Share

bab 41

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-01-20 19:04:07

"Salah lagi," William menggeleng, mendecakkan lidah. "Utilitarianisme Tindakan hanya peduli pada hasil akhir. Lima nyawa lebih berharga dari satu. Jadi, mendorong orang gemuk itu adalah tindakan bermoral menurut teori ini, sekejam apa pun kedengarannya."

Sasha mengerang. "Itu nggak manusiawi!"

"Filsafat tidak selalu tentang kemanusiaan, tapi tentang logika," William menatap celana training Sasha. "Celanamu, Sasha."

"Pak..."

"Aturan adalah aturan."

Sasha menggigit bibir. Dengan gerakan kaku, ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 208

    Sasha menarik selimut itu erat-erat. Terasa hangat. Sangat hangat. Dan ada aroma William di sana. Sasha tahu, di balik kalimat ketus itu, William hanya tidak tahu cara mengatakan bahwa dia peduli.Diam diam dia tersenyum dan melirik pada William.“Baik gunakan matamu untuk melihat pemandangan di luar sana. Daripada melihat wajah orang lain yang bikin mual,” ucap William lagi dan lagi lagi Sasha merasa menghangat. Sasha tersenyum, lalu membiarkan perasaan aneh tumbuh subur di hatinya. Sesampainya di Tokyo, udara musim dingin langsung menyergap. William berjalan di depan dengan langkah lebar, sementara Sasha menggandeng Arlan di belakang. William sesekali menoleh ke belakang, memastikan jarak mereka tidak terlalu jauh, namun begitu matanya bertemu dengan mata Sasha, dia langsung membuang muka.Mereka menginap di sebuah villa mewah di daerah Hakone yang memiliki pemandangan langsung ke Gunung Fuji. Kamar mereka luas dengan lantai tatami dan aroma kayu cedar yang menenangkan.Malam itu,

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 207

    "Pagi ini gak kerja?” tanya Sasha yang iseng saat melihat William masih di rumah padahal sudah waktunya bekerja.William melirik saja, lalu menutup tabnya. Dia berdiri, menjauh dari Sasha. Sasha bingung, dia merasa jika William marah padanya. Padahal, dia sudah berusaha untuk menjadi wanita yang patuh.“Mama!” Kedatangan Arlan membuat Sasha berhenti memikirkan hal tentang William. Dia tersenyum dan mengusap kepala Arlan.“Arlan ga sekolah?” “Mama lupa ya hari ini kita mau lanjut liburan?”“Liburan?” tanya Sasha bingung.“Iya, kata papa kita mau ke Jepang.”Sasha terpaku. Kata itu meluncur dari bibir mungil Arlan dengan begitu ringan, seolah itu hanyalah rencana piknik ke taman kota. Matanya segera beralih, mencari sosok William yang kini sudah berada di ambang pintu menuju lantai dua. Punggung pria itu tegap, kaku, dan seolah membentengi diri dari segala jenis percakapan emosional.“Jepang?” gumam Sasha pelan, lebih kepada dirinya sendiri.William tidak berhenti. Dia bahkan tidak m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 206

    Raka mematikan keran air, membiarkan keheningan kembali menguasai apartemen mewahnya yang dingin. Bayangan Clarissa di ambang pintu kamar mandi dengan mata sembab dan tubuh yang gemetar karena kelelahan setelah melayani para tamu masih tertancap di benaknya.Raka menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah yang sama yang baru saja menjilat William lewat telepon, kini tampak begitu asing. Ia memakai topeng dengan sangat rapi hingga terkadang ia lupa di mana wajah Di Sisi Lain, hiruk pikuk klub malam The Velvet mulai berdenyut. Suara dentum bass yang berat terasa hingga ke tulang, sementara lampu neon ungu dan merah menyayat kegelapan ruangan. Ini bukan kantor mewah atau ballroom hotel tempat para bangsawan berpesta. Ini adalah wilayah abu-abu, tempat dosa dan kesepakatan rahasia berbaur menjadi satu.Clarissa berdiri di depan cermin ruang ganti khusus pemandu lagu. Gaunnya merah marun, sangat ketat, dengan belahan dada yang rendah. Ia menatap wajahnya sendiri yang tersembunyi di balik

