FAZER LOGINBab 5: Nikahi Aku, Kak
Keheningan menyergap kamar temaram itu setelah Andika selesai mengucapkan janji dan pengakuan jujurnya. Pria itu masih memandangnya dengan tatapan dalam, menunggu reaksi dari gadis cantik di hadapannya. Di atas pembaringan, Bilqis membisu. Selimut tebal masih membalut erat tubuhnya hingga ke batas dada. Jantungnya berdebar tak karuan. Otaknya yang baru saja menuntaskan pendidikan strata satu kedokteran itu mencoba mencerna setiap inci kata-kata yang keluar dari bibir Andika. "Kak Dika mencintaiku? Bukan sebagai adik... tapi sebagai wanita?" Bisikan itu seolah mengelus sisi lain yang lebih dalam dari sudut hatinya. Dia memang terkejut, namun entah kenapa sisi lain dalam dirinya seperti sedang bersorak. Sejak ia berumur sepuluh tahun, Andika telah menjadi sosok kakak laki-laki yang ia agungkan. Pria yang memberinya hangat saat rumah Papa Albert begitu dingin, pria yang menyuruhnya terus berprestasi saat dunia menganggapnya anak yang tak diharapkan. Bilqis memejamkan mata. Rasa kagum itu, dan sosoknya yang selalu mengayomi membuat Bilqis merasa aman, dan kenyamanan itu menuntunnya kepada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, namun selalu dicobanya untuk menahan. Mengingat semua itu, perlahan Bilqis membuka matanya kembali. Wajah tampan dan dewasa, rahang yang tegas, membuat Bilqis tak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuh wajah itu. Jemarinya bahkan demikian lancang menyentuh bibir milik Andika, bibir yang beberapa saat yang lalu menjelajah seluruh area wajah Bilqis dengan penuh tuntutan yang membuat tubuh Bilqis kembali merinding. Hasrat itu begitu kuat. Andika benar-benar menginginkannya! Bayangan adegan beberapa puluh menit lalu di kamar pribadi Andika mendadak melintas tajam di ingatannya. Suara rintihan berat Andika yang menyebut namanya... desah napas keputusasaan pria itu... dan sentuhan panas yang baru saja nyaris membakar batas kesucian mereka. Tanpa sadar, Bilqis mengepalkan salah satu tangannya yang masih berada di balik selimut. Tidak. Hubungan mereka memang tak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi. Benteng "kakak-adik" itu sudah hancur lebur sejak detik pertama ia melihat Andika menginginkannya sebagai seorang lelaki dewasa. "Kalau aku menolak... apa yang akan terjadi?" Bilqis membatin, dadanya terasa ngilu. "Sementara aku tidak tahu apa yang ada di dalam perasaanku saat ini. Semuanya campur aduk, nggak jelas." Jika ia menolak, Andika mungkin akan menarik diri karena merasa bersalah. Pria itu akan menjaga jarak, bersikap dingin, atau bahkan perlahan menghilang dari hidupnya demi mempertahankan batas moral. Dan Bilqis... tidak sanggup membayangkan hidup tanpa Andika. Dialah satu-satunya alasan Bilqis mampu bertahan dan berdiri tegar hingga meraih gelar S.Ked ini. Lagipula, Bilqis tidak mau selamanya terjebak dalam posisi memilukan ini. Dia tidak sudi jika hanya dijadikan bayangan fantasi liar di saat Andika kesepian, sementara di hadapan publik mereka berakting seolah tak terjadi apa-apa. Dia tidak mau cuma jadi fetish tersembunyi seorang pria yang sesungguhnya sangat ia hormati. Jika Andika memang menginginkannya sebagai wanita, maka pria itu harus mengambilnya secara utuh. Bukan setengah-setengah. Bukan sekadar dorongan gairah di kamar sepi, tapi sebuah komitmen nyata yang mengikat mereka berdua. Bilqis balas menatap pria itu. Manik matanya yang jernih kini menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Andika, tanpa ada lagi keraguan atau rasa takut. Perlahan, Bilqis mengeluarkan sebelah tangannya dari balik selimut, meraih telapak tangan Andika yang terasa hangat dan bergetar, lalu menggenggamnya erat. "Kalau memang Kakak serius... kalau memang Kakak tidak cuma kasihan atau terbawa gairah sesaat padaku..." suara Bilqis mengalun perlahan, begitu tenang namun sarat akan ketegasan. Andika menahan napas, menatap Bilqis tanpa berkedip. Apapun jawaban Bilqis, semuanya tidak ada yang benar-benar menyenangkan. Jika pun Bilqis bersedia menikah dengannya, Andika tetap harus berhadapan dengan keluarga Zaidan yang mungkin saja memiliki pertimbangan lain tentang jodoh putri mereka. "Nikahi aku, Kak." Bibir Bilqis tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kepasrahan sekaligus keberanian. "Jangan jadikan aku sekadar bayangan atau fantasi di kamar Kakak. Lindungi aku secara sah, seperti janji Kakak barusan. Aku mau kita nikah hari ini juga." BAB 117: Muara HidupSuara panggilan antrean dari mikrofon suster Rini terdengar samar-samar menembus dinding kedap suara ruang kerja Andika. Di dalam ruangan sejuk itu, Bilqis baru saja menyelesaikan potongan buah apel terakhirnya. Rasa lega menyelimuti hatinya saat ia mengelus perutnya yang masih rata. Tidak ada lagi rasa mual yang menyiksa seperti kemarin pagi, seolah sang janin di dalam sana mengerti bahwa kedua orang tuanya tengah dikelilingi kedamaian.Waktu bergulir cepat di RSUD Setia Budi. Jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul satu siang lewat lima belas menit ketika pintu penghubung ruang kerja berbunyi pelan. Andika melangkah masuk seraya melepas jas putih dokternya. Garis-garis kelelahan tampak samar di paras tampannya setelah memeriksa puluhan pasien sepanjang pagi, namun binar matanya seketika hangat begitu tatapannya jatuh pada sang istri."Bagaimana, Sayang? Bosan menunggu Mas?" tanya Andika lembut seraya menggantung jas dokternya di kapstok kayu, lalu melangka
