เข้าสู่ระบบ
Ruang tunggu studio dipenuhi aroma parfum mahal dan cahaya lampu putih yang menyorot setiap sudut ruangan. Ronghuā menatap layar ponselnya, menahan napas. Pesan dari manajernya baru saja masuk:
"Selamat, kamu diterima sebagai pemeran utama untuk drama ‘Silent Devotion’. Lawan mainmu? Yang Huīxiáng."
Mata Ronghuā membulat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Nama itu, nama yang sudah tersimpan rapi dalam memori sejak ia kecil, kini muncul kembali dalam hidupnya—sebagai pria dewasa, terkenal, dan sama sekali tidak berubah dalam aura dinginnya yang memikat.
Ia menoleh ke arah jendela studio yang memantulkan cahaya sore, mencoba menenangkan diri. "Bagaimana mungkin...?" gumamnya. Ia masih ingat jelas saat pertama kali bertemu Huīxiáng, ketika ia sembilan tahun dan duduk di kursi kayu klinik kakeknya. Huīxiáng saat itu tujuh belas, menolong ayahnya di klinik TCM, dan tampak serius membaca buku resep kuno. Ronghuā kecil memandangnya dengan kagum, bahkan sempat berani bertanya tentang akupuntur dasar.
Sejak saat itu, wajahnya selalu tersimpan di memori Ronghuā—first crush yang tidak pernah diungkapkan, namun selalu hadir dalam diam. Dan kini, rupanya nasib memutuskan untuk mempertemukan mereka lagi.
"Ronghuā, kamu baik-baik saja?"
Suara manajernya, Lin Wei, memecah lamunannya. Wanita itu menatapnya dengan ekspresi campuran antara penasaran dan khawatir.
"Aku... aku hanya sedikit terkejut," jawab Ronghuā, menata napasnya. "Huīxiáng… benar-benar main drama ini?"
Lin Wei mengangguk. "Iya. Dan dengar-dengar dia baru saja menyelesaikan syuting film terbaru yang viral. Agensinya ketat soal hubungan pribadi—jadi jangan sampai ada rumor."
Ronghuā menelan ludah. Ia tahu—ini bukan sekadar tawaran peran. Ini adalah jebakan emosional yang bisa menghancurkan konsentrasinya, atau bahkan membuka luka lama yang belum sembuh.
Beberapa jam kemudian, di ruang audisi, suasana berubah menjadi lebih tegang. Kru sibuk menyiapkan lampu, kamera, dan skrip yang tergeletak rapi di atas meja kayu. Ronghuā membuka folder berisi naskah, mencoba fokus. Namun, ketika ia mengangkat kepala, matanya menangkap sosok tinggi dengan wajah dingin namun menawan, berdiri di ujung ruangan.
"Huīxiáng..." bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Huīxiáng juga menatapnya, dan seketika ekspresi di wajahnya berubah—mata yang dulu penuh kekaguman kini menyimpan kejutan yang sulit disembunyikan.
"Ronghuā?" suara rendahnya menggetarkan udara di antara mereka.
Detik-detik pertama pertemuan ini dipenuhi keheningan canggung. Kru studio terlihat sibuk, tapi dunia mereka berdua seakan berhenti. Semua kenangan masa lalu—kegiatan di klinik kakek Huīxiáng, pertukaran buku, pertanyaan-pertanyaan cerdas Ronghuā kecil—muncul kembali seperti film hitam-putih yang dimainkan di benak mereka.
Lin Wei menyentuh bahu Ronghuā, membangunkannya dari lamunan. "Kamu siap, kan?"
Ronghuā mengangguk, menelan rasa gugupnya. Ia membuka skrip dan mulai membaca, mencoba memasuki dunia karakter. Namun, matanya tak bisa lepas dari Huīxiáng yang berdiri beberapa meter di depannya, membaca naskah dengan serius, sesekali mengangguk atau menyeringai tipis.
Di balik layar, Han Yue, editor BTS yang bertanggung jawab untuk dokumentasi behind-the-scenes, menyadari chemistry mereka. Tanpa sepengetahuan mereka, Han Yue diam-diam menekan tombol rekam, menangkap momen-momen spontan—senyum tipis Ronghuā saat membaca skrip, pandangan Huīxiáng yang seakan tak mau lepas dari adik kecil yang dulu begitu berbakat.
