Share

Bab 2

Author: Naga
Kamar rawat kembali hening.

Reza menatapku sejenak, lalu menghela napas tak berdaya.

“Baru saja sadar, kamu sudah langsung mengancamku dengan putus.”

“Sepertinya kamu masih belum belajar mengendalikan emosimu.”

Dia mengambil cotton bud, membasahinya dengan air, lalu perlahan mengusap darah di bibirku.

Gerakannya masih selembut biasanya.

“Wajar kalau kamu menyalahkanku setelah mengalami ketakutan seperti itu.”

“Tapi setiap kali menghadapi masalah, kamu nggak bisa terus menghindarinya dengan meminta putus.”

“Aku bukan sedang menghindar.”

Aku menatapnya, lalu mengucapkan setiap kata dengan jelas.

“Aku hampir mati di tanganmu.”

Gerakannya terhenti sejenak.

“Karena itu, kali ini aku nggak mempermasalahkan sikapmu yang menghentikan acara pertunangan.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Aku yang menghentikan acara pertunangan?”

“Kalau bukan kamu, lalu siapa?”

“Kakek sengaja pulang dari luar negeri. Semua tamu juga sedang menunggumu.”

“Pada akhirnya, kamu malah dibawa pergi dengan ambulans di depan semua orang. Sekarang, di luar sana, semua orang sedang membicarakan calon menantu Keluarga Darmawan yang emosinya nggak stabil.”

Reza membuang cotton bud ke tempat sampah.

“Sejak kemarin sampai sekarang, aku yang membantumu meredam berita ini, menenangkan para sesepuh keluarga, bekerja sama dengan polisi dalam penyelidikan, bahkan mengurus rekaman CCTV hotel.”

“Aku nggak pernah memintamu berterima kasih.”

“Tapi setidaknya, begitu sadar, kamu nggak seharusnya langsung melemparkan semua kesalahan kepadaku.”

Hanya dengan beberapa kalimat, dia berhasil mengubah proses penyelamatanku menjadi seol-olah sebuah kekacauan yang harus dia bereskan untukku.

Tiba-tiba, aku tak ingin menjelaskan apa pun lagi.

“Keluar.”

Reza mengernyitkan kening.

“Apa?”

“Ini kamar rawatku.”

Aku menekan bel panggilan di samping tempat tidur.

“Aku mau istirahat. Tolong keluar.”

Dia tetap tak bergeming.

Tak lama kemudian, seorang perawat masuk.

Melihat wajahku, dia refleks berjalan ke sisi ranjang.

“Mbak Bella, bagian mana yang terasa nggak nyaman?”

“Aku mau istirahat, Sus.”

Aku sama sekali tak menoleh ke arah Reza.

“Tolong minta tamu ini keluar.”

Perawat tampak tertegun sejenak, lalu mengangguk.

“Pasien baru saja melewati masa kritis, jadi memang nggak boleh terlalu lama menerima tamu.”

Raut wajah Reza seketika berubah muram.

Namun, tepat saat itu, pintu kembali terbuka.

Naya masuk sambil membawa termos makanan.

Di jari telunjuknya tertempel plester luka berwarna merah muda pucat.

Reza segera berdiri.

“Bukannya dokter sudah bilang kamu nggak boleh kena air?”

“Aku nggak apa-apa.”

Naya buru-buru menyembunyikan tangannya di belakang punggung.

“Aku cuma ingin membuatkan bubur untuk Bella.”

Reza menggenggam pergelangan tangannya, lalu memeriksa dengan teliti bagian tepi plester itu.

“Masih sakit?”

“Sedikit.”

“Kalau sakit, bilang.”

Nada suaranya terdengar seperti teguran, tapi gerakannya begitu lembut, seolah sedang menyentuh sesuatu yang sangat rapuh.

Aku menatap mereka.

Lalu, tanpa sadar, tersenyum.

Wajah Naya seketika memucat.

“Bella, maaf.”

“Aku fobia darah. Waktu itu, saat melihat darah di tanganku, aku benar-benar ketakutan. Aku nggak tahu kalau kamu ternyata benar-benar alergi. Kukira Reza akan segera kembali.”

“Kamu nggak perlu minta maaf.”

Reza langsung berdiri di hadapan Naya.

“Kalau marah, lampiaskan saja kepadaku. Jangan menakutinya.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, jelaskan padaku. Kenapa kamu bisa tetap memperlakukannya dengan perhatian seperti biasa, sementara dia juga bisa menunjukkan emosi seperti orang normal?”

“Kamu berbeda dengannya.”

Dia menjawab seolah-olah itu adalah sesuatu yang sudah sewajarnya.

“Naya nggak perlu memikul tanggung jawab Keluarga Darmawan.”

