LOGINSasha terbangun oleh suara alarm ponselnya. Dia mengucek mata perlahan, lalu melihat jam yang ternyata sudah sangat kesiangan. Dia lupa jika William begitu disiplin dan dia lupa jika Arlan sanb anak berangkat sekolah sangat pagi. Sasha tersentak duduk, jantungnya berdegup kencang saat melihat angka 07:30 terpampang di layar ponselnya. Arlan seharusnya sudah berangkat satu jam yang lalu, dan William... William biasanya sudah berada di meja makan dengan kopi hitam dan koran digitalnya tepat pukul enam pagi."Ya Tuhan, Arlan!" gumamnya panik.Ia segera menyibak selimut sutranya, namun gerakannya terhenti saat merasakan beban dingin di pergelangan tangannya. Gelang emas putih itu berkilau tertimpa cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden, mengingatkannya pada kejadian semalam. Tekanan dari logam itu seolah menjadi pengingat bisu bahwa ia bukan lagi pemegang kendali atas hidupnya sendiri.Sasha berlari kecil keluar kamar tanpa sempat mengganti gaun tidurnya, hanya menyambar sebuah
Nama saya Lara, Tuan. Dan saya dengar, bunga di ruangan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan de“ngan kekuasaan yang Anda genggam."Kalimat itu, yang dirancang untuk menjilat ego, bekerja dengan sempurna. Dalam waktu singkat, Clarissa berhasil memikat pria itu. Ia tertawa pada leluconnya yang tidak lucu dan memberikan tatapan yang seolah-olah mengatakan bahwa Ardiansyah adalah satu-satunya pria yang ada di sana.Di tengah hiruk pikuk itu, Clarissa sempat melirik ke arah Raka yang mengawasi dari kejauhan. Raka tampak puas, sebuah seringai tipis menghiasi wajahnya yang keras. Dia merasa telah berhasil menjinakkan seekor singa betina menjadi kucing peliharaan.Namun, saat Ardiansyah sedang asyik bercerita tentang proyek besarnya, Clarissa secara tidak sengaja menjatuhkan sedikit minumannya ke lengan baju pria itu."Oh, maafkan saya, Tuan. Biar saya bantu," ucap Clarissa lembut. Saat ia menyeka lengan baju Ardiansyah dengan sapu tangan, matanya dengan cepat melirik ke arah ponsel pria itu
"Brengsek!!” seru Clarissa sekali lagi tapi Raka mengabaikan ocehan Raja. Clarissa mendongakkan kepalanya, matanya terpejam erat saat merasakan sentuhan Raka yang semakin menuntut. Setiap sentuhan pria itu seolah membakar sisa-sisa masa lalunya yang kelam. Di bawah cahaya lampu yang redup, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi fisik yang memabukkan, mencoba mematikan logikanya.Raka melepaskan sisa pakaiannya dengan cepat, matanya tak sedetik pun lepas dari Clarissa. Saat ia kembali mendekat, Clarissa merasakan kekuatan pria itu yang mendominasi. Raka memperlakukannya seolah-olah ia adalah miliknya sepenuhnya. Seperti sebuah aset berharga yang harus ia klaim sebelum dipamerkan kepada dunia.Penyatuan mereka malam itu terasa intens dan meledak-ledak. Ada rasa haus yang saling beradu; Raka dengan rasa kepemilikannya, dan Clarissa dengan rasa dendamnya. Setiap gerakan Raka yang kuat dan ritmis seolah menegaskan bahwa mulai detik ini, hidup Clarissa berada di bawah jemarinya. Cla
Suara tut yang panjang menandakan Clarissa telah memutuskan sambungan, namun di seberang sana, Raka tidak langsung menurunkan ponselnya. Ia menyandarkan punggung pada kursi kulit eksekutifnya, memutar kursi itu perlahan menghadap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Senyum simpul tersungging di bibirnya senyum seorang predator yang baru saja melihat mangsanya masuk ke dalam sangkar emas yang telah ia siapkan dengan rapi.Raka menyesap sisa wine di gelasnya. Baginya, Clarissa adalah aset. Wanita itu memiliki perpaduan antara kecantikan yang tajam, kecerdasan yang disalahgunakan, dan keputusasaan yang membuatnya mudah dikendalikan. William memang bodoh karena telah membuang permata seperti Clarissa ke jalanan, tapi Raka jauh lebih cerdik karena tahu cara memoles permata yang retak itu menjadi senjata.Ponsel di atas meja berbahan mahoni itu kembali ia raih. Jemarinya menari lincah di atas layar, mengetikkan sebuah pesan singkat namun penuh nada otoritas yang tak terban
