MasukBab 4: Jangan Pergi
Andika merebahkan tubuh Bilqis ke atas pembaringan dengan gerakan yang teramat pelan, seolah sedang meletakkan porselen paling indah sekaligus paling rapuh di dunia. Dengan tangan gemetar, ia menarik selimut tebal, membungkus tubuh polos gadis itu hingga ke batas dada. Pria itu membungkuk, mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Bilqis yang masih basah oleh sisa air mata. Cukup lama. Ada penyesalan, gairah, dan rasa sayang yang teramat pekat di sana. Dia menyesali perbuatannya yang tak sanggup menanggung hasratnya di siang bolong, tepat setelah ia menyelesaikan operasi pentingnya. Seharusnya dia menyusul Bilqis ke tempat acara wisudanya, memeluk gadis itu, mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Seharusnya Andika masih punya waktu untuk melakukan itu, namun keinginan biologis yang kuat dalam dirinya telah mengalahkan akal sehatnya. Bagaimana mungkin dia menemui Bilqis, di saat gairahnya terhadap gadis itu begitu memuncak?! Oh, tidak! Bukannya membawa Bilqis jalan-jalan, ataupun makan siang setelah acara wisuda, tapi otaknya yang sudah keburu konslet malah akan mengajak gadis itu bermalam di hotel. Sementara Andika tahu, Bilqis itu terlampau rapuh. Gadis itu pasti tidak akan bisa menolak apapun yang menjadi keinginannya. "Tolong... jangan siksa Kakak seperti ini, Bilqis," bisik Andika, suaranya serak dan pasrah. "Kakak ini pria normal. Pria manapun tak akan sanggup menahan diri melihatmu seperti ini..." Andika hendak berbalik, berniat melangkah mundur sebelum akal sehatnya benar-benar hangus. Namun, sebelum ia sempat menegakkan tubuh, jemari lentik Bilqis yang mencuat dari balik selimut menahan ujung lengan kemejanya. Tidak ada tarikan kasar. Hanya cengkeraman halus yang teramat dingin dan bergetar. "Jangan pergi..." rintih Bilqis lirih. Air matanya kembali meluncur, membahasi bantal. "Aku tahu siapa diriku. Di rumah Papa, aku cuma bayangan. Hari ini aku lulus S.Ked sendirian, Kak... Nggak ada Papa, nggak ada Mama, bahkan Kakak pun nggak datang di hari penting aku." Suara Bilqis tercekat, dadanya naik turun menahan kepedihan yang menumpuk bertahun-tahun. "Cuma Kak Dika yang aku punya di dunia ini. Kalau Kakak pun merasa risih lantaran sudah memergoki Kakak tengah menyebut namaku dalam aktivitas kesenangan Kakak... aku harus kemana? Aku sama siapa lagi? Siapa yang sudi menyayangiku, anak haram ini?!" Degg. Kalimat itu bagai bilah pisau yang menusuk tepat di pusat kesadaran Andika. Lelaki itu seketika membeku. Tatapan matanya yang tadi berusaha keras bersikap dingin seketika runtuh total melihat rapuhnya gadis di hadapannya. Gadis jenius yang baru saja meraih predikat lulusan terbaik, namun jiwanya begitu hancur dan kesepian. Andika berlutut di samping ranjang. Jemari besarnya terulur, mengusap lembut jejak air mata di pipi Bilqis. "Kakak nggak pernah usir kamu, Bilqis. Nggak akan pernah," bisik Andika, napasnya beradu hangat dengan napas Bilqis. "Kakak menyuruh kamu keluar dari kamar kakak, bukan karena marah, justru Kakak marah pada diri sendiri, Kakak udah lancang... mencintaimu. Bukan sebagai adik. Tapi sebagai seorang pria yang menginginkan wanitanya." Mata Bilqis membelalak pelan, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kakak mencintaiku?" Bibir gadis itu bergetar menahan gemuruh di dadanya. Jarak di antara mereka menipis seketika. Pandangan Andika penuh kabut gairah dan rasa cinta yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat di balik jas putih dokternya. Persetan dengan perdebatan di kepalanya, detik berikutnya, Andika menundukkan kepala, meraup bibir ranum itu dalam sebuah ciuman yang dalam. Bukan lagi ciuman penenang seorang kakak, melainkan tuntutan penuh penyerahan. Bilqis memejamkan mata, membalas kepasrahan itu, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan napas dan dekapan tubuh kokoh Andika yang menyapu seluruh dingin di jiwanya. Gairah di antara mereka membakar cepat. Tangan Andika merangkul pinggang Bilqis dari balik selimut, memeluknya makin erat hingga tak