LOGINByur!!
Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut. "Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?" Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa tidur di rumah pria asing itu. Yang diingat oleh Aleta hanya disaat ia berusaha untuk kabur dengan memanjat dinding tembok, dia jatuh di rerumputan lalu tidak sadarkan diri. "Jaga mulutmu!" "Bangunlah! Kamu bukan Nyonya di rumah ini yang bisa tidur sampai siang. Suamimu sudah menjadikanmu sebagai barang jaminan. Cepat bekerja! Bersihkan kolam, bersihkan halaman, pel seluruh lantai bangunan yang ada di sini. Pukul 5 sore ketika saya pulang, semuanya harus sudah beres." Setelah mengatakan itu, Antonio pun keluar. 'Tega sekali kamu, Roy. Kamu gadaikan aku untuk uang satu juta dollar, lalu bagaimana jika kamu tidak bisa mengembalikan uang itu. Apa yang akan terjadi padaku? Apa kamu sama sekali tidak berpikir sampai ke arah sana?' batin Aleta yang sudah berada dititik sedih yang teramat sedih karena kekecewaan yang ia rasakan. "Cepatlah! Lamunanmu itu hanya membuang-buang waktu!!" Aleta keluar dari kamar setelah mandi dan kembali mengenakan baju yang ia pakai dari kemarin karena memang tidak ada baju lagi. Entah siapa yang harus ia tanyai, tetapi rumah besar bak istana itu sangat sepi dan gelap karena tirai-tirai yang menjulang tinggi menutupi jendela kaca. Akhirnya Aleta berjalan mencari dapur untuk mencari alat-alat kebersihan yang biasanya disimpan di belakang. Lalu ia bertemu satu orang laki-laki berpakaian seperti koki, dan ia langsung bisa menebak laki-laki itu pasti juru masak di rumah itu. "Permisi, saya harus membersihkan rumah ini, dari mana bisa saya mulai?" Tak langsung menjawab, koki itu malah menatap Aleta dengan penuh keheranan. Bertahun-tahun ia bekerja di rumah Antonio, tidak sekalipun ia melihat seorang wanita bisa berada di dalam rumah itu. "Sarapan lah dulu, saya baru membereskan makanan di meja makan." Perut Aleta memang berbunyi saat itu, tidak bisa ia sembunyikan. Setiap harinya ia memang tidak pernah melewatkan sarapan karena setiap pagi buta ia sudah memulai untuk bekerja. Namun disaat hendak sarapan, tiba-tiba seseorang datang dan melarangnya untuk makan meski tidak di meja makan mewah itu. "Jangan ada yang berani memberikan dia makanan sebelum pekerjaannya selesai! Ini perintah dari Tuan Antonio. Dan kamu, cepatlah bekerja! Ingat kalau semua pekerjaan harus selesai sebelum Tuan Antonio pulang." Berjam-jam berlalu Aleta lewati untuk menyelesaikan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa jeda tanpa asupan makan. Rasanya lebih berat dari pekerjaan dia sehari-hari di ladang gandum. Pekerjaan terakhir yang dia lakukan adalah membersihkan kolam renang yang cukup luas dari dedaunan yang jatuh. "Harusnya aku bersihkan kolam ini pagi-pagi saat energiku masih cukup banyak. Sekarang liat air kolam rasa hausku makin terasa," gumam Aleta sambil menelan ludah saat hanya melihat air kolam. Jangankan untuk mengisi perut dengan makanan, sekedar air minum pun tidak ia dapatkan sampai pekerjaannya selesai semua. "Pak Hans, semua pekerjaan sudah selesai. Boleh saya minta minum? Saya benar-benar haus, tenggorokan saya kering sekali rasanya," ucap Aleta pada Hans, pria yang diketahui ia adalah kepala pekerja di rumah itu untuk mengatur semua pekerja lain. Hans melihat jam di tangannya. "Lima menit lagi Tuan Antonio akan pulang. Tunggu saja." "Tapi ---" "Di rumah ini tidak ada kata tapi." Hans pun berlalu. Dan lima menit kemudian yang terasa seperti berhari-hari bagi Aleta, Antonio pun datang. Beberapa pelayan rumah itu langsung menghampiri mobil untuk menyambut kedatangan Antonio. Dengan tanpa berpikir panjang, Aleta pun ikut menghampiri. "Tuan, semua pekerjaan sudah selesai. Saya ingin minum," ucapnya sambil berlari