Home / Rumah Tangga / Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku / 166. Gara-gara Nada Panggilan

Share

166. Gara-gara Nada Panggilan

Author: Kafkaika
last update Last Updated: 2025-12-18 21:22:09
Pras hanya bengong seperti anak kecil yang baru saja dimarahi, hanya karena deringan ponselnya membuat Axel terbangun. Begitu ponsel itu dimatikan dan Aura mengelus lembut kening sang bayi, Axel perlahan kembali terlelap.

“Matiin nada panggilannya,” omel Aura dengan nada lirih. Takut mengusik anaknya yang sedang berusaha melanjutkan mimpi.

“Iya, sudah…” Pras ikut menjawab pelan. “Aku telpon dulu ke luar, ya?” tambahnya sambil bangkit perlahan dari sisi ranjang. Dia hendak menghubungi balik Rico yang tadi menelponnya.

Sudah berhati-hati, tapi tetap saja kakinya tanpa sengaja menyenggol box bayi hingga bergeser sedikit.

Dan seperti alarm paling sensitif di dunia—suara tangisan itu kembali terdengar lantang.

Macan betina itu langsung bangkit lagi. Anak kesayangannya terusik. Tak peduli siapa pelakunya, meski itu sang papa sendiri, tetap akan kena marah.

“Udah dibilang hati-hati, malah nyenggol? Astaga…” Aura gemas sambil memukul lengan Pras.

“Astaga, Naaak… cuma kesenggol dikit doang,” Pr
Kafkaika

Selamat membaca... 💖💖💖

| 4
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
kocak bikin gemesss orang tua baru
goodnovel comment avatar
sukabaca
lnjutannyaaa thorrr
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   207. Merasa Tersisih(2)

    Pagi itu, udara di sekitar kolam renang terasa dingin, namun tidak sedingin hati Aura. Begitu melihat Veny sedang bersantai sembari membaca majalah, Aura langsung melabraknya. Ia tidak akan pernah bisa memaafkan siapa pun yang sengaja menyakiti Axel, meskipun itu hanya seujung kuku.“Jangan pernah bawa-bawa Axel dalam urusanmu, Ven. Kamu apakan dia sampai menangis histeris begitu?” cecar Aura tanpa basa-basi.Veny menurunkan majalahnya perlahan, menatap Aura dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara. Seolah-olah kemarahan Aura adalah hiburan pagi yang menyenangkan baginya. “Kau marah padaku?” tanyanya dengan nada meledek.“Jangan main-main, Ven. Kalau kau menyerangku, it’s okay, aku bisa menahannya. Tapi kalau kau menyentuh anakku, aku tidak akan tinggal diam!”Veny justru tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di permukaan air kolam, membuat telinga Aura panas. “Kau baru lihat anakmu lebam sedikit saja murkanya minta ampun. Bagaimana denganku? Anakku kau hancurkan mentaln

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   206. Merasa Tersisih

    Bagaimanapun, Aura tidak bisa menghapus fakta bahwa Veny adalah masa lalu Pras yang sangat panjang. Lima belas tahun mereka membina rumah tangga bukanlah waktu yang sebentar. Aura sering mendengar bahwa sebelum mengenal Veny, Pras tidak pernah benar-benar menjalin hubungan serius dengan wanita lain.Veny adalah cinta pertama Pras. Kenyataan itu terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokan Aura. Ia harus menelan pahitnya kenyataan bahwa suaminya mungkin masih memiliki sisa-sisa rasa "tidak tega" yang sangat dalam pada Veny dan putrinya.“Kalau begitu, biar aku dan Axel saja yang pindah dari sini, Mas,” ujar Aura lirih. Ia tidak ingin memprotes dengan meledak-ledak, karena ia tahu Pras hanya akan melabelinya sebagai wanita pencemburu yang egois.“Apa-apaan sih kamu, Ra?” Pras tampak tersentak. Tidak mungkin ia membiarkan istri dan anaknya pergi, sementara ia sendiri harus bertahan di rumah ini demi menjaga mamanya dari kelakuan Veny dan Mikayla.“Aku tidak bisa tinggal di rumah di

