หน้าหลัก / Romansa / Dalam Pelukan Sang Musuh / Bab 52. Dingin yang Tak Dikenali

แชร์

Bab 52. Dingin yang Tak Dikenali

ผู้เขียน: Sandra Dhee
last update วันที่เผยแพร่: 2026-11-04 19:59:47

Pintu lift terbuka di lantai divisi keuangan, dan Chloe melangkah keluar dengan tas kerja di tangannya.

Suasana lantai itu terasa berbeda dari kemarin. Beberapa staf berdiri bergerombol di dekat pantri sambil berbisik-bisik, sementara yang lain pura-pura sibuk dengan layar komputer. Begitu melihat Chloe, bisikan itu berhenti seketika. Mata-mata itu mengikuti langkahnya, bercampur antara penasaran dan waswas.

Chloe tidak melambat. Ia berjalan lurus melewati lorong utama.

N

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 52. Dingin yang Tak Dikenali

    Pintu lift terbuka di lantai divisi keuangan, dan Chloe melangkah keluar dengan tas kerja di tangannya.Suasana lantai itu terasa berbeda dari kemarin. Beberapa staf berdiri bergerombol di dekat pantri sambil berbisik-bisik, sementara yang lain pura-pura sibuk dengan layar komputer. Begitu melihat Chloe, bisikan itu berhenti seketika. Mata-mata itu mengikuti langkahnya, bercampur antara penasaran dan waswas.Chloe tidak melambat. Ia berjalan lurus melewati lorong utama.Namun langkahnya terhenti saat seseorang muncul dari arah ruang kepala tim, membawa sebuah kotak karton besar di dekapannya. Di dalamnya tampak bingkai foto, cangkir kopi, beberapa map, dan sebuah tanaman kecil. Seorang petugas keamanan berjalan di sampingnya dengan wajah datar.Hannah.Wajah wanita itu begitu pucat hingga hampir kehilangan seluruh warna. Riasannya yang biasa sempurna tampak berantakan, matanya merah dan bengkak, dan bibirnya bergetar seperti sedang menahan tangis.

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 51. Gadis Yang Berbeda

    Chloe berdiri lama di depan cermin meja rias, menatap pantulan dirinya sendiri.Mata yang sedikit sembap, bibir yang pucat, rambut yang masih berantakan karena baru bangun. Dan di balik semua itu, sebuah rasa malu yang menjalar begitu perlahan hingga membuat pipinya terasa panas.Apa yang kupikirkan semalam?Ia menyentuh bibirnya dengan ujung jari, seolah masih bisa merasakan hangat ciuman itu. Lalu ia menarik tangannya dengan cepat dan menggeleng."Bodoh," gumamnya pelan. "Hanya karena dia menyentuhmu dan menciummu, bukan berarti dia menyukaimu."Kalimat itu terdengar begitu jelas di keheningan kamar, dan anehnya terasa lebih menenangkan setelah diucapkan. Chloe menarik napas panjang.Pria itu adalah Adam Hawk. Pria yang sejak lama dikelilingi banyak wanita cantik, anggun, berpendidikan, dan terbiasa dengan dunia kaya raya. Wanita-wanita yang bahkan dibawa Atalia ke rumah ini silih berganti. Dan yang paling dekat dengannya selama ini adalah wanita seperti Sofia, bukan gadis polos yan

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 50. Hanya Pernikahan Bisnis

    Cahaya fajar baru menyentuh tirai ketika Chloe membuka matanya. Untuk sesaat ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit yang diwarnai semburat jingga lembut, dan menyadari sesuatu yang aneh.Tubuhnya terasa ringan. Kepalanya jernih. Tidak ada mimpi buruk yang menghantuinya, tidak ada keringat dingin, tidak ada jeritan yang terbawa sampai ke pagi.Ia memiringkan kepala. Ranjang di sampingnya kosong, hanya menyisakan bantal kecil yang bergeser sedikit dari posisinya. Chloe tersenyum samar. Entah kapan Adam pergi, tetapi malam tadi ia tidur lebih nyenyak dibanding malam mana pun sejak lama.Dia benar-benar menunggu sampai aku tertidur, pikirnya, dan pipinya tiba-tiba terasa hangat.Chloe bangkit, merapikan gaun tidur dan rambutnya, lalu mengenakan kardigan tipis di atasnya. Jam di dinding menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. Bi Mary biasanya baru mengetuk pintu setengah jam lagi. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum sarapa