BAB 116: Kagum dalam KeheninganPintu kayu ruang kerja Andika kembali tertutup rapat setelah Suster Rini berpamitan keluar. Bilqis mengulas senyum tipis, lalu meraih potongan buah apel segar yang disajikan dengan rapi di atas nampan. Rasa manis dan renyah apel itu seketika memanjakan lidahnya, mengusir sisa-sisa rasa mual yang sempat mengintai. Di layar televisi, tayangan berita tentang dinamika bisnis dan politik terus bergulir, namun hati Bilqis sudah berada di tempat yang jauh lebih tenang, di dalam perlindungan hangat sang suami.Sementara itu, di balik meja pendaftaran Poliklinik Kebidanan dan Kandungan yang padat oleh antrean pasien, Suster Rini berjalan kembali dengan langkah yang perlahan melambat. Nampan kosong di genggamannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.Perawat muda itu menarik kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri di depan layar komputer pendaftaran. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu ruang kerja Dokter Andika yang tertutup rapat, lalu beralih menyapu
BAB 115: Dokter Khusus di Rumah SendiriSuasana rumah dinas terasa jauh lebih lapang dan hangat setelah kepulangan Naina ke Jakarta. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara, tidak ada lagi rasa cemas, yang tersisa di rumah nan sederhana itu hanyalah kedamaian yang telah lama dinantikan oleh Andika dan Bilqis.Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya yang hangat dari balik pepohonan. Di dalam dapur, aroma harum teh chamomile yang diseduh hangat menguar pelan, membaur dengan aroma roti panggang.Bilqis berdiri di dekat kompor, bersiap untuk menggoreng telur mata sapi untuk sarapan mereka. Namun, baru saja ia menyalakan kompor dan menuang sedikit minyak ke atas wajan, sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang."Eits, mau buat apa, Sayang?" bisik suara bernada rendah yang sangat familiar tepat di samping telinganya.Bilqis mengecap bibirnya pelan, menoleh sedikit seraya tersenyum manis. Andika sudah tampil segar dengan kemeja kasualnya,
BAB 114: Sambutan Hangat Suara deru pendingin udara di ruang kerja Andika terasa begitu sejuk, menenangkan gemuruh kebahagiaan yang masih menyelimuti dada Bilqis. Ponsel di genggamannya perlahan ia letakkan di atas meja. Ucapan selamat dan isak haru dari Queen, saudara sesusunya di Australia masih bergema hangat di ingatannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Bilqis merasakan kebebasan mutlak atas jalan hidup yang ia pilih sendiri.Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap permukaan perutnya yang masih datar. Ada sesungging senyum tulus yang terukir di bibirnya. Di dalam sana, benih cinta yang ia rajut bersama Andika tengah tumbuh, menjadi jangkar yang mengikat mereka dalam ikatan yang tak tergoyahkan oleh ambisi atau keangkuhan siapa pun.Klek.Pintu penghubung antara ruang kerja dan ruang periksa utama terbuka pelan. Andika melangkah masuk dengan senyum hangat yang langsung terpancar begitu tatapan mata mereka beradu. Pria itu melepas stetoskop yang melingkar di lehe
BAB 113: Sukacita di Rumah SakitDi dalam ruang periksa Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUD Setia Budi, keheningan hangat yang sempat tercipta paska pemeriksaan USG perlahan mencair. Andika mengusap lembut sisa gel ultrasound di perut halus istrinya dengan tisu steril, lalu membantunya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan. Bilqis merapikan pakaiannya dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena rasa haru yang membuncah di dalam dada.Setelah mematikan layar monitor USG, Andika melangkah menuju pintu dan memutar kunci dari dalam. Suster Rini, perawat senior yang sejak pagi berjaga di area pendaftaran poliklinik, berdiri di dekat meja administrasi dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan."Bagaimana hasilnya, Dokter Dika?" tanya Suster Rini ramah, matanya melirik sekilas ke arah Bilqis yang sedang melangkah pelan mendekati meja kerja Andika.Andika menyunggingkan senyum paling lebar yang belum pernah dilihat oleh para staf medis di RSUD it
BAB 112: PasrahKeheningan di ambang pintu kamar mandi terasa begitu menekan. Naina berdiri mematung, mendengarkan percakapan singkat antara putri sulungnya dan Andika. Binar kebahagiaan yang mendadak terpancar di mata dokter yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu bagaikan petir yang menghantam sisa-sisa harapan Naina.Harapan yang semalaman ia susun rapi, jika memang benar Andika sudah menikahi Bilqis, rencana untuk memohon, menuntut, atau bahkan memaksa Andika melepaskan Bilqis demi meredam murka keluarga Jason Tan, seketika hancur berkeping-keping menjadi debu tak berharga.Naina menyandarkan bahunya pada kusen pintu, menatap Bilqis yang masih bersandar lemas di dada bidang suaminya. Tatapan mata Andika yang begitu protektif dan penuh kasih saat mengusap dahi Bilqis menguatkan kenyataan pahit yang harus ia terima, Bilqis bukan lagi gadis remaja polos yang bisa ia atur arah hidupnya. Bilqis kini adalah seorang istri, dan lebih dari itu, ada benih kehidupan baru yang tenga







