แชร์

bab 205

ผู้เขียน: Azzura Rei
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-03 23:33:17

Sasha terbangun oleh suara alarm ponselnya. Dia mengucek mata perlahan, lalu melihat jam yang ternyata sudah sangat kesiangan. Dia lupa jika William begitu disiplin dan dia lupa jika Arlan sanb anak berangkat sekolah sangat pagi.

Sasha tersentak duduk, jantungnya berdegup kencang saat melihat angka 07:30 terpampang di layar ponselnya. Arlan seharusnya sudah berangkat satu jam yang lalu, dan William... William biasanya sudah berada di meja makan dengan kopi hitam dan koran digitalnya tepat puku
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 309

    Kirana menggeser duduknya hingga bahunya bersentuhan dengan bahu Sasha. Ia memperbesar sketsa digital pelataran timur yang baru saja dikirim tim landscape ke grup proyek."Coba lihat ini, Kak," ujarnya antusias sambil menunjuk layar laptop. "Kalau altar dipindah ke sisi timur, saat kalian menikah nanti, matahari pagi bakal muncul tepat dari balik kabut. Cahaya keemasannya langsung mengarah ke altar. Dijamin hasil fotonya bakal luar biasa."Sasha memperhatikan gambar itu dengan saksama. Bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum tipis."Indah sekali..."Tanpa sadar pikirannya melayang jauh ke beberapa tahun silam.Ia masih ingat bagaimana canggungnya awal pernikahan mereka. William saat itu bukan pria yang mudah tersenyum. Wajahnya selalu datar, dingin, dan sulit ditebak. Jangankan mengucapkan kata-kata manis, sekadar mengobrol santai dengannya pun terasa seperti sedang berbicara dengan tembok.Sampai akhirnya Arlan hadir.Putra kecil mereka perlahan menjadi jembatan yang mencairkan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 308

    Hari Senin kembali membawa ritme kesibukan yang padat.Pukul tujuh pagi, William sudah berangkat lebih dulu setelah mencuri satu kecupan singkat di kening Sasha yang masih sibuk menyiapkan bekal Arlan."Aku pulang cepat," janjinya sambil merapikan kerah jas.Sasha hanya tersenyum tipis."Kalimat itu sudah kamu ucapkan tiga hari berturut-turut."William terkekeh pelan. "Kali ini serius.""Kemarin juga bilang begitu.""Aku sedang berusaha memperbaiki reputasi."Sasha menggeleng geli sebelum membenarkan dasi suaminya."Yang penting hati-hati di jalan."William mengecup keningnya sekali lagi."Always."Sekitar pukul sembilan pagi, rumah kembali sunyi setelah Arlan berangkat sekolah.Sasha baru selesai merapikan ruang keluarga ketika bel rumah berbunyi nyaring."Ting tong!"Begitu pintu dibuka, seorang perempuan berambut panjang langsung mengangkat kedua tangannya."Surprise!""Kirana?"Adik William itu nyengir lebar sambil membawa dua paper bag besar."Aku datang membawa amunisi!""Amunis

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 307

    Sesampainya di dalam rumah, suasana hangat langsung menyambut mereka. William menggendong Arlan yang kembali pulas setelah sempat terbangun sebentar saat mobil berhenti di garasi. Dengan langkah seringan mungkin, William membawa jagoan kecilnya itu ke kamar, merebahkannya di atas kasur, dan menyelimutinya hingga sebatas dada setelah melepas sepatu dan kupluk wolnya.Sementara itu, Sasha sibuk di dapur, merapikan kembali tas bekal yang mereka bawa dan memasukkan sisa termos ke dalam wastafel. Tubuhnya memang terasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan menembus kabut tebal, tetapi hatinya dipenuhi perasaan puas.Saat Sasha sedang membasuh tangannya, sepasang lengan kokoh tiba-tiba kembali melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma tubuh William yang maskulin bercampur sisa wangi kopi instan di lembah tadi langsung menyerbu indra penciumannya. William menyandarkan dagunya di pundak Sasha, mengembuskan napas panjang yang terasa hangat di leher istrinya."Capek?" bisik William ren

