LOGINClarisa terhuyung, matanya nanar memandang Raka. Dia tak menyangka, lelaki yang dulu ia bantu keluar dari penjara justru kini memperlakukan dia bak binatang."R-Raka....." bentak Clarissa, melangkah mundur hingga punggungnya membentur pintu. Tubuhnya bergetar hebat. "Kau tahu, Clarissa... aku paling benci ketika ada wanita kotor yang mencoba bertingkah pintar dan mengemis pada orang lain," ucap Raka, suaranya rendah namun sarat akan ancaman. Ia mencengkeram rahang Clarissa dengan kasar, memaksa wanita itu menatapnya. "Kau pikir dengan menangis di depan Sasha, kau bisa lepas dari tangan William ? Kau lupa siapa yang memiliki hidupmu saat ini?""Lepas!." jerit Clarissa murka.Plak! Raka kembali membuat Clarisa merasakan perih."Kau ingin keluar dari pekerjaan malam, kan? Kau ingin dibebaskan?" Raka tersenyum sinis, sebuah seringai kejam yang membuat darah Clarissa berdesir dingin. "Maka malam ini, kau harus membayar harga untuk kelancanganmu."Tanpa memedulikan tangisan dan penolakan
Malam kian larut, namun atmosfer di kediaman William Danuarta masih menyisakan ketegangan yang pekat. William tidak memberikan jawaban pasti pada Sasha. Pria itu memilih melangkah pergi, meninggalkan istrinya yang terpaku dalam kecemasan. Bagi William, logika selalu berada di atas segalanya. Dan malam ini, logika hukum serta bisnisnya mengatakan bahwa membiarkan Clarissa lepas begitu saja adalah sebuah kebodohan yang bisa mengancam ketenangan mereka.Tanpa mengganti pakaian kerjanya, William mengambil kunci mobil di meja lobi. Kilat matanya dingin, memancarkan aura intimidasi yang biasa ia gunakan untuk meruntuhkan mental lawan-lawannya. Ia tidak akan menunggu sampai besok pagi. Baginya, setiap ancaman, sekecil apa pun itu, harus segera dipetakan, dikendalikan, dan diputus jalurnya.Mobil sedan hitam milik William membelah jalanan kota yang mulai sepi, menuju ke sebuah kawasan elit di mana distrik hiburan malam papan atas berada. Tujuannya hanya satu: sebuah kelab malam eksklusif mil
"Sha, aku mohon. Aku janji akan melakukan apapun yang kamu minta. Aku gak kuat kerja di tempat malam seperti pekerjaan kamu dulu. Ini sangat menyiksa,” Isak Clarissa.Sasha menatap Clarissa yang masih bersimpuh di hadapannya. Emosi di dalam dada Sasha bergejolakperpaduan antara sisa rasa sakit hati masa lalu dan rasa kemanusiaan yang menolak untuk abai. Setelah keheningan yang mencekam ego Clarissa, Sasha akhirnya mengembuskan napas panjang."Clarissa, dengarkan aku baik-baik," kata Sasha, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan.Clarissa menahan napasnya, menatap Sasha dengan mata sembap yang dipenuhi secercah harapan."Aku akan membantumu. Tapi aku gak tahu apa William setelah ku atau tidak. Jadi, aku akan_”Mendengar hal itu, wajah Clarissa langsung berbinar. "Sha, terima kasih... terima kasih banyak—""Jangan memotong kalimatku dulu," sela Sasha dingin, membuat Clarissa kembali terdiam.Sasha melangkah satu langkah maju, menunduk untuk men
Malam itu, kediaman William tampak begitu tenang di bawah temaram lampu taman yang tertata rapi. Di dalam rumah, Sasha baru saja selesai membacakan dongeng sebelum tidur untuk Arlan. Setelah memastikan anaknya itu terlelap dengan nyenyak, Sasha melangkah turun ke lantai bawah. Ia mengenakan piyama satin panjang yang nyaman, berniat mengambil segelas air hangat di dapur. Namun, ketenangan itu mendadak pecah saat bel gerbang depan berbunyi berkali-kali dengan nada yang tidak sabaran.Sasha mengernyitkan dahi. Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. William sedang ada pertemuan bisnis darurat di luar kota dan baru akan kembali besok pagi. Siapa yang bertamu selarut ini?Dengan kewaspadaan penuh, Sasha berjalan menuju interkom di dekat pintu utama yang terhubung dengan kamera gerbang depan. Ketika layar menyala, jantung Sasha berdesir agak tajam. Di sana, berdiri seorang wanita dengan penampilan yang sangat berantakan. Rambutnya yang biasanya ditata rap
