Share

Mati Kutu

Author: Erumanstory
last update Huling Na-update: 2026-02-25 10:54:15

Pagi itu, kantor redaksi Indo-Flash yang biasanya bising dengan suara ketikan dan perdebatan jurnalis mendadak senyap saat Doni melangkah masuk. Dia tidak datang sendiri, ada dua pria berpakaian safari gelap dan seorang pengacara senior dari firma hukum ternama yang menjadi langganan keluarga Aldo mendampinginya. Langkah kaki mereka yang mantap di atas lantai ubin menciptakan aura intimidasi yang nyata.

​Andi, yang sedang menyesap kopi instan sambil memantau jumlah klik artikelnya yang terus me
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Selamat Menikmati

    Lantai penjara yang dingin dan berbau lembap itu kini menjadi satu-satunya tempat bagi Nila untuk merenung. Rambutnya yang biasanya tertata rapi di salon-salon mewah kini kusut masai, dan gaun desainer yang dia kenakan saat penangkapan di restoran tempo hari sudah tampak kusam, ternoda oleh keringat dan air mata keputusasaan.​Suara langkah kaki yang mantap dan berwibawa bergema di koridor sel tahanan yang sunyi. Langkah itu berhenti tepat di depan jeruji besi tempat Nila mendekam. Nila mendongak, matanya yang merah dan cekung menatap sosok wanita yang berdiri tegak dengan pakaian batik sutra yang sangat elegan, kontras dengan pemandangan jeruji besi yang karat.​Rahma berdiri di sana, menatap Nila dengan pandangan yang sulit diartikan—antara kasihan yang dibuat-buat dan kepuasan yang murni.​"Bagaimana kabarmu, Nila? Sepertinya udara di sini tidak sesejuk di vila Puncak, ya?" suara Rahma memecah kesunyian, sengaja menyindir Nila secara terang-terangan. ​Nila langsung berdiri, mencen

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Setitik Noda Hitam

    Nila duduk di sudut restoran bergaya Italia yang cukup mewah, sebuah tempat yang sengaja dia pilih karena dia pikir cukup terbuka untuk membuatnya merasa aman, tetapi cukup eksklusif untuk merayakan "kemenangan kecilnya". Di depannya tersaji sepiring fettuccine carbonara dan segelas anggur putih yang berkilauan terkena cahaya matahari siang. Dia tersenyum menatap layar ponselnya, melihat betapa riuhnya media sosial membahas skandal keluarga Aldo, meski artikel utamanya baru saja hilang secara misterius.​"Bagaimana rasanya mendapatkan gunjingan dari orang-orang, Ma?" gumam Nila sambil menyuapkan pasta ke mulutnya. Dia merasa di atas angin. Dia yakin keluarga Aldo sedang panik di dalam istana mereka yang mulai retak.​Sayangnya ketenangan itu pecah saat bayangan dua pria tinggi besar menutupi cahaya matahari yang jatuh ke mejanya. Nila mendongak, dan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di depannya berdiri Aldo dengan wajah yang datar, didampingi oleh Doni yang menatapnya denga

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Mati Kutu

    Pagi itu, kantor redaksi Indo-Flash yang biasanya bising dengan suara ketikan dan perdebatan jurnalis mendadak senyap saat Doni melangkah masuk. Dia tidak datang sendiri, ada dua pria berpakaian safari gelap dan seorang pengacara senior dari firma hukum ternama yang menjadi langganan keluarga Aldo mendampinginya. Langkah kaki mereka yang mantap di atas lantai ubin menciptakan aura intimidasi yang nyata.​Andi, yang sedang menyesap kopi instan sambil memantau jumlah klik artikelnya yang terus meroket, seketika menegang saat melihat rombongan itu berhenti tepat di depan mejanya.​"Saudara Andi," suara Doni rendah namun penuh penekanan. "Bisa kita bicara di ruangan yang lebih pribadi? Atau Anda lebih suka kita membahas surat gugatan ini di depan rekan-rekan kerja Anda?"​Tanpa menunggu jawaban, Doni memberi isyarat ke arah ruang rapat kecil di sudut kantor. Andi, dengan wajah pucat, terpaksa mengikuti mereka.​Begitu pintu tertutup, pengacara keluarga Aldo langsung meletakkan sebuah map