“Sementara kamu adalah istri yang kupilih.”

“Nantinya, ratusan karyawan Keluarga Darmawan dan puluhan sesepuh akan memperhatikanmu.”

“Baru menghadapi sedikit bahaya saja sudah menangis minta tolong. Siapa yang akan menghormatimu?”

“Jadi, kamu bersikap kejam kepadaku karena kamu ingin menikahiku?” tanyaku pelan.

Karena dulu dia pernah disakiti oleh Keluarga Darmawan, dia percaya bahwa rasa sakit dapat membuat seseorang menjadi lebih kuat.

Dia tak pernah bisa melepaskan diri dari aturan yang ditetapkan Keluarga Darmawan untuknya.

Sebaliknya, dia justru menerapkan aturan yang sama kepadaku.

Reza mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kerjanya.

“Besok sore akan ada sesi penjelasan secara daring.”

“Keluarga Darmawan sedang berusaha mendapatkan proyek baru di luar negeri. Masalah pertunangan kemarin sudah memengaruhi harga saham.”

“Kamu cukup menjelaskannya sendiri dengan jelas. Rumor itu akan segera mereda.”

Di atas kertas itu sudah tertulis kata-kata yang harus kuucapkan.

[Tunanganku tidak pernah melarangku menggunakan obat darurat.]

[Berita yang beredar di internet bahwa pintu kamar dikunci dari luar dan keterlambatan mendapatkan pertolongan medis hanyalah kesalahpahaman.]

Aku mendongak dan menatapnya.

“Ada CCTV di hotel.”

“Di rekaman itu terlihat jelas, kamulah yang mengambil jarum suntikku.”

“Itu sebabnya kamu perlu memberikan klarifikasi.”

“Bella, kalau isu ini terus memanas, itu nggak akan baik bagi Keluarga Darmawan maupun pernikahan kita.”

“Aku nggak akan berbohong,” ucapku serius.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 10

    Berita tentang pencurian bros dan pemalsuan barang bukti muncul secara bersamaan.Naya memang mengembalikan barang aslinya, tapi dia tetap harus mempertanggungjawabkan pencurian serta upayanya menjebak orang lain.Reza pun sedang diperiksa karena terlibat dalam rencana pencurian palsu dan menghalangi pertolongan medis.Keluarga Darmawan berusaha membingkai semua itu sebagai sekadar konflik hubungan pribadi.Namun, Reza justru mengambil inisiatif untuk menyerahkan seluruh catatan ujian yang pernah dia berikan padaku.Di dalam catatan itu, ada sesuatu yang membuatku terdiam.Waktu di Lite, pengawal ternyata sudah lebih dulu menyadari bahwa ada dua pria mabuk yang membuntutiku.[Perlu ikut campur?]Reza membalas,[Untuk sementara nggak perlu. Biarkan dia mengatasinya sendiri.]Saat aku sedang demam tinggi dan harus menjamu kerabat, dokter keluarga memeriksa suhu tubuhku yang mencapai empat puluh koma satu derajat.[Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit.]Namun tanggapan Reza,[Jamuan kel

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 9

    Naya menghapus senyum dari wajahnya, lalu tiba-tiba berkata, “Lihat, ‘kan? Sampai sekarang dia masih merasa nggak ada yang salah dengan rencananya.”Reza langsung menoleh.“Itu bukan alasan untukmu mencuri.”“Lalu, apa alasanmu menjebaknya?” Naya menunjuk ke arahku.“Aku melakukannya agar dia bisa berkembang.”Naya tertawa. Seluruh tubuhnya bahkan sampai gemetar.“Apa pun yang kamu lakukan untuknya, selalu demi kebaikannya.”“Tapi apa pun yang kulakukan, semuanya selalu salah.”Reza mengernyitkan kening.“Dari awal aku nggak pernah memaksamu,” sahut Reza.“Karena di matamu, aku sama sekali nggak pantas untuk kamu didik!”Air mata Naya seketika mengalir deras.“Jariku tersayat, kamu langsung membawakan dokter untuk menemuiku.”“Aku bilang aku takut, kamu langsung meninggalkan semua orang untuk menemaniku.”“Semua orang mengira kamu yang paling mencintaiku.”“Tapi pernahkah kamu berpikir untuk menikah denganku?”Ekspresi Reza seketika berubah dingin.“Aku hanya menganggapmu sebagai adikk

