MasukSinar matahari pagi yang tipis menerobos masuk melalui celah gorden berbahan linen, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas sprei sutra yang sedikit berantakan. Udara di dalam kamar masih terasa hangat, sisa-sisa keintiman malam panjang yang baru saja mereka lalui masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma parfum maskulin Dewa yang menempel di bantal.Lily adalah yang pertama membuka mata. Dia tidak segera bergerak, melainkan hanya terdiam sambil menikmati beban hangat lengan kokoh Dewa yang melingkar posesif di pinggangnya. Mereka masih dalam posisi saling memeluk, sangat rapat hingga Lily bisa merasakan detak jantung Dewa yang tenang di punggungnya.Perlahan, Lily memutar tubuhnya di dalam dekapan itu agar bisa menghadap suaminya. Dia menumpu kepalanya dengan satu tangan, memandangi wajah tidur Dewa yang tampak begitu damai. Tanpa kerutan tegas di dahi yang biasanya muncul saat Dewa sedang memikirkan bisnis, pria itu terlihat jauh lebih muda dan... sangat miliknya
Udara pegunungan yang semakin menusuk di luar sana sangat kontras dengan suhu di dalam kamar utama villa yang terasa hangat dan intim. Setelah makan malam yang romantis di bawah taburan bintang, Dewa sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke lembah, menyesap sisa teh hangatnya sambil memikirkan betapa tenangnya malam ini."Mas..."Suara lembut Lily memanggilnya dari arah ranjang king-size yang tertutup kelambu sutra tipis. Dewa menoleh, dan seketika itu juga, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Gelas di tangannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera meletakkannya di nakas.Lily berdiri di samping tempat tidur, diterangi oleh cahaya temaram lampu tidur yang berwarna kekuningan. Dia tidak lagi mengenakan gaun hamil yang longgar atau selimut kasmir tadi. Kini, tubuhnya terbalut sehelai lingerie tipis berwarna putih tulang dengan aksen renda halus yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Bahunya yang mulus terekspos, dan bahan pakaian itu begitu rin
Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh selimut beludru hitam yang membentang luas di angkasa pegunungan. Karena letak villa yang tinggi dan jauh dari polusi cahaya kota, langit malam itu menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, ribuan bintang bertaburan seperti butiran berlian yang tumpah di atas permadani gelap.Dewa membimbing Lily keluar menuju halaman samping villa. Di sana, sebuah meja kayu jati bundar telah tertata apik di bawah pohon pinus yang ramping. Tidak ada lampu gantung yang terang benderang, hanya ada deretan lilin aromaterapi di dalam lentera kaca dan untaian lampu kecil kekuningan yang melilit batang pohon, menciptakan suasana yang hangat dan magis."Mas... ini indah sekali," bisik Lily, kedua tangannya bertumpu di dada, terpesona melihat dekorasi yang begitu intim."Silakan duduk, Tuan Putri," goda Dewa sambil menarikkan kursi untuk Lily.Di atas meja, koki pribadi mereka telah menyajikan hidangan pembuka berupa sup krim jamur yang mengepulkan aroma
Setelah mobil terparkir sempurna di depan teras villa yang beraroma kayu pinus, Dewa tidak langsung mengajak Lily masuk untuk beristirahat. Dia melihat binar di mata istrinya saat menatap hamparan pohon kopi yang berbaris rapi di lereng bukit pribadi milik keluarga mereka."Mau jalan-jalan sebentar? Udara sedang bagus-bagusnya, tidak terlalu dingin," tawar Dewa sambil mengulurkan tangan.Lily menyambutnya dengan antusias. "Mau, Mas! Aku ingin melihat bunga-bunga putih itu dari dekat."Mereka melangkah perlahan menyusuri jalan setapak yang telah dilapisi batu alam agar tidak licin. Dewa berjalan di sisi luar, tangannya selalu sigap memegangi pinggang Lily, menjaga keseimbangan istrinya yang kini membawa beban tambahan di perutnya. Suasana begitu hening, hanya ada suara gesekan daun kopi yang tertiup angin dan kicauan burung pegunungan yang bersahut-sahutan.Saat mereka sampai di tengah perkebunan, Dewa berhenti di depan sebuah dahan yang dipenuhi bunga kopi yang sedang mekar sempu