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 49. Ucapan Maaf Yang lembut

    Lorong itu hening. Hanya terdengar napas pelan Adam dan detak jam di kejauhan. Pintu kayu di hadapannya tetap tertutup rapat, tanpa suara apapun dari dalam, menandakan bahwa penghuninya tak bergerak sedikit pun.Adam bersandar sedikit pada kusen, kedua tangan masuk ke saku celananya. Ia tidak tahu apakah Chloe mendengarnya atau tidak. Tetapi ia tahu satu hal. Bahwa kalau ia pergi sekarang, kata-kata ini akan mengendap di dadanya dan menjadi penyesalan yang lebih besar."Baiklah. Kau tidak perlu menjawab," ucapnya pelan ke arah pintu. "Aku akan bicara dari luar sini saja."Tidak ada jawaban."Aku akan pergi ke luar negeri. Lusa pagi." Suaranya terdengar rendah dan datar, seperti sedang membaca laporan, meski tangannya mengepal di dalam saku. "Ada masalah di perusahaan, dan jejaknya mengarah ke sana. Aku harus menyelesaikannya sendiri. Mungkin beberapa hari. Mungkin lebih."Hening."Aku tidak ingin pergi dengan keadaan seperti ini di antara ki

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 48. Rekaman yang Tak Bisa Dibantah

    Jam dinding di ruang kerja menunjukkan hampir pukul sebelas malam ketika Adam menekan tombol interkom di mejanya."Thomas.""Ya, Tuan?" Suara di seberang terdengar segar, seolah pria itu memang belum berniat tidur."Datang ke ruang kerjaku sekarang. Bawa rekamannya.""Baik, Tuan. Saya segera ke sana."Kurang dari dua puluh menit kemudian, pintu ruang kerja diketuk pelan. Thomas masuk dengan laptop di tangannya, kacamatanya sedikit melorot, dan raut wajahnya serius. Ia menutup pintu di belakangnya dan meletakkan laptop itu di meja Adam."Maaf mengganggu istirahat Anda, Tuan.""Tidak apa-apa. Duduklah." Adam menyandarkan punggung di kursinya dengan kedua tangan terlipat. Ekspresinya sudah kembali dingin, meski sorot matanya menyiratkan badai yang belum benar-benar reda. "Jelaskan. Apa rekaman itu benar-benar menunjukkan semuanya?""Benar, Tuan." Thomas membuka laptop dan memutar beberapa berkas. "Sistem kamera di lantai keuangan

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 47. Batas yang Nyaris Runtuh

    "A... Adam?"Suara Chloe nyaris tak terdengar. Jemarinya refleks mencengkeram kerah jubah mandinya, menutup bagian depan yang terasa tiba-tiba terlalu terbuka. Uap hangat dari kamar mandi masih melingkupi tubuhnya, tetapi udara di dalam ruangan itu mendadak terasa begitu dingin.Adam tidak menjawab. Ia berdiri dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh, rahang mengeras, dan sorot mata gelap yang terarah lurus padanya. Sepanjang hari ia telah menahan sesuatu yang kini terlihat jelas di setiap garis wajahnya."Kenapa kau ada di sini?" bisik Chloe. "Aku baru selesai mandi dan..."Sebelum Chloe sempat menyelesaikan kalimatnya, Adam sudah menarik pergelangan tangannya dengan kuat. Chloe terhuyung ke depan dan menabrak dadanya. Dalam satu gerakan, pria itu membalikkan tubuh mereka dan mendorongnya ke tepi ranjang hingga Chloe jatuh terduduk di atas kasur dengan napas tercekat."Adam, apa yang...""Aku butuh penjelasan." Adam menunduk, kedua tangannya bertumpu di kasur di sisi tubuh Chloe, m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status