Share

Jangan Pergi

Author: Jannah Zein
last update publish date: 2026-07-02 15:33:40

Bab 4: Jangan Pergi

​Andika merebahkan tubuh Bilqis ke atas pembaringan dengan gerakan yang teramat pelan, seolah sedang meletakkan porselen paling indah sekaligus paling rapuh di dunia. Dengan tangan gemetar, ia menarik selimut tebal, membungkus tubuh polos gadis itu hingga ke batas dada.

​Pria itu membungkuk, mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Bilqis yang masih basah oleh sisa air mata. Cukup lama. Ada penyesalan, gairah, dan rasa sayang yang teramat pekat di sana.

Dia menyesali perbuatannya yang tak sanggup menanggung hasratnya di siang bolong, tepat setelah ia menyelesaikan operasi pentingnya. Seharusnya dia menyusul Bilqis ke tempat acara wisudanya, memeluk gadis itu, mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Seharusnya Andika masih punya waktu untuk melakukan itu, namun keinginan biologis yang kuat dalam dirinya telah mengalahkan akal sehatnya.

Bagaimana mungkin dia menemui Bilqis, di saat gairahnya terhadap gadis itu begitu memuncak?!

Oh, tidak!

Bukannya membawa Bilqis jalan-jalan, ataupun makan siang setelah acara wisuda, tapi otaknya yang sudah keburu konslet malah akan mengajak gadis itu bermalam di hotel.

Sementara Andika tahu, Bilqis itu terlampau rapuh. Gadis itu pasti tidak akan bisa menolak apapun yang menjadi keinginannya.

​"Tolong... jangan siksa Kakak seperti ini, Bilqis," bisik Andika, suaranya serak dan pasrah. "Kakak ini pria normal. Pria manapun tak akan sanggup menahan diri melihatmu seperti ini..."

​Andika hendak berbalik, berniat melangkah mundur sebelum akal sehatnya benar-benar hangus. Namun, sebelum ia sempat menegakkan tubuh, jemari lentik Bilqis yang mencuat dari balik selimut menahan ujung lengan kemejanya.

​Tidak ada tarikan kasar. Hanya cengkeraman halus yang teramat dingin dan bergetar.

​"Jangan pergi..." rintih Bilqis lirih. Air matanya kembali meluncur, membahasi bantal. "Aku tahu siapa diriku. Di rumah Papa, aku cuma bayangan. Hari ini aku lulus S.Ked sendirian, Kak... Nggak ada Papa, nggak ada Mama, bahkan Kakak pun nggak datang di hari penting aku."

​Suara Bilqis tercekat, dadanya naik turun menahan kepedihan yang menumpuk bertahun-tahun.

​"Cuma Kak Dika yang aku punya di dunia ini. Kalau Kakak pun merasa risih lantaran sudah memergoki Kakak tengah menyebut namaku dalam aktivitas kesenangan Kakak... aku harus kemana? Aku sama siapa lagi? Siapa yang sudi menyayangiku, anak haram ini?!"

​Degg.

​Kalimat itu bagai bilah pisau yang menusuk tepat di pusat kesadaran Andika. Lelaki itu seketika membeku. Tatapan matanya yang tadi berusaha keras bersikap dingin seketika runtuh total melihat rapuhnya gadis di hadapannya. Gadis jenius yang baru saja meraih predikat lulusan terbaik, namun jiwanya begitu hancur dan kesepian.

​Andika berlutut di samping ranjang. Jemari besarnya terulur, mengusap lembut jejak air mata di pipi Bilqis.

​"Kakak nggak pernah usir kamu, Bilqis. Nggak akan pernah," bisik Andika, napasnya beradu hangat dengan napas Bilqis. "Kakak menyuruh kamu keluar dari kamar kakak, bukan karena marah, justru Kakak marah pada diri sendiri, Kakak udah lancang... mencintaimu. Bukan sebagai adik. Tapi sebagai seorang pria yang menginginkan wanitanya."

​Mata Bilqis membelalak pelan, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Kakak mencintaiku?" Bibir gadis itu bergetar menahan gemuruh di dadanya.

​Jarak di antara mereka menipis seketika. Pandangan Andika penuh kabut gairah dan rasa cinta yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat di balik jas putih dokternya. Persetan dengan perdebatan di kepalanya, detik berikutnya, Andika menundukkan kepala, meraup bibir ranum itu dalam sebuah ciuman yang dalam.

​Bukan lagi ciuman penenang seorang kakak, melainkan tuntutan penuh penyerahan. Bilqis memejamkan mata, membalas kepasrahan itu, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan napas dan dekapan tubuh kokoh Andika yang menyapu seluruh dingin di jiwanya.

