Share

5

Penulis: Ellailaist
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 21:18:59

Albert berhenti tepat di depan sebuah pintu besi yang sudah berkarat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan gang sempit di belakang gedung Balai Arthemis itu benar-benar sepi. 

Tangan tuanya meraba permukaan dinding batu yang kasar dan berlumut, mencari celah kecil yang tersembunyi di balik tanaman merambat.

Dengan satu tekanan kuat pada sebuah tuas batu, terdengar suara gesekan logam yang berat. 

Pintu besi itu berderit terbuka, menyembunyikan lubang gelap yang menuju ke bawah tanah. Aroma tanah basah dan udara pengap langsung keluar dan menerpa wajah Elara yang masih pucat.

"Masuklah sekarang. Jalan ini adalah jalan lama yang akan membawamu langsung ke halaman belakang rumah Victor," perintah Albert dengan nada rendah. 

"Setidaknya orang-orang pamanmu tidak akan curiga jika kamu muncul dari sana. Mereka akan mengira kamu bersembunyi di gudang belakang."

Elara menatap kegelapan di dalam terowongan itu dengan cemas. Ia meremas ujung rok katunnya. "A-albert... t-tidak i-ikut?" tanyanya dengan suara bergetar.

Pria tua itu tersenyum tipis. Tatapannya melembut, namun ada sesuatu yang tajam di matanya. 

"Aku harus kembali ke galeri secepat mungkin. Aku harus membereskan kekacauan yang ditinggalkan si Serigala Hitam itu sebelum orang-orang Gideon kembali menyisir tempat itu."

Albert berhenti sejenak, lalu menatap saku rok Elara. "Satu hal lagi, Elara. Jangan biarkan Victor atau siapa pun di rumah itu melihat cincin di sakumu. Simpan dengan baik."

Elara tertegun. Matanya membulat menatap Albert. Ternyata Albert tahu soal benda logam yang ia temukan di bawah meja lukisnya. 

Namun sebelum Elara sempat mengeluarkan satu kata pun untuk bertanya, Albert sudah mendorong bahunya dengan pelan agar masuk ke dalam. Pintu besi itu ditutup dengan cepat.

Elara menyalakan senter kecil dari ponselnya yang hampir mati. Ia berjalan menyusuri terowongan sempit itu dengan langkah hati-hati. 

Dindingnya lembap dan dipenuhi lumut yang memancarkan cahaya hijau samar. Suara tetesan air dari langit-langit terowongan terdengar sangat nyaring di telinganya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Pikirannya melayang kembali ke aula megah di Balai Arthemis tadi. Bayangan Joseph yang berdiri tegang di depan Isabella terus menghantuinya.

Terutama tatapan terakhir Joseph ke arah balkon tempatnya bersembunyi. Elara yakin pria itu tidak sedang melihat tirai, melainkan melihatnya.

Dia tahu aku ada di sana, batin Elara meyakinkan diri. 

Rasa panas kembali menjalar di wajahnya saat mengingat bagaimana aura Joseph terasa begitu dekat meski mereka terpisah jarak.

Setelah berjalan hampir lima belas menit dengan napas tersengal, Elara melihat cahaya remang di ujung jalur. 

Ia menaiki tangga kayu yang sudah rapuh dan mendorong sebuah penutup kayu berat di atas kepalanya. 

Begitu penutup itu terbuka, Elara mendapati dirinya muncul di tengah rimbunnya semak mawar yang berduri di kebun belakang rumah Victor.

Suasana rumah besar itu tampak mencekam malam ini. Lampu-lampu teras yang putih terang menyala, menerangi setiap sudut halaman. 

Elara bisa melihat bayangan Victor melalui jendela besar ruang tamu. Paman tirinya itu sedang mondar-mandir dengan langkah kasar, sesekali berhenti untuk memaki seseorang di telepon.

Elara segera keluar dari semak-semak. Ia membersihkan tanah dan serpihan daun yang menempel di roknya. 

Ia berusaha mengatur napas agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja berlari di bawah tanah.

Baru saja Elara melangkah menuju pintu dapur yang tidak terkunci, sebuah suara melengking menghentikannya dengan tiba-tiba.

"Dari mana saja kamu, Gagap?" Maya berdiri di sana dengan tangan bersedekap di dada. 

Sepupu Elara itu mengenakan gaun tidur sutra yang mewah, sangat kontras dengan penampilan Elara yang berantakan. 

Wajah Maya terlihat sangat muak, bibirnya mengerucut sinis saat menatap luka lecet di telapak tangan Elara.

