Share

bab 4

Author: Azzura Rei
last update Last Updated: 2025-12-29 12:21:56

Sasha mematung mendengarnya.

“Sasha?”

“I.. iya, Pak. Maaf, semalam saya…,” Sasha terbata menimbang-nimbang. Rasanya, tidak perlu diberitahu juga William seolah akan mengetahui alasan keterlambatan Sasha hari ini.

William menatap Sasha. Matanya lagi-lagi tak terbaca. “Duduk, Sasha,” pinta William dingin. “Kelas sudah dimulai.”

Sasha mengangguk pasrah. Ia membawa langkahnya menuju kursi kosong di sebelah Nina. Dari balik punggungnya, Sasha seolah masih bisa merasakan tatapan tajam milik William.

“Sini, Sasha,” bisik Nina setelah Sasha tiba di kursi. “Kamu begadang semalam? Banyak pikiran, Shal?”

“Begitulah, Win, tapi aku nggak apa-apa kok,” Sasha berdalih lagi. Ia segera duduk dan mengeluarkan buku-bukunya.

Suara William yang menjelaskan materi kuliah langsung menyita perhatian Sasha. Sekeras apapun Sasha berharap, William tetaplah seorang dosennya sekarang.

Sasha betul-betul takut apabila William membongkar rahasianya, identitas yang mati-matian ia sembunyikan. Ia belum bisa kehilangan pekerjaan itu, tidak sampai sang nenek sembuh.

Di tengah lamunan dan isi kepala yang semakin rumit, Sasha tersentak ketika William memanggil namanya.

“Sasha,” berat terdengar suaranya. “Perhatikan ke depan.”

Sasha menelan ludahnya. Ia tahu betul bahwa William hanya ingin menunjukkan bentuk kuasanya.

Sepanjang kelas, Sasha memandang ke depan dengan dengan mantap meski kepalanya kosong dan tak sepenuhnya mendengarkan penjelasan William.

Kemudian Sasha memperhatikan William dari tempat duduknya. Tubuh laki-laki itu tegap dengan bahu yang lebar. Rambutnya disisir rapi dengan beberapa helai yang nakal jatuh di atas dahi. Harus Sasha akui bahwa William memang menarik, tetapi bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang.

Nenek.

Pikiran Sasha melayang lagi. Nasibnya kini seolah berada di ujung tanduk. Namun karena ia begitu terdesak, pekerjaan sebagai pemandu karaoke itu tak bisa ia lepas begitu saja. Uang cuma-cuma yang dikeluarkan oleh klien-klien kaya adalah jalan keluarnya sementara ini. Barangkali Sasha akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak setelah ia lulus nanti. Maka, ia juga tak bisa menelantarkan kuliahnya.

Tetapi semuanya sekarang bersinggungan. Pekerjaannya, kuliah, dan William. Sasha bisa kehilangan salah satu di antara kuliah dan pekerjaannya jika William mulai bertindak. Bahkan mungkin keduanya jika William benar-benar tak tutup mulut.

Sasha mengusap wajahnya kasar dan membenamkan wajahnya di balik telapak tangan untuk beberapa saat. Namun mimpi buruknya datang lagi menghampiri.

“Sasha,” suara pria itu kini begitu dekat. William tiba-tiba sudah berdiri di sisinya. “Kelas saya bukan ruang untuk tidur,” ucapannya penuh sindiran.

Seisi kelas pun menoleh ke sumber suara. Beberapa tertawa dan beberapa terlihat tak peduli.

Sasha mengerjap seketika. Cepat-cepat ia membetulkan posisi duduknya. Ia tidak tertidur, sungguh. Namun sial saja, pria itu sepertinya selalu memperhatikan gerak-geriknya.

“Maaf, Pak William…,” ucap Sasha lirih.

Balasan William yang tak kunjung datang membuat Sasha gelisah. Pria itu lalu berjalan meninggalkan area tempat duduk Sasha.