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 8

    Aku terpaku menatapnya.Kupikir setelah pertunangan dibatalkan, semua ujian akhirnya berakhir.Ternyata, belum.Selama aku masih berada di tempat yang bisa dilihatnya, setiap kejadian tak terduga dalam hidupku mungkin saja merupakan ujian yang telah dia siapkan.“Jadi, sebenarnya kamu sudah tahu kalau aku nggak bersalah.”“Tapi barusan … kamu masih bertanya apa aku mencuri bros itu untuk membalas dendam pada Keluarga Darmawan?”Ekspresi Reza sedikit menegang.“Bros yang asli sudah hilang. Semuanya sudah di luar rencana.”“Aku harus mempertimbangkan semua kemungkinan.”“Termasuk mencurigaiku?” tanyaku tajam.“Kalau kamu memang nggak melakukannya, penyelidikan akan membuktikan kamu nggak bersalah.”Kalimat itu membuatku benar-benar tertawa.Reza tahu betul bahwa dirinyalah yang telah menjebakku.Namun, dia masih memintaku memahami sikapnya yang katanya rasional dan adil.Polisi segera menyela percakapan kami.“Di mana bros yang asli awalnya disimpan?”Reza meminta asistennya mengambil br

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 7

    Aku tak langsung menyetujuinya.Sebaliknya, aku terlebih dahulu meminta pengacara memeriksa kembali setiap klausul, kemudian mengonfirmasi tanggung jawabnya kepada perusahaan asuransi.Setelah memastikan semuanya tak bermasalah, barulah aku mengenakan sarung tangan dan menerima bros itu.Ekspresi Reza tampak sedikit rumit.Mungkin, akhirnya dia menyadari bahwa aku masih akan meminta pendapat orang lain.Hanya saja, orang itu bukan lagi dirinya.Setelah direstorasi, bros tersebut untuk sementara waktu dipamerkan dalam pameran “Kilasan Cahaya”.Dua jam kemudian, petugas membuka lemari pajangan dan bersiap mengembalikannya ke dalam brankas.Namun, di dalam kotak beludru itu ternyata tak ada apa pun.Kosong.Dari rekaman CCTV, terlihat akulah orang terakhir yang menyentuh bros itu.Ibu Reza langsung memerintahkan ruang pameran ditutup.“Geledah barang-barangnya!”Alisa segera menghadang para sekuriti.“Tanpa surat penggeledahan, nggak ada yang boleh menyentuh barangnya.”Namun, Reza justru

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 6

    Rekaman siaran langsung itu dengan cepat menyebar ke seluruh internet.Harga saham Keluarga Darmawan pun ikut terdampak.Malam harinya, Reza kembali datang ke rumah sakit.“Hapus pernyataan itu.”“Keluarga Darmawan bisa memaklumi sikapmu yang gegabah. Tapi jangan bawa-bawa masalah pribadi ke hadapan publik.”Aku menggeleng.Dia menahan amarahnya.“Mulai dari studio, jalur distribusi, sampai bahan baku, semuanya selama ini dipertahankan Keluarga Darmawan untukmu.”“Kamu pikir dengan melepas cincin itu, kamu bisa menanggung semua akibatnya sendirian?”Aku mengetik sesuatu di ponsel.[Boleh dicoba.]Reza menatap balasan singkatku. Wajahnya seketika berubah dingin.“Oke!”“Kalau kamu menganggap semua yang kulakukan untukmu sebagai bentuk kendali, baiklah. Akan kutarik kembali semuanya.”“Bukan hukuman.”“Aku cuma ingin kamu benar-benar mandiri kali ini.”Dia berjalan sampai ke pintu, tapi kembali menghentikan langkahnya.“Kalau nanti kamu nggak sanggup bertahan, kembalilah padaku.”“Aku ng

  • Dalam Lelap, Tak Ada Lagi Suara   Bab 5

    Suara Reza terhenti.Dari balik kaca, aku melihat kekecewaan yang begitu kukenal di wajahnya akhirnya runtuh.Namun, tangannya masih menggenggam erat kunci pintu.Dokter keluarga langsung merebut kunci dari tangannya.Begitu pintu terbuka, suntikan darurat segera menancap di pahaku.Dokter berlutut di lantai dan mulai melakukan kompresi pada dadaku.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Aku tetap tak menunjukkan reaksi apa pun.Reza akhirnya panik.Dia menerobos masuk dan hendak menyentuh wajahku.Namun, perawat langsung mendorongnya menjauh.“Jangan menghalangi proses penyelamatan!”“Tadi dia masih bisa bicara.”Reza menatapku lekat-lekat.“Kenapa tiba-tiba dia nggak bernapas?”Dokter membentaknya dengan kesal.“Syok anafilaksis nggak akan menunggu sampai Anda selesai mengambil keputusan!”Dosis adrenalin kedua kembali disuntikkan ke dalam tubuhku.Monitor jantung masih mengeluarkan bunyi panjang yang nyaring.Reza tiba-tiba mencengkeram kerah manajer humas.“Kenapa kamu nggak membuka pintu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status