ada jarak tersisa. Tatapan mata mereka saling mengunci saat tautan bibir itu terlepas sejenak, begitu intens, begitu liar, dan begitu nyaris membuat mereka kehilangan seluruh kontrol diri. Tepat saat tangan Andika hendak menyusup lebih jauh, naluri pelindungnya berteriak nyaring di dalam dada. Tidak! Jangan nodai dia! Andika mendadak menarik napas panjang yang amat berat. Dengan sekuat tenaga dan sisa kewarasan yang ada, ia menahan pergerakan tubuhnya sendiri. Pria itu membenamkan wajahnya di leher Bilqis, menghirup aroma harum tubuh gadis itu sembari menetralkan jantungnya yang berdegup gila-gilaan. Napas mereka berdua sama-sama terengah-engah di atas ranjang yang temaram. "Kak... Dika?" panggil Bilqis ragu, suaranya hampir tak keluar. Andika perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Dia merapikan selimut tebal Bilqis hingga tertutup rapat sampai ke bahu, memastikan tidak ada seinci pun tubuh polos gadis itu yang terekspos lagi. Tatapan mata elang Andika kini berganti menjadi begitu hangat, tegas, dan penuh pengayoman. Dia merengkuh wajah Bilqis dengan kedua telapak tangannya yang hangat. "Kakak mencintaimu setengah mati, Bilqis. Kakak tidak tahu entah sejak kapan kakak menginginkan kamu. Tapi Kakak tidak akan pernah menyentuhmu lebih jauh tanpa ikatan yang sah," ujar Andika dengan suara berat, dalam, dan mantap. "Kamu terlalu berharga untuk sekadar jadi pelampiasan gairah. Itulah sebabnya kenapa Kakak nggak hadir di saat acara wisuda kamu. Kakak nggak mau kelepasan bersikap di depan umum yang cuma akan bikin malu kamu. Kakak sadar, Kakak emang nggak pantas buat kamu. Kamu masih terlalu muda, jalan kamu masih panjang....." "Apalagi jika mengingat hubungan orang tua kita. Tidak mungkin papa Albert sudi memberikan putrinya pada pria tua ini...." "Kakak nggak akan memaksakan kehendak jika kamu memang nggak mau sama kakak. Namun kapan pun kamu siap, Kakak akan membawamu ke depan penghulu," sambung Andika, menatap lurus ke dalam manik mata Bilqis yang berbinar. "Kakak janji akan terus melindungi kamu dengan cara yang paling terhormat." BAB 48: Bertemu JalanPria berkemeja pendek itu tidak menunjukkan raut marah sama sekali. Dia justru tersenyum tipis, senyum tenang yang tertata rapi, tipikal seseorang yang terbiasa menghadapi pasien histeria. Dia sudah kenyang makan asam garam menghadapi tingkah laku pasien kelas rendah yang pembiayaan medisnya ditanggung oleh negara.Sejak dia masih menjadi dokter umum dulu, kemudian ikatan dinas dan sekarang dia sudah menjadi dokter spesialis kandungan senior, yang meskipun kondisi karirnya harus mengalami masalah berat seperti ini, dia sudah terlalu biasa menghadapi pasien. Perilaku gadis yang baru saja mengalami peristiwa kecopetan ini belum seberapa baginya."Tenang dulu," ujar pria itu lembut seraya menyodorkan beberapa lembar tisu kering ke arah Hilya. "Aku baru saja memarkirkan mobil di seberang sana sewaktu mendengar teriakanmu. Kejadiannya cuma hitungan detik, dan penjambret itu naik motor kencang sekali. Jalur di sini padat, mengejar mereka tanpa persiapan cuma akan me
BAB 47: Kesedihan HilyaSuara teriakan pertengkaran mama dan papanya masih bergema bising di kepala Hilya. Masih segar di ingatannya mamanya yang meminta sang Papa untuk kembali kepada Novia, istri pertamanya yang sekarang justru menjadi istri orang.Hilya menggeleng samar. Kehidupan rumah tangga orang tuanya emang rumit."Ya ampun... bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Masa iya Papa disuruh merebut Tante Novia dari Om Roy. Dipikir-pikir emang Mama sebenarnya kelewatan juga." Hilya terus menggerutu sembari matanya fokus menatap ke depan. Jalanan nampak ramai lalu lalang kendaraan, namun itu tidak jadi masalah bagi Hilya. Yang penting dia menjauh dulu dari rumah itu, rumah yang sekarang seperti neraka untuknya. Sempat berpikir dibenaknya untuk tinggal terpisah dari orang tua, namun dia tidak bisa melakukan itu, karena biaya kost itu mahal, sementara rumah orang tuanya pun cukup dekat dengan kampus, tempat dia menimba ilmu. "Bagaimana bisa Papa menyuruh aku kerja? Emangnya pekerjaa
