Share

53.

Author: Ellailaist
last update publish date: 2026-04-13 21:33:15
Gerbang besar terbuka dengan suara engsel yang berat. Kereta itu kembali melaju, kali ini lebih cepat meninggalkan tembok kastil yang tinggi.

Elara masih terdiam cukup lama, tidak percaya bahwa ia benar-benar berhasil keluar.

Ia mengintip dari celah terpal. Dunia luar tampak sangat luas dan gelap, dengan hutan pinus yang berjajar seperti raksasa hitam.

Kastil Warcliff kini hanya terlihat seperti bayangan megah di kejauhan.

Rasa lega sempat menghampiri hatinya, namun tato di tangannya kembali b
Ellailaist

Elara udah sejauh ini tapi tetap nggak dapet jawaban yang jelas 😭 sakit banget lihat dia terus dipermainkan… tapi justru di sini keliatan dia makin kuat. Aku ngerasa ini titik awal kebangkitannya 🔥

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   191.

    Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   190.

    Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   189.

    Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   188.

    Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   187.

    Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   186.

    "Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   148.

    "Jangan bergerak atau aku hancurkan ruangan ini sekarang juga!" teriak Gideon sambil mengangkat sebuah bom pemicu kecil di tangan kanannya.Joseph menghentikan langkahnya, matanya menatap tajam ke arah jemari Gideon yang sudah menempel di atas tombol sakelar darurat berwarna merah.Namun, sebelum Gi

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   147.

    "Langkah yang bagus, Joseph. Tapi sayang, kalian datang ke ruangan yang salah," ucap sebuah suara wanita yang melengking santai dari arah kegelapan.Pintu di depan mereka terbuka sepenuhnya. Lampu-lampu putih menyala satu per satu, menyinari ruangan melingkar yang berada tepat di bawah puncak menara

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   146.

    "Badai di luar sudah mulai mereda. Ini waktu kita untuk bergerak," ucap Evan sambil mengencangkan sabuk pengaman di pinggangnya.Albert membuka pintu keluar perlahan. Udara malam yang dingin dan aroma tanah basah setelah badai langsung menyergap indra penciuman mereka.Joseph membantu Elara mengenak

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   145.

    "Fokuskan pada satu titik di tengah botol itu, Elara. Jangan biarkan suaramu menyebar." Albert memberikan instruksi sambil meletakkan sebuah tabung kaca tebal di atas meja beton.Elara menarik napas panjang. Ia berdiri dengan kaki kokoh, mencoba merasakan aliran energi dari tanda mate di lehernya ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status