Share

bab 3

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2025-12-29 12:21:13

Sasha masih dihantui bayang-bayang William sebagai sosok dosennya ketika ia melangkah cepat ke luar kelas setelah kelas selesai.

Kini kepalanya bercabang.

Bagaimana bisa William muncul sebagai dosennya setelah semalam pria menjadi kliennya? Hanya dalam satu malam, keadaannya berubah drastis.

Sasha bisa merasakan bulir-bulir keringat yang menetes dari dahinya. Ia memikirkan nasibnya, setidaknya sesingkat esok hari. Sasha tidak akan membiarkan skenario terburuk terjadi: orang-orang di kampus akan mengetahui pekerjaan hina itu.

Jika ia kehilangan pekerjaan itu, lantas bagaimana ia dapat membayar biaya perawatan neneknya?

Sasha jadi teringat bahwa ia harus segera ke rumah sakit untuk mengurus administrasi. Ia percepat langkahnya menuju gerbang kampus, sebelum berhenti sejenak ketika dipanggil oleh Nina.

“Sasha!” seru Nina. “Aku cariin kamu dari tadi. Kenapa buru-buru banget?”

Sasha menjawabnya cepat, “Aku harus segera ke rumah sakit, Win. Nenekku masuk rumah sakit tadi pagi.”

Melihat wajah sahabatnya yang pucat dibalut panik, Nina langsung mengusap-usap punggung Sasha. “Mau aku temani, Sasha?”

“Nggak perlu, Win, terima kasih,” Sasha menggeleng. “Aku pergi dulu, ya, Nina.”

Sasha melambai kepada sahabatnya dan ia berlalu pergi. Sasha pergi naik angkutan umum ke rumah sakit, sambil pikirannya terus dibayangi William yang muncul sebagai dosennya.

Nenek yang sedang sakit, pekerjaannya, kehidupannya, ditambah kehadiran William… Sasha ingin mengubur diri rasanya.

Setelah tiba di rumah sakit, Sasha langsung bergegas masuk dan membuka ponselnya lagi, melihat nomor kamar yang tadi diinfokan oleh Mbak Ana. Pasien atas nama Wati Kusuma, kamar nomor 221. Sasha menyusuri lorong yang terasa begitu panjang dengan langkah yang cepat.

Itu dia nomor kamar 221. Dari luar kaca kecil di jendela, Sasha melihat Mbak Ana yang tengah menunggu. Sasha pun masuk kamar rawat itu, kali ini langkahnya terasa berat.

“Nenek?” panggil Sasha.

Nenek Wati menoleh lemah namun ia tersenyum. Ia terbaring di atas ranjang, mengenakan pakaian ganti yang disiapkan rumah sakit. Ada selang infus di tangannya. Melihat itu, dada Sasha langsung terasa sesak.

“Sasha…,” jawab nenek Wati. “Kamu datang, sayang? Nggak kuliah?”

“Udah selesai, Nek,” Sasha berjalan mendekati ranjang neneknya, kemudian meraih tangan sang nenek yang terasa hangat. “Nenek dadanya sakit?”

Nenek Wati menatap Sasha dengan mata sayu. Dulu sebelum sakit, mata neneknya begitu berbinar tiap kali menatapnya. Sasha bertekad untuk mengembalikan binar itu lagi.

“Bukan masalah besar, Sasha. Mungkin karena nenek sudah tua…”

Sasha menahan tangisnya. Sementara itu tangannya mengelus lembut tangan neneknya. “Nek, nggak apa-apa kalau dada nenek memang sakit. Sasha akan mengurus semuanya untuk nenek supaya nenek sembuh.”

“Tidak perlu, Sasha. Nenek sudah bisa pulang sekarang, tadi sepertinya sesak sedikit saja,” kata nenek Wati. Sasha pun tahu neneknya mengatakan itu karena tidak ingin merepotkan Sasha.

“Jangan, nek. Nenek biar dirawat di sini saja,” Sasha berpaling kepada Mbak Ana. “Mbak Ana, aku akan mengurus administrasi dulu.”

Mbak Ana mengangguk sopan.

Sasha pun mengecup dahi neneknya sebelum meninggalkan ruang kamar. Begitu pintu tertutup, Sasha langsung memejamkan mata sekilas, memikirkan biaya yang harus ia keluarkan.

Begitu sampai di meja administrasi rumah sakit. Sasha langsung menanyakan itu.

“Permisi, saya ingin mengurus administrasi untuk pasien Wati Kusuma di kamar 221.”

“Baik, Nona,” wanita di belakang meja administrasi itu segera menyiapkan lembar detail transaksi. Kemudian ia menjelaskan, “Berikut rinciannya. Ibu Wati Kusuma mendapatkan beberapa tindakan untuk sesak di dada, lalu ada biaya kamar dan infus.”

