Share

4

Penulis: Ellailaist
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 21:18:43

Albert menarik Elara menyusuri gang gelap dengan terburu-buru. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada sorot lampu mobil yang mengikuti mereka. 

Elara hanya bisa pasrah mengikuti langkah Albert, jemarinya meremas cincin perak di dalam saku roknya.

Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah gedung tua bergaya klasik yang tersembunyi di balik pepohonan ek besar. 

Gedung itu adalah Balai Arthemis, tempat netral yang biasanya digunakan untuk pertemuan diplomatik antar klan tingkat atas.

"K-kenapa k-kita ke sini?" Elara mencoba berbisik, namun Albert hanya menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, mengisyaratkan Elara untuk diam.

"Pintu keluar di gang tadi sudah dijaga orang-orang Victor," bisik Albert rendah. 

"Satu-satunya jalan memutar adalah melalui jalur pelayan di gedung ini. Ikuti aku, Elara. Jangan bersuara."

Mereka menyelinap melalui pintu samping yang kecil. Suasana di dalam gedung itu sangat berbeda dengan galeri tua tempat Elara bersembunyi selama ini. 

Lantai marmer yang dingin dan aromaterapi mahal memenuhi udara. Albert membawa Elara menaiki tangga sempit menuju balkon lantai dua yang tertutup tirai beludru tebal.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat bergema dari lantai bawah. Elara membeku. Ia mengenali aura itu. Sangat kuat dan menekan.

Albert segera menarik Elara ke balik bayangan tirai balkon yang gelap. Di bawah sana, di ruang aula utama yang megah, Elara melihat sekelompok orang masuk.

Gideon Warcliff berjalan di depan dengan wajah angkuh. Di sampingnya, seorang pria paruh baya dengan pakaian militer yang gagah melangkah dengan aura kekuasaan yang kuat. 

Elara teringat foto yang pernah ditunjukkan pamannya, laki-laki itu adalah Magnus Warcliff, Alpha Agung sekaligus ayah kandung Joseph.

Di belakang mereka, Joseph melangkah dengan tangan terkepal. Wajahnya terlihat jauh lebih keras daripada saat di galeri tadi.

"Duduklah, Joseph," suara Magnus menggema, berat dan tak terbantahkan.

Elara mengintip dari celah tirai. Di seberang meja besar itu, sudah duduk seorang wanita cantik dengan gaun sutra berwarna biru tua. 

Rambutnya pirang tertata rapi, dan matanya memancarkan keangkuhan yang sama dengan para pria Warcliff.

"Magnus, Gideon," wanita itu menyapa dengan nada anggun. "Terima kasih sudah membawa Joseph tepat waktu."

"Keluarga Valerius selalu menghargai ketepatan waktu, Lady Isabella," balas Gideon sambil tersenyum tipis yang tidak sampai ke mata.

Elara menahan napas. Klan Valerius adalah salah satu klan bangsawan werewolf terkuat di wilayah barat. Jadi ini Luna yang dimaksud Gideon?

"Langsung saja ke intinya," Joseph memotong pembicaraan dengan nada dingin. Ia tetap berdiri di belakang kursinya. "Kenapa aku harus bertemu dengan wanita ini malam-malam begini?"

Magnus menatap putranya dengan tajam. "Isabella adalah Luna dengan garis darah murni klan Valerius. Dia satu-satunya yang disetujui oleh dewan Tetua untuk mendampingimu. Ritual bulan purnamamu yang semakin tidak terkendali, Joseph. Kamu butuh penyeimbang."

"Aku tidak butuh pasangan yang dipilihkan oleh dewan," desis Joseph matanya menatap tajam ke ara.

"Ini bukan tawaran, Joseph. Ini adalah kewajibanmu sebagai pewaris Warcliff," Gideon menimpali sambil menyesap tehnya dengan tenang. 

"Pernikahan ini akan dilakukan saat purnama berikutnya. Klan Valerius akan memberikan dukungan militer, dan Isabella akan memastikan serigala hitammu tetap di bawah kendali kami."

Elara melihat tangan Joseph yang bertumpu di kursi mulai gemetar. Ia tahu pria itu sedang menahan amarah yang ingin meledak. 

Dari tempat persembunyiannya, Elara bisa merasakan tekanan emosi Joseph yang sangat hebat.

"Aku menolaknya," ujar Joseph rendah.

Isabella tersenyum tipis. "Menolak? Tanpa darahku, serigala hitam dalam dirimu perlahan akan menyerangmu sendiri. Kamu tidak akan hidup sampai setahun. Pilih, Joseph. Mati atau menikah denganku."

Joseph terdiam. 

