Share

bab 106

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-02-28 23:17:16

Aku tahu. Dan kebencianmu itu justru membuatmu jauh lebih menarik daripada saat kau mencintaiku."

Cengkeraman William di dagu Sasha mengeras, lalu melonggar perlahan. Sasha menatap matanya yang gelap, melihat bukan hanya kendali, tapi juga kekejaman yang bersembunyi di baliknya. Kebencian, William bilang?

“Ya”, batin Sasha. “Aku membencimu, dan kebencian ini akan menjadi api yang membakarmu.”

Ia menarik napas, mencoba menenangkan diri. Demi Nenek. Demi bayi ini. Ia harus bermain peran.

"Baikla
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   242

    Clarissa melirik jam dinding di luar bilik. "Malam ini Raka mengadakan pesta privat untuk para kolega bisnisnya di lantai atas kelab. Aku dipaksa kembali melayani di sana. Aku akan mencari cara untuk mengirimkan seseorang yang bisa kupercaya untuk mengambil dokumen itu darimu. Kirimkan kontrak itu ke alamat yang akan kukirimkan lewat pesan singkat dari nomor acak nanti. Bisakah kamu melakukannya, Sasha?""Aku berjanji, Clarissa. Jaga dirimu baik-baik sampai malam ini.""Terima kasih, Sasha."Clarissa menutup telepon dengan cepat sebelum kedua pengawalnya mulai curiga. Ia keluar dari bilik dengan wajah setenang air, mengembuskan napas panjang seolah-olah ia baru saja menyelesaikan percakungan singkat dengan ibunya.Malam kembali merayap, membawa kembali hiruk-pikuk yang memekakkan telinga ke dalam kelab malam Raka. Lantai paling atas, yang semalam menjadi saksi kebrutalan Raka dan intimidasi dingin William, kini telah disulap menjadi ruang pesta privat yang dipenuhi oleh asap cerutu, t

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 241

    Pagi itu, distrik hiburan malam telah sepenuhnya mati. Lampu-lampu neon yang semalam berkedip genit kini padam, menyisakan bangunan-bangunan beton yang tampak kusam di bawah siraman matahari pagi. Di dalam kamar privatnya, Clarissa berdiri di depan cermin besar. Ia menatap lekat-lekat pantulan dirinya yang mengenakan kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Sebuah pilihan sengaja untuk menyembunyikan memar keunguan di rahang dan bekas cengkeraman di lehernya.Ia memoleskan bedak tipis untuk menyamarkan pucat di wajahnya, lalu memulas lipstik merah samar pada sudut bibirnya yang pecah. Rasa perihnya masih ada, menjalar hingga ke ulu hati, namun Clarissa tidak meringis. Rasa sakit fisik tidak lagi sebanding dengan dinginnya tekad yang kini membeku di dalam dadanya.Saat ia memutar knop pintu, dua orang pria berbadan tegap sudah berdiri tegap di lorong. Mereka adalah anak buah Doni yang diperintahkan langsung oleh Raka untuk melekat padanya bagai bayangan."Mau ke mana, Clarissa?" tanya

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 240

    Clarisa terhuyung, matanya nanar memandang Raka. Dia tak menyangka, lelaki yang dulu ia bantu keluar dari penjara justru kini memperlakukan dia bak binatang."R-Raka....." bentak Clarissa, melangkah mundur hingga punggungnya membentur pintu. Tubuhnya bergetar hebat. "Kau tahu, Clarissa... aku paling benci ketika ada wanita kotor yang mencoba bertingkah pintar dan mengemis pada orang lain," ucap Raka, suaranya rendah namun sarat akan ancaman. Ia mencengkeram rahang Clarissa dengan kasar, memaksa wanita itu menatapnya. "Kau pikir dengan menangis di depan Sasha, kau bisa lepas dari tangan William ? Kau lupa siapa yang memiliki hidupmu saat ini?""Lepas!." jerit Clarissa murka.Plak! Raka kembali membuat Clarisa merasakan perih."Kau ingin keluar dari pekerjaan malam, kan? Kau ingin dibebaskan?" Raka tersenyum sinis, sebuah seringai kejam yang membuat darah Clarissa berdesir dingin. "Maka malam ini, kau harus membayar harga untuk kelancanganmu."Tanpa memedulikan tangisan dan penolakan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 239