"Papa hampir membunuh para penjaga karena kehilanganmu selama berjam-jam! Kamu sengaja ingin membuat kami malu dan repot, ya?" Maya melangkah maju, tangannya dengan cepat menarik rambut Elara hingga kepala gadis itu terdongak.

Elara meringis kesakitan, namun ia tidak mengeluarkan suara. Ia hanya menunduk, membiarkan Maya menyalurkan amarahnya. 

Sejak orang tuanya meninggal, hidupnya tak jauh dari menjadi pelampiasan keluarga ini. Ia tahu, melawan hanya akan memperpanjang penderitaannya.

"M-maaf... A-aku... t-tadi... h-hanya..." Elara berusaha bicara, namun kata-katanya justru semakin macet.

"Sudahlah! Tidak perlu banyak alasan! Masuk sana!" Maya mendorong kepala Elara dengan kasar. 

"Papa menunggumu di ruang kerja. Sepertinya perjodohanmu dengan klan bawahan akan dipercepat. Kami semua sudah tidak sabar melihatmu pergi dari rumah ini."

Elara melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang terasa sangat berat. Setiap langkahnya di atas lantai marmer mewah itu terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. 

Ia melewati lorong-lorong dengan foto-foto keluarga Victor yang terpampang besar, tanpa ada satu pun foto orang tua Elara di sana.

Saat sampai di depan pintu kayu jati ruang kerja Victor, Elara berhenti sejenak. Ia meraba cincin perak di sakunya. 

Logam dingin itu memberikan sedikit rasa tenang yang aneh. Ia menarik napas panjang dan mengetuk pintu itu dengan tangan yang gemetar.

"Masuk!" suara Victor menggelegar dari dalam, terdengar penuh amarah.

Elara masuk dan melihat Victor duduk di balik meja besar yang dipenuhi berkas. Di sudut ruangan, Sarah, istri Victor, duduk di sofa dengan kaki menyilang. Wanita itu menatap Elara dengan pandangan dingin dan senyum yang sulit diartikan.

"Duduk," perintah Victor pendek.

Elara duduk di kursi kayu tepat di depan Victor. Ia bisa merasakan aura dominan Victor yang sedang meluap, menekan mentalnya hingga ia ingin menangis saat itu juga.

"Aku sudah memberimu kesempatan, Elara. Tiga kali aku mencarikan pasangan, dan tiga kali mereka mundur karena kegagapanmu!" Victor memukul meja hingga pot bunga di atasnya bergetar.

"Tapi malam ini, keberuntunganmu sepertinya berubah," Sarah menyela dengan nada suara yang licik. Ia berdiri dan mendekati Elara. "Seseorang dari klan Warcliff melihatmu di galeri tua malam ini. Mereka menghubungi pamanmu dan menanyakan identitasmu."

Ellailaist

Jadi bukan hanya Paman Elara yang jahat... Tante sama sepupunya pun ikut bully Elara. Ayo Elara bangkit dan balas mereka..huhu

| 7
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Jangan Kepo
skjcahdfdvkjxdlkvvjfijb
goodnovel comment avatar
aurora.lee779
huwaaaaaaaa
goodnovel comment avatar
Lolita
penuh teka-teki
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   191.

    Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   190.

    Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   189.

    Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   188.

    Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   187.

    Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   186.

    "Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   101.

    "Sial," umpat Joseph pelan.Ia menatap ke arah kastil yang semakin kacau, lalu kembali menatap Elara yang mulai kehilangan kesadaran diri. Pilihan harus diambil dalam hitungan detik."Dengarkan aku baik-baik," ucap Joseph. Suaranya terdengar sangat serius dan menuntut perhatian penuh.Elara masih ge

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   3

    Elara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Itu adalah Tetua klan Warcliff. Gideon Warcliff. Pria yang disegani oleh seluruh klan werewolf di wilayah utara. Orang-orang menyebutnya pria paling kejam. Albert pernah bercerita bahwa pria inilah otak di balik semua aturan kejam klan mereka.Joseph be

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   2

    Elara ingin menyanggah, tapi lidahnya terasa kelu. Ia hanya bisa berdiri gemetar, terjebak di dalam galerinya sendiri bersama Alpha paling berbahaya yang sedang terluka.Joseph mendengus kasar. Elara berkedip beberapa kali ketika pria itu mendekat maju. Wangi maskulin dari tubuh pria itu mengepung

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   1

    "Keluar! Dasar Omega gagap tidak berguna!" teriakan itu meluncur dari mulut paman Elara, Victor Valen.Tubuh Elara sontak terlempar keras ke atas trotoar yang dingin. Tas usang berisi kanvas dan tabung cat ikut jatuh ke aspal dengan bunyi debuk yang membuat dada Elara ikut sesak. Elara mengernyitka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status