Mobil SUV mewah yang dikendarai Dewa melaju mulus meninggalkan hiruk-pikuk kota yang menyesakkan. Begitu memasuki wilayah dataran tinggi, udara panas yang kering perlahan berganti menjadi sejuk yang memanjakan kulit. Kaca jendela mobil sengaja dibuka sedikit oleh Dewa, membiarkan angin pegunungan yang murni masuk dan mengacak-acak pelan rambut Lily."Coba hirup ini, Ly," ujar Dewa sambil melambatkan laju mobilnya.Lily memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Seketika, aroma manis yang khas dan menenangkan memenuhi rongga dadanya. Itu bukan sekadar bau tanah basah atau pepohonan, melainkan aroma bunga kopi yang sedang bermekaran di sepanjang lereng bukit."Wangi sekali, Mas! Seperti melati, tapi ada sentuhan aroma madu dan... kopi yang masih sangat segar," seru Lily dengan mata berbinar.Di kanan dan kiri jalan, hamparan perkebunan kopi yang luas membentang seperti karpet hijau raksasa. Bunga-bunga putih kecil tampak menyembul di antara dedaunan hijau gelap, menciptakan pemanda
Tangan Elia bergetar hebat hingga amplop cokelat tebal itu terjatuh ke lantai marmer ruang tamunya. Bunyi gedebuk pelan itu terdengar seperti dentum meriam di telinganya yang mendadak berdenging. Napasnya memburu, sementara butiran keringat dingin mulai merusak lapisan masker wajah yang belum sempat dia bilas.Joni, pria utusan Dewa itu, masih berdiri mematung di ambang pintu. Tatapannya kosong namun menusuk, seolah sedang menatap seonggok benda tak berharga, bukan seorang manusia."T-tunggu... ini pasti salah paham," gagap Elia, suaranya naik satu oktav karena panik. "Aku dan Lily... kami dulu tetangga. Aku hanya bercanda. Biasalah, obrolan sesama wanita. Dewa tidak mungkin seserius ini, kan?"Joni tidak bergeming. "Bagi Tuan Dewa, tidak ada yang 'remeh' jika itu menyangkut air mata istrinya. Anda baru saja membangunkan singa yang sedang menjaga sarangnya, Nyonya Elia."Setelah Joni berbalik dan deru mobil hitam itu menjauh, Elia segera memungut surat itu kembali. Dengan jemari
“Aku nggak pernah keberatan, Ly. Nikmati seluruh tubuhku. Aku pasrah kalau itu kamu yang melakukannya,” ucap Dewa serius.“Kalau begitu, buka dong. Aku mau Mas buka semua pakaian yang melekat di tubuh Mas. Biar aku bisa puas menikmati seluruh tubuh Mas tanpa penghalang,” bisik Lily. Wanita itu seng
“Mas Dewa bohong,” protes Lily. Tubuhnya tergunjang hebat akibat hentakan yang dia dapatkan.Sekarang dia tengah memandangi bayangan tubuhnya yang tanpa busana di depan cermin yang ada di kamar mandi. Di belakang tubuhnya, tentu saja ada Dewa yang tengah melesakkan miliknya dengan penuh semangat.“
Aldo tengah menemani Nila tidur siang. Walaupun ada Nila di dalam dekapannnya, mata Aldo terpusat ke layar ponselnya. Dia sedang menunggu notifikasi pesan dari Lily. Biasanya istri pertamanya itu tidak pernah absen mengingatkannya makan siang. Tak jarang Lily spam hanya untuk cerita tentang hal-hal
Di sebuah gazebo rumah besar sepasang suami istri berumur. Mereka tampak sedang menikmati secangkir teh dan makanan kecil yang terhidang di hadapan mereka. Di bagian samping rumah mereka sedang ada renovasi. Mereka adalah orang tua Dewa dan Aldo, Darto dan Rahma.Walaupun mereka sudah menikah selam







