mata, menahan air mata yang mulai mendesak keluar.

Mobil yang dikendarai Dimas sudah lenyap di tikungan, hanya menyisakan cahaya lampu belakang yang perlahan meredup, lalu hilang sama sekali. Sementara Maura berdiri di bawah langit yang mulai meneteskan hujan, menatap kosong ke arah jalan yang sama, jalan yang dulu dengan bangga ia pilih demi seorang lelaki yang kini bahkan tak sudi menatapnya.

Hatinya terasa remuk. Ia menunduk, memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil. Hujan turun semakin deras.

Namun di antara suara hujan yang menenggelamkan segalanya, tiba-tiba sebuah payung hitam perlahan terbuka di atas kepala Maura.

Maura mendongak menatap ke arah payung hitam yang tiba-tiba terbuka di atas kepalanya. Netra coklat wanita itu perlahan beralih pada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Ia tersentak kaget saat mendapati Revan, kakak iparnya, tengah berdiri di sana. Spontan Maura buru-buru bangkit.

“Kak Revan …” gumam Maura dengan suara bergetar.

“Kenapa hujan-hujanan seperti ini? Di mana Dimas?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 126: Rintangan yang Tak Terduga

    "Aku sudah menunggu kamu selama bertahun-tahun, Maura. Aku selalu ada di sisimu ketika kamu kesusahan, bahkan ketika kamu masih bersama Dimas! Semua ini aku lakukan karena cinta padamu!"Maura menundukkan kepalanya, tidak berani melihat wajah Revan yang kini penuh dengan kemarahan. "Aku tahu itu, Revan ... aku sangat menghargai semua yang kamu lakukan untukku. Tapi aku tidak bisa menerima cintamu seperti ini."Gadis itu mengangkat pandangannya perlahan, matanya sudah mulai berkaca-kaca. "Kita tidak bisa bersama karena aku masih belum bisa melupakan semua yang telah terjadi. Aku baru saja keluar dari hubungan yang menyakitkan, dan aku tidak ingin memasuki hubungan baru hanya karena merasa terluka dan butuh sandaran. Itu tidak adil bagimu, dan tidak adil juga bagi diriku sendiri."Revan berdiri dengan cepat, mengusap rambutnya dengan tergesa-gesa karena rasa frustrasi. "Jadi apa maksudmu? Kamu akan sendirian selamanya? Atau kamu masih menyimpan perasaan untuk Dimas meskipun dia telah me

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   Bab 125 : Tidak Mungkin Bersama

    Dimas langsung melihat ke arah Maura, matanya berkaca-kaca dengan air mata yang menahan diri. Ia berusaha mendekat, langkahnya terengah-engah dan kaki-kakinya terasa lemah seolah tidak bisa menopang berat tubuhnya. Jas hitamnya sudah kusut, dasinya terlepas sedikit dari kerah bajunya, dan wajahnya tampak pucat tanpa warna. "Maura ... Sayang ..." panggilnya dengan suara yang serak, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan malam. "Aku mohon maafkan aku ... tolong jangan tinggalkan aku ... kita bisa menyelesaikan ini bersama, kan? Aku akan berubah, aku janji!" Dimas melangkah lebih jauh, hendak meraih tangan Maura yang masih terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan. Namun sebelum jarinya bisa menyentuh pakaiannya, tangan kuat Revan menahannya. "Dimas," ucap Revan dengan suara yang tenang, tidak ada rasa kemarahan di wajahnya, hanya kesadaran bahwa saatnya sudah tiba untuk mengakhiri segalanya. "Kak Revan?!" ucap Dimas kaget, tidak menyangka bahwa kakaknya sendiri yang menghalan

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 124 : Pengampunan yang Mengharukan