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   205. Mengingatkan Veny

    “Mika, kau tak perlu ikut. Tunggulah Mama di kamar,” perintah Veny tegas saat mereka berdiri di depan pintu ruang kerja Pras. Veny tahu benar, jika Mikayla ikut masuk, bom waktu yang selama ini ia sembunyikan akan meledak saat itu juga. Ia tak boleh membiarkan Mikayla tahu kenyataan pahit tentang siapa jati dirinya yang sebenarnya.“Ma?” Mikayla hendak protes. Sebagai remaja yang sedang emosi, ia merasa sanggup menghadapi kemarahan Papanya. Namun, tatapan mata Veny yang penuh permohonan membuatnya luluh.Mikayla akhirnya patuh. Ia beranjak menuju kamarnya dengan langkah yang dihentak-hentakkan. “Papa memang tidak punya hati dan perasaan!” gerutunya kasar. Kebencian di dadanya kian mengental, dipicu oleh rasa dianaktirikan yang terus dipupuk oleh hasutan mamanya.Di dalam ruang kerja, Pras mendengus saat melihat hanya Veny yang menutup pintu. “Pasti kau yang menghalangi Mikayla agar tidak ikut masuk.”Veny mengangguk pelan. Dengan suara yang sengaja dilembutkan, ia berkata jujur, “Iya,

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   204. Kemarahan Pras

    “Ada apa sih, Mika? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?” Veny menghampiri putrinya yang nampak cemberut di koridor menuju ruang makan. Ia mencoba meraih bahu Mikayla, namun gadis itu nampak sangat gelisah.“Kita memang tidak pernah diharapkan di sini, Ma. Oma juga sepertinya sudah tidak peduli lagi padaku,” keluh Mikayla dengan nada pedas. Hatinya mencelos menyadari sikap Oma Eliyas yang kini sangat berubah. Padahal, dulu Oma adalah benteng pertahanannya, orang yang selalu membelanya habis-habisan di depan siapa pun.“Memangnya kenapa? Apa yang terjadi?” Veny menghentikan langkahnya, rasa penasarannya terusik. Ia baru saja selesai bersolek di kamar dan merasa telah ketinggalan informasi penting.“Aura mengadu pada Papa, lalu Papa marah-marah dan mengusirku!” Mikayla bercerita dengan dada yang naik turun menahan dongkol. Di matanya, Aura adalah provokator ulung. “Ayo kita keluar saja dari sini, Ma. Cari hotel atau rumah lain. Aku muak!”Veny mendengus, dadanya berdesir panas mendengar Pras

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   203. Kecemburuan Mikayla

    Pagi harinya, suasana hati Aura berangsur membaik seiring dengan kondisi Axel yang nampak ceria lagi. Setelah semalaman nyaris tak memejamkan mata, Aura merasa lega luar biasa, meski ada lingkaran hitam yang menghiasi matanya yang lesu.Pras menghampirinya dan mengambil alih sang putra. “Biar aku yang urus Axel. Kamu istirahatlah sebentar.”Aura mengangguk lemah, menyadari betapa berantakannya dia saat ini. “Maaf ya, Mas. Aku pasti terlihat kacau dan tidak menarik sama sekali pagi ini.”“It's okay. Itu wajar karena kau merawat anakku semalaman,” sahut Pras santai. Bagi Pras, itu adalah hal logis—seorang ibu kelelahan karena menjaga anak yang sakit bukanlah masalah besar.“Beneran tidak apa-apa, Mas?” goda Aura pelan. Senyum tipis mulai terbit di bibirnya melihat putranya sudah kembali lincah.“Iya, bagaimana lagi?” Pras tampak bingung. Pemikirannya sederhana: ia memaklumi kondisi Aura.Namun bagi Aura, jawaban Pras terasa terlalu "datar". Seolah Pras hanya pasrah menerima keadaan Aura

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   202. Makan Malam Tanpa Aura

    Malam itu, meja makan di kediaman Eliyas nampak penuh, namun terasa hambar. Itu karena Aura tidak ikut makan malam bersama mereka.Aura bukannya sengaja ingin menghindari makan malam bersama atau menunjukkan sikap tidak suka pada "tamu" yang baru datang itu. Setiap hari, ia adalah orang pertama yang memastikan Oma Eliyas duduk dengan nyaman dan menemaninya makan.Namun kali ini, keadaannya berbeda. Axel, jagoan kecilnya, sedang terserang demam. Mungkin efek karena giginya mulai tumbuh, membuat bayi itu sejak sore tadi sangat rewel dan tidak mau lepas dari pelukan mamanya.Dengan ketulusan hati, Aura meminta Pras untuk tetap turun menemani Oma Eliyas makan malam bersama Veny dan Mikayla. Walau Pras berkali-kali menawarkan untuk menunggunya makan nanti, Aura tetap menolak karena tak ingin mertuanya makan tanpa ditemani anak laki-lakinya.“Badannya masih hangat, Bu?” tanya Neni dengan nada cemas, berdiri sigap di samping Aura yang sedang menimang Axel.“Sudah mendingan, Nen. Tadi setelah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status