Masuk"Kamu tahu alasan kamu ada di sini?"
Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta. "Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --" "Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!" Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya dan perlahan berjalan mendekat pada Aleta. Selangkah demi selangkah mendekat, Aleta mundur perlahan. Rasa takutnya membuat ia menciut. Apalagi Aleta sendiri mempunyai trauma dengan kejadian tempo hari di rumahnya sendiri oleh teman suaminya yang akan berbuat tidak senonoh pada dirinya. "Jangan macam-macam!" Aleta memberikan peringatan. "Seumur hidupku 35 tahun dan selama menjalankan bisnis ini, barulah sekarang ada seorang suami yang memberikan istrinya sebagai jaminan. Kehidupan rumah tangga macam apa yang kalian jalani?" Seharian ini, pikiran Antonio disibukkan dengan wanita yang dijadikan jaminan oleh suaminya, yang kini tinggal di kediamannya. Sekaligus untuk kali pertamanya seorang wanita asing menginjakan kaki bahkan tinggal di rumahnya yang jauh dari keramaian. "Jawab dulu pertanyaanku, apa yang membuat kamu mau memberikan pinjaman begitu besar pada suamiku dengan jaminan bukan tanah, gedung, perkebunan, seperti yang kamu sebutkan kemarin. Mengapa kamu mengiyakan dan menjadikan aku berada di sini sekarang? Jawabanku cukup menjawab pertanyaanmu, kan? Silakan jawab pertanyaanku!" Antonio menyunggingkan senyumnya. "Karena saya mempunyai uang yang suamimu inginkan dan saya berhak atas keputusan apapun yang saya ambil, menolak atau mengabulkannya. Bukan sesuatu yang sulit." Antonio mendekat selangkah lagi. "Dari jawabanmu menjawab pertanyaan tadi, saya tau sekeras kepala apa dirimu. Kamu juga pandai berkata-kata. Mudah dipahami jika suamimu mungkin memberikan pelajaran untukmu yang tak patuh. Apalagi suka berselingkuh." "Kamu bukan orang yang pandai menilai seseorang, karena apa yang kamu katakan salah besar." Aleta mundur satu langkah dengan perasaan takut yang sudah hilang entah kemana berganti dengan rasa sakit hati dan kesal atas tuduhan yang tak sesuai fakta, yang hanya berdasarkan cerita karangan suaminya. Ia pun tidak ingin banyak bicara untuk membela diri dari orang yang sudah terlanjur mempercayai cerita buruk tentangnya dibandingkan bertanya kepastian padanya. "Sudah? Memanggilku ke sini hanya untuk bertanya? Ah, tidak-tidak." Aleta menggelengkan kepalanya. "Bukan bertanya tapi hanya mengatakan yang kamu dengar tanpa tau faktanya. Jika kamu percayai hal itu, silahkan. Permisi." Tanpa menunggu respon dari Antonio, Aleta segera keluar dari ruangan itu dengan gemetar yang ia sembunyikan. Keberanian yang ia keluarkan untuk menutupi rasa takutnya berhadapan dengan orang asing yang tidak ia ketahui bagaimana sifat dan karakternya, seolah sedang mempertaruhkan nyawanya karena ia seorang diri tanpa bisa keluar dari rumah itu. Sehingga barulah Aleta terbayang akan nasibnya selanjutnya. Berapa lama ia akan dijadikan jaminan di rumah itu? Bisakah ia bertahan dan keluar hidup-hidup tanpa kekurangan juga kehilangan apapun? Dan tentunya kekecewaan yang amat mendalam pada Roy yang bisa tega memberikan dirinya pada pria asing sebagai jaminan yang Aleta sendiri ragu bahwa Roy bisa membayar kembali uang pinjaman itu dan membawanya keluar dari rumah megah penuh tanda tanya akan nasib ia ke depannya. Aleta berjalan lunglai dengan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi, pikirannya begitu sibuk, fisiknya remuk, hatinya berkecamuk dan perut yang mengamuk. Tiba-tiba dunia gelap gulita! *** "Sepertinya bos Roy sudah kembali seperti dulu, dia sudah kaya lagi," ucap salah satu teman Roy terdahulu semasa Roy masih sangat berkecukupan, mereka kembali berkumpul disaat Roy sudah mampu membayar semua tagihan di ruangan karaoke, lengkap dengan berbagai minuman dan para