Matanya tiba-tiba melirik ke arah balkon lantai dua, tepat ke arah tirai tempat Elara bersembunyi. 

Elara tersentak dan mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. Apakah Joseph tahu ia di sana?

"Aku akan memikirkannya," ucap Joseph tiba-tiba, suaranya terdengar lebih tenang namun penuh tipu muslihat.

"Bagus," Magnus berdiri. "Kita akan mengumumkan pertunangan ini secara resmi minggu depan. Sekarang, kembali ke kastil. Gideon akan mengawalmu."

Elara melihat rombongan itu mulai bergerak keluar. Namun, sebelum Joseph berbalik, ia Begitu ruangan di bawah sunyi, Albert segera menarik napas lega yang panjang. Wajah pria sempat menatap balkon itu sekali lagi.

Begitu ruangan di bawah sunyi, Albert segera menarik napas lega yang panjang. Wajah pria tua itu pucat pasi.

"Pernikahan politik," gumam Albert sambil menatap Elara dengan cemas. 

“K-kau t-tahu … tentang mereka?” tanya Elara.

"Sedikit. Dunia mereka hanya tentang kekuasaan, Elara. Jangan pernah terlibat dengan mereka," Albert memperingatkan Elara. 

Elara hanya mampu menelan ludahnya dan mengangguk. 

"Ayo. Aku harus mengantarmu ke rumah Victor sebelum orang-orang Gideon menyisir area ini. Lebih aman di sana daripada di jalan malam ini. Victor memang kejam, tapi Gideon tidak akan berani menyerang klan Valen di rumah pemimpinnya tanpa alasan jelas," Albert kembali menarik tangan Elara.

Elara mengikuti langkah Albert menembus kegelapan malam, namun pikirannya tertinggal di aula tadi. 

Ia memikirkan Isabella yang terlihat angkuh, Gideon yang licik, dan Joseph yang terjepit di antara mereka semua.

Entah bagaimana, insting Elara tidak mengizinkannya untuk merasa tenang. Ada rasa sesak yang aneh saat membayangkan Joseph harus bersanding dengan wanita sedingin Isabella.

"K-kenapa... k-kita... l-lewat s-sini?" Elara berbisik saat Albert membawanya masuk ke sebuah lorong bawah tanah yang pengap di belakang Balai Arthemis.

"Ini jalur lama para pelayan klan Valen," jawab Albert tanpa menoleh. Langkahnya begitu terburu-buru.

Ellailaist

Terimakasih yang sudah baca sampai bab 4. Jika sempat kasih ulasan yaa teman-teman ^^ Semoga sedikit kisah dari Elara dan Joseph ini bisa jadi obat untuk sejenak melupakan rutinitas..hehe

| 8
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Jangan Kepo
dksjkfidfijfjkm
goodnovel comment avatar
aurora.lee779
ceritanya menarik
goodnovel comment avatar
Lolita
aku udah jatuh hati ama Jacob, apakah kali ini aku jauh hati juga ama Joseph??? tapi dia werewolf..hahaha
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   191.

    Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   190.

    Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   189.

    Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   188.

    Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   187.

    Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   186.

    "Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   72.

    Energi itu terasa sangat kuat di bawah telapak kakinya. Sesuatu di dalam tanah kastil Warcliff seolah terbangun karena pancingan suaranya yang singkat tadi."Siapa? Siapa yang ada di sana?" Elara menatap sekeliling ruangan yang kini berantakan.Ia merasa tidak lagi sendirian di dalam kamar itu. Ada

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   71.

    Elara membeku. Seluruh aliran darahnya sakan berhenti mengalir mendengar kata itu. "I-ikatan?""Dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang sekuat ini sebelumnya pada siapa pun," ucap Joseph sebagai kalimat penutup.Joseph melepaskan tangannya dari leher Elara secara tiba-tiba. Ia mundur beberapa la

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   70.

    "Jangan bergerak," perintah Joseph dengan nada mutlak. Ia kini berdiri tepat di depan Elara, aroma tubuhnya yang kuat mulai mengepung indra penciuman Elara."T-tuan, j-jangan. Tolong b-biarkan aku s-sendiri," pinta Elara dengan suara yang hampir menghilang."Diam," balas Joseph singkat. Ia tidak ped

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   50.

    Elara mematung di depan meja dapur yang kosong, tangannya sibuk menggosok nampan yang sudah bersih. Pikirannya tidak berada di sana. Ia masih bisa merasakan sisa cengkeraman Joseph di pergelangan tangannya dan tatapan mata Evan yang seolah menembus kulitnya.Tenggorokannya kembali berdenyut tipis,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status