Share

bab 105

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-02-28 23:06:50

Sasha berlutut di depan kloset, memuntahkan cairan bening yang terasa pahit di pangkal tenggorokannya. Tubuhnya menggigil hebat, bukan karena dinginnya lantai ubin, melainkan karena sebuah kesadaran horor yang mendadak menghantam kewarasannya. Ia mencengkeram pinggiran wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin yang retak. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, dan bibirnya membiru.

Ia menghitung dalam hati. Satu minggu. Dua minggu. Tiga minggu.

"Tidak," bisiknya, suaranya parau dan pecah. "Tuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 157

    “Papa? Apa dia_”“Ya, dia membohongiku dengan Kematianmu. Dan kamu tahu? Ayahmu tengah membual dan memanfaatkan semuanya demi bisa bahagia bersama anak dan istrinya. Benar benar kebohongan yang luar biasa.Sasha menggelengkan kepala, air mata kini deras mengalir membasahi pipinya yang tirus. Sungguh fi luar prediksi jika ayahnya benar benar memanfaatkan semua keadaan ini. "Lalu sekarang apa? Kau menjadikanku tawanan? Kau menggunakan Arlan untuk membalas dendam?""Arlan adalah anakku. Dia berhak mendapatkan fasilitas terbaik, pendidikan terbaik, dan nama belakang yang sah. Itu bukan balas dendam, itu adalah restorasi," William mencondongkan tubuh, tatapannya menghunus tepat ke manik mata Sasha yang bergetar. "Tapi kau... kau hanyalah 'bonus' yang harus kupelihara agar Arlan tidak rewel. Jangan merasa dirimu terlalu penting hingga aku harus repot-repot menyusun rencana balas dendam yang rumit."Kata-kata itu bagai sembilu yang menyayat jantung Sasha. Ia tak tahu William berbohong. Jika

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 156

    "Halo, Jagoan. Sudah merasa lebih baik?"“Lumayan, Om sepatu kaca juga baik kah? Kata Mama, Om juga sakit!”“Sepertinya mama kamu salah, Om baik baik saja. Kamu lihat sendiri. Om sehat kan? Bahkan Om bawa hadiah buat kamu.”Mata Arlan membelalak melihat mainan itu. "Wah! Ini untuk Arlan, Om?""Tentu. Kamu senang?”“Senang, makasih, Om.”“Sama sama. Dan mulai besok, panggil Om Papa. Ya?”“Papa?” Arlan tampak bingung, bahkan dia sampai menengok ke arah Sasha. “Emang boleh, Ma, panggil Om sepatu kaca dengan Papa?”Sasha hanya membuang muka, menolak permintaan Willliam sama saja mencari mati.“Kenapa gak boeh? Kamu memang anakku.”“Iyakah? Tapi kata mama, aku gak punya ayah.”“Mulai sekarang, Om akan jadi ayahku.”Arlan tampak takut tapi William memeluknya. “Mamamu sudah memintamu ikut dengan Om. Nanti kamu tidak akan tinggal di kamar sempit lagi. Kamu akan punya kamar yang besarnya seperti lapangan bola, lengkap dengan kolam renang di luar jendelamu. Kau mau?"Arlan menoleh ke arah ibuny

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 155

    "Kemiskinan bukan alasan untuk merampas seorang anak dari ibunya!” suara Sasha bergetar, tertahan di antara isak tangis yang mulai pecah. Ia berdiri tegak, meski kakinya terasa seperti jeli di hadapan tatapan tajam William yang menghunjam.William tersenyum menang, sebuah suara penuh amarah yang menyayat udara dingin di ruang ICU tersebut. "Lalu apa alasanmu? Cinta? Cinta tidak membayar tagihan rumah sakit ini, Sasha. Cinta tidak menyediakan sumsum tulang belakang yang baru saja aku berikan. Kau menyebutnya perampasan, aku menyebutnya hutang."Ia memutar roda kursi rodanya sedikit, mendekat ke arah ranjang Arlan yang masih terlelap dalam pengaruh sisa pembiusan. Matanya yang dingin sesaat melunak ketika menatap bocah itu, namun kembali membeku saat ia mendongak menatap Sasha."Kau memalsukan kematianmu, menghilang selama bertahun-tahun, dan membiarkan darah dagingku tumbuh di lingkungan yang bahkan tidak layak untuk anjing peliharaanku. Kau pikir aku akan membiarkannya kembali ke sana