Belum sempat Sasha menghela napas lega, William menoleh. “Selesai kelas, ke ruangan saya, Sasha.”

“Ba- baik, Pak,” Sasha tergagap.

Jika biasanya Sasha begitu tidak sabar ingin kelas usai, kali ini ia lebih ingin kelas ini berlangsung lebih lama lagi, agar dirinya tidak perlu mati gaya di ruangan William.

Selang waktu berlalu, William menyelesaikan kelasnya, meninggalkan ruangan lebih dahulu. Setelah itu para mahasiswa berangsur keluar ruangan. Sempat Sasha terpikir untuk kabur saja dan sembunyi di antara lautan mahasiswa itu, namun ia urungkan niat dan berjalan lemas menuju ruangan William.

Tok tok tok.

“Masuk,” suara William sedikit teredam di sana.

“Permisi.”

William duduk di atas kursi, tatapannya sudah mengintimidasi membuat Sasha sedikit gemetar. Ruangan itu sedikit temaram. Sepertinya William hanya memanfaatkan sinar matahari dari luar jendela yang ditutupi tirai.

“Sasha,” mulainya. William bangkit seraya menggulung lengan kemejanya, memperlihatkan otot-otot di tangan. Ia berjalan ke arah Sasha berdiri, matanya belum menatap Sasha lagi.

Ketika Sasha tidak menjawab, William menambahkan lagi, “Yang sopan, Sasha. Kalau dipanggil biasakan menjawab.”

“I… iya, Pak William,” jawab Sasha.

William berhenti tepat di depan Sasha.

“Kenapa terlambat, Sasha?” William menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sebuah tanda intimidasi lain.

“Uh.. saya…,” Sasha kesulitan mencari jawabannya. “Saya…”

Di hadapannya, William masih menatapnya tajam, menunggu jawaban Sasha. Ruangan yang sunyi menambah ketegangan di antara keduanya.

“Maaf, Pak,” pada akhirnya Sasha hanya bisa mengucap maaf, bentuk akhir dari dirinya yang tak mampu berdalih. “Saya … telat bangun karena tidur terlalu larut.”

“Tidur terlalu larut…,” ulang William. “Memang habis melakukan apa, Sasha?”

Itu dia.

Sasha tahu itu pertanyaan sindiran. Bagaimana tidak, William pasti tahu betul apa yang membuat Sasha terjaga hingga larut malam.

Alih-alih menunggu jawaban Sasha dalam diam, William tiba-tiba mengambil langkah maju. Pergerakan tiba-tiba itu mengejutkan Sasha. Ia refleks mundur.

“Tidak menjawab lagi, Sasha? Padahal malam itu kamu pandai bicara, lho.”

Mata Sasha melebar. Ia tidak menyangka William akan mengungkit pertemuan mereka malam itu sekarang, di sini, di lingkungan kampusnya.

Belum selesai memproses pertanyaan William barusan, ia sudah dikejutkan lagi dengan tangan William yang tiba-tiba naik ke dagu Sasha. Tangan kekar itu menuntun gerakan kepala Sasha, memaksanya untuk menatap William tanpa berpaling.

“Pandai sekali bicaramu, Sasha. Sampai-sampai berkata bahwa saya gay.”

Sasha menelan ludahnya.

Tangan William kemudian turun ke pinggang Sasha tiba-tiba. Sasha mengerjap kaget, namun ia tak bisa berkutik. William seolah menguncinya dengan satu sentuhan itu. William mengelus pinggang itu perlahan. Lalu tangannya berpaling menuju bokong Sasha, kemudian meremasnya cepat.

“Ah!” Sasha tersentak.

Saat Sasha baru ingin memproses keadaan, tangan William kini maju ke depan, meraba bagian terlarang di antara kedua kaki Sasha. Sasha dapat merasakan kakinya yang tiba-tiba lemas ketika jari-jari William mulai bergerak, mengusap-usap milik Sasha dari balik kain tipis yang menyekatnya.

