Share

bab 41

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-01-20 19:04:07

"Salah lagi," William menggeleng, mendecakkan lidah. "Utilitarianisme Tindakan hanya peduli pada hasil akhir. Lima nyawa lebih berharga dari satu. Jadi, mendorong orang gemuk itu adalah tindakan bermoral menurut teori ini, sekejam apa pun kedengarannya."

Sasha mengerang. "Itu nggak manusiawi!"

"Filsafat tidak selalu tentang kemanusiaan, tapi tentang logika," William menatap celana training Sasha. "Celanamu, Sasha."

"Pak..."

"Aturan adalah aturan."

Sasha menggigit bibir. Dengan gerakan kaku, ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 202

    Suara tut yang panjang menandakan Clarissa telah memutuskan sambungan, namun di seberang sana, Raka tidak langsung menurunkan ponselnya. Ia menyandarkan punggung pada kursi kulit eksekutifnya, memutar kursi itu perlahan menghadap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Senyum simpul tersungging di bibirnya senyum seorang predator yang baru saja melihat mangsanya masuk ke dalam sangkar emas yang telah ia siapkan dengan rapi.Raka menyesap sisa wine di gelasnya. Baginya, Clarissa adalah aset. Wanita itu memiliki perpaduan antara kecantikan yang tajam, kecerdasan yang disalahgunakan, dan keputusasaan yang membuatnya mudah dikendalikan. William memang bodoh karena telah membuang permata seperti Clarissa ke jalanan, tapi Raka jauh lebih cerdik karena tahu cara memoles permata yang retak itu menjadi senjata.Ponsel di atas meja berbahan mahoni itu kembali ia raih. Jemarinya menari lincah di atas layar, mengetikkan sebuah pesan singkat namun penuh nada otoritas yang tak terban

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 201

    Suara bariton Raka di seberang telepon terdengar begitu renyah, seolah-olah ia sedang menikmati segelas wine mahal di balik meja kerjanya yang mewah, sementara Clarissa harus meringkuk di atas kasur apek yang berbau keringat dan keputusasaan."Galak sekali, Clarissa. Baru pulang 'bertugas'?" Raka terkekeh, suara yang bagi Clarissa terdengar seperti gesekan pisau pada piring porselen."Bukan urusanmu. Kalau kau hanya ingin mengejekku, tutup teleponnya. Aku sedang tidak punya energi untuk meladeni kesombonganmu," ketus Clarissa sembari memijat pelipisnya yang berdenyut hebat akibat efek alkohol murah."Mengejek? Oh, Clarissa... kau sungguh tega menuduhku begitu," nada suara Raka berubah melunak, penuh drama keprihatinan yang dipoles sedemikian rupa. "Tidakkah kau ingat siapa yang datang ke kantor polisi malam itu? Saat William menjebloskanmu ke sel yang dingin dan menjijikkan itu? Siapa yang merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar jaminanmu agar kau tidak membusuk di sana?" Ketus Clar

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 200

    Langkah kaki Clarissa terasa berat dan goyah saat ia menyusuri lorong sempit menuju kontrakan mereka yang pengap. Bau alkohol yang tajam menguar dari pakaian dan napasnya, bercampur dengan aroma parfum pria yang masih menempel samar di ceruk lehernya. Kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada palu godam yang menghantam dinding tengkoraknya setiap kali ia melangkah.Dunia di sekitarnya tampak berputar. Kemarahan, rasa malu, dan kelelahan fisik melebur menjadi satu dalam kabut mabuk yang membuatnya nyaris terjatuh saat menaiki anak tangga kayu yang mulai lapuk.Pintu terbuka sebelum Clarissa sempat merogoh kunci. Di ambang pintu, berdiri Linda dengan wajah yang mengeras. Tidak ada lagi sisa-sisa kemewahan pada wanita itu, hanya ada daster lusuh dan guratan kebencian yang mendalam pada nasib yang menimpa mereka."Bagus. Pulang pagi lagi dalam keadaan seperti sampah," sapa Linda dingin, suaranya setajam silet yang menyayat keheningan malam.Clarissa hanya menyeringai tipis, sebuah ekspre