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kompak

    Ponsel di atas meja jati itu bergetar tanpa henti, memuntahkan notifikasi berita dari berbagai portal media daring. Judulnya bombastis, ditulis dengan tinta digital yang penuh racun: "Skandal Dinasti Keluarga Ningrat: Sandiwara Puluhan Tahun di Balik Topeng Keluarga Sempurna." Artikel itu tidak hanya membedah silsilah Dewa, tetapi juga menarasikan bahwa Darto adalah pria penuh kepalsuan yang sengaja memelihara "anak haram" demi menjaga stabilitas saham perusahaan.​Di ruang keluarga yang biasanya tenang, suasana mendadak mencekam. Darto duduk di kursi rodanya, memegang tablet dengan tangan yang sedikit gemetar penuh emosi. Di sampingnya, Rahma berdiri mematung, wajahnya pucat pasi menahan amarah yang membuncah.​"Apa-apaan ini, Ma?" suara Darto berat, terdengar kecewa, tetapi berusaha untuk tetap tenang. "Siapa yang menyebarkan kebohongan bahwa aku melakukan semua ini demi 'kedok'? Siapa yang tega mengatakan bahwa kasih sayangku pada Dewa adalah sandiwara bisnis?"​Rahma tidak menjaw

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Balas Dendam

    Pertemuan di kedai kopi remang-remang itu semakin intens. Nila menyesap kopinya yang sudah dingin, membiarkan kafein dan dendam mengalir bersamaan di nadinya. Andi, sang jurnalis, tampak sangat bergairah. Ini bukan sekadar skandal artis, ini adalah sesuatu yang fantastis bagi dunia bisnis dan sosialita Indonesia.​"Dewa bukan anak tuan Darto?" Andi mengulang kalimat itu dengan suara rendah, seolah-olah kata-kata itu bisa meledak jika diucapkan terlalu keras.​"Bukan," tegas Nila, matanya menatap Andi tanpa keraguan. "Dewa adalah anak dari Johan, lelaki asing yang melakukan one night stand dengan Rahma."​Nila menarik napas panjang, lalu memulai narasi bohong yang telah dia susun dengan rapi. Dia tahu, untuk benar-benar menghancurkan Rahma, dia tidak hanya butuh kebenaran, tapi juga bumbu fitnah yang membuat Rahma terlihat jauh lebih licik di mata publik.​"Tapi Andi, kau harus tahu bagian yang paling menjijikkan dari cerita ini," Nila mencondongkan tubuhnya, suaranya kini berupa bisi

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Pembalasan

    Musik dentum techno yang memekakkan telinga di bar milik Robert terasa seakan menghantam kepala Nila yang sudah pening. Di depannya, tiga gelas kosong bekas vodka shot berjejer berantakan. Nila, yang hanya beberapa hari lalu masih menjadi nyonya besar di apartemen mewah, kini duduk meringkuk di sudut remang-remang bar, dengan riasan wajah yang luntur dan aroma alkohol yang menyengat dari napasnya.​Stres dan frustrasi telah mengubahnya menjadi sosok yang tidak lagi peduli pada citra. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah Aldo yang penuh rasa jijik dan tawa menghina terus membayanginya. Dia merasa dunianya telah runtuh, dan satu-satunya tempat yang menerimanya hanyalah tempat ini—lubang hitam yang dulu sangat ingin dia tinggalkan.​"Satu lagi, Hans!" teriak Nila dengan suara serak, melambaikan tangan ke arah meja bar.​Hans, yang sedang sibuk mengelap gelas, menoleh sebentar lalu memberi isyarat kepada pelayannya untuk menuangkan minuman lagi. Dia menatap Nila dengan pandangan antara

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status