LOGINElara udah sejauh ini tapi tetap nggak dapet jawaban yang jelas 😭 sakit banget lihat dia terus dipermainkan… tapi justru di sini keliatan dia makin kuat. Aku ngerasa ini titik awal kebangkitannya 🔥
"Kita akan pergi ke mana sekarang?" tanya Elara.Joseph menatap ke arah pintu keluar kuil yang kini tertutup kabut tebal hasil kekuatan Elara tadi. "Kita akan menuju perbatasan barat. Kita akan mencari sekutu yang tersisa."Albert mengangguk setuju. "Klan Valen masih memiliki beberapa kerabat jauh di wilayah barat yang hidup dalam penyamaran. Mereka akan membantu kita."Elara mengepalkan tangannya. Ia merasa kekuatannya masih berdenyut di bawah kulitnya, siap untuk digunakan kembali kapan saja."Aku siap," ucap Elara dengan nada yang sangat yakin.Mereka mulai mengemasi barang-barang yang tersisa di dalam kuil. Suasana menjadi lebih tenang namun tetap waspada. Tidak ada yang tahu kapan Isabella akan kembali menyerang.Evan memimpin di depan, ia membuka jalan menembus hutan yang masih gelap. Joseph menjaga Elara di tengah, tidak membiarkan ada jarak sedikit pun di antara mereka.Elara berjalan dengan langkah yang kini jauh lebih ringan. Beban masa lalu yang ia bawa selama ini seolah m
"Tandanya terlihat sangat jelas di lehermu." Suara rendah Evan memecah kesunyian di sudut lorong kuil yang remang-remang.Elara tersentak kecil, ia sedang menyeka sisa debu di tangannya dengan kain basah. Ia menoleh dan mendapati Evan berdiri bersandar pada pilar batu yang retak.Evan menatap tanda mawar perak di leher Elara dengan pandangan yang sulit dibaca. Ada gurat kelelahan di wajahnya, namun matanya tetap tajam seperti biasa.Elara secara refleks menyentuh tanda hangat di kulitnya itu. Ia merasa wajahnya memanas saat teringat momen penyatuan dengan Joseph di bawah bulan purnama tadi."Joseph melakukannya untuk menyelamatkan nyawanya," bisik Elara pelan. Ia tidak tahu mengapa ia merasa perlu menjelaskan hal itu pada Evan.Evan melangkah mendekat, langkah kakinya tidak menimbulkan suara di atas lantai. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Elara."Dia melakukannya karena dia tidak bisa membiarkan pria lain memilikimu," koreksi Evan datar. "Dan karena dia tahu, hanya kamu yang bi
Joseph tersenyum tipis, sebuah seringai yang menunjukkan bahwa Alpha Warcliff sudah kembali dengan kekuatan penuh. Ia siap membantai siapa pun yang berani mengusik miliknya.Matebond ini bukan hanya menyembuhkan Joseph, tapi telah menciptakan pasangan paling mematikan dalam sejarah klan serigala. Valen dan Warcliff kini sudah menyatu.Di kejauhan, suara ledakan terdengar saat gerbang batu kuil dipaksa terbuka dari luar. Pasukan elit Isabella mulai merangsek masuk ke dalam lorong yang bercahaya.Namun Elara hanya berdiri diam di tengah altar. Ia menunggu saat yang tepat untuk melepaskan kekuatannya yang baru saja terbangun secara sempurna."Sekarang," bisik Joseph di samping telinganya.Elara membuka mulutnya. Kali ini bukan suara tangis yang keluar, melainkan sebuah nada tinggi yang sangat murni. Gelombang suara perak melesat maju, memecah kesunyian malam dengan kekuatan yang tidak tertandingi.Joseph menggenggam tangan Elara dengan kuat. Mencoba menyalurkan kekuatan miliknya pada
"Mendekatlah, Elara." Joseph menarik napas panjang, menahan getaran hebat yang menyerang seluruh sarafnya.Elara bergeser, membiarkan Joseph menyandarkan punggung pada pilar batu di pusat altar. Cahaya bulan purnama jatuh tepat di atas mereka melalui atap kuil yang terbuka, menyinari wajah Joseph yang berkeringat.Cairan gelap di dada Joseph mulai merembes ke kemejanya yang koyak. Baunya tajam, bercampur dengan aroma anyir darah yang membuat Elara merasa dadanya sesak.“Setelah ini, kamu akan menjadi milikku seutuhnya.” buka Joseph.Joseph meraih tangan Elara, membimbing jemari gadis itu menyentuh lehernya yang panas. "Aku harus memberikan tanda padamu. Dan kamu harus menerima darahku dalam sistem tubuhmu."Elara mengangguk tanpa ragu. ia sendiri juga tidak mengerti. Kenapa dia bisa dengan mudah menerima Joseph. Tapi semua itu bermuara pada satu jawaban yaitu Insting.Ia bisa merasakan degup jantung Joseph yang tidak beraturan di bawah telapak tangannya. Perasaan sayang dan keingin
Langkah Joseph mendadak berat saat mereka baru saja melewati gerbang batu yang dingin. Suara napasnya berubah menjadi deru kasar yang menyakitkan.Tanpa peringatan, tubuh tegap itu tumbang. Joseph jatuh berlutut dengan satu tangan menghantam lantai batu kuil hingga menimbulkan bunyi debum yang keras."Joseph!" Elara menjerit kecil, ia segera berlutut di samping pria itu.Tangan Elara gemetar saat menyentuh bahu Joseph yang terasa membara. Keringat dingin mengucur deras di dahi sang Alpha, sementara urat-urat di lehernya menonjol dengan warna kebiruan yang gelap.Joseph meringis, tangannya mencengkeram dadanya. Bekas luka yang tadi sudah mulai mengering, kini kembali mengeluarkan cairan gelap yang berbau tajam."K-kenapa lukamu jadi begini?" Elara panik, matanya menyapu sekeliling ruangan luas yang hanya berisi pilar-pilar batu besar itu.Udara di kuil itu membuat tubuh Joseph memberontak, Joseph merasa seperti ada racun yang membakar darahnya dari dalam."Tunggu di sini, aku... aku h
"Berpeganglah padaku," ucap Joseph pendek saat mereka melangkah keluar dari pintu belakang pondok.Angin malam yang dingin langsung menusuk kulit, membawa aroma tanah basah dan pinus yang tajam. Joseph menarik lengan Elara, merapatkan tubuh gadis itu ke sisi tubuhnya yang hangat.Mereka mulai menembus kegelapan hutan yang lebat, menjauh dari cahaya kuning redup pondok Albert. Suara gesekan sepatu mereka pada daun-daun kering menjadi satu-satunya bunyi yang menemani langkah mereka.Elara merasa napasnya sedikit tidak beraturan, bukan karena lelah, melainkan karena kedekatan fisik mereka yang begitu intim. Ia bisa merasakan otot lengan Joseph yang keras di bawah kain jubahnya yang tipis.Joseph bergerak dengan waspada, matanya yang tajam menyisir setiap bayangan pohon di depan mereka. Meski langkahnya sedikit goyah karena luka di dadanya, ia tetap berusaha menahan beban tubuhnya agar tidak memberatkan Elara."Apa lukamu masih terasa sakit?" tanya Elara pelan sambil menatap dari sampi