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 199

    "Ah…”“Lebih cepat, Sayang….”Suara ranjang yang berdecit dan hembusan napas begitu terasa. Dua insan sedang memadu kasih. Clarissa dan tentunya, lelaki yang sudah membayar nya. Keringat dingin membasahi pelipis Clarissa saat ia memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kelopak matanya, ia tidak melihat wajah lelaki yang kini bersamanya, melainkan tumpukan tagihan rumah sakit dan bayangan masa depan yang terasa kian menjauh.Setiap derit ranjang tua di kamar remang-remang itu seolah menghitung mundur harga diri yang ia gadaikan. Clarissa mencengkeram sprei yang terasa kasar di bawah jemarinya, mencoba menulikan rungu dari suara napas berat sang pria yang memburu di telinganya. Bagi lelaki itu, ini adalah kesenangan yang dibayar tunai; bagi Clarissa, ini adalah cara paling menyakitkan untuk tetap bertahan hidup. Padahal, dulu dia mencibir Sasha karena melakukan pekerjaan ini tapi sekarang justru dia yang akhirnya harus melakukannya demi bisa bertahan hidup."Bagus... seperti itu," bisik

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 198

    Aku gak peduli, aku hanya ingin Sasha.”William melepaskan cengkeramannya di pinggang Sasha, beralih mencengkeram kerah safari Raka dengan satu tangan. Ia menarik pria itu hingga berdiri paksa, menatap langsung ke mata Raka yang penuh dengan tipu daya.“Kau bicara soal pulang, Raka?” desis William, suaranya seperti gesekan logam. “Ke mana? Ke lubang persembunyianmu di mana kau merencanakan pengkhianatan berikutnya? Jangan berlagak jadi pahlawan di depanku. Kita berdua tahu siapa kau sebenarnya.”William mengempaskan Raka hingga punggung pria itu menghantam pintu kayu jati. “Sasha tahu apa yang kau lakukan. Dia tahu setiap sen yang kau curi dan setiap nyawa yang kau korbankan untuk ambisimu. Keluar dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuatmu menyesal pernah menghirup udara bebas.”Raka menyeka sudut bibirnya, seringai tipis muncul di wajahnya yang licik. Ia tidak terlihat hancur; ia justru terlihat sedang menikmati permainan ini. Ia melirik Sasha, yang kini berdiri gemetar

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 197

    William kemudian menunduk, menatap Sasha dengan mata yang seolah memohon sekaligus mengancam. “Katakan padanya, Sasha. Katakan bahwa kau bahagia di sini. Katakan bahwa kau tidak ingin pergi ke mana-mana.”Sasha mematung. Ia menatap Raka dan berharap peluangnya untuk bebas lalu ia menatap William. Di mata William, ia melihat kegelapan yang sama dengan malam tadi, namun kali ini bercampur dengan keputusasaan yang nyata. Jika ia berkata ia ingin pergi sekarang, William mungkin akan menghancurkan segalanya termasuk Raka, termasuk dirinya sendiri, dan mungkin... masa depan Arlan.Lidahnya terasa kelu. Kebenaran yang pahit adalah: William telah membangun jaring yang begitu kuat sehingga meskipun pintunya terbuka lebar, Sasha tidak tahu ke mana ia harus lari tanpa menyebabkan kehancuran bagi orang-orang di sekitarnya.“Saya...” suara Sasha bergetar.William mencengkeram pinggang Sasha sedikit lebih keras, sebuah peringatan bisu.“Saya di sini atas kemauan saya sendiri, Raka,” ucap SashaDu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 125

    “Pak Heri, boleh saya bicara sebentar?”Sasha menghampiri sang pemilik usaha saat rekan-rekan lain sedang sibuk bercerita riang tentang hidangan rendang pari yang semalam mereka nikmati. Pak Heri sedang membersihkan bibirnya dengan serbet kain, wajahnya masih merona karena keceriaan tadi malam. Ia

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 124

    Suasana di gudang logistik benar-benar berubah menjadi panggung pemujaan bagi Adrian. Restoran yang dipilih bukan sekadar tempat makan biasa. itu adalah sebuah rumah makan bernuansa Jawa modern yang hangat, dengan alunan instrumen kecapi yang menenangkan. Sasha datang dengan langkah berat, mengenak

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 123

    Suasana di gudang logistik tempat Sasha bekerja terasa berbeda. Tidak ada lagi mobil mewah yang terparkir mencolok di depan pintu masuk. Tidak ada lagi pesan singkat yang menanyakan tekanan darah. Namun, setiap jam makan siang, sebuah kotak bekel higienis dengan menu seimbang, karbohidrat kompleks,

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 122

    Sasha menarik tangannya dengan sentakan kasar, seolah sentuhan Adrian adalah api yang membakar kulitnya. Ia mematung, menatap jemari Adrian yang masih berada di dekat gesper sabuk pengamannya dengan tatapan penuh kewaspadaan. Suasana di dalam kabin mobil yang tadinya terasa hangat dan protektif, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status