Compartilhar

Rencana Busuk

Autor: Erumanstory
last update Data de publicação: 2025-12-01 11:14:58

“Mas, kayaknya aku harus atur strategi baru, deh. Soalnya tadi istri pertama mas Aldo datang ke sini. Dia bahkan bisa tahu kalau aku selama ini cuma pura-pura dukung pernikahan mereka. Sekarang dia masih bisa percaya sama aku, tapi nggak menutup kemungkinan, dia akan percaya sama Lily. Posisi aku sama bayi kita bakalan terancam, Mas.”

Nila menghubungi Haris. Dia mulai ketar-ketir posisinya terancam karena kejelian Lily. Selama ini Nila terlalu percaya diri bisa merebut posisi Lily di hati Aldo,
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kembali Menjadi Suami Siaga

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar utama, jatuh tepat di atas wajah Lily yang masih terlelap. Suasana rumah begitu tenang, hanya terdengar kicauan burung dari arah taman belakang. Lily menggeliat pelan, tangannya secara instinktif meraba sisi tempat tidur di sebelahnya.​Kosong. Dingin.​Lily membuka matanya perlahan. Jantungnya sempat mencelos sesaat—trauma beberapa hari lalu di Bali masih menyisakan sedikit rasa was-was. Apakah Dewa pergi lagi? Apakah ada urusan mendadak dengan Jihan atau klien lainnya? Tapi, bau maskulin khas parfum suaminya yang masih tertinggal di bantal sedikit menenangkan hatinya.​Dengan gerakan hati-hati, mengingat pesan dokter untuk tidak banyak bergerak mendadak, Lily menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia mengusap perutnya yang masih rata dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Sayang. Papa ke mana ya?" bisiknya lirih.​Keingintahuan mengalahkan rasa kantuknya. Lily menyampirkan cardigan tipis di bahunya dan melangka

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ziarah

    Udara pagi di Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat saat Dewa membantu Lily turun dari mobil. Kompleks perumahan mereka yang asri menyambut kepulangan sang nyonya rumah dengan lambaian dahan pohon pule yang berjajar di sepanjang trotoar. Lily menghirup napas dalam-dalam, merasakan aroma rumah yang sempat dia tinggalkan beberapa hari.​Setelah beberapa hari dalam perawatan intensif, dokter akhirnya mengizinkan Lily pulang dengan syarat bedrest total dan menghindari stres. Dewa, yang kini bertransformasi menjadi suami paling siaga, tidak membiarkan kaki Lily menyentuh lantai terlalu lama; dia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar utama.​Tapi, begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk yang sudah lama tidak dia tiduri, mata Lily tidak terpejam. Dia menatap sebuah bingkai foto kecil di atas nakas—sebuah foto siluet dua pasang sepatu bayi mungil yang pernah dia simpan.​"Mas," panggil Lily pelan.​Dewa yang sedang merapikan tas pakaian rumah sakit berpaling. "Iya, Sayang? Kamu butuh ses

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Peringatan Tegas

    Dewa terbangun oleh getaran ponsel di saku celananya. Sebuah nomor yang sudah dia hapus jejaknya di aplikasi pesan, namun memorinya masih mengenali siapa pemiliknya: Jihan. Dengan langkah berat, dia keluar dari ruang rawat Lily menuju balkon kecil di ujung koridor.​"Mau apa lagi, Jihan?" desis Dewa langsung saat mengangkat telepon.​Suara Jihan terdengar bergetar di seberang sana, kontras dengan kepercayaan diri yang ia tunjukkan di Ubud. "Dewa, aku di Jakarta. Aku sudah di depan lobi Medistra. Tolong... aku tidak bisa tenang sejak tahu apa yang terjadi pada Lily. Izinkan aku menjenguknya sebentar saja. Aku ingin meminta maaf secara langsung."​Dewa mendengus sinis. "Kamu pikir ini waktu yang tepat? Lily baru saja melewati masa kritis kandungannya karena tekanan mental yang—sejujurnya—kamu turut andil di dalamnya."​"Aku tahu, Dewa! Itulah sebabnya aku di sini. Aku merasa sangat bersalah. Aku tidak tahu dia sedang hamil. Kumohon, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, lalu

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kembali Berdamai

    Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Lorong rumah sakit sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara dengung mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas di kejauhan. Dewa masih terduduk di kursi tunggu, namun matanya tidak sedetik pun terpejam. Pikirannya penuh dengan kata-kata Bi Ijah tentang kehamilan Lily yang tidak terduga dan luka hati yang dia goreskan.​Melihat Bi Ijah tertidur pulas di kursi panjang seberang karena kelelahan, Dewa merasa inilah kesempatannya. Dengan gerakan sangat pelan, nyaris tanpa suara, dia memutar gagang pintu kamar nomor 402. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat dia menghadapi negosiasi bisnis paling krusial dalam hidupnya.​Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur di sudut dinding yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Bau antiseptik bercampur dengan aroma samar parfum Lily yang masih tersisa, membuat dada Dewa sesak oleh rasa rindu yang menyakitkan.​Di atas ranjang, Lily terbaring lem

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tidak Ingin Bertemu

    Suasana di koridor rumah sakit itu terasa semakin mencekam. Dewa baru saja hendak menerjang masuk ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti secara paksa. Bi Ijah, yang biasanya selalu menunduk patuh, kini berdiri tegak di depan pintu kamar VVIP itu. Kedua tangannya gemetar, tapi tatapannya menunjukkan kecemasan yang jarang terlihat."Bapak... mohon, Pak Dewa. Jangan masuk dulu," suara Bi Ijah serak, menahan tangis yang sejak tadi pecah di balik masker medisnya.Dewa mengerutkan kening, rahangnya mengeras karena frustrasi. "Bi Ijah, minggir! Saya suaminya. Saya harus memastikan keadaan Ibu Lily dengan mata kepala saya sendiri!""Ibu tidak mau bertemu Bapak!" potong Bi Ijah, suaranya naik satu nada karena kalut. "Tadi saat Ibu siuman sebentar, beliau langsung bertanya apakah Bapak ada di sini. Begitu tahu Bapak sedang dalam perjalanan dari Bali, Ibu histeris, Pak. Ibu bilang kalau sampai Bapak masuk ke ruangan ini, Ibu lebih baik pulang sekarang juga meski kondisinya masih sangat lema

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Gagal

    Suasana intim di restoran tepi tebing itu mendadak beku bagi Dewa. Jihan baru saja menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, jemarinya mengusap lengan pria itu dengan kelembutan yang manipulatif, ketika ponsel di atas meja bergetar hebat. Getaran itu terasa kasar, merusak simfoni musik klasik dan deburan ombak di bawah sana.​Dewa melirik layar. Nama BI Ijah tertera di sana. ​Biasanya, Dewa akan mengabaikan telepon rumah di jam sepuluh malam seperti ini, menganggapnya hanya urusan logistik dapur atau tagihan bulanan. Tapi, ada firasat buruk yang mencubit tengkuknya. Sesuatu yang lebih dingin dari angin malam Ubud.​"Sebentar, Jihan," ucap Dewa, suaranya mendadak datar. Dia melepaskan tangan Jihan dari bahunya dengan gerakan yang tidak lagi ragu.​"Halo, Bi? Ada apa menelepon saya jam segini?"​Suara di seberang sana pecah oleh tangisan. "Pak... Pak Dewa... Tolong, Pak! Bu Lily... Bu Lily pingsan!"​Dewa tersentak berdiri. Kursi kayu jati yang didudukinya bergeser kasar, menimbulkan buny

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ampun, Ly!

    Di saat bersamaan, pintu apartemen terbuka. Dewa berdiri di sana, dan dia melihat tangan Nindi masih mencengkeram pipi Lily dengan sangat kuat. Dan di detik itu juga, Nindi langsung cepat-cepat melepaskan cengkeramannya. Dia kembali duduk dan berusaha bersikap normal.Dewa bergegas duduk mendekati

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Naluri Seorang Ayah

    Aldo terbangun dari tidurnya karena suara nada panggilan yang terdengar dari ponselnya. Dia menatap ke arah jam dinding yang ada di ruang rawat ibunya, sudah jam satu dini hari. Pandangan lelaki itu dia edarkan ke arah ibunya yang masih lelap, juga ayahnya yang berada di kursi dekat dengan ibunya j

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ayah Biologis

    Suara khas pasangan yang tengah berciuman memenuhi ruang kamar Dewa dan Lily. Tangan Dewa yang mulai bergerilya ke bagian tubuh Lily yang dia inginkan, sukses membuat wanita itu mendesah berisik. Memang itu tujuan Dewa. Dia ingin Lily menghibur kepenatannya dengan suara merdu desahannya. Hari ini D

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Sisi Lain

    “Ma ... Mama serius, kan? Lily seneng banget, Ma. Makanya Mama cepet sembuh, biar nanti kita bisa cepet masak-masak bareng. Kalau kita makan dalam suasana gembira, pasti seru.” Lily berucap sambil memandangi wajah Rahma penuh sayang.“Mama pasti akan berusaha untuk cepat sembuh, dan bisa pulang ke

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status