Share

bab 2

Penulis: Azzura Rei
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 12:20:27

Dihentikan seperti itu membuat wajah Sasha memanas. Malu dan kaget bercampur menjadi satu. Alih-alih bingung dengan penolakan William, Sasha lebih bingung dengan kalimat ancaman yang dilontarkan William. William mengucapkannya sambil berbisik, Sasha tak yakin ada yang mendengarnya. Di tengah kebingungannya, ia harus cepat memasang ekspresi profesionalnya lagi.

Meski mendapat penolakan, Sasha harus mengakhiri permainannya dengan apik. Tangannya masih membelai kepala William dengan lembut sebelum turun dari pangkuan pria itu.

Sasha juga mendapati Ali tertawa melihatnya dan mengangkat kedua bahunya. “Payah lo, Will!” seru Ali.

Sasha ikut tertawa, mengikuti tiap tindak klien-kliennya. Sungguh profesional.

“Jangan-jangan…,” Sasha bersuara, melirik William. “Om William … gay?”

Seketika seisi ruang dipenuhi gelak tawa. Ada yang memasang wajah jijik palsu, ada yang ikut menambah-nambahkan narasi itu, ada pula yang menyinggung tentang hubungan buruk William dengan mantan kekasihnya dahulu. Sasha hanya bisa mengira-ngira sambil terkekeh.

Namun, Sasha berhasil menangkap ekspresi di wajah William yang mengeras. Lampu yang berkelap-kelip bergantian menyinari wajah pria itu, membuat pikiran Sasha sedikit berputar.

Tak berlama-lama, Sasha segera berpaling.

Gagal mendapat tip ekstra malam ini, batin Sasha menggerutu.

Pikirannya hanya tertuju pada uang yang gagal dikantonginya. Namun, tidak apa-apa. Harusnya biaya yang dibayarkan tamu VIP ini lebih besar. Bisa jadi Sasha akan dapat bonus dari Mammi.

Sasha tetap bersikap profesional, menemani pria-pria dengan gelas-gelas minuman dalam genggaman, membawa percakapan mengalir, dan sesekali menggoda.

Sasha menemani hingga larut malam. Di ujung hari, setelah melambaikan tangan kepada klien-kliennya, Sasha pulang menyusuri jalanan yang sepi.

Ia langsung memikirkan kegiatannya di kampus esok hari. Tugas-tugas dan makalah yang menggunung, belum lagi kegiatan organisasi. Jari Sasha bergulir di atas ponsel, melihat notifikasi dari grup kuliah yang belum sempat terbaca. Ah, tugas kelompok dan presentasi. Sasha juga dikenal cukup berprestasi di antara teman-temannya, maka ia tidak akan membiarkan orang-orang di kampus tahu tentang pekerjaan malamnya ini.

Ketika jarinya bergulir lagi, Sasha menangkap pesan berbunyi: TAGIHAN BIAYA PERAWATAN.

Sasha hampir tersandung langkahnya sendiri.

Wajah sang nenek tercinta yang terbaring lemah di atas ranjang, berjuang melawan penyakit sambil dimakan usia, terus muncul dalam kepala Sasha.

Berawal dari jantung yang lemah hingga menyebabkan komplikasi organ dalam tubuhnya, nenek Sasha harus mendapat perawatan ekstra. Setiap hari sang nenek hanya bersinggungan dengan perawat di panti, belum sanggup Sasha membiayai apabila menjalani perawatan terus-menerus di rumah sakit.

Perjalanan pulang yang terasa lebih lama membuat Sasha lelah. Pagi harinya, Sasha menuju kampus setelah bersiap-siap, berusaha mengusir kantuk yang terus menghantui.

Sesampainya di sana, ia melangkah cepat menyusuri koridor. Rambut panjangnya diikat sederhana, sedikit berantakan. Wajahnya bersih tanpa polesan berlebih, hanya lip balm tipis yang membuat bibirnya tidak pucat. Ia memang jarang berdandan saat kuliah, berbeda jauh dengan sosoknya di malam hari.

Di kampus, ia hanya ingin menjadi mahasiswa biasa. Ia ingin hidupnya di pagi dan siang hari tetap sederhana, selalu memastikan bahwa tidak ada yang mencurigai dunia ganda yang ia jalani.

Hari ini, Sasha bersiap mengikuti kelas Filsafat.

Sudah hampir sebulan mata kuliah ini kosong karena dosen pengampu sedang ada urusan di luar negeri. Begitu ia memasuki ruang kelas, suasana sudah cukup ramai.

Sasha memilih duduk di bangku tengah. Itu posisi aman, tidak terlalu depan yang bisa menarik perhatian dosen tapi juga tidak terlalu belakang yang bisa memberi kesan malas.

Beberapa menit kemudian, semua mata tertuju ke arah pintu ketika seorang perempuan berseragam staf administrasi masuk ke ruangan. Sasha mengenalnya, Mbak Dina, seorang staf administrasi. Kelas pun hening.