​Gairah di antara mereka membakar cepat. Tangan Andika merangkul pinggang Bilqis dari balik selimut, memeluknya makin erat hingga tak ada jarak tersisa. Tatapan mata mereka saling mengunci saat tautan bibir itu terlepas sejenak, begitu intens, begitu liar, dan begitu nyaris membuat mereka kehilangan seluruh kontrol diri.

​Tepat saat tangan Andika hendak menyusup lebih jauh, naluri pelindungnya berteriak nyaring di dalam dada.

​Tidak!

Jangan nodai dia!

​Andika mendadak menarik napas panjang yang amat berat. Dengan sekuat tenaga dan sisa kewarasan yang ada, ia menahan pergerakan tubuhnya sendiri. Pria itu membenamkan wajahnya di leher Bilqis, menghirup aroma harum tubuh gadis itu sembari menetralkan jantungnya yang berdegup gila-gilaan.

​Napas mereka berdua sama-sama terengah-engah di atas ranjang yang temaram.

​"Kak... Dika?" panggil Bilqis ragu, suaranya hampir tak keluar.

​Andika perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Dia merapikan selimut tebal Bilqis hingga tertutup rapat sampai ke bahu, memastikan tidak ada seinci pun tubuh polos gadis itu yang terekspos lagi.

​Tatapan mata elang Andika kini berganti menjadi begitu hangat, tegas, dan penuh pengayoman. Dia merengkuh wajah Bilqis dengan kedua telapak tangannya yang hangat.

​"Kakak mencintaimu setengah mati, Bilqis. Kakak tidak tahu entah sejak kapan kakak menginginkan kamu. Tapi Kakak tidak akan pernah menyentuhmu lebih jauh tanpa ikatan yang sah," ujar Andika dengan suara berat, dalam, dan mantap. "Kamu terlalu berharga untuk sekadar jadi pelampiasan gairah. Itulah sebabnya kenapa Kakak nggak hadir di saat acara wisuda kamu. Kakak nggak mau kelepasan bersikap di depan umum yang cuma akan bikin malu kamu. Kakak sadar, Kakak emang nggak pantas buat kamu. Kamu masih terlalu muda, jalan kamu masih panjang....."

"Apalagi jika mengingat hubungan orang tua kita. Tidak mungkin papa Albert sudi memberikan putrinya pada pria tua ini...."

​"Kakak nggak akan memaksakan kehendak jika kamu memang nggak mau sama kakak. Namun kapan pun kamu siap, Kakak akan membawamu ke depan penghulu," sambung Andika, menatap lurus ke dalam manik mata Bilqis yang berbinar. "Kakak janji akan terus melindungi kamu dengan cara yang paling terhormat."

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Muara Hidup

    BAB 117: Muara Hidup​Suara panggilan antrean dari mikrofon suster Rini terdengar samar-samar menembus dinding kedap suara ruang kerja Andika. Di dalam ruangan sejuk itu, Bilqis baru saja menyelesaikan potongan buah apel terakhirnya. Rasa lega menyelimuti hatinya saat ia mengelus perutnya yang masih rata. Tidak ada lagi rasa mual yang menyiksa seperti kemarin pagi, seolah sang janin di dalam sana mengerti bahwa kedua orang tuanya tengah dikelilingi kedamaian.​Waktu bergulir cepat di RSUD Setia Budi. Jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul satu siang lewat lima belas menit ketika pintu penghubung ruang kerja berbunyi pelan. Andika melangkah masuk seraya melepas jas putih dokternya. Garis-garis kelelahan tampak samar di paras tampannya setelah memeriksa puluhan pasien sepanjang pagi, namun binar matanya seketika hangat begitu tatapannya jatuh pada sang istri.​"Bagaimana, Sayang? Bosan menunggu Mas?" tanya Andika lembut seraya menggantung jas dokternya di kapstok kayu, lalu melangka

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Kagum Dalam Keheningan

    BAB 116: Kagum dalam Keheningan​Pintu kayu ruang kerja Andika kembali tertutup rapat setelah Suster Rini berpamitan keluar. Bilqis mengulas senyum tipis, lalu meraih potongan buah apel segar yang disajikan dengan rapi di atas nampan. Rasa manis dan renyah apel itu seketika memanjakan lidahnya, mengusir sisa-sisa rasa mual yang sempat mengintai. Di layar televisi, tayangan berita tentang dinamika bisnis dan politik terus bergulir, namun hati Bilqis sudah berada di tempat yang jauh lebih tenang, di dalam perlindungan hangat sang suami.​Sementara itu, di balik meja pendaftaran Poliklinik Kebidanan dan Kandungan yang padat oleh antrean pasien, Suster Rini berjalan kembali dengan langkah yang perlahan melambat. Nampan kosong di genggamannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.​Perawat muda itu menarik kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri di depan layar komputer pendaftaran. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu ruang kerja Dokter Andika yang tertutup rapat, lalu beralih menyapu