wanita malam yang menemani mereka berlima. "Kemiskinan tidak tahan berlama-lama di kehidupanku. Aku lebih cocok menjadi orang kaya," jawab Roy dengan jumawanya. "Tambahkan minuman itu untukku, Manis," pintanya pada satu wanita yang berada di sampingnya. "Memangnya istri cantikmu itu tau kalau kamu sedang bersama kami? Semenjak menikah dengan dia, kamu jarang keluar, bahkan kamu sering mengurung istri cantikmu itu," ujar teman Roy yang lain dengan sedikit mengejek dan mengingatkan seberapa protektifnya Roy pada istri yang selalu ia banggakan kecantikannya, sehingga tidak pernah ia izinkan keluar rumah jika tidak bersamanya. Meskipun hal itu hanya sementara saja, karena sejak Roy jatuh miskin, Aleta lah yang banting tulang mencari uang, yang otomatis mengharuskan ia keluar rumah dan bertemu banyak orang. "Wanita itu seperti bunga, cantiknya tidak bertahan lama," jawab Roy sembari membayangkan perubahan Aleta yang dulu begitu cantik hingga menjadi lusuh tidak terawat dengan baju-baju yang sebenarnya sudah tidak layak. Keempat teman Roy hanya saling tatap sambil tersenyum mengejek Roy diam-diam. Bagi mereka, Roy memang tidak pernah berubah dari dulu sampai saat itu, pemikiran yang dangkal, kekanakan, mudah emosi, mudah senang ketika dipuji, sangat tidak menggambarkan pria matang usia 30 tahun. Bahkan mencari uang dengan keringat sendiri pun rasanya Roy tidak akan bisa. "Kalau begitu nikmatilah dua bunga yang masih fresh yang ada di sampingmu itu, Roy. Sudah aku pesankan spesial untukmu, yang satu gadis dan satunya lagi jago servis. Selamat menikmati makan malam panjang, Roy. Kami berempat menunggu di sini." Roy tersenyum dengan bangga, ia merasa seolah dunia kembali berpihak padanya. "Kalian memang tau apa yang aku mau." Roy beranjak dan keluar dari room bersama dua wanita yang akan menemani malam panjang penuh bergairah."Apa kamu tetap ingin negosiasimu tadi pagi aku kabulkan?" tanya Antonio saat mereka kini berada di area belakang rumah, di taman dekat kolam renang yang luas itu.Aleta melirik dengan perasaan curiga dan sedikit was-was. "Ada apa ini? Apa ada hal yang salah terjadi? Bukannya kamu tidak setuju negosiasi yang aku usulkan tadi pagi?""Aku ingin tahu seberapa keras dan bertanggungjawabnya kamu atas apa yang kamu ucapkan."Mata Aleta cukup berbinar, seperti secercah cahaya menjadi sedikit pengharapannya akan menjadi nyata. "Aku bekerja di ladang gandum. Upahku lumayan tiap bulannya. Saat hari libur, aku bisa mencari pekerjaan tambahan lain juga. Aku tidak akan lari sebelum semuanya lunas.""Berapa upahmu? Berapa lama kamu akan melunasi semuanya?"Sebenarnya sejak kepulangannya dari kota kecil dimana Aleta tinggal, ia sudah ingin memberikan sedikit kelonggaran pada Aleta setelah mengetahui latar belakang kehidupan Roy. Ia mengerti jika Aleta tidak bersalah dan tidak perlu ia perlakukan beg
"Ahh ...."Suara desahan seolah menggema di kamar yang sudah tidak ada apa-apa lagi, hanya menyisakan satu kasur dimana Aleta beristirahat dari lelahnya bekerja di ladang gandum seharian."Dulu, apa kamu ingat alasan kenapa kamu menolakku, Roy? Sekarang kamu menikmati tubuhku, hhh ...," ucap Sandra yang kini memegang kendali atas permainan panas yang mereka lakukan di siang bolong. "Tubuhku nikmat kan, Roy? Lebih nikmat aku atau wanita panti asuhan itu? Mengapa dulu kamu memilih wanita panti asuhan yang tidak tahu asal-usulnya dibandingkan aku yang sudah jelas keturunan siapa."Roy tidak banyak bicara, karena ia begitu menikmati servis yang diberikan oleh Sandra secara cuma-cuma padanya. Selama ini, jika ia ingin sebuah kepuasan batin, ia harus mengeluarkan uang terlebih dahulu. Sehingga tawaran dari Sandra tidak ingin ia lewatkan.Dulu, Sandra adalah salah satu wanita yang menginginkan Roy. Kebanyakan mereka hanya mengincar hidup mewah yang bisa didapatkan jika bersama Roy.Roy menik
