เข้าสู่ระบบBAB 95: Dalam Pelukan Kota AsingIsak tangis Bilqis meluncur makin deras, memecah hening ruang tamu apartemen yang kini terasa bagaikan tempat perlindungan terakhirnya. Penyesalan, kerinduan yang membakar dada, serta beban ketakutan akan ancaman sang papa dan ibu mertuanya meledak tanpa sisa. Queen merengkuh tubuh Bilqis erat-erat, membiarkan bahu saudara sesusunya itu bergetar hebat di dalam dekapannya. Tangan Queen meraba punggung Bilqis, memberikan ketenangan hangat yang hanya bisa dipahami oleh dua jiwa yang tumbuh dalam bayang-bayang luka yang sama."Luapkan saja semuanya, Qis... Menangislah," bisik Queen lembut, matanya ikut berkaca-kaca. "Kamu aman di sini. Tidak ada Papa Albert, tidak ada Tante Novia, dan tidak ada yang bisa menyakitimu di sini."Bilqis mencengkeram kain dress rajut yang dikenakan Queen, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Aku... aku ceroboh, Queen... Dulu aku yang meminta Kak Dika menyegerakan pernikahan kami karena aku takut kehilang
BAB 94: Rahasia di Balik Pintu ApartemenPenerbangan panjang membelah Samudra Hindia hingga mendarat di Kingsford Smith Airport, Sydney, terasa bagaikan mimpi buruk yang panjang bagi Bilqis. Tubuhnya lelah luar biasa, namun kepalanya jauh lebih berat. Sepanjang belasan jam di dalam kabin pesawat, bayangan wajah Andika, usapan lembut di dahinya, serta bunyi remasan surat perpisahan terus menerus menghantuinya. Setiap kali ia memejamkan mata, rasa bersalah bagaikan duri tajam yang makin dalam menusuk dadanya.Namun, Bilqis meyakinkan dirinya bahwa keputusan ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan karier cemerlang pria yang sangat dicintainya. Dia rela menanggung rindu dan rasa asing di negeri orang, asal Andika tetap aman dari murka papanya.Dia tidak pernah menyesali pernikahan ini. Namun dia hanya menyadari jika sifat cerobohnya dulu yang meminta Andika untuk segera menikahinya, sama artinya dengan menantang badai.Waktu itu dia memang tidak punya pilihan, dia tidak mau An
BAB 93: Gejolak Amarah (2)Malam kian pekat dan sunyi, menyelimuti deru mesin mobil Andika yang melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Tatapan matanya lurus menembus kegelapan malam, namun sorot matanya yang biasa dingin dan terkendali kini dipenuhi oleh pusaran emosi yang bergejolak hebat. Rahangnya menegang keras, sementara jemarinya mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah, kepedihan, dan rasa kehilangan yang mendalam beradu menjadi satu di dalam dadanya.Awalnya, tujuan utamanya hanya satu, mendatangi Bandara Syamsudin Noor secepat mungkin. Dia ingin melintasi area terminal, mencari sosok wanita yang paling dicintainya itu, dan menariknya kembali ke dalam pelukannya, tidak peduli betapa kerasnya ancaman dunia luar. Namun, saat mobilnya melaju kencang mendekati persimpangan utama menuju arah bandara, akal sehatnya yang terlatih menghadapi situasi kritis mendadak mengambil alih.Sret!Andika membanting kemudi secara mendadak ke bahu ja
BAB 92: Gejolak Amarah Roda koper yang ditarik Bilqis menyusuri lantai porselen rumah menyuarakan detak perpisahan yang dingin. Setiap jengkal ruangan yang ia lewati bagaikan memutar ulang memori manis bersama Andika, kehangatan di meja makan, tawa kecil di ruang tengah, hingga hening aura kepemilikan yang selalu ditiupkan oleh suaminya. Namun, Bilqis memaksakan kakinya terus melangkah tanpa menoleh lagi ke belakang. Ketakutan akan hancurnya karier Andika menjadi cambuk yang mendorongnya keluar dari pintu depan.Begitu melintasi pagar rumah, sebuah taksi online yang telah ia pesan beberapa menit sebelumnya sudah bersiap di tepi jalan. Pengemudi taksi bergegas turun dan membantunya memasukkan koper besar itu ke dalam bagasi."Ke Bandara Syamsudin Noor ya, Mbak?" tanya sang pengemudi memastikan seraya menutup pintu bagasi."Tolong antarkan ke Hotel Anugerah Transit dulu, Pak... dekat kawasan bandara," sahut Bilqis pelan. Suaranya serak menahan sesak di dada.Penerbangan menuju Ja
BAB 91: Penyatuan Malam IniMalam kian melarut, membungkus kamar utama dalam suasana temaram yang tenang dan hangat. Di bawah pendar lampu tidur yang redup, pelukan Andika melingkari tubuh Bilqis dengan begitu erat. Ciuman yang bermula dari kepasrahan dan kehangatan itu perlahan berubah menjadi gelombang gairah yang intens, meleburkan seluruh sisa beban pekerjaan serta ketegangan yang merayapi pikiran mereka sepanjang hari.Andika membalas lumatan bibir istrinya dengan kelembutan yang dalam namun sarat akan kehangatan. Setiap sentuhan jemarinya di punggung ramping Bilqis seolah ingin menegaskan satu hal, bahwa di dalam ruangan ini, Bilqis aman, dicintai, dan sepenuhnya dimiliki. Dekapan Andika begitu nyata, menyalurkan rasa hangat yang membuat seluruh persendian Bilqis melemas dalam pasrah."Mas..." bisik Bilqis terengah pelan ketika pagutan bibir mereka terlepas sejenak. Matanya yang basah dan redup menatap lurus ke dalam manik mata Andika, mencari kepastian di tengah badai keragu
BAB 90: Di Antara Kepasrahan dan Pelukan MalamLangkah kaki Bilqis menyusuri lorong RSIA Kiera Medika Utama sore itu terasa lunglai tak berdaya. Kata-kata Novia serta gertakan terselubung Albert, yang ia dengar dari cerita Andika terus berputar-putar di dalam benaknya, bagaikan kaset rusak yang memutar rekaman ketakutan tanpa henti.Di mata keluarga besar Zaidan—dan bahkan di mata keluarganya sendiri, Andika sebenarnya tak lebih dari sekadar instrumen penting. Seorang dokter spesialis senior berprestasi yang keahlian medisnya dimanfaatkan untuk memuluskan ekspansi bisnis kesehatan keluarga yang terus menggurita. Posisi Andika memang tampak terhormat di permukaan, namun di balik itu, Andika adalah bidak yang tidak boleh melenceng dari skenario besar yang sudah dirancang oleh orang-orang berkuasa di sekelilingnya.Posisi Andika tidak sekuat seperti yang orang pikirkan. Andika mungkin bisa menekan manajemen RSUD Ibnu Hajar, karena ia adalah dokter bintang di sana, tetapi tidak berar