    Nabila langsung memeluk Maura dengan erat, tubuhnya bergoyang karena tangisan yang menghantam. "Maaf, Ka ... maafkan aku ... hanya ini yang bisa aku katakan. Aku merasa aku wanita paling jahat di dunia ini ... karena sudah merusak kebahagiaan Kak Maura yang sudah begitu baik padaku." Air mata Nabila jatuh menggelinding begitu saja, membasahi bibirnya yang berwarna merah dan bagian bahu gaun Maura yang berwarna cream. Tangannya erat menggenggam lengan kakak sepupunya itu, seolah takut jika Maura akan menjauh darinya. "Kalau saja aku bisa memutar waktu," lanjut Nabila dengan suara yang serak karena menangis, "aku pasti tidak akan pernah menyetujui ketika Dimas mulai mendekatiku. Aku akan menjauh darinya dan selalu merindukan kebahagiaan Kak Maura. Aku akan memilih untuk fokus pada kuliah dan masa depanku sendiri, bukan terjebak dalam hubungan yang salah dan merusak orang lain." Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Aku tahu tidak ada kata maaf yang bisa membayar s

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 123: Tandatangan yang Beracun

    "Tidak! Ini semua tidak mungkin! Aku tidak mungkin menandatangani semua ini!" Dimas menggelengkan kepalanya dengan cepat, tubuhnya bergetar hebat saat mengambil amplop dari meja dan membukanya dengan tergesa-gesa. Ketika lembaran surat cerai terbuka di hadapannya, matanya langsung melebar tak percaya — di sana jelas terlihat tandatangan khasnya yang ia kenal sangat baik, tepat di kolom yang sudah disediakan. Bagaimana bisa ada tandatangannya di atas kertas tersebut? Keringat dingin menyelimuti punggungnya, dan pikirannya mulai berjalan cepat mencari jawaban. Ia menutup mata sejenak, mencoba mengingat setiap momen di mana ia pernah menandatangani berkas penting tanpa membacanya terlebih dahulu. Lalu ingatannya tiba-tiba terbuka. Ia mengingat saat pertama kali pindah ke rumah baru, sekitar enam bulan yang lalu. Maura telah mengatur semua urusan administrasi rumahnya sendiri, dan pada hari itu ia menyerahkan sebuah berkas putih. Tanpa berpikir panjang dan tanpa membaca satu kata p

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 122: Pemujaan yang Runtuh

    Cornelia bergetar hebat saat melipat-lipat hasil tes DNA dan catatan harian yang ada di dalam amplop. Tangannya gemetar setiap kali membuka lembaran kertas yang menjadi bukti kebenaran apa yang telah dikatakan Nabila. Wajahnya yang biasanya penuh kedamaian kini tertutup kesedihan yang mendalam. "Tidak ... ini semua tidak mungkin ..." bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa mempercayai bahwa anaknya yang telah dia besarkan dengan cinta dan kasih sayang ternyata mampu melakukan hal yang begitu menyakitkan. "Ma ..." gumam Dimas dengan suara yang lembut, mendekat perlahan ke arah ibunya. Matanya penuh dengan ketakutan dan harapan bahwa Cornelia masih akan membela dirinya. "Diam kamu, Dimas!" pekik Cornelia dengan suara yang menusuk hati, membuat seluruh ruangan kembali menjadi sunyi. Wajahnya memerah karena kemarahan yang sudah tidak bisa ditahan lagi. "Sekarang katakan padaku — apa semua ini benar?! Jangan kau berbohong padaku lagi

  • Dalam Dekap Hangat Kakak Ipar   BAB 121: Pertikaian yang Tak Terhindarkan

    "Aku ... juga tengah hamil anaknya!" Perkataan Nabila seperti kilatan petir yang menghantam langsung hati setiap orang di ruangan. Suara bisik-bisik yang tadinya meriah tiba-tiba hilang, digantikan oleh keheningan yang menusuk hati. Beberapa tamu menjatuhkan barang yang mereka pegang, sementara yang lain menutup mulut dengan tangan tak percaya. Cornelia bahkan hampir jatuh jika tidak segera ditopang oleh salah satu tamu yang berada di dekatnya. Begitu juga dengan Dimas — wajahnya yang sudah pucat kini semakin memucat, matanya melotot ke arah Nabila dengan ekspresi penuh kemarahan. Wanita itu benar-benar sudah lancang hingga menjatuhkan dirinya di depan semua orang, pikirnya dengan penuh kemarahan. 'Apa Nabila sudah lupa dengan ancamanku dulu? Bahwa jika dia memberitahu siapapun tentang hubungan kami dan anaknya, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya?!' "TIDAK BENAR!" hardik Dimas dengan suara yang mengguntur, melompat dari panggung dan mendekat dengan cepat ke arah Nabila.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status