“A-ah…,” Sasha pun refleks memegang lengan William.

Sasha dapat merasakan lembab yang datang di bagian bawah miliknya. Tatapan William masih datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara itu, wajah Sasha memanas.

Sentuhan singkat yang begitu nakal itu berhasil membuat Sasha kewalahan, napasnya terengah dan berat. Ia rasakan keringat yang mengalir, seolah tak kalah basahnya dari bagian bawahnya. Untuk sesaat, Sasha tahu ia akan menyesali ini, namun perasaannya kepalang bercampur aduk dalam hati juga kepala.

Sasha masih merasakan tangan William yang belum berhenti bermain-main lincah di bagian bawahnya ketika pria itu tersenyum tipis. Sasha merasa ada semacam kepuasan yang hadir di wajahnya.

“Kalau saya gay, memang bisa membuatmu basah begitu, Sasha?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 69

    William menurunkan tangannya perlahan. Tepukan itu berhenti, tapi efeknya justru seperti palu godam yang menghantam kesadaran Bram.Wajah Bram menegang. Keringat tipis muncul di pelipisnya.“Saya tidak pernah lupa siapa Anda,” jawab Bram kaku. “Anda dosen… dan pengusaha. Tapi ini urusan keluarga saya.”William tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.“Urusan keluarga?” Ia melirik Nenek Wati yang terbaring pucat, lalu kembali menatap Bram. “Menarik. Karena dari yang saya lihat, keluarga Anda baru datang ketika kontrol atas Sasha mulai lepas.”Ia melangkah maju setengah langkah. Tidak agresif. Justru terlalu tenang.“Duduklah, Pak Bram,” lanjutnya. “Kita bicara seperti orang dewasa. Atau… Anda ingin saya bicara sebagai orang yang punya akses pada penyelidikan kasus Clarissa di kampus, laporan rumah sakit, dan beberapa nama investor yang akhir-akhir ini cukup sering menyebut nama Anda?”“Jadi yang membuat kaca perusahaanku benar-benar kamu?’ Tanya Bram menegang.“anda sedan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 68

    “Sha…”Suara serak nenek Wati membuat Sasha terlepas dari jerat sang profesor dingin itu. “Ya, Nek. Sasha di sini.”Sasha tidak melihat Mbak Ana di sana. Padahal asisten yang dia sewa menemani sang nenek harus selalu ada di sisi sang nenek yang sakit. Dia belum berani bertanya pada William yang terlihat masih marah saat ini. “Apa kamu datang sama Raka?”William melirik pada Sasha, Sasha berharap langsung pasang badan di depan Nenek Wati. Namun ternyata tidak.“Kalian bertengkar lagi?” tanya Nenek Wati lagi.“Dia sudah berbohong sama nenek dan dia juga sudah membuat masalah besar di kampus Sasha.” “Bohong?”“Iya. Makanya Sasha di sini sama dosen di kampus, biar nenek percaya kalau Raka itu tidak baik selama ini. Dia sering berbohong tentang Sasha.”“Benarkah itu?” Nenek Wati melirik ke arah William.“Ya.” William menjawab meskipun singkat.“Astaghfirullah, maafkan Nenek, Sha.”“Dan Raka itu yang juga membuat asisten nenek harus cuti. Dia membuat Mbak Ana kecelakaan,” ucap William me

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 67

    Langkah Sasha tidak goyah meski teriakan Clarissa masih terngiang di belakangnya. Ia merasakan adrenalin yang aneh, campuran antara kelegaan yang tajam dan rasa hampa yang membeku. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sebagai korban yang gemetar di sudut ruangan. Namun, ia juga sadar bahwa keberaniannya barusan adalah pinjaman. Keberanian itu bersumber dari bayang-bayang besar bernama William.Ia berjalan menuju perpustakaan, mencari sudut yang paling tersembunyi. Ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah pesan singkat masuk tanpa nama pengirim, namun Sasha tahu siapa pemilik nomor itu. "Selesaikan urusanmu dalam sepuluh menit. Mobil menunggu di gerbang samping. Kita ada janji temu sore ini."Sasha menghela napas panjang. "Janji temu?" gumamnya. William tidak pernah memberitahunya tentang agenda apa pun selain kuliah. Tapi itulah William, setiap detik dalam hidup Sasha kini adalah bagian dari grafik yang ia susun di atas meja kerjanya.Sasha tidak menyangka bahwa efek domino dari ge