William mengalihkan pandangannya dari Arlan menuju Sasha. Menatap Sasha yang mengenakan kemeja putihnya tanpa bawahan panjang, berdiri dengan anggun sembari memamerkan senyum jail yang sangat memprovokasi. William mengembuskan napas pendek melalui hidung, memijat pangkal hidungnya sejenak untuk menetralkan rasa pening yang tiba-tiba menyerang akibat taktik balasan dari istrinya."Selamat sore, Den William," sapa Bu Lastri ikut berdiri sambil mengangguk hormat.William langsung mengubah ekspresinya menjadi lebih melunak, menunjukkan rasa hormat yang kaku pada Lastri dengan anggukan." Ibu izin ke ruang pantry depan dulu ya, mau membuatkan teh hangat untuk Den William sekalian mencuci kotak bekal," pamit Bu Lastri peka, tahu kapan harus memberikan ruang bagi pasangan suami istri tersebut meskipun ada Arlan di sana."Tapi, Bu," jawab Sasha dan William berdehem pendek.Setelah Bu Lastri keluar dan menutup pintu, William menunduk, mengangkat Arlan ke dalam gendongannya dengan satu tangan
Sasha membiarkan Arlan merangkak masuk ke kolong meja jati besar milik William, tempat anak itu dengan riang mulai membuat suara raungan mesin truk mainannya. "Brum... brum... Truknya mau masuk terowongan Papa!" seru Arlan, memarkirkan truk kontainer mininya dengan presisi di antara celah-celah kaki meja yang kokoh.Bu Lastri tersenyum hangat, lalu duduk perlahan di sofa kulit panjang, sofa yang sama yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu badai gairah antara William dan Sasha. Untungnya, Bu Lastri tidak meneliti lebih jauh posisi sofa yang sedikit melenceng itu. Beliau beralih membuka tas bekal yang dibawanya dari rumah."Ibu bawakan risoles kesukaanmu, Sha. Tadi Den William pesan di telepon, katanya pastikan kamu makan sore karena siang tadi kamu buru-buru ke kantornya dan belum sempat makan dengan benar," ujar Bu Lastri sembari meletakkan kotak makan di atas meja kopi.Sasha yang sedang duduk lesehan di karpet tebal memandangi kotak bekal itu dengan perasaan yang semakin mengha
William menengok sebelum menutup pintu. "Ohya, Sha. Apa yang aku lakukan padamu adalah bentuk penyelamatan. Termasuk nyawa nenekmu yang kapan saja bisa dipanggil Tuhan. Dan aku, bukan malaikat penolongmu jika kamu berani melakukan pemberontakan."Kata-kata William menusuk, mengoyak sisa-sisa harapa
"Sudah baca semua," bisik William, suaranya serak, namun ada nada berbahaya di dalamnya. "Aku ingin tahu, apa yang kau temukan di dalam 'proyek' pribadiku, Sasha?"Sasha menegang, namun ia tidak lagi gemetar. Ketakutan itu lenyap, digantikan oleh bara api yang membakar di dadanya. Ia menatap layar
"Kenapa Bapak salah paham? Saya hanya ingin menyiapkan sarapan. Bukan untuk merayu Bapak, tapi ini ucapan terima kasihku, Pak," isaknya lirih, suaranya tercekat. Sasha masuk kembali ke kamar, mengunci pintu dengan derit pelan. Tangisnya yang tertahan kini pecah, deras mengalir membasahi pipi. Ia m
"Tidak bermaksud?"William terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang membuat bulu kuduk Sasha merinding. "Kau tidak bermaksud mencari celah, Sasha? Kau tidak bermaksud melarikan diri dari sangkar yang kubangun dengan begitu indahnya untukmu? Atau kau tidak bermaksud mengkhianati kepercayaanku?"Ia b