"Permisi, Pak Hans menyuruhku ke sini untuk meminta sarapan," ucap Aleta pada Sam, koki pribadi di rumah Antonio dengan perasaannya yang sungkan.Sam mengangguk dan tersenyum. "Duduklah dulu, saya akan siapkan sarapan untukmu.""Jangan, jangan! Aku tidak ingin merepotkan. Aku bisa ambil sendiri, cukup kasih tahu saja apa yang boleh dan tidak boleh aku ambil.""Semua makanan di sini boleh kamu makan karena semua ini tidak akan dimakan lagi oleh Tuan Antonio. Mau kamu habiskan pun, silakan.""Sebanyak ini tidak akan dimakan lagi? Sayang sekali," ucap Aleta sambil melihat makanan yang berjejer sangat menggugah selera untuk makan meskipun masih pagi, apalagi ia belum makan apapun dari kemarin."Saya di sini bertugas menyiapkan sarapan dan makan malam. Setiap masakan yang saya sajikan harus selalu fresh, tidak boleh dihangatkan. Jadi semua sisa makanan, akan saya bawa pulang atau bahkan dibuang." Sam menjelaskan tugasnya di rumah itu."Kenapa masak begitu banyak kalau hanya Tuan Antonio ya
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa percaya dengan apa aku katakan tadi? Itu adalah negosiasi yang sama sekali tidak akan merugikanmu. Hanya mungkin butuh waktu saja supaya terkumpul semuanya.""Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu. Tetap di perjanjian awal aku dengan suamimu. Tidak ada tawar-menawar yang sama sekali tidak menguntungkanku. Cepatlah kembali bekerja!!" Antonio berjalan keluar.Tak berhenti menyerah, Aleta terus memohon pada Antonio agar negosiasinya bisa dikabulkan. Sehari saja di rumah itu ia merasa hidupnya tidak akan lama, bertahan sehari pun rasanya begitu berat. Setidaknya jika dia berhasil bernegosiasi, 24 jam dalam setiap harinya tidak ia habiskan di rumah itu."Aku mohon! Suamiku tidak akan kembali ke sini untuk membayar pinjamannya. Dia pasti membuangku. Uangmu tidak akan kembali," ucap Aleta sambil berjalan mengikuti Antonio yang seolah tidak mempedulikannya."Berarti suamimu hanya membuang sampahnya ke rumah ini? Jika kamu sama sekali tidak be
Perlahan kedua mata Aleta terbuka, lalu ia melihat sekeliling. Rasanya sudah tidak seasing waktu pertama kali ia sadarkan diri kemarin. 'Aku pingsan lagi? Padahal aku harap semua yang terjadi hanyalah mimpi burukku. Aku hanya berharap bangun dan berada di kamarku. Meskipun nasibku sama-sama buruk, entah di sini atau di rumah Roy, tapi setidaknya aku sudah mengenal Roy, aku sudah familiar dengan lingkungan di sana, banyak orang yang aku kenal juga, tidak seperti di sini, semuanya sangat asing bagiku,' gumam Aleta. "Bangun tidur melamun, lagi?" Suara berat yang kini sudah tak asing ditelinga Aleta menyapa kembali. Untuk kali kedua ia terbangun dengan disuguhkan pria asing yang menunggunya sampai terbangun. Aleta membuang napas berat seraya bangun dari tidurnya. "Apa yang akan terjadi padaku jika suamiku tidak bisa membayar uang yang dia pinjam?" tanya Aleta tanpa berbasa-basi. Ia ingin tahu bagaimana nasibnya esok dan juga seterusnya. "Seperti barang jaminan pada umumnya, jika tid
"Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya dan perlahan berjalan mendekat pada Aleta.Selangkah demi selangkah mendekat, Aleta mundur perlahan. Rasa takutnya membuat ia menciut. Apalagi Aleta sendiri mempunyai trauma dengan kejadian tempo hari di rumahnya sendiri oleh teman suaminya yang akan berbuat tidak senonoh pada dirinya."Jangan macam-macam!" Aleta memberikan peringatan."Seumur hidupku 35 tahun dan selama menjalankan bisnis ini, barulah sekarang ada seorang suami yang memberikan istrinya sebagai jaminan. Kehidupan rumah tangga macam apa yang kalian jalani?"Seharian ini, pikiran Antonio disibukkan dengan wanita yang dijadikan jaminan oleh suaminya, yang kini tinggal di kediamannya. Sekaligus untuk kali pertamanya seorang wan