MasukElara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Itu adalah Tetua klan Warcliff.
Gideon Warcliff.
Pria yang disegani oleh seluruh klan werewolf di wilayah utara. Orang-orang menyebutnya pria paling kejam. Albert pernah bercerita bahwa pria inilah otak di balik semua aturan kejam klan mereka.
Joseph berdiri tegak di tengah ruangan. Tepat nampak menghalangi pandangan Gideon ke arah sudut galeri tempat Elara bersembunyi.
"Aku hanya bosan dengan ritual bodohmu itu," jawab Joseph tanpa rasa takut sedikit pun, terdengar dari suaranya yang mantap tak bergetar.
Gideon melangkah maju, mendekati Joseph. Ia mengendus udara di dalam galeri itu dengan perlahan. Elara menahan napas, merasa jantungnya hampir melompat keluar dari dada.
"Ada aroma lain di sini. Aroma yang sangat familiar," ucap Gideon sambil menyipitkan matanya.
Joseph tetap tenang. Ia tidak memberikan reaksi apa pun. "Aroma cat lukis ini memang sangat menyengat. Kau sudah tua, penciumanmu mungkin sudah mulai rusak."
Gideon tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat tidak menyenangkan. Ia berhenti tepat di depan Joseph, menatap tajam ke mata sang Alpha muda.
"Kamu berani sekali bicara seperti itu padaku setelah kamu merusak ritual bulan purnama hari ini," ucap Gideon. "Aku datang untuk membawamu pulang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Aku tidak akan kembali ke ruang bawah tanah itu," tegas Joseph. “Aku sudah muak dengan caramu memperlakukanku seperti seorang tawanan.”
"Kau tidak punya pilihan! Aku sudah menentukan pasangan untukmu. Luna dari klan terpandang akan segera tiba untuk menstabilkan kekuatanmu," balas Gideon tak kalah tegas.
Joseph mengepalkan tangannya. Elara bisa melihat kemarahan kembali melalui urat-urat yang muncul di tangannya. Untuk sesaat, Joseph melirik ke arah toilet tempat Elara bersembunyi.
Joseph menghela napas panjang.
"Baiklah. Aku ikut," ucap Joseph akhirnya.
Gideon tampak puas dengan jawaban itu. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk keluar lebih dulu.
Namun, sebelum berbalik, Gideon melirik sekali lagi ke arah lukisan serigala hitam di dinding.
"Lukisan ini... sangat luar biasa. Siapa yang melukisnya?" tanya Gideon.
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengenal pemilik galeri ini. Aku asal masuk tempat ini tadi saat orang-orangmu mengejarku," jawab Joseph lancar.
Gideon mendengus, lalu berjalan keluar dari galeri. Joseph mengikuti di belakangnya tanpa menoleh lagi ke arah Elara bersembunyi.
Elara baru bisa bernapas lega setelah suara mobil-mobil itu menjauh dari gang. Ia keluar dari toilet dengan tubuh yang lemas.
Elara menatap galeri yang kini kembali sunyi. Ia jatuh terduduk di atas lantai kayu yang dingin.
Hanya ada suara detak jam dinding tua yang berdetak tidak teratur. Elara memeluk lututnya, menyembunyikan wajah di sela tangan.
Bau bensin, aspal, dan aroma pinus yang tajam milik Joseph masih tertinggal di udara, beradu dengan bau cat minyak yang tumpah.
Apa pria itu baru saja melindunginya? Pikiran Elara lantas bercabang kemana-mana.
Elara menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang masih terasa sesak.
Pandangannya terjatuh pada lantai di depan toilet. Ada bercak darah merah pekat di sana. Darah milik Joseph.
Elara merangkak pelan, meraih kain lap kusam di dekat ember cucian kuasnya. Ia menggosok noda darah itu hingga bersih. Ia tidak ingin ada jejak yang bisa menuntun Gideon kembali ke tempat ini. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan klan Warcliff!
Saat sedang membersihkan lantai, jemari Elara menyentuh sesuatu yang keras di bawah meja lukisnya. Sebuah benda logam kecil berkilau terkena cahaya bulan.
Elara memungutnya. Itu adalah sebuah cincin perak polos dengan ukiran huruf 'J' yang hampir pudar di bagian dalamnya.
Benda itu pasti terjatuh saat Joseph mengamuk menahan perubahannya tadi.
"J-ju..." Elara mencoba bersuara.
"Julian?" bisiknya pelan.
Entah mengapa, nama itu terasa begitu akrab di lidahnya. Ingatannya yang buram mendadak berdenyut, menampilkan potongan gambar seorang anak laki-laki yang tersenyum.
Namun, rasa sakit di kepalanya segera menghentikan kilasan itu. Elara memejamkan mata, meremas cincin perak itu dalam genggamannya. Logam dingin itu terasa panas di kulitnya.
Brak!
Suara pintu galeri yang kembali terbuka membuat Elara tersentak. Ia segera menyembunyikan cincin itu di saku roknya.
"Elara? Kau di dalam?"
Seorang pria paruh baya dengan rambut abu-abu dan kacamata bulat masuk dengan terburu-buru. Wajahnya penuh kecemasan. Itu Albert.
Albert mematung melihat kekacauan di dalam galeri miliknya. Meja yang hancur, lukisan yang miring, dan Elara yang terduduk lemas di lantai dengan telapak tangan yang diperban kain lusuh.
"Astaga, Elara! Apa yang terjadi?" Albert menghampiri Elara, berlutut di sampingnya dengan napas tersengal.
Elara hanya menggelengkan kepala. Ia meraih papan tulis kecil di dekatnya, menuliskan beberapa kata dengan tangan gemetar.
‘Ada orang mabuk masuk. Aku bersembunyi. Dia sudah pergi.’
Albert menatap pintu yang rusak, lalu hidungnya kembang kempis, ia mengendus udara di dalam ruangan itu berkali-kali.
Ekspresi wajahnya berubah tegang. Pria tua itu menatap Elara dengan pandangan selidik yang sangat dalam, lalu beralih menatap bercak yang baru saja dibersihkan Elara di lantai.
Albert segera berjalan menuju pintu. “Orang itu merusak kunci pintu?” gumam Albert lalu menatap Elara dengan kening berkerut.
Elara hanya mengangguk lemah. Albert segera memeriksa setiap sudut galeri dengan waspada, gerakannya jauh lebih gesit dari biasanya.
"Kita harus segera pergi dari sini," ucap Albert dengan suara yang sangat rendah. "Victor mengirim orang untuk mencarimu. Kamu tidak bisa di sini lebih lama lagi."
Elara menunduk. Kembali ke rumah Victor berarti kembali ke neraka. Tapi tinggal di galeri ini juga tidak lagi aman.
"A-al... bert..." Elara mencoba bicara, suaranya serak.
"Ayo, Elara. Jangan mengulur waktu," Albert menarik tangan Elara dengan lembut namun tegas. Membawanya keluar dari Galeri dengan gerakan yang cepat.
Dari paman yang udah mengusir Elara, ternyata ada Albert orang di dekat Elara. Apakah Albert ini benar-benar baik???
Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di
Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di
Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses
Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep
Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau
"Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi
BAB 113Taman mawar perak itu kini tampak seperti medan perang yang membeku. Sisa energi yang meledak tadi masih terasa di udara, membuat bulu kuduk merinding. Cahaya keperakan dari bunga-bunga itu perlahan meredup, meninggalkan bayangan panjang yang menakutkan di tanah.Joseph sudah kembali ke b
Langkah kaki pasukan di belakang terdengar ragu sesaat. Mereka kehilangan jejak mereka karena asap yang terlalu tebal di persimpangan tadi."Mereka tidak mungkin jauh dari sini! Periksa setiap sudut!" teriak Gideon dengan nada marah."Cepat kejar mereka ke jalur samping!" perintah Isabella menyusul.
"Sial," umpat Joseph pelan.Ia menatap ke arah kastil yang semakin kacau, lalu kembali menatap Elara yang mulai kehilangan kesadaran diri. Pilihan harus diambil dalam hitungan detik."Dengarkan aku baik-baik," ucap Joseph. Suaranya terdengar sangat serius dan menuntut perhatian penuh.Elara masih ge
Elara menggeleng, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "...a-aku t-tidak b-bisa... ini akan m-meledak.""Kamu bisa," sahut Joseph tajam. "Kamu hanya terlalu takut pada kekuatanmu sendiri."Kalimat itu menghantam Elara tepat di ulu hati. Ia menatap Joseph dengan mata berair, merasa pria ini te