“Selamat pagi semuanya,” sapa Mbak Dina sambil tersenyum. “Hari ini kita kedatangan dosen pengganti untuk mata kuliah Filsafat. Beliau akan mengajar sampai semester ini selesai. Baik, silakan masuk, Pak,” Mbak Dina mempersilakan dosen baru itu.

Kelas mendadak riuh dengan bisikan penasaran.

“Gila, ganteng banget!” bisik salah satu teman Sasha di bangku depan.

“Umur berapa ya kira-kira?” timpal yang lain penasaran.

Di tengah riuh itu, Sasha mendapat notifikasi dari ponselnya. Ia menunduk untuk membacanya. Itu dari Mbak Ana, perawat nenek! Perasaan Sasha langsung menjadi tidak enak.

Pesan itu berbunyi: ‘Non Sasha, nenek mengalami sesak luar biasa di dada. Langsung kami bawa ke rumah sakit untuk ditindak’.

Jari-jarinya lantas sibuk bergulir di layar. Pengambilan tindakan untuk perawatan nenek selalu memakan biaya yang besar. Sasha buru-buru mengecek saldo tabungannya sambil berharap uangnya akan cukup.

Kemudian ia mengetik pesan balasan: ‘Berapa biaya yang dibutuhkan, Mbak Ana?’

Sasha menunggu balasan dengan tidak tenang. Kakinya berguncang gelisah.

Kemudian, ting! Pesan balasannya datang.

‘Rincian biaya akan diberitahu ketika Non Sasha mengurus administrasi lebih lanjut. Non, tolong ke rumah sakit hari ini, ya’.

Sasha menutup matanya dan menghela napas. Kepalanya langsung terasa sakit. Ia tebak, biayanya pasti begitu fantastis.

Sasha masih berkutat dengan ponselnya, sibuk bertukar pesan dengan Mbak Ana, ingin mengetahui keadaan nenek sebelum berakhir di rumah sakit.

Seketika, sebuah senggolan bertubi datang membuatnya tersentak. “Sasha, lihat deh dosennya, ganteng banget!” bisik Nina, sahabat dan juga teman sebangkunya.

Sasha belum menoleh, ia sesungguhnya tidak peduli. Neneknya jauh lebih penting dari apa pun sekarang. Jari Sasha masih sibuk mengetik pesan di ponselnya.

Ketika itu, seisi kelas tiba-tiba hening. Sasha menangkapnya samar-samar dengan telinganya. Nina menyenggolnya sekali lagi namun Sasha tetap mengabaikannya.

Dengan posisi menunduk, pandangan Sasha terbatas. Tiba-tiba, seseorang menghampirinya dan mengetuk-ngetuk mejanya dengan jari telunjuk.

Sasha tersentak kaget. Ia menengadah. Kemudian napasnya tercekat dan tangannya langsung berkeringat dingin.

Wajah dosennya yang terlihat sangat familier justru membuat Sasha panik.

Pria yang semalam ia duduki pangkuannya, yang ia goda demi mendapatkan tip besar, yang semalam ia belai wajahnya… Pria yang semalam hampir Sasha cium! Sekarang tengah berdiri di hadapannya sebagai seorang dosen baru.

Pria itu… Dosennya ini…

William!?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 69

    William menurunkan tangannya perlahan. Tepukan itu berhenti, tapi efeknya justru seperti palu godam yang menghantam kesadaran Bram.Wajah Bram menegang. Keringat tipis muncul di pelipisnya.“Saya tidak pernah lupa siapa Anda,” jawab Bram kaku. “Anda dosen… dan pengusaha. Tapi ini urusan keluarga saya.”William tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.“Urusan keluarga?” Ia melirik Nenek Wati yang terbaring pucat, lalu kembali menatap Bram. “Menarik. Karena dari yang saya lihat, keluarga Anda baru datang ketika kontrol atas Sasha mulai lepas.”Ia melangkah maju setengah langkah. Tidak agresif. Justru terlalu tenang.“Duduklah, Pak Bram,” lanjutnya. “Kita bicara seperti orang dewasa. Atau… Anda ingin saya bicara sebagai orang yang punya akses pada penyelidikan kasus Clarissa di kampus, laporan rumah sakit, dan beberapa nama investor yang akhir-akhir ini cukup sering menyebut nama Anda?”“Jadi yang membuat kaca perusahaanku benar-benar kamu?’ Tanya Bram menegang.“anda sedan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 68

    “Sha…”Suara serak nenek Wati membuat Sasha terlepas dari jerat sang profesor dingin itu. “Ya, Nek. Sasha di sini.”Sasha tidak melihat Mbak Ana di sana. Padahal asisten yang dia sewa menemani sang nenek harus selalu ada di sisi sang nenek yang sakit. Dia belum berani bertanya pada William yang terlihat masih marah saat ini. “Apa kamu datang sama Raka?”William melirik pada Sasha, Sasha berharap langsung pasang badan di depan Nenek Wati. Namun ternyata tidak.“Kalian bertengkar lagi?” tanya Nenek Wati lagi.“Dia sudah berbohong sama nenek dan dia juga sudah membuat masalah besar di kampus Sasha.” “Bohong?”“Iya. Makanya Sasha di sini sama dosen di kampus, biar nenek percaya kalau Raka itu tidak baik selama ini. Dia sering berbohong tentang Sasha.”“Benarkah itu?” Nenek Wati melirik ke arah William.“Ya.” William menjawab meskipun singkat.“Astaghfirullah, maafkan Nenek, Sha.”“Dan Raka itu yang juga membuat asisten nenek harus cuti. Dia membuat Mbak Ana kecelakaan,” ucap William me

