LOGINPena itu masih berada di tangan Chloe, tetapi tulisan di atas kertas sudah tak lagi terbaca olehnya. Huruf-huruf di laporan itu seolah berenang, mengabur oleh sesuatu yang menggenang di pelupuk matanya.Sofia menangis di pelukan Adam.Kalimat itu terus berputar di kepalanya, berulang-ulang, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti. Dadanya terasa panas dan sesak, seakan ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya perlahan. Ia mengenali perasaan itu. Cemburu.Chloe menutup mata sejenak.Aku tidak punya hak untuk marah. Batinnya.Ia hanyalah calon istri diam-diam. Pernikahan tertutup yang tak boleh diketahui siapa pun. Seorang gadis yang dijodohkan karena urusan bisnis dan tinggal di rumah itu sebagai jaminan. Tidak ada yang akan membelanya jika ia marah. Tidak ada yang akan menganggap kemarahannya itu adalah hal yang wajar.Maka ia memendam semuanya. Setetes air mata jatuh dan mendarat di atas kertas laporan, menimbulka
Ruangan baru Chloe tidak terlalu besar, tetapi cukup rapi. Sebuah meja kayu panjang berdiri di dekat jendela, dengan kursi kulit hitam di baliknya dan rak buku kosong di sisi dinding. Seorang petugas kebersihan baru saja selesai mengepel lantai, dan aroma pembersih lemon samar masih tertinggal di udara.Chloe berdiri di tengah ruangan sambil menata map-map arsip di atas meja. Ia memindahkan satu per satu berkas dari kardus ke rak, memberinya label kecil dengan tulisan tangan yang rapi. Sinar matahari siang menyelinap melalui kaca jendela dan jatuh di pundaknya. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di gedung ini, ia merasa memiliki sebuah ruang yang benar-benar miliknya.Brak!Pintu ruangan dibuka tanpa ketukan. Chloe menoleh pelan.Sofia berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang dan bibir yang menipis. Tidak ada lagi senyum anggun, tidak ada tatapan lembut yang biasanya ia tunjukkan di depan orang-orang. Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan bunyi keras
Pintu lift terbuka di lantai divisi keuangan, dan Chloe melangkah keluar dengan tas kerja di tangannya.Suasana lantai itu terasa berbeda dari kemarin. Beberapa staf berdiri bergerombol di dekat pantri sambil berbisik-bisik, sementara yang lain pura-pura sibuk dengan layar komputer. Begitu melihat Chloe, bisikan itu berhenti seketika. Mata-mata itu mengikuti langkahnya, bercampur antara penasaran dan waswas.Chloe tidak melambat. Ia berjalan lurus melewati lorong utama.Namun langkahnya terhenti saat seseorang muncul dari arah ruang kepala tim, membawa sebuah kotak karton besar di dekapannya. Di dalamnya tampak bingkai foto, cangkir kopi, beberapa map, dan sebuah tanaman kecil. Seorang petugas keamanan berjalan di sampingnya dengan wajah datar.Hannah.Wajah wanita itu begitu pucat hingga hampir kehilangan seluruh warna. Riasannya yang biasa sempurna tampak berantakan, matanya merah dan bengkak, dan bibirnya bergetar seperti sedang menahan tangis.
Chloe berdiri lama di depan cermin meja rias, menatap pantulan dirinya sendiri.Mata yang sedikit sembap, bibir yang pucat, rambut yang masih berantakan karena baru bangun. Dan di balik semua itu, sebuah rasa malu yang menjalar begitu perlahan hingga membuat pipinya terasa panas.Apa yang kupikirkan semalam?Ia menyentuh bibirnya dengan ujung jari, seolah masih bisa merasakan hangat ciuman itu. Lalu ia menarik tangannya dengan cepat dan menggeleng."Bodoh," gumamnya pelan. "Hanya karena dia menyentuhmu dan menciummu, bukan berarti dia menyukaimu."Kalimat itu terdengar begitu jelas di keheningan kamar, dan anehnya terasa lebih menenangkan setelah diucapkan. Chloe menarik napas panjang.Pria itu adalah Adam Hawk. Pria yang sejak lama dikelilingi banyak wanita cantik, anggun, berpendidikan, dan terbiasa dengan dunia kaya raya. Wanita-wanita yang bahkan dibawa Atalia ke rumah ini silih berganti. Dan yang paling dekat dengannya selama ini adalah wanita seperti Sofia, bukan gadis polos yan
Cahaya fajar baru menyentuh tirai ketika Chloe membuka matanya. Untuk sesaat ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit yang diwarnai semburat jingga lembut, dan menyadari sesuatu yang aneh.Tubuhnya terasa ringan. Kepalanya jernih. Tidak ada mimpi buruk yang menghantuinya, tidak ada keringat dingin, tidak ada jeritan yang terbawa sampai ke pagi.Ia memiringkan kepala. Ranjang di sampingnya kosong, hanya menyisakan bantal kecil yang bergeser sedikit dari posisinya. Chloe tersenyum samar. Entah kapan Adam pergi, tetapi malam tadi ia tidur lebih nyenyak dibanding malam mana pun sejak lama.Dia benar-benar menunggu sampai aku tertidur, pikirnya, dan pipinya tiba-tiba terasa hangat.Chloe bangkit, merapikan gaun tidur dan rambutnya, lalu mengenakan kardigan tipis di atasnya. Jam di dinding menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. Bi Mary biasanya baru mengetuk pintu setengah jam lagi. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum sarapa
Lorong itu hening. Hanya terdengar napas pelan Adam dan detak jam di kejauhan. Pintu kayu di hadapannya tetap tertutup rapat, tanpa suara apapun dari dalam, menandakan bahwa penghuninya tak bergerak sedikit pun.Adam bersandar sedikit pada kusen, kedua tangan masuk ke saku celananya. Ia tidak tahu apakah Chloe mendengarnya atau tidak. Tetapi ia tahu satu hal. Bahwa kalau ia pergi sekarang, kata-kata ini akan mengendap di dadanya dan menjadi penyesalan yang lebih besar."Baiklah. Kau tidak perlu menjawab," ucapnya pelan ke arah pintu. "Aku akan bicara dari luar sini saja."Tidak ada jawaban."Aku akan pergi ke luar negeri. Lusa pagi." Suaranya terdengar rendah dan datar, seperti sedang membaca laporan, meski tangannya mengepal di dalam saku. "Ada masalah di perusahaan, dan jejaknya mengarah ke sana. Aku harus menyelesaikannya sendiri. Mungkin beberapa hari. Mungkin lebih."Hening."Aku tidak ingin pergi dengan keadaan seperti ini di antara ki