"Ah, ini pasti viral," gumam Han Yue dalam hati sambil menahan senyum. Namun, ia menyadari satu hal: ini bukan hanya soal drama biasa. Ada masa lalu yang belum terselesaikan.
Ronghuā mencoba fokus. "Scene pertama…," bisiknya sendiri. Ia menatap naskah: adegan reuni yang ditulis sebagai percakapan formal di kantor rumah sakit. Ironis, mengingat hubungan mereka yang jauh dari formal di masa kecil.
"Ronghuā, jangan terlalu tegang," Huīxiáng tiba-tiba muncul di sampingnya. "Aku janji, ini cuma skrip. Kita lakukan yang terbaik."
Ada kehangatan di suaranya, tapi tetap ada lapisan dingin yang membuat Ronghuā merasa... nyaman sekaligus waspada. "Baik," jawabnya, mencoba tersenyum.
Adegan dimulai. Mereka saling bertukar dialog, Ronghuā tetap menjaga ekspresi profesional, tapi setiap kata yang keluar dari Huīxiáng membuat hatinya berdetak lebih cepat. Sementara kamera merekam, Han Yue memastikan setiap momen terekam dengan jelas—senyuman, tatapan, bahkan jeda sejenak di antara mereka.
Setelah beberapa take, kru memberi jeda. Ronghuā duduk, menenangkan napasnya, ketika Lin Wei mendekat. "Kamu tahu, Huīxiáng terlihat... sedikit tegang juga, lho."
Ronghuā mengangkat alis. "Dia? Teegang?"
Lin Wei tersenyum tipis. "Iya. Sepertinya reuni ini bukan hanya untuk drama."
Ronghuā menelan ludah. Memori masa kecilnya membanjiri pikiran: Huīxiáng yang selalu memperhatikannya di klinik, tangan kecilnya yang bergetar saat mencoba meniru teknik akupuntur, kata-kata pujian dan peringatan yang kini terasa hangat. Dan sekarang, semua itu muncul kembali, di tengah lampu sorot studio dan kamera yang terus merekam.
Tak lama, manajer Huīxiáng, Zhou Tian, mendekat, membawa naskah tambahan untuk adegan selanjutnya. "Ini adegan kalian berdua bertemu di taman rumah sakit. Banyak dialog emosional di sini. Pastikan kalian membaca dulu sebelum take."
Ronghuā menatap Huīxiáng. "Aku… takut emosiku terlalu terlihat."
Huīxiáng menatapnya tajam, tapi ada senyum tipis di bibirnya. "Kalau terlalu terlihat, aku juga akan menanggungnya. Kita jalani saja."
Rasa hangat itu menyebar di dada Ronghuā. Ia tersenyum, menenangkan dirinya, dan membuka halaman naskah berikut. Saat ia membaca dialog, tiba-tiba ponselnya bergetar—pesan dari Han Yue.
"Aku sudah rekam semua BTS kalian. Tunggu saja, ini bakal viral."
Ronghuā menatap layar, wajahnya memerah. Ia tahu, momen ini tidak bisa disembunyikan. Hubungan masa kecil mereka, chemistry yang alami, kini ada di tangan orang lain. Ia menelan ludah, menatap Huīxiáng, dan merasa campuran tegang, takut, dan sedikit bahagia.
Saat take berikutnya dimulai, lampu sorot menerangi wajah mereka, kamera siap merekam setiap gerakan. Ronghuā merasakan getaran lama yang muncul lagi—getaran yang dulu hanya ada di hatinya, kini menjadi nyata di depan mata. Huīxiáng menatapnya, ekspresi serius tapi lembut.
"Siap?" bisik Huīxiáng.
"Aku… siap," jawab Ronghuā, menarik napas panjang.
Dan kamera merekam…
Ronghuā menyadari sesuatu ketika membaca dialog terakhir: ada adegan di mana Huīxiáng harus menyentuh tangannya. Untuk sesaat, dunia di sekitarnya berhenti. Dalam pikiran Ronghuā, satu pertanyaan berputar cepat:"Apakah perasaan masa kecil itu… benar-benar hilang, atau hanya menunggu saat ini untuk kembali?"
Ruang studio menjadi saksi pertama reuni mereka. Di luar sana, kamera BTS diam-diam merekam semua, siap membuat dunia mengetahui rahasia yang sudah lama tersembunyi. Ronghuā menatap Huīxiáng, jantungnya berdebar, dan menyadari bahwa kisah yang dimulai di masa kecil mereka kini kembali dihidupkan—dengan risiko, emosi, dan rahasia yang belum terungkap.
