Share

191.

Author: Ellailaist
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-08 07:37:00
Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert.

"Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang.

"Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak.

"Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah
Ellailaist

Nyesek tapi lega banget! Gak nyangka obrolan Evan dan Albert di akhir bab ini justru jadi penutup yang super emosional dan berkelas. Kisah cinta itu emang gak selalu tentang memiliki, tapi keikhlasan Evan dan Albert adalah bentuk cinta paling tinggi. Akhirnya, novel kesayangan kita ini resmi SELESAI dengan sangat indah! Halo Pembaca Tersayang! Gak terasa petualangan epik Joseph dan Elara udah sampai di lembar terakhir. Jujur, haru banget bisa namatin cerita ini bareng kalian. Makasih banyak buat semua dukungan, teori seru, kecolongan GEM, dan hadiah-hadiah manis yang udah kalian kasih selama ini. Tanpa amunisi dari kalian, author gak bakal kuat begadang sampai bab *Happy Ending* ini! Kalian semua luar biasa. Sampai ketemu di karya author selanjutnya yang gak kalah seru ya! I love you guys! Kira-kira momen atau karakter mana nih yang paling berkesan buat kalian dari awal sampai akhir? Yuk, tumpahin kesan pesan terakhir kalian di kolom komentar

| Like
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   191.

    Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   190.

    Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   189.

    Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   188.

    Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   187.

    Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   186.

    "Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   74.

    Joseph memperbaiki posisi duduknya. "Insting tanpa kendali hanya akan menjadi beban bagi pasukan. Mereka butuh disiplin, bukan ketakutan seperti itu."Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah koridor luar. Seorang pelayan pria membungkuk hormat di ambang pintu yang terbuka lebar.

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   72.

    Energi itu terasa sangat kuat di bawah telapak kakinya. Sesuatu di dalam tanah kastil Warcliff seolah terbangun karena pancingan suaranya yang singkat tadi."Siapa? Siapa yang ada di sana?" Elara menatap sekeliling ruangan yang kini berantakan.Ia merasa tidak lagi sendirian di dalam kamar itu. Ada

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   71.

    Elara membeku. Seluruh aliran darahnya sakan berhenti mengalir mendengar kata itu. "I-ikatan?""Dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang sekuat ini sebelumnya pada siapa pun," ucap Joseph sebagai kalimat penutup.Joseph melepaskan tangannya dari leher Elara secara tiba-tiba. Ia mundur beberapa la

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   70.

    "Jangan bergerak," perintah Joseph dengan nada mutlak. Ia kini berdiri tepat di depan Elara, aroma tubuhnya yang kuat mulai mengepung indra penciuman Elara."T-tuan, j-jangan. Tolong b-biarkan aku s-sendiri," pinta Elara dengan suara yang hampir menghilang."Diam," balas Joseph singkat. Ia tidak ped

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status