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 154

    Prosedur transplantasi pada Arlan sedang berjalan, Pak William. Anda harus istirahat," ujar seorang perawat.Namun, William bukanlah pria yang mudah diperintah. Dengan keras kepala, ia meminta kursi roda. Ia menolak untuk tetap berbaring sementara ada sebuah nyawa yang kini membawa bagian dari dirinya di tubuh lain.Malam telah larut ketika William, dengan wajah pucat dan keringat dingin di dahi, didorong oleh perawat menuju ruang perawatan Arlan. Di sana, Sasha sedang duduk di samping ranjang, menggenggam tangan kecil yang terpasang infus.Arlan masih belum sepenuhnya sadar. Wajah bocah itu sangat pucat, hampir menyatu dengan warna sprei rumah sakit. Namun, alat pemantau jantung di sampingnya menunjukkan irama yang lebih stabil dari sebelumnya."Sasha," panggil William lirih.Sasha menoleh, terkejut melihat William sudah berada di sana dengan kursi roda. Ia segera berdiri dan mendekat. "Pak, Anda seharusnya istirahat. Dokter bilang Anda kehilangan banyak energi.""Diamlah," potong W

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 153

    Sasha mengikuti langkah lebar William keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Lorong gedung fakultas yang sepi di sore hari itu terasa begitu panjang. Setiap langkah kaki William yang terburu-buru seolah-olah sedang mengejar waktu yang hilang selama lima tahun, sekaligus melarikan diri dari ketegangan intim yang baru saja meledak di antara mereka.Di dalam lift, keheningan kembali menyergap. William berdiri tegak, menatap angka-angka yang bergerak turun di layar digital dengan rahang yang mengeras. Ia sama sekali tidak menoleh pada Sasha, seolah-olah sentuhan panas di atas meja kerja tadi hanyalah sebuah halusinasi sesaat yang memalukan."Rumah Sakit Medika. Lantai empat, bangsal anak," suara Sasha memecah kesunyian, nyaris berbisik.William hanya mengangguk singkat, kunci mobil di tangannya berdenting pelan.Begitu sampai di parkiran, William membukakan pintu mobil SUV hitamnya dengan gerakan kasar. Sepanjang perjalanan, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyalip

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 152

    "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya William. “Maaf, Pak. Saya…”“Saya pikir kamu sudah mati. Ternyata, kamu dan ayahmu sama saja. Penipu!” Suara William terdengar rendah, datar, namun ada getaran keterkejutan yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata maaf. Hanya nada interogasi yang masih sama arogannya seperti dulu. Bahkan sengaja menggunakan sikap arogansinya agar Sasha takut padanya.Sasha mengepalkan tangannya di samping tubuh, kuku-kukunya memutih karena menekan telapak tangan. "Maaf jika saya mengganggu, saya tidak akan datang jika ini bukan masalah hidup dan mati, Pak."William mengangkat sebelah alisnya, sebuah seringai tipis yang dingin muncul di sudut bibirnya. "Hidup dan mati? Dramatis sekali, Sasha. Setelah menghilang tanpa kabar dan memutus semua akses, sekarang kau muncul di depan ruanganku bicara soal tragedi?"Ia memberi isyarat kepada asisten dosennya untuk pergi, lalu beralih kembali pada Sasha. "Masuklah. Aku tidak ingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status