Sasha menelaah angka-angka yang terpapar di atas kertas, matanya melebar seketika. 11 juta untuk biaya perawatan satu hari! Sasha menelan ludahnya. Sakit jantung memang memerlukan biaya mahal, apalagi nenek Wati juga memiliki komplikasi dalam tubuhnya. Namun, tiap kali Sasha dihadapkan dengan nominal-nominal yang besar, ia masih selalu tersentak.

“Baik, saya akan membayarnya,” Sasha mengeluarkan kartu atm dari dompetnya. 11 juta. Itu sama sekali tidak sedikit. Sasha berarti harus menguras hampir seluruh tabungannya.

Ia memang menyiapkan uang darurat untuk pengobatan nenek, namun ternyata belum cukup karena biaya untuk nenek akan semakin mahal.

Setelah selesai membayar, Sasha mengecek sisa saldo di rekeningnya melalui aplikasi bank di ponsel. Tabungannya benar-benar hampir habis sedangkan ia masih harus membayar sewa kosan dan biaya makan sehari-hari. Ah, aku harus bekerja lebih keras, pikir Sasha.

Sasha pun kembali ke kamar rawat untuk berpamitan.

“Nenek?” Sasha memanggil neneknya ketika melangkah masuk. Ia mendekati ranjang nenek Wati dan mengelus wajah neneknya yang tersenyum.

“Berapa biaya pengobatan nenek, Sasha?” tanya nenek Wati.

Sasha menggeleng. “Nenek tidak perlu khawatir. Sasha sudah urus semuanya.”

“Sasha… kamu pasti lelah kuliah sambil bekerja. Apa Sasha masih bekerja di kantor yang lama?”

‘Kantor’… itu adalah dalih Sasha sejak dulu. Nenek Wati hanya tau Sasha lah yang menyokong biaya perawatannya. Sedangkan pekerjaan Sasha … tetap Sasha simpan rapat-rapat. Ia tidak akan membiarkan neneknya tahu. Neneknya pasti akan sangat kecewa.

Sasha sempat diam sebelum pada akhirnya menjawab. “Masih, Nek. Pokoknya nenek nggak perlu khawatir, ya. Mbak Ana juga langsung memberitahu aku tiap saat.”

Nenek Wati mengangguk, matanya semakin sayu, barangkali efek obat yang diminum. Namun, neneknya kembali bertanya. “Sasha… bagaimana kabar ibumu?”

Sasha mematung sebentar mendengarnya, kemudian cepat-cepat ia tersenyum. “Aku rasa Ibu baik, Nek.”

Ada raut khawatir yang Sasha tangkap pada wajah neneknya. Ia rasa sudah bukan rahasia bahwa hubungannya tidak baik. Neneknya lantas meraih tangan Sasha dengan lemah. “Maaf, Sasha sayang. Nenek gagal mendidik ibumu itu, jadi…”

“Nek,” potong Sasha. “Nenek tidak perlu khawatir. Aku dan Ibu … kami baik-baik saja.” Sasha berdalih. Ia tahu bahwa itu adalah sebuah kebohongan selanjutnya yang ia selalu utarakan kepada neneknya.

Pasalnya, Sasha tidak akan lupa bagaimana ibunya seolah menganggap Sasha tak terlihat. Sejak kecil, ia seperti ditelantarkan. Ibunya seakan-akan hanya memiliki satu anak kesayangan, kakaknya. Hidup Sasha selalu ditutupi bayang-bayang seorang kakak yang dinilai jauh lebih sempurna.

Dalam keadaan itu, neneknya selalu melangkah di depan, menjadi tameng bagi Sasha, memeluk Sasha di malam-malam yang begitu sepi, begitu sedih. Maka, ketika Sasha sadar bahwa ia hanya memiliki neneknya dalam hidup, Sasha berjanji pada dirinya sendiri akan selalu melakukan apa saja demi neneknya.

Mengingat itu membuat air mata Sasha menggenang. Sebelum air matanya jatuh di hadapan sang nenek dan membuat neneknya khawatir, Sasha memutuskan untuk segera pamit. Ia mencium pipi neneknya sebelum berjalan pulang.

Setelah menjalani hari yang terasa begitu panjang, Sasha pulang ke kosannya untuk sekadar istirahat di dalam kamar. Badannya rileks, namun pikirannya gagal tenang. Belum sempat menguntai benang yang kusut dalam hatinya, Sasha mendapat pesan masuk di ponselnya.

Pesan itu dari Mammi, mengingatkan untuk pergi ke tempat karaokenya karena akan ada tamu-tamu yang datang.

Sasha pun bergegas bersiap menuju tempat karaokenya.