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Dokter Khusus di Rumah Sendiri

    ​BAB 115: Dokter Khusus di Rumah Sendiri​Suasana rumah dinas terasa jauh lebih lapang dan hangat setelah kepulangan Naina ke Jakarta. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara, tidak ada lagi rasa cemas, yang tersisa di rumah nan sederhana itu hanyalah kedamaian yang telah lama dinantikan oleh Andika dan Bilqis.​Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya yang hangat dari balik pepohonan. Di dalam dapur, aroma harum teh chamomile yang diseduh hangat menguar pelan, membaur dengan aroma roti panggang.​Bilqis berdiri di dekat kompor, bersiap untuk menggoreng telur mata sapi untuk sarapan mereka. Namun, baru saja ia menyalakan kompor dan menuang sedikit minyak ke atas wajan, sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang.​"Eits, mau buat apa, Sayang?" bisik suara bernada rendah yang sangat familiar tepat di samping telinganya.​Bilqis mengecap bibirnya pelan, menoleh sedikit seraya tersenyum manis. Andika sudah tampil segar dengan kemeja kasualnya,

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Sambutan Hangat

    BAB 114: Sambutan Hangat ​Suara deru pendingin udara di ruang kerja Andika terasa begitu sejuk, menenangkan gemuruh kebahagiaan yang masih menyelimuti dada Bilqis. Ponsel di genggamannya perlahan ia letakkan di atas meja. Ucapan selamat dan isak haru dari Queen, saudara sesusunya di Australia masih bergema hangat di ingatannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Bilqis merasakan kebebasan mutlak atas jalan hidup yang ia pilih sendiri.​Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap permukaan perutnya yang masih datar. Ada sesungging senyum tulus yang terukir di bibirnya. Di dalam sana, benih cinta yang ia rajut bersama Andika tengah tumbuh, menjadi jangkar yang mengikat mereka dalam ikatan yang tak tergoyahkan oleh ambisi atau keangkuhan siapa pun.​Klek.​Pintu penghubung antara ruang kerja dan ruang periksa utama terbuka pelan. Andika melangkah masuk dengan senyum hangat yang langsung terpancar begitu tatapan mata mereka beradu. Pria itu melepas stetoskop yang melingkar di lehe

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Sukacita di Rumah Sakit

    BAB 113: Sukacita di Rumah Sakit​Di dalam ruang periksa Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUD Setia Budi, keheningan hangat yang sempat tercipta paska pemeriksaan USG perlahan mencair. Andika mengusap lembut sisa gel ultrasound di perut halus istrinya dengan tisu steril, lalu membantunya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan. Bilqis merapikan pakaiannya dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena rasa haru yang membuncah di dalam dada.​Setelah mematikan layar monitor USG, Andika melangkah menuju pintu dan memutar kunci dari dalam. Suster Rini, perawat senior yang sejak pagi berjaga di area pendaftaran poliklinik, berdiri di dekat meja administrasi dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.​"Bagaimana hasilnya, Dokter Dika?" tanya Suster Rini ramah, matanya melirik sekilas ke arah Bilqis yang sedang melangkah pelan mendekati meja kerja Andika.​Andika menyunggingkan senyum paling lebar yang belum pernah dilihat oleh para staf medis di RSUD it

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Pasrah

    BAB 112: Pasrah​Keheningan di ambang pintu kamar mandi terasa begitu menekan. Naina berdiri mematung, mendengarkan percakapan singkat antara putri sulungnya dan Andika. Binar kebahagiaan yang mendadak terpancar di mata dokter yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu bagaikan petir yang menghantam sisa-sisa harapan Naina.​Harapan yang semalaman ia susun rapi, jika memang benar Andika sudah menikahi Bilqis, rencana untuk memohon, menuntut, atau bahkan memaksa Andika melepaskan Bilqis demi meredam murka keluarga Jason Tan, seketika hancur berkeping-keping menjadi debu tak berharga.​Naina menyandarkan bahunya pada kusen pintu, menatap Bilqis yang masih bersandar lemas di dada bidang suaminya. Tatapan mata Andika yang begitu protektif dan penuh kasih saat mengusap dahi Bilqis menguatkan kenyataan pahit yang harus ia terima, Bilqis bukan lagi gadis remaja polos yang bisa ia atur arah hidupnya. Bilqis kini adalah seorang istri, dan lebih dari itu, ada benih kehidupan baru yang tenga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status