LOGINEdward tidak membuang waktu. Baginya, kata-kata Tatiana tadi hanyalah luapan emosi sesaat yang tidak logis dan tidak relevan dengan tujuannya yang lebih besar. Ia bangkit, merapikan kemeja putinya tanpa sepatah kