Share

bab 159

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-04-04 23:59:25

Sasha memekik, matanya terbelalak. Rasa penuh dan sesak itu seketika mengambil alih seluruh kesadarannya. Sudah terlalu lama. William berhenti sejenak, membiarkan tubuh Sasha beradaptasi dengan ukurannya.

"Kau masih sesempit dulu," geram William, urat-urat di lehernya menegang.

Ia mulai bergerak, awalnya perlahan dan dalam, kemudian semakin cepat dan bertenaga. Setiap tumbukan membuat meja ek itu berderit, suara yang beradu dengan napas mereka yang memburu. William mencengkeram pinggul Sasha, m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Gessa Nastria Nasim
dasar william super gengsi, akuin aja lu cinta mati sama sasha..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 183

    William menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya. Ia meraih ponsel di atas meja dan menekan nomor Hendri."Hendri," panggilnya saat panggilan tersambung."Iya, Pak?""Pastikan Ibu Mirna tidak benar-benar mengunci pintu kamar Arlan. Beri tahu dia, jika Sasha masuk untuk melihat anaknya di malam hari, biarkan saja. Tapi jangan sampai dia tahu itu atas perintahku. Jika dia bertanya, katakan itu kelalaian Mirna yang lupa mengunci pintu."Hendri terdiam sejenak di ujung telepon, memahami kerumitan emosi tuannya. "Baik, Pak. Apa ada lagi?""Kirimkan dokter pribadi keluarga besok pagi ke rumah. Katakan ini untuk pemeriksaan rutin Arlan, tapi aku ingin dokter itu juga memeriksa kondisi fisik Sasha. Pastikan dia tidak kekurangan nutrisi atau mengalami memar yang serius. Lakukan dengan diam-diam."William menutup telepon tanpa menunggu jawaban. Ia kemudian melangkah ke lemari kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah kotak obat yang berisi salep pereda nyeri otot dan memar. Ia tahu ce

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 182

    William tidak menoleh. Jari-jarinya mengetuk meja dengan irama yang membosankan. Sasha mendekat dan menatap William penuh harap.“Kamu ke manakan Ibu Lastri? Kamu jangan lupa, Will. Dia yang selama ini menjaga anak kita.”Kali ini William menoleh, menaikan dagu Sasha yang penuh kemarahan itu."Dia ahli pertolongan pertama dan perawat anak bersertifikat. Dia akan memastikan Arlan mendapatkan apa yang dibutuhkannya tanpa ada... gangguan. Dan Lastri, dia sudha seharusnya tahu tempat di mana seharusnya dia tinggal""Seharusnya? Kamu menganggapnya gangguan? Di mana? APa kau membawanya kembali ke desa?" Sasha kaget."Cinta saja tidak cukup untuk menjaga seseorang tetap hidup, Sasha. Kompetensi yang dibutuhkan," William akhirnya menatapnya. "Dan saat ini, aku tidak memercayai kompetensimu sebagai seorang ibu juga Lastri yang lemah itu."Tangan William yang tadinya hanya menyentuh dagu Sasha, kini bergerak naik, mencengkeram rahang nya dengan tekanan yang menuntut kepatuhan. Ketakutan dan am

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 181

    Arlan sudah diperbolehkan pulang dari ruma sakit setelah 1 minggu di sana. Setelah malam Sasha hampir membuat Arlan celaka, William mendiamkannya. Benar benar sikap yang membuat William bingung.“Kita akan pulang ke mana?” tanya Sasha dan William memilih mengabaukannya. Dia membantu Arlan bangkit dan langsung menggendongnya.“Hendri, pengasuh sudah siap?” tanya William justru pada Hendri.“Sudah, Pak.”Pengasuh? Pikiran Sasha langsung ke mana mana. “William, kita gak butuh pengasuh. Aku bisa_”“Yang di depan mata saja kamu bisa lengah dan hampir mencelakai anakku. Tidak menutup kemungkinan kamu akan bertindah lebih bodoh lagi.” William mengatakan hal itu dengan dingin lalu keluar dari ruang rawat Arlan.Sasha mematung di tengah ruangan yang mendadak terasa hampa. Kata-kata William barusan bukan sekadar teguran. itu adalah vonis dan perkataan yang menyata hati seorang ibbu,"Anakku," katanya. Bukan "anak kita." Dalam satu kalimat dingin itu, William telah menarik garis pemisah yang

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 180

    “Kamu bagaimana sih. Aku sudah susah susah mengeluarkan kamu dari penjara, ternyata kamu nggak ada gunanya,” berang Clarissa.Raka menyulut serutu dari tangannya, lalu mengepulkan asap ke depan wajah Clarissa.“Brengsek!” geram Clarisa yang justru seperti tidak didengarkan.“Memangnya aku tak tahu kalau kamu keluarkan aku dari penjara karena pakai uang penggelapan perusahaan Pak William?”“Lalu kenapa? Tanpa uang haram itu, mana mungkin aku bisa mengeluarkanmu dan oleh karena itu, kamu harus berguna bagiku.”Raka terlihat santai, dia mengeluarkan ponsel yang masih menyimpan rekaman video gudang kantor William. “Hahahaha, bagus. Ini baru permulaaan,” ucap Clarissa merasa bangga. Dia kira, Raka melakukan itu karena dendam pada William juga. Namun, Raka bukan melakukannya karena itu. “Semua ini yang kau inginkan kan?”“Tentu, tapi bukan hanya itu. Aku ingin Sasha menderita. Kamu harus habisi anaknya agar aku bisa melihat William dan Sasha menangis darah. Mereka udah bikin aku kehilang

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 179

    Sasha berlari menyusuri lorong rumah sakit yang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Paru-parunya terasa terbakar, namun rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan. Bayangan monitor jantung Arlan yang berbunyi terus menghantui pikirannya.Saat ia sampai di depan pintu kamar VVIP, langkahnya terhenti. Pintu itu terbuka lebar. Dua orang penjaga baru berdiri kaku di sana, dan suasana di dalam ruangan tampak jauh lebih mencekam.Sasha masuk dengan napas tersengal. Ia melihat William berdiri di samping ranjang Arlan, membelakanginya. Bahu pria itu tampak tegang, sementara tangannya yang berdarah mencengkeram besi ranjang hingga memutih."Arlan..." bisik Sasha, mendekat dengan kaki gemetar.Sasha merasa lega melihat dada kecil putranya masih naik turun secara teratur, namun kelegaan itu sirna saat William berbalik. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, melainkan kekosongan yang jauh lebih menakutkan."Dokter baru saja keluar," suara William terdengar datar, namun

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 178

    "Aku punya teman-teman baru sekarang, Sasha. Orang-orang yang juga ingin melihat sang 'Monster' itu jatuh. Tapi lupakan William. Lihat ini," Raka mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto digital yang membuat wajah Sasha pucat pasi. Itu adalah foto mereka bertahun-tahun lalu.“Memang aku takut? Aku gak akan takut,” ujar Sasha mencoba berani seperti saat dia meninggalkan Raka.Raka menyeringai tipis, melangkah satu tindak lagi hingga Sasha terpojok ke batang pohon beringin yang dingin. "Kau memang selalu keras kepala, Sasha. Itu yang membuatku tergila-gila dulu. Tapi keberanianmu sekarang adalah kebodohan. Kau pikir William akan peduli dengan penjelasanmu? Begitu dia melihat foto ini, di kepalanya hanya akan ada satu kata, yaitu pengkhianatan."Sasha mendongak, matanya berkilat meski tubuhnya gemetar. "William mungkin seorang monster, tapi dia tidak serendah kamu, Raka! Kau hanya pecundang yang bersembunyi di balik layar ponsel. Hapus foto itu atau aku sendiri yang akan memastik

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    "Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    “Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar ben

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   143

    Ruangan kerja itu sewangi kayu ek dan aroma kopi arabika yang pekat, namun suasananya sedingin es sama seperti pemiliknya. William duduk di balik meja mahoninya yang luas, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang monoton dan presisi. Di kepalanya terisi banyak hal ter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 142

    "Apa aku sudah keterlaluan?" bisik Sasha pada kesunyian.Beberapa hari setelah percakapan itu, ketegangan mulai mencair, namun Sasha menyadari perubahan drastis pada putranya. Arlan tidak lagi bertanya tentang ayahnya, bahkan ia berhenti membicarakan sekolahnya. Ia menjadi bayang-bayang yang patuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status