Langkah Sasha menuju tempat itu masih berat, sampai kapanpun ini akan selalu berat bagi Sasha. Ia mendorong pintu masuknya dan langsung disambut oleh suara-suara yang menggema dari tiap ruang juga lampu-lampu yang berkilauan.

“Sasha,” Mammi memanggilnya. “Sebentar lagi para tamu akan datang.”

Sasha mengangguk perlahan sambil mulai mempersiapkan personanya. Ia harus tetap profesional dan tak membawa urusan hati ke tempat “kerja”.

Ruang demi ruang terisi dan Sasha menyambut klien-kliennya dengan senyum manis. “Selamat datang, Tuan-tuan!”

Sasha sudah terbiasa dengan ini, namun kadang ia juga kaget dengan jumlah tamu yang tak henti datang dan pergi. Terlebih lagi malam ini, ruang-ruang itu tak pernah kosong. Sedikit kewalahan bukan jadi masalah, Sasha membutuhkan uang-uang yang dikeluarkan secara cuma-cuma oleh para kliennya.

Ia mengesampingkan rasa enggan melayani dan menghibur para klien demi sang nenek. Sasha takut menyesal apabila semua sudah terlambat.

Tanpa sadar malam sudah semakin larut. Sasha melirik jam dinding dan matanya melebar. Jam setengah satu pagi!

“Mammi, aku ada kelas pagi besok,” seru Sasha sambil membereskan barang bawaannya. “Aku boleh pulang lebih dulu?”

“Tentu Sasha.”

Setelah mendapat lampu hijau dari Mammi, Sasha langsung bergegas pulang. Kelas pagi besok adalah kelas filsafat yang diampu oleh William. Membayangkan terlambat datang ke kelas dan harus berhadapan dengan William sudah membuat Sasha mual.

Sesampainya di kos, Sasha cepat-cepat membasuh diri lalu melempar tubuhnya ke atas ranjang. Sasha hanya bisa berharap bahwa alarm ponselnya tidak akan mengkhianatinya besok pagi.

Tetapi harapan hanyalah harapan dan semesta masih enggan mengasihi Sasha.

Alarm yang berbunyi nyaring gagal didengarnya, membuat Sasha lagi-lagi ingin mengutuk dirinya sendiri. Kelas akan dimulai dalam 10 menit dan Sasha belum bersiap sama sekali. Ia bangun dengan mata terbelalak dan hati yang berdebar.

Gawat, gawat, gawat!

Ia bersiap terburu-buru, barangkali meninggalkan buku yang seharusnya dibawa untuk kelas hari ini. Namun Sasha tidak memikirkan itu. Fokus Sasha hanya satu: ia tak ingin terlambat untuk kelas yang diampu William.

Tetapi tentu saja takdir masih berkata lain. Sasha tidak dapat mencapai kampus tepat waktu dan harus mati-matian berlari menyusuri selasar untuk mencapai kelasnya. Sasha menelan ludah ketika melihat William sudah berdiri di depan kelas melalui jendela pintu. Ia meraih gagang pintu dengan gemetar dan mempersiapkan diri.

Pintu terbuka dan William menoleh.

“Ini sudah jam berapa, Sasha?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 151

    "Aku tahu, Bu. Aku tahu," rintih Sasha.“Kamu harus kuat, demi Arlan. Ibu yakin semua akan baik-baik saja.”Sasha mengusap wajahnya, matanya merah dan sembap. Cahaya lampu neon di koridor rumah sakit memantul di lantai keramik yang dingin, menciptakan suasana yang kian mencekam. "Ibu tahu sendiri... aku bahkan tidak ingin Arlan tahu wajahnya. Bagaimana mungkin aku harus menyeret pria itu kembali ke hidup kami?""Ini soal nyawa, Sasha!" suara Lastri mulai melunak, membujuk Sasha meski tertahan oleh keheningan bangsal. "Arlan butuh sumsum itu. Kalau hasil tesmu tidak cocok, siapa lagi yang kita punya? Kamu mau membiarkan bocah itu layu hanya karena kamu terlalu takut menghadapi masa lalu?"Sasha terdiam. Kata-kata Lastri menghantamnya lebih keras daripada diagnosis dokter. Ia menoleh ke arah bangsal, melihat tubuh kecil Arlan yang terbaring lemah dengan selang infus yang tampak terlalu besar untuk tangannya yang mungil. Dada Arlan naik turun dengan napas yang pendek dan berat."Aku ak

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 150

    Di dalam taksi online yang mereka pesan dengan terburu-buru, Sasha memeluk Arlan erat-erat. Kepala Arlan bersandar di dadanya, terasa begitu panas hingga menembus kaus yang dikenakan Sasha. Sepanjang jalan, Sasha terus membisikkan doa, namun pikirannya terus kembali pada gambar krayon tadi sore."Ma..." Arlan membuka matanya sedikit, namun pandangannya kosong. "Dingin... Arlan dingin...""Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi sampai rumah sakit," Sasha mencium kening Arlan berkali-kali, berusaha menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan.Sesampainya di Unit Gawat Darurat (UGD), perawat segera mengambil tindakan. Arlan dipasangi infus dan diberikan obat melalui dubur untuk menurunkan demamnya dengan cepat. Sasha hanya bisa berdiri di sudut ruangan, meremas tangannya sendiri hingga buku-bukunya memutih.Lastri mendekati Sasha, merangkul bahu Sasha yang berguncang karena tangis yang ditahan. "Dia akan baik-baik saja, Sha. Arlan anak yang kuat.""Aku takut, Bu. Aku takut kalau

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 149

    “Mama, tadi aku gambar ini.”Arlan menunjukkan gambar keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, nenek dan dirinya. Sasha tersenyum melihatnya. “Ini siapa?”“Papa.”“Kok gelap wajahnya?” tanya Sasha. “Habis Arlan gak tau wajah Papa gimana. Mama gak kasih tahu.”Sasha hanya mengusap kepala Arlan, lalu meletakkan kertas gambar itu. “Arlan mau makan apa? Biar mama siapkan,” kilah Sasha mengalihkan topik. Dia selalu kesal jika Arlan sudah berbicara tentang ayahnya.“Arlan gak lapar,” lirih Arlan yang juga seperti tahu kebiasaan ibunya yang selalu berbohong tentang ayahnya.Sasha bergegas ke dapur, membiarkan bunyi sutil dan wajan menjadi tameng dari kesunyian yang menyesakkan. Di ruang tengah, Arlan masih menatap kertas gambarnya. Sosok jangkung dengan coretan hitam tebal di bagian wajah itu seolah menatap balik padanya, menuntut identitas yang selama lima tahun ini disembunyikan rapat-rapat oleh ibunya.Sasha memotong wortel dengan gerakan yang terlalu bertenaga. Suara pisau beradu dengan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entahlah! Mama tak tahu harus ke mana. Rumah, mobil sudah disita. Mama mau ke mana coba?”“Ya udah, ke apartemen aku dulu. Aku yakin papa juga akan ke sana.”Linda pun mematikan telepon, dia langsung meminta supir menuju apartemen Clarissa. Di sana, ternyata Bram ternyata sudah menunggu."Dengar, Linda! Aku tidak tahu kalau akan jadi seperti ini.”Clarisa belum sampai di sana, dia masih di jalan dan keduanya tengah menunggu dan berdiri di ambang pintu.“Aku udah gak peduli. Mas harus cari Sasha dan minta anak itu membuat William percaya lagi dengan kita.”“Bagaimana mungkin? Aku saja tidak tahu di mana anak itu sekarang!" Jawab Bram.Clarisa sampai. Wajahnya terlihat marah dan meledak. “Claris

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 145

    Pagi itu, di kediaman mewah Bram yang dibeli dari hasil uang duka William, suasana mendadak berubah mencekam. Linda, sedang menikmati teh paginya ketika tiga unit mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Beberapa pria berseragam petugas sita Hb masuk ke properti pribadi. Bahkan teriakan Linda yang histeris saat petugas mulai menempelkan stiker penyitaan pada pilar rumah menyita perhatian bnyak orang."Ibu Linda, rumah ini tercatat sebagai jaminan atas dana talangan yang tidak pernah dikembalikan kepada Aditama Group. Selain itu, ada temuan pencucian uang terkait aliran dana dari PT. Cahaya Bangun. Silakan kosongkan rumah ini dalam dua jam, atau kami akan memanggil pihak berwajib untuk pengosongan paksa," ucap sang pengacara dengan nada sedatar tembok.Linda gemetar. Ia mencoba menghubungi Bram, namun ponsel suaminya tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Clarissa putri kesayangannya, namun yang menjawab adalah suara operator ponsel. “Kenapa semua orang mendadak tidak bisa dihubungi.

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    "Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha," ucap William sangat pelan.Bramanto mengernyit, mencoba tertawa kecil yang terdengar sumbang. "Golongan darah? Nak William, kamu tahu sendiri Sasha bergolongan darah O, sama seperti almarhum ibunya. Untuk apa menanyakan itu pada dokter?"William meletakkan cangkirnya ke meja dengan denting yang tajam. Ia menyandarkan punggung, menyilangkan kaki dengan santai namun auranya begitu mengancam. "Itu dia masalahnya, Bram. Semalam aku memeriksa kembali berkas kesehatan lama miliknya saat kami masih bersama. Di sana tertulis jelas bahwa Sasha bergolongan darah AB."William mencondongkan tubuh, tatapannya menghunus. "Jadi, Bram... jika Sasha bergolongan darah AB, bagaimana mungkin hasil autopsi j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status