    Malam kian larut, namun atmosfer di kediaman William Danuarta masih menyisakan ketegangan yang pekat. William tidak memberikan jawaban pasti pada Sasha. Pria itu memilih melangkah pergi, meninggalkan istrinya yang terpaku dalam kecemasan. Bagi William, logika selalu berada di atas segalanya. Dan malam ini, logika hukum serta bisnisnya mengatakan bahwa membiarkan Clarissa lepas begitu saja adalah sebuah kebodohan yang bisa mengancam ketenangan mereka.Tanpa mengganti pakaian kerjanya, William mengambil kunci mobil di meja lobi. Kilat matanya dingin, memancarkan aura intimidasi yang biasa ia gunakan untuk meruntuhkan mental lawan-lawannya. Ia tidak akan menunggu sampai besok pagi. Baginya, setiap ancaman, sekecil apa pun itu, harus segera dipetakan, dikendalikan, dan diputus jalurnya.Mobil sedan hitam milik William membelah jalanan kota yang mulai sepi, menuju ke sebuah kawasan elit di mana distrik hiburan malam papan atas berada. Tujuannya hanya satu: sebuah kelab malam eksklusif mil

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 238

    "Sha, aku mohon. Aku janji akan melakukan apapun yang kamu minta. Aku gak kuat kerja di tempat malam seperti pekerjaan kamu dulu. Ini sangat menyiksa,” Isak Clarissa.Sasha menatap Clarissa yang masih bersimpuh di hadapannya. Emosi di dalam dada Sasha bergejolakperpaduan antara sisa rasa sakit hati masa lalu dan rasa kemanusiaan yang menolak untuk abai. Setelah keheningan yang mencekam ego Clarissa, Sasha akhirnya mengembuskan napas panjang."Clarissa, dengarkan aku baik-baik," kata Sasha, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan.Clarissa menahan napasnya, menatap Sasha dengan mata sembap yang dipenuhi secercah harapan."Aku akan membantumu. Tapi aku gak tahu apa William setelah ku atau tidak. Jadi, aku akan_”Mendengar hal itu, wajah Clarissa langsung berbinar. "Sha, terima kasih... terima kasih banyak—""Jangan memotong kalimatku dulu," sela Sasha dingin, membuat Clarissa kembali terdiam.Sasha melangkah satu langkah maju, menunduk untuk men

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 237

    Malam itu, kediaman William tampak begitu tenang di bawah temaram lampu taman yang tertata rapi. Di dalam rumah, Sasha baru saja selesai membacakan dongeng sebelum tidur untuk Arlan. Setelah memastikan anaknya itu terlelap dengan nyenyak, Sasha melangkah turun ke lantai bawah. Ia mengenakan piyama satin panjang yang nyaman, berniat mengambil segelas air hangat di dapur. Namun, ketenangan itu mendadak pecah saat bel gerbang depan berbunyi berkali-kali dengan nada yang tidak sabaran.Sasha mengernyitkan dahi. Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. William sedang ada pertemuan bisnis darurat di luar kota dan baru akan kembali besok pagi. Siapa yang bertamu selarut ini?Dengan kewaspadaan penuh, Sasha berjalan menuju interkom di dekat pintu utama yang terhubung dengan kamera gerbang depan. Ketika layar menyala, jantung Sasha berdesir agak tajam. Di sana, berdiri seorang wanita dengan penampilan yang sangat berantakan. Rambutnya yang biasanya ditata rap

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 77

    Langkah Sasha terhenti. Ia menoleh perlahan, memberikan senyum tipis yang mematikan. "Terdengar bagus. Mungkin. Tapi setidaknya, saat hari itu tiba, aku akan memastikan kalian sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditangisi. Nikmati hidup barumu di pinggiran kota, Clarissa. Aku dengar apartemen mura

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 76

    Fajar menyingsing di cakrawala Jakarta, membawa semburat warna jingga yang membasuh kaca-kaca gedung pencakar langit. Di dalam penthouse mewah itu, cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden sutra, menerangi sisa-sisa pergulatan panas semalam. Sasha terbangun dengan rasa pegal yang

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 75

    Bram berdiri mematung di tengah parkiran yang mulai sepi, sementara deru mesin mobil mewah William perlahan menjauh, meninggalkan kepulan asap yang seolah mengejek kehancurannya. Dunia di sekitarnya terasa berputar. Syarat yang diberikan William bukan sekadar pilihan, itu adalah eksekusi mati bagi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 72

    Setelah konferensi pers yang brutal itu, William membawa Sasha ke sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai tertinggi gedung miliknya. Ruangan itu luas, dingin, dan minimalis cerminan sempurna dari pemiliknya.William melempar jasnya ke sofa kulit dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status