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 67

    Langkah Sasha tidak goyah meski teriakan Clarissa masih terngiang di belakangnya. Ia merasakan adrenalin yang aneh, campuran antara kelegaan yang tajam dan rasa hampa yang membeku. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sebagai korban yang gemetar di sudut ruangan. Namun, ia juga sadar bahwa keberaniannya barusan adalah pinjaman. Keberanian itu bersumber dari bayang-bayang besar bernama William.Ia berjalan menuju perpustakaan, mencari sudut yang paling tersembunyi. Ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah pesan singkat masuk tanpa nama pengirim, namun Sasha tahu siapa pemilik nomor itu. "Selesaikan urusanmu dalam sepuluh menit. Mobil menunggu di gerbang samping. Kita ada janji temu sore ini."Sasha menghela napas panjang. "Janji temu?" gumamnya. William tidak pernah memberitahunya tentang agenda apa pun selain kuliah. Tapi itulah William, setiap detik dalam hidup Sasha kini adalah bagian dari grafik yang ia susun di atas meja kerjanya.Sasha tidak menyangka bahwa efek domino dari ge

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 66

    Sasha menghabiskan sarapannya dalam diam. Setiap gerakan terasa diawasi, meski William sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan untuk bersiap ke kampus. Denting sendok di piring terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri. Ia tahu, ketenangan ini bukan hadiah, melainkan jeda sebelum kontrol berikutnya diberlakukan sepenuhnya.Ia berangkat satu jam kemudian, sesuai instruksi William. Mobil hitam dengan sopir yang tak banyak bicara menjemputnya tepat waktu. Tidak ada pertanyaan ke mana, tidak ada basa-basi. Semua sudah diatur.Kampus menyambutnya dengan udara pagi yang terasa asing. Tatapan-tatapan itu masih ada berbisik, menilai, mengukur. Namun ada sesuatu yang berubah. Bisikannya tidak lagi liar, tidak lagi berani. Nama Clarissa disebut lebih sering, kali ini dengan nada curiga dan sinis.Sasha berjalan melewati koridor utama dengan langkah mantap, seperti yang William perintahkan. Kepala tegak. Bahu lurus. Ia memaksakan ekspresi netral, meski dadanya bergetar. Setiap langkah te

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 65

    William," kata Sasha, suaranya mantap dan jelas, "Jangan pernah lepaskan aku. Aku milikmu."William tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan kemenangan total. Ia mengulang apa yang dia inginkan sampai Sasha merasa lemas tak berdaya.Keheningan kembali menyelimuti kamar William. Bau maskulin yang khas kini bercampur dengan aroma parfum mahal yang terperangkap di antara seprai sutra yang sedikit kusut. Setelah 'ritual' kepemilikan itu, William memeluk Sasha erat, seolah menjaga agar gadis itu tidak kembali menghilang ke dalam kekacauan dunia luar."Sudah selesai," bisik William ke rambut Sasha, suaranya terdengar lelah namun puas. "Semuanya selesai. Raka tidak akan pernah lagi mengganggumu, dan Clarissa harus berurusan dengan ayahnya yang pasti sudah di ambang kehancuran finansial."Sasha hanya bisa memejamkan mata, rasa aman yang tak terhingga membanjiri dirinya. Ia memeluk pinggang William, merasakan detak jantung pria itu yang kini lebih teratur. "Apa yang akan terjadi dengan video i

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 64

    "Apa itu, Profesor?" tanya Sasha penasaran, melihat perubahan ekspresi William. Mereka ada di pentahouse setelah selesai dengan urusan William.William menutup tablet itu dengan kasar, matanya kini memancarkan kemarahan yang jauh melampaui amarahnya pada Raka. Ini adalah serangan langsung ke citra publiknya, dan Sasha ada di tengah rekaman itu."Sasha," kata William, suaranya tegang dan berbahaya. "Kamu tahu apa itu permainan kotor?”Ia mencengkeram erat lengan Sasha, menariknya berdiri dengan kekuatan yang mengkhawatirkan. “Apa maksud Bapak?”"Hanya sebuah balasan,” jawabnya.William tidak memberinya waktu untuk menjawab. Ia menarik Sasha menuju pintu kamar tidurnya yang luas, matanya menyala kegelapan yang memikat."Lupakan Raka. Lupakan semua. Sekarang, aku ingin kau tunjukkan padaku betapa kau rela menerima konsekuensinya bersamaku. Karena sebentar lagi, dunia akan menertawakan kebodohan mu!”William mendorong Sasha masuk ke kamar, menutup pintu dengan keras, dan menguncinya. Naf

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status