Hal pertama yang ia rasakan bukan takut, tapi dingin—jenis dingin yang tidak berasal dari suhu ruangan, melainkan dari sesuatu yang merayap pelan di dalam dada, membuat napas terasa lebih pendek dan pikiran tiba-tiba terlalu jernih. Ronghuā menatap layar ponsel yang masih menyala di tangannya, artikel yang tadi mereka lempar sebagai umpan kini sudah berubah bentuk sepenuhnya, bukan lagi sekadar berita, tapi sesuatu yang lebih terarah, lebih tajam, seperti panah yang sengaja dilepaskan untuk mengenai satu titik tertentu. Ia tidak perlu membaca ulang untuk tahu—ini bukan reaksi biasa. Ini serangan balik. Dan bukan serangan yang setengah-setengah.“Ini bukan cuma framing,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. Huīxiáng berdiri di sampingnya, matanya ikut membaca cepat, rahangnya mengeras sedikit ketika ia menangkap pola yang sama. Kalimat-kalimat itu disusun dengan rapi, terlalu rapi, seperti sudah dipersiapkan sebelumnya. Tidak ada jeda ragu, tidak ada ruang abu-abu
Kaca jendela memantulkan bayangan wajahnya sendiri, samar, tertelan cahaya kota yang perlahan menyala satu per satu. Ronghuā berdiri tanpa bergerak, kedua tangannya menyilang di depan dada, tapi bukan karena dingin. Ruangan itu sebenarnya hangat, terlalu hangat malah, sampai udara terasa sedikit pengap, tapi tetap saja ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa diam. Lampu-lampu di luar terlihat kecil dari ketinggian ini, seperti titik-titik yang bergerak tanpa arah yang jelas, dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa semakin sempit. Dunia tetap berjalan. Selalu begitu. Orang-orang masih tertawa, masih makan malam, masih pulang ke rumah tanpa tahu bahwa di satu sudut kota yang sama, ada seseorang yang sedang berdiri di batas antara bertahan atau jatuh. Ia menarik napas pelan, mencoba memenuhi paru-parunya, tapi udara terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahan di tengah jalan.Di belakangnya, suara langkah Huīxiáng terdengar pelan, diikuti bunyi pintu kamar ya
Ada jenis rasa sakit yang tidak datang dengan suara, tidak memberi peringatan, tidak menghantam seperti sesuatu yang pecah di lantai, tapi justru hadir perlahan seperti sesuatu yang merembes dari celah kecil yang tidak terlihat, mengisi ruang-ruang kosong di dalam diri tanpa disadari sampai akhirnya semuanya terasa terlalu penuh untuk ditahan. Ronghuā tidak bergerak sejak nama itu disebut. Lián Xù. Dua kata yang selama ini ia kubur dalam-dalam, yang ia yakini sudah selesai, sudah tidak lagi punya tempat dalam hidupnya, kini muncul kembali dengan cara yang paling kejam—bukan sebagai kenangan yang bisa ia abaikan, tapi sebagai bagian dari pola yang sama yang sekarang sedang menyeretnya turun. Tangannya masih berada di atas meja, jari-jarinya perlahan menegang, sementara matanya tidak benar-benar melihat layar di depannya. Yang ia lihat bukan data, bukan rekaman, tapi potongan masa lalu yang muncul tanpa izin—ruang praktik kecil dengan lampu terlalu terang, bau obat herbal yang terlalu k
Tidak ada yang benar-benar mempersiapkan seseorang untuk momen ketika ia sadar bahwa kebenaran yang ia pegang tidak cukup untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ronghuā berdiri di tengah lobi rumah sakit dengan USB kecil di dalam saku jasnya, benda itu terasa jauh lebih berat dari ukurannya, seperti membawa sesuatu yang bisa mengubah segalanya tapi juga bisa menghancurkannya dalam satu langkah yang salah. Orang-orang masih berjalan seperti biasa, suara sepatu beradu dengan lantai, percakapan singkat di lorong, panggilan nama pasien dari kejauhan, semua terdengar normal, terlalu normal untuk dunia yang baru saja bergeser di bawah kakinya. Huīxiáng berdiri di depannya, menatap wajahnya dengan fokus yang tidak biasa, seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan Ronghuā sendiri belum sepenuhnya pahami.“Kita pergi sekarang,” kata Huīxiáng pelan, tangannya masih menggenggam pergelangan Ronghuā, hangat dan tegas.Ronghuā mengangguk, tapi langkahnya tidak langsung bergerak. Ia menoleh sekilas ke