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 66

    Sasha menghabiskan sarapannya dalam diam. Setiap gerakan terasa diawasi, meski William sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan untuk bersiap ke kampus. Denting sendok di piring terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri. Ia tahu, ketenangan ini bukan hadiah, melainkan jeda sebelum kontrol berikutnya diberlakukan sepenuhnya.Ia berangkat satu jam kemudian, sesuai instruksi William. Mobil hitam dengan sopir yang tak banyak bicara menjemputnya tepat waktu. Tidak ada pertanyaan ke mana, tidak ada basa-basi. Semua sudah diatur.Kampus menyambutnya dengan udara pagi yang terasa asing. Tatapan-tatapan itu masih ada berbisik, menilai, mengukur. Namun ada sesuatu yang berubah. Bisikannya tidak lagi liar, tidak lagi berani. Nama Clarissa disebut lebih sering, kali ini dengan nada curiga dan sinis.Sasha berjalan melewati koridor utama dengan langkah mantap, seperti yang William perintahkan. Kepala tegak. Bahu lurus. Ia memaksakan ekspresi netral, meski dadanya bergetar. Setiap langkah te

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 65

    William," kata Sasha, suaranya mantap dan jelas, "Jangan pernah lepaskan aku. Aku milikmu."William tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan kemenangan total. Ia mengulang apa yang dia inginkan sampai Sasha merasa lemas tak berdaya.Keheningan kembali menyelimuti kamar William. Bau maskulin yang khas kini bercampur dengan aroma parfum mahal yang terperangkap di antara seprai sutra yang sedikit kusut. Setelah 'ritual' kepemilikan itu, William memeluk Sasha erat, seolah menjaga agar gadis itu tidak kembali menghilang ke dalam kekacauan dunia luar."Sudah selesai," bisik William ke rambut Sasha, suaranya terdengar lelah namun puas. "Semuanya selesai. Raka tidak akan pernah lagi mengganggumu, dan Clarissa harus berurusan dengan ayahnya yang pasti sudah di ambang kehancuran finansial."Sasha hanya bisa memejamkan mata, rasa aman yang tak terhingga membanjiri dirinya. Ia memeluk pinggang William, merasakan detak jantung pria itu yang kini lebih teratur. "Apa yang akan terjadi dengan video i

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 64

    "Apa itu, Profesor?" tanya Sasha penasaran, melihat perubahan ekspresi William. Mereka ada di pentahouse setelah selesai dengan urusan William.William menutup tablet itu dengan kasar, matanya kini memancarkan kemarahan yang jauh melampaui amarahnya pada Raka. Ini adalah serangan langsung ke citra publiknya, dan Sasha ada di tengah rekaman itu."Sasha," kata William, suaranya tegang dan berbahaya. "Kamu tahu apa itu permainan kotor?”Ia mencengkeram erat lengan Sasha, menariknya berdiri dengan kekuatan yang mengkhawatirkan. “Apa maksud Bapak?”"Hanya sebuah balasan,” jawabnya.William tidak memberinya waktu untuk menjawab. Ia menarik Sasha menuju pintu kamar tidurnya yang luas, matanya menyala kegelapan yang memikat."Lupakan Raka. Lupakan semua. Sekarang, aku ingin kau tunjukkan padaku betapa kau rela menerima konsekuensinya bersamaku. Karena sebentar lagi, dunia akan menertawakan kebodohan mu!”William mendorong Sasha masuk ke kamar, menutup pintu dengan keras, dan menguncinya. Naf

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status