BAB 46: Tambang Emas BaruSebuah taksi berhenti tepat di depan rumah kontrakan berpagar besi kusam di kawasan pemukiman padat. Hilya melangkah keluar dengan senyum lebar yang tak sanggup ia sembunyikan. Keangkuhan yang sempat runtuh di rumah Andika tadi pagi kini berganti menjadi rasa puas yang membuncah saat jemarinya meraba selembar kertas berharga di dalam tasnya.Meski Bilqis sempat memberikan perlawanan, namun gadis itu ternyata tetap mau mengeluarkan uang untuknya.Masa bodoh bagi Hilya, yang penting dia mendapatkan uang yang ia inginkan. Meski jika dipikir-pikir, apa yang diucapkan oleh Bilqis itu memang benar, dia cuma anak seorang pelakor."Mama! Ma!" teriak Hilya begitu melintasi pintu depan yang setengah terbuka.Rere yang sedang duduk di sofa lusuh seraya memoles cat kuku mendongak, menatap putri bungsunya dengan raut wajah masam. "Apa sih, Hilya? Teriak-teriak kayak orang kesurupan! Kamu bisa enggak sih pulang bawa berita bagus? Mana? Dikasih uang UKT sama abang tirim
BAB 45: Siap, IstrikuSuara derap langkah kaki Hilya yang tergesa-gesa meninggalkan lantai atas perlahan menghilang, disusul dentum pintu utama yang ditutup rapat. Memang se bar-bar itu kelakuan Hilya, entah bagaimana cara orang tuanya mendidik gadis itu. Benar-benar tak punya sopan santun di rumah saudara sendiri.Keheningan kembali merayap di setiap sudut rumah.Bilqis mengembuskan napas panjang. Jemarinya yang memegang tepian meja rias gemetar tipis. Pekikan dan pembelaan dirinya di depan Hilya tadi menguras sisa tenaga yang ia miliki sejak pagi. Pengakuan bahwa mama Naina tidak pernah merebut suami orang adalah kebenaran yang selalu ia genggam, namun tetap saja, sebutan 'anak haram' yang terlontar dari mulut Hilya meninggalkan goresan perih baru di atas luka lamanya."Andaikan Papa Revan masih ada, aku lebih baik dianggap sebagai anggota keluarga Pratama ketimbang keluarga Zaidan, walaupun setiap hari harus berantem dengan Tante Revi," keluh Bilqis dalam hati. Matanya menatap
BAB 44: Berhenti Menyebutku Sebagai Anak Haram, Hilya!Hilya bersedekap dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan senyum kemenangan yang amat culas. Dia merasa baru saja menemukan sesuatu yang berharga dari teka-teki hubungan Bilqis dengan Andika.Namun, harapan Hilya untuk melihat raut wajah panik atau ketakutan dari Bilqis sirna begitu saja.Bilqis merapikan tatanan rambutnya dengan tenang. Anak-anak rambutnya yang berkeliaran di dahi dan pelipisnya kini sudah rapi di belakang telinganya. Perempuan muda itu menarik napas, menyadari satu hal,: Pernikahan dengan Andika, yang meski cuma siri akan menyeretnya ke dalam pusaran masalah keluarga pria itu.Nama papa Amran bukan hal yang asing bagi Bilqis meski dia nyaris tidak pernah bertemu dengan pria itu, pria itu hanya sesekali menelpon Andika dan hubungan di antara ayah dan anak itu begitu kaku. Keduanya hidup dalam egonya masing-masing.Tak bisa dipungkiri, bukan cuma dirinya, tapi masa lalu Andika juga sangat pahit.Matanya
BAB 43: Tamu Tak DiundangSuara teriakan security dan pintu pagar depan yang terdorong kasar diikuti langkah kaki tergesa-gesa memutus keheningan pagi di rumah besar itu. Bilqis yang baru saja mengusap sisa air matanya di kamar utama langsung tersentak. Belum sempat dia melangkah keluar kamar, suara teriakan yang sangat akrab dan bernada menuntut sudah menggema di area foyer di lantai bawah."Kak Dika! Kak Dika! Aku tahu Kak Dika belum ke rumah sakit!"Bilqis mengelus dadanya yang berdebar kaget. Ini beneran tamu tak diundang.Hilya. Ngapain gadis manja itu kemari? Apa sedang butuh uang?!Bilqis segera memutar rekaman memorinya soal kejadian di mall itu, dia berpikir jika ini merupakan buntut dari kejadian yang membuat Hilya marah besar.Gadis manja yang merupakan anak bungsu dari Tante Rere, istri kedua dari Amran, papanya Andika itu melangkah masuk tanpa membunyikan bel, memanfaatkan gerbang depan yang memang belum sempat dikunci otomatis oleh sekuriti. Sejak Andika memutuska