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 205

    Sasha terbangun oleh suara alarm ponselnya. Dia mengucek mata perlahan, lalu melihat jam yang ternyata sudah sangat kesiangan. Dia lupa jika William begitu disiplin dan dia lupa jika Arlan sanb anak berangkat sekolah sangat pagi. Sasha tersentak duduk, jantungnya berdegup kencang saat melihat angka 07:30 terpampang di layar ponselnya. Arlan seharusnya sudah berangkat satu jam yang lalu, dan William... William biasanya sudah berada di meja makan dengan kopi hitam dan koran digitalnya tepat pukul enam pagi."Ya Tuhan, Arlan!" gumamnya panik.Ia segera menyibak selimut sutranya, namun gerakannya terhenti saat merasakan beban dingin di pergelangan tangannya. Gelang emas putih itu berkilau tertimpa cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden, mengingatkannya pada kejadian semalam. Tekanan dari logam itu seolah menjadi pengingat bisu bahwa ia bukan lagi pemegang kendali atas hidupnya sendiri.Sasha berlari kecil keluar kamar tanpa sempat mengganti gaun tidurnya, hanya menyambar sebuah

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 204

    Nama saya Lara, Tuan. Dan saya dengar, bunga di ruangan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan de“ngan kekuasaan yang Anda genggam."Kalimat itu, yang dirancang untuk menjilat ego, bekerja dengan sempurna. Dalam waktu singkat, Clarissa berhasil memikat pria itu. Ia tertawa pada leluconnya yang tidak lucu dan memberikan tatapan yang seolah-olah mengatakan bahwa Ardiansyah adalah satu-satunya pria yang ada di sana.Di tengah hiruk pikuk itu, Clarissa sempat melirik ke arah Raka yang mengawasi dari kejauhan. Raka tampak puas, sebuah seringai tipis menghiasi wajahnya yang keras. Dia merasa telah berhasil menjinakkan seekor singa betina menjadi kucing peliharaan.Namun, saat Ardiansyah sedang asyik bercerita tentang proyek besarnya, Clarissa secara tidak sengaja menjatuhkan sedikit minumannya ke lengan baju pria itu."Oh, maafkan saya, Tuan. Biar saya bantu," ucap Clarissa lembut. Saat ia menyeka lengan baju Ardiansyah dengan sapu tangan, matanya dengan cepat melirik ke arah ponsel pria itu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 203

    "Brengsek!!” seru Clarissa sekali lagi tapi Raka mengabaikan ocehan Raja. Clarissa mendongakkan kepalanya, matanya terpejam erat saat merasakan sentuhan Raka yang semakin menuntut. Setiap sentuhan pria itu seolah membakar sisa-sisa masa lalunya yang kelam. Di bawah cahaya lampu yang redup, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi fisik yang memabukkan, mencoba mematikan logikanya.Raka melepaskan sisa pakaiannya dengan cepat, matanya tak sedetik pun lepas dari Clarissa. Saat ia kembali mendekat, Clarissa merasakan kekuatan pria itu yang mendominasi. Raka memperlakukannya seolah-olah ia adalah miliknya sepenuhnya. Seperti sebuah aset berharga yang harus ia klaim sebelum dipamerkan kepada dunia.Penyatuan mereka malam itu terasa intens dan meledak-ledak. Ada rasa haus yang saling beradu; Raka dengan rasa kepemilikannya, dan Clarissa dengan rasa dendamnya. Setiap gerakan Raka yang kuat dan ritmis seolah menegaskan bahwa mulai detik ini, hidup Clarissa berada di bawah jemarinya. Cla

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 122

    Sasha menarik tangannya dengan sentakan kasar, seolah sentuhan Adrian adalah api yang membakar kulitnya. Ia mematung, menatap jemari Adrian yang masih berada di dekat gesper sabuk pengamannya dengan tatapan penuh kewaspadaan. Suasana di dalam kabin mobil yang tadinya terasa hangat dan protektif, se

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 121

    Suasana di kantor Distributor Sentosa Abadi terasa lebih tenang, seolah badai kecemasan semalam tersapu oleh hujan deras. Sasha datang lebih awal, menyeduh teh hangat untuk meredakan mual paginya, dan langsung berkutat dengan laporan piutang yang belum selesai.Pukul sepuluh tepat, pintu kantor ter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 120

    Sasha mematikan lampu kamar setelah Bu Lastri keluar. Hanya lampu kecil di sudut ruangan yang dibiarkannya menyala, menciptakan cahaya temaram yang menenangkan.Ia kembali berbaring, satu tangan mengusap perutnya yang mulai terasa berat.“Jangan nakal ya, Nak. Ibu masih harus kerja besok,” gumamnya

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 119

    Langkah Sasha keluar dari kantor Distributor Sentosa Abadi terasa lebih ringan daripada saat ia masuk tadi. Sinar matahari sore di kota kabupaten itu tidak lagi terasa menyengat, melainkan hangat dan menjanjikan.Sesampainya di rumah kontrakan, aroma tumis kangkung dan tempe goreng menyambutnya. Bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status