kecil, karena rasa lapar dan haus, Aleta tidak sadar jika dirinya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dalam pelukan Antonio. Para pelayan sontak terkejut dan khawatir pada Aleta, bukan mengkhawatirkan terjatuhnya, melainkan pada nasibnya karena sudah menyentuh Antonio yang memang tidak pernah tersentuh wanita asing. "Ma--maaf, aku tidak sengaja," ucap Aleta sembari menjauhkan diri. Makin lama rasanya semakin lemas, sesusah apapun hidupnya, kali itu adalah pertama kalinya rasa lapar dan haus luar biasa ia rasakan sampai membuat tubuhnya benar-benar tidak baik. "Urus dia!" Antonio berlalu meninggalkan Aleta begitu saja. "Ikuti saya!" titah Hans pada Aleta selepas Antonio berlalu masuk ke dalam rumah. Aleta hanya diam dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Hans, ia pikir hal tadi tidak akan menjadi masalah besar dan akan berlalu terlupakan. Nyatanya pikiran itu salah besar. Aleta sudah menggali kuburannya sendiri dan ia hanya tinggal menunggu waktu kapan akan dipaksa untuk masuk ke dalamnya. 'Waktunya makan dan minum, aku benar-benar sudah haus!' gumam Aleta yang kegirangan saat berjalan mengikuti kemana Hans pergi. "Loh, dapur kan sebelah sana," tegur Aleta pada Hans yang ia pikir sudah salah arah. "Memang pikirmu kita akan ke dapur? Untuk memberimu makan dan minum setelah apa yang terjadi di depan tadi?" kata Hans dengan terus berjalan. "Ha?" Aleta mengerutkan keningnya, ia menyadari bahwa mungkin saja dirinya kini tengah dalam bahaya. "Di depan tadi? Soal aku yang tidak sengaja jatuh ke Tuan Antonio?" "Sengaja atau tidak sengaja, tetap saja tanganmu itu sudah mengotori Tuan Antonio, kamu sudah membuatnya marah." Aleta mengernyit. "Begitu saja sampai marah? Dan apa? Mengotori? Meskipun seharian ini aku sudah bekerja dan berkeringat, tapi aku bersih kok." Aleta tidak terima. "Bagi orang yang tidak pernah tersentuh orang asing, kamu itu jelas mengotori Tuan Antonio!" Aleta menggelengkan kepalanya terheran-heran. "Lalu, kamu mau bawa aku ke mana sekarang? Mengurungku dan tidak memberikan makan sampai besok pagi? Itu penyiksaan namanya! Membunuh secara perlahan. Bahkan seorang budak saja, ia mendapatkan makan dan minum setelah seharian bekerja. Sedangkan aku?" ucap Aleta tidak terima. "Memang kau seorang budak? Memang kau dibayar di sini? Suamimu hanya menjadikanmu sebagai jaminan dan halal bagi Tuan Antonio untuk melakukan apa saja padamu. Itu yang disetujui oleh suamimu selama kamu ada di rumah ini." "Tapi aku tetap manusia, Pak Hans!" "Tidak ada yang bilang kalau kamu itu hewan, kan?" Aleta hanya mengepalkan tangannya untuk menahan kesal. Baginya di rumah itu tidak ada yang normal selayaknya manusia. Ceklek! Hans membuka pintu menuju suatu ruangan di sudut rumah itu, karena mereka berdua berjalan cukup jauh dari arah depan tadi. "Masuk! Tuan Antonio menunggumu di dalam." Seketika Aleta menciut, perasaan takut tiba-tiba saja muncul. Di rumah itu ia benar-benar seorang diri tanpa mengenal siapapun dan lebih parahnya lagi, ia tidak bisa lari dari situasi saat itu. Dengan paksa, Aleta berjalan masuk ke dalam ruangan yang perlahan langsung ditutup kembali oleh Hans. Kedua netranya langsung melihat satu orang yang begitu dominan di rumah besar itu. Antonio! "Aku mau minta maaf soal tadi di depan," ucap Aleta langsung membuka pembicaraan dan menyadari keteledorannya sebagai kesalahan untuk menyelamatkan dirinya dari hal buruk yang tidak terduga mungkin akan terjadi.Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa tidur di rumah pria asing itu. Yang diingat oleh Aleta hanya disaat ia berusaha untuk kabur dengan memanjat dinding tembok, dia jatuh di rerumputan lalu tidak sadarkan diri."Jaga mulutmu!""Bangunlah! Kamu bukan Nyonya di rumah ini yang bisa tidur sampai siang. Suamimu sudah menjadikanmu sebagai barang jaminan. Cepat bekerja! Bersihkan kolam, bersihkan halaman, pel seluruh lantai bangunan yang ada di sini. Pukul 5 sore ketika saya pulang, semuanya harus sudah beres."Setelah mengatakan itu, Antonio pun keluar.'Tega sekali kamu, Roy. Kamu gadaikan aku untuk uang satu juta dollar, lalu bagaimana jika kamu tidak bisa mengembalikan uang itu. Apa yang akan terjadi padaku? Apa kamu sama sekali ti
Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya. Apalagi sekarang dia seolah sudah menjadi alasan keributan sepagi itu di tempat yang biasanya tenang.Aleta dan Roy pulang ke rumah diiringi tatapan banyak orang, tentunya dengan berbagai opini mereka masing-masing.Karena tidak ingin semua orang berpikiran buruk pada Aleta, juga untuk membersihkan nama anaknya secara pribadi karena tuduhan Roy tadi, Mirah menceritakan semua yang terjadi pada semua orang yang masih berkumpul selepas Roy dan Aleta pergi.Untunglah saja karena hampir semua orang di sana tahu bagaimana tabiat Roy, juga tahu bagaimana sifat Erlan dan Aleta, semua warga percaya pada penjelasan yang dikatakan oleh Mirah."Semoga Aleta bisa berpikir jernih dan pergi dari rumah itu
"Tolong .... Tolong ...."Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah ia bisa keluar dari jendela kamar.Aleta bingung, ke mana ia harus kabur. Ke mana ia harus meminta pertolongan? Rumah-rumah di desa kecil itu tidak banyak dan cukup berjarak dari rumah ke rumah.Satu-satunya yang terpikirkan oleh Aleta adalah rumah Mirah. Ia akan bersembunyi di sana untuk sementara waktu sambil mencerna apa yang sebenarnya baru terjadi. Apakah teman suaminya itu memang sengaja mengambil kesempatan disaat Roy tengah keluar. Atau memang Roy yang sudah menjualnya apalagi dengan apa yang sudah ia dengar dari pria itu bahwa ia membayar mahal pada Roy.Disaat hendak mengetuk pintu, seseorang dari belakang memegang bahunya. Sontak Aleta terkejut langsung menoleh."Kamu siapa?" Deng
Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap."Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi sekejap terpaku saat melihat bulan yang bersinar indah di gelapnya langit malam."Lalu bagaimana denganku? Kapan aku bisa tersenyum karena bahagia? Sepertinya lima tahun yang lalu saat aku mengenakan baju pengantin. Senyuman paling bahagia sekali rasanya. Tapi sekarang, aku lupa bagaimana caranya tersenyum, aku lupa rasanya bahagia. Akankah Roy kembali seperti dulu lagi?"Aleta menghela nafas panjang dan menutup jendela rumah. Meski tidak ada barang berharga di rumah, tentu menutup pintu dan menguncinya adalah suatu keharusan. Bukan orang lain yang Aleta takuti, melainkan suaminya sendiri.Beberapa bulan belakangan ini, Aleta memang menghindari kontak fisik dengan Roy. Semenjak ia mulai beker
"Mana uangnya?"Aleta menghela nafas panjang. "Aku baru saja sampai ke rumah, yang kamu tanyakan hanya uang. Seharian aku bekerja di ladang gandum, bahkan kamu tidak tanya selelah apa seharian aku di sana setiap hari tanpa libur.""Kamu baru bekerja satu tahun saja, lagaknya seperti sudah menghidupiku dari waktu aku kecil. Mana uangnya cepat!"Tidak ingin memperpanjang perdebatan. Aleta merogoh dompet di tasnya. Ia keluarkan beberapa lembar uang. "Ini.""Kamu berikan hanya segini? Padahal kamu baru saja gajian hari ini." Roy memaki istrinya sendiri sebab tidak terima dengan pemberian uang dari istrinya itu."Memang uangnya buat apa? Ini buat kehidupan kita satu bulan ke depan. Belum lagi biaya rumah sakit ibumu. Belum lagi orang-orang yang datang ke rumah untuk menagih hutang-hutangmu!""Kalau kamu berikan semua uangnya, besok pasti akan berlipat ganda!""Judi? Lagi? Setiap aku gajian selalu kamu pertaruhkan uangnya dan mana hasilnya? Berlipat katamu? Yang ada kamu malah membawa huta