Harapan yang datang terlalu cepat sering kali bukan pertanda baik—kadang itu cuma cara lain dunia menjatuhkanmu lebih dalam. Pagi setelah sidang itu tidak membawa kelegaan apa pun, hanya suara notifikasi yang tidak berhenti sejak fajar bahkan belum benar-benar naik. Layar ponsel Ronghuā dipenuhi judul-judul yang terasa seperti pisau kecil—tajam, berulang, dan tidak memberi ruang untuk bernapas. “Rekaman Lengkap Terungkap?” “Dokter TCM Ambil Keputusan Tanpa Persetujuan?” “Kasus Ronghuā Masuki Fase Baru”—kata “baru” di sana terasa ironis, karena yang berubah bukan fakta, tapi cara orang melihatnya. Ia duduk di ujung tempat tidur, punggungnya tegak tapi bahunya sedikit turun, seperti seseorang yang menahan sesuatu agar tidak runtuh terlalu cepat. Tirai belum dibuka sepenuhnya; cahaya pagi masuk setengah, menciptakan garis terang di lantai yang tidak sampai menyentuh kakinya.Huīxiáng keluar dari dapur dengan dua cangkir kopi, langkahnya pelan, seolah takut suara kecil pun bisa memicu ses
Yang paling kejam dari sebuah kebenaran bukan ketika ia disembunyikan, tapi ketika ia muncul dalam bentuk yang sudah diubah—cukup mirip untuk dipercaya, cukup berbeda untuk menghancurkan. Notifikasi dari dewan etik itu masih menyala di layar ponsel Ronghuā, cahayanya kecil tapi terasa menusuk di tengah ruang apartemen yang setengah gelap. Jam menunjukkan lewat tengah malam, tapi waktu seperti berhenti bergerak sejak kalimat itu muncul: “Sidang Anda dipercepat. Bukti baru telah diterima.” Ronghuā berdiri diam beberapa detik, napasnya pelan, hampir tidak terdengar, seolah ia takut jika bergerak terlalu cepat, semuanya akan berubah jadi lebih buruk. Di belakangnya, Huīxiáng berdiri dengan jarak yang tidak jauh, cukup dekat untuk merasakan perubahan kecil dalam sikap Ronghuā, cukup jauh untuk tidak langsung menyentuh tanpa izin.“Apa isinya?” tanya Huīxiáng, suaranya lebih rendah dari biasanya, seperti sengaja tidak ingin memecah keheningan yang sudah tegang.Ronghuā menggeleng pelan, mat
“Ronghuā, kau harus lihat ini,” suara Han Yue terdengar tegas namun penuh rasa geli dari belakang meja editing. Ronghuā menoleh, mengangkat alis. “Lagi apa?”Han Yue menepuk layar laptop dengan penuh dramatis. “Ini BTS take kemarin. Kau dan Huīxiáng… luar biasa. Fans sudah mulai memperhatikan hal-h
Pagi itu, studio terasa berbeda. Suara kamera dan langkah kru terdengar lebih cepat dari biasanya. Semua orang tampak sibuk, tapi ada ketegangan yang terasa samar. Han Yue, editor yang diam-diam merekam adegan BTS sebelumnya, menatap layar monitor dengan senyum tipis. Video itu mulai viral di kalan
Pagi itu, cahaya matahari lembut menyusup melalui jendela studio, menyorot lantai kayu yang mengkilap. Suasana berbeda dari hari-hari sebelumnya. Adegan hari ini lebih intens, lebih emosional. Guō Chénghǎi, sutradara, mengatur posisi kamera dan memberi instruksi kepada kru, tapi matanya selalu kemb
Ruang editing di lantai tiga gedung produksi terasa hangat oleh sinar matahari sore yang masuk melalui jendela besar. Han Yue menatap layar komputer dengan mata yang setengah lelah, setengah bersemangat. Video BTS yang ia ambil diam-diam dari syuting kemarin kini mulai menarik perhatian. Seketika,