Suara bariton Raka di seberang telepon terdengar begitu renyah, seolah-olah ia sedang menikmati segelas wine mahal di balik meja kerjanya yang mewah, sementara Clarissa harus meringkuk di atas kasur apek yang berbau keringat dan keputusasaan."Galak sekali, Clarissa. Baru pulang 'bertugas'?" Raka terkekeh, suara yang bagi Clarissa terdengar seperti gesekan pisau pada piring porselen."Bukan urusanmu. Kalau kau hanya ingin mengejekku, tutup teleponnya. Aku sedang tidak punya energi untuk meladeni kesombonganmu," ketus Clarissa sembari memijat pelipisnya yang berdenyut hebat akibat efek alkohol murah."Mengejek? Oh, Clarissa... kau sungguh tega menuduhku begitu," nada suara Raka berubah melunak, penuh drama keprihatinan yang dipoles sedemikian rupa. "Tidakkah kau ingat siapa yang datang ke kantor polisi malam itu? Saat William menjebloskanmu ke sel yang dingin dan menjijikkan itu? Siapa yang merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar jaminanmu agar kau tidak membusuk di sana?" Ketus Clar
Langkah kaki Clarissa terasa berat dan goyah saat ia menyusuri lorong sempit menuju kontrakan mereka yang pengap. Bau alkohol yang tajam menguar dari pakaian dan napasnya, bercampur dengan aroma parfum pria yang masih menempel samar di ceruk lehernya. Kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada palu godam yang menghantam dinding tengkoraknya setiap kali ia melangkah.Dunia di sekitarnya tampak berputar. Kemarahan, rasa malu, dan kelelahan fisik melebur menjadi satu dalam kabut mabuk yang membuatnya nyaris terjatuh saat menaiki anak tangga kayu yang mulai lapuk.Pintu terbuka sebelum Clarissa sempat merogoh kunci. Di ambang pintu, berdiri Linda dengan wajah yang mengeras. Tidak ada lagi sisa-sisa kemewahan pada wanita itu, hanya ada daster lusuh dan guratan kebencian yang mendalam pada nasib yang menimpa mereka."Bagus. Pulang pagi lagi dalam keadaan seperti sampah," sapa Linda dingin, suaranya setajam silet yang menyayat keheningan malam.Clarissa hanya menyeringai tipis, sebuah ekspre
"Aku tidak yakin saya bisa berjalan di depan umum dengan gaun terbuka seperti ini," bisik Sasha, suaranya tercekat. William tersenyum penuh arti, menekankan bahwa dia memang menyukai Sasha dengan pakaian terbuka itu. Ia menarik Sasha lebih dekat lagi. William mencondongkan kepalanya, menekan lehe
Beberapa hari berlalu sejak William memastikan kehancuran Raka dan Clarissa hanya tinggal menunggu waktu. Ancaman surat kaleng itu, yang tadinya membuat Sasha ketakutan, kini terasa seperti pemantik api bagi sebuah pesta yang akan datang. Hari itu, sebuah memo elektronik beredar di kalangan fakulta
Mobil William berhenti dengan hentakan yang sangat halus di depan pintu apartemen Sasha. William mematikan mesin, dan keheningan yang mereka bagi setelah klimaks di bahu jalan tol terasa berat, membebani udara. Sasha, yang masih berpakaian seadanya hanya tersisa pakaian dalam menatap William dengan
Mobil William meluncur mulus dari area rumah sakit, membawa Sasha menjauh dari Raka yang semakin dikuasai paranoia. Setelah konfrontasi dingin dan tatapan mengancam William di lobi, Sasha duduk di kursi penumpang dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah karena mengkhianati Raka meskipun Raka pant







