LOGINMobil hitam mewah yang dikirimkan Adam berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Thorne. Chloe melangkah keluar dengan anggun, membenarkan posisi gaun midnight blue serta kalung mutiara halus yang melingkar cantik di lehernya. Namun, begitu pintu utama rumah itu terbuka, atmosfer nostalgia yang hangat sama sekali tidak menyambutnya, hanya tatapan penuh racun dan aroma kebencian yang sudah sangat dihafalnya s
Suasana di meja makan utama seketika membeku. Ketegangan yang berhembus terasa begitu tajam hingga memotong gemericik suara piring porselen. Adam Hawk menatap adiknya dan Sofia dengan pandangan mata yang menggelap, memancarkan aura kegelapan yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menguji batas kesabarannya.Rahang Adam mengeras kaku. Pria itu menarik kursinya hingga menimbulkan suara keras yang bergema di seluruh ruangan."Atalia," pangkas Adam dengan suara bariton rendah yang sarat akan penekanan dingin. "Sofia adalah tamu di rumah ini. Tapi tempat duduk di sebelah kananku adalah milik calon istriku, Nyonya di rumah ini. Paham di mana batasanmu?"Atalia tersentak, wajahnya seketika pucat pasi mendengar ketegasan kakaknya. Sementara itu, Sofia menahan napasnya, meremas serbet di pangkuannya dengan jemari yang gemetar karena terkejut dan malu atas tegura
Sinar matahari sore menembus celah gorden merah muda di kamar Atalia, menciptakan suasana hangat di dalam ruangan yang luas itu. Di atas sofa empuk berlapis beludru, Atalia Hawk dan Sofia Maxwell duduk bersisian sambil menikmati teh herbal dan camilan manis. Gelak tawa khas wanita high-society terdengar beberapa kali menyelingi obrolan hangat dua sahabat masa kecil itu, menuntaskan rasa rindu setelah bertahun-tahun Sofia menetap di luar negeri.Setelah saling bertukar cerita tentang kehidupan sosial dan mode terbaru di Eropa, raut wajah Sofia berubah sedikit serius. Ia meletakkan cangkir porselen mewahnya ke piring alas, lalu menatap Atalia dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang terselubung."Atalia," panggil Sofia dengan suara lembut mendayu. "Soal kabar yang kudengar dari ibumu... apakah benar Adam benar-benar berencana untuk menikah
Setelah mobil sedan hitam yang dikendarai Adam menghilang dari balik gerbang utama penthouse, Sofia Maxwell berbalik dengan langkah anggun. Wanita berambut pirang itu menarik koper besar bermerek mahal serta menenteng dua tas jinjing berdesain elegan di tangannya. Pandangan mata Sofia yang tajam seketika menangkap sosok Chloe yang berdiri tidak jauh dari area taman, lengkap dengan gaun krem yang ternoda tanah dan noda debu di jemarinya.Chloe baru saja berniat membalikkan badan untuk kembali ke ruang dalam, berusaha menghindari interaksi apa pun yang dapat melukai hatinya lebih jauh. Namun, suara tinggi dan tegas Sofia menghentikan langkahnya."Hei, kau! Pelayan!" panggil Sofia dengan nada memerintah yang begitu alami.Chloe menghentikan langkahnya dan berbalik perlahan. Ia menatap Sofia yang kini melangkah mendekatinya dengan raut wajah berkuasa.Sofia menghentikan langkah beberapa tindak di hadapan Chloe, dan memperhatikan penampilan Chloe dari atas ke bawah. Sedetik kemudian ia men
Pagi harinya, sinar matahari hangat menembus celah-celah tirai kamar Chloe Thorne, membawa suasana yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Chloe terbangun dengan senyuman tipis yang mengembang alami di bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dadanya tidak lagi dihimpit rasa cemas atau ketakutan akan siksaan keluarga Thorne. Bayangan wajah tegas Adam Hawk, suara baritonnya yang menenangkan, serta sentuhan lembutnya saat melindunginya semalam terus berputar manis di dalam ingatan.Dengan semangat yang membara, Chloe melangkah menuju lemari pakaian. Ia tidak ingin lagi terlihat kusam atau menyedihkan. Ia harus menghargai Adam, dan memberikan penampilan yang lebih segar dan manis, agar pantas berada di samping pria itu. Setelah memilih cukup lama, akhirnya pilihan pakaiannya jatuh pada sebuah gaun sederhana selutut berwarna krem yang simpel namun sangat manis dengan potongan yang pas di tubuhnya. Chloe
Suara terisak Atalia menggema di dalam kamar mewahnya yang bernuansa emas. Setelah berlari keluar dari kamar Adam dengan perasaan hancur dan dipermalukan, Atalia melempar tubuhnya ke atas ranjang dan mulai menangis penuh kemarahan. Matanya memerah, dan jemarinya yang gemetar membakar rasa dendam yang kian menyala. Ia sungguh tak menyangka kakaknya yang selama ini memanjakannya, kini berubah menentangnya hanya karena gadis kumuh itu.Dengan amarah yang meluap-luap, ia menyambar ponselnya dari atas meja rias dan langsung menekan nomor panggilan cepat. Ia harus melakukan sesuatu. Dan satu-satunya orang yang bisa membantunya hanyalah Ibunya.Hanya dalam dua kali nada panggil, suara lembut penuh kewibawaan dari Mariana Hawk. ibu kandung Adam dan Atalia, terdengar dari ujung telepon."Atalia? Ada apa, Sayang? Kau menangis? Apa yang membuatmu menangis malam-malam begi
Derap langkah kaki Adam terasa begitu mantap saat ia membawa Chloe keluar dari kediaman Thorne. Malam yang dingin diiringi rintik hujan tak sedikit pun menghalangi kehangatan yang mengalir dari dekapan pria itu. Begitu pintu sedan hitam bernuansa mewah ditutup rapat oleh Thomas, seluruh pertahanan diri Chloe meletus tanpa sisa.Di dalam kabin mobil yang hening dan temaram, Chloe menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adam. Air matanya menetes deras, membasahi kain jas mahal yang dikenakan pria itu. Bahunya naik turun oleh isak tangis yang selama belasan tahun ini selalu ia tahan seorang diri. Namun, ini bukanlah tangisan keputusasaan atau rasa sakit akibat tamparan Jason. Melainkan ini adalah luapan rasa haru, bahagia, dan rasa syukur yang teramat dalam.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh penindasan, ada seseorang yang berdiri tegak di hadapannya, memasang badan, dan melindunginya dengan mempertaruhkan segalanya.Adam tidak memprotes kemeja mewahnya yang basah oleh air ma