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 306

    "Will..." Sasha berbisik lirih, jemarinya mengusap lengan William yang melingkari pundaknya. "Tadi itu... kenapa tiba-tiba ada Hendri? Bukankah Kirana bilang dia hanya datang sendiri?"William membuka matanya, tatapannya menerawang ke arah jalur setapak tempat mobil Kirana baru saja pergi. "Aku yang memintanya. Hendri adalah asistenku yang bekerja sama dengan Kirana. Dia sengaja datang menyusul untuk memastikan detail teknis jalur logistik yang kita bicarakan tadi. Hanya saja, dia memilih menunggu di pondokan bawah saat aku dan Kirana memeriksa pelataran atas.""Oh, pantas saja," gumam Sasha, kepalanya bergerak sedikit di bahu William, mencari posisi yang lebih nyaman tanpa mengganggu Arlan yang mendengkur halus di pangkuannya. "Aku sempat bingung saat dia tiba-tiba ikut bergabung di meja makan. Tapi syukurlah, bekal yang kubuat cukup untuk kita berlima.""Masakanmu selalu lebih dari cukup, Sayang," balas William hangat. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah mer

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 305

    William dan Sasha menyusul turun. William segera menghirup napas dalam-dalam, menikmati pasokan oksigen murni yang begitu menyegarkan rongga dadanya, sangat berbeda dengan polusi udara pusat kota yang sehari-hari ia hirup."Bagaimana, Will? Sesuai dengan ekspektasimu?" tanya Sasha, berdiri di samping suaminya sambil bersedekap menahan angin pagi yang berembus cukup kencang."Lebih dari ekspektasi," jawab William jujur. Matanya yang tajam langsung memetakan area tersebut dari sudut pandang bisnis dan estetika. "Struktur tanahnya bagus, drainase alaminya juga sepertinya bekerja dengan baik karena tidak ada genangan air padahal semalam hujan. Kirana benar-benar menemukan permata tersembunyi."Kirana berjalan mendekati mereka setelah memastikan Arlan asyik bermain rumput di bawah pengawasan penjaga lahan yang tadi ikut menyusul ke dalam. "Pak William, ini beberapa dokumen izin pemakaian eksklusif untuk hari H nanti, dan ini sketsa tata letak panggung serta area katering yang sempat saya d

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 304

    Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Udara pagi itu masih terasa sangat dingin ketika jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Di garasi, William sudah selesai memasukkan koper kecil berisi pakaian ganti, beberapa botol air mineral, dan tentu saja, kotak mainan besar milik Arlan ke dalam bagasi mobil SUV hitamnya.Sasha keluar dari pintu dapur sambil membawa sebuah tote bag kain berukuran besar yang aroma isinya langsung tercium ke mana-mana."Wangi sekali. Kamu membuat bekal apa?" tanya William, menutup pintu bagasi dengan bunyi debuman yang mantap. Ia menghampiri istrinya, mengambil alih tas berat tersebut dari tangan Sasha."Nasi goreng mentega kesukaanmu, lengkap dengan sosis dan telur gulung untuk Arlan. Ditambah kopi di dalam thermos kecil," jawab Sasha sembari merapikan outer rajut berwarna krem yang dipadukannya dengan celana jin santai. Penampilannya pagi ini tampak segar, dengan rambut yang dicepol asal namun menyisakan beberapa anak rambut di tengku

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 16

    "Mulai detik ini," bisik William di bibir Sasha, "berhenti memikirkan dia saat kamu bersama saya. Atau saya akan pastikan dia tahu persis apa yang sedang dilakukan pacar kesayangannya ini setiap malam."Sasha menahan napas. Ancaman itu nyata.William melepaskan cengkeramannya kasar, lalu berbalik m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 7

    Sasha menelan ludah, tubuhnya hampir tak mampu menahan diri. Kakinya lemas mendengar perintah William tadi. Wajahnya terasa panas, bulu kuduknya berdiri, dan setiap napas yang ia ambil seolah terbawa oleh aura pria di depannya. “Ma…maksud Om William?”Sebetulnya, Sasha juga sedikit banyak dapat me

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 6

    Sasha kehabisan kata-kata. Mulutnya sedikit terbuka mendengar itu. Sasha memang yakin William sewaktu-waktu akan mengeluarkan kartu AS miliknya itu. Tetapi, sekarang!?“Saya tunggu nanti malam. Prau Residence, lantai 17 nomor 1.”Begitu selesai mengatakannya, William berpaling pergi. Ia menelaah be

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 5

    Wajah Sasha panas bukan main. Bulir keringat turun membasahi tengkuknya. Ia seolah disihir untuk tetap diam tak melawan. Bahkan ketika tangan William bergerak naik ke pinggangnya lagi, Sasha masih membeku. Ia hanya mampu menatap William dengan kosong.Yang membuat Sasha buyar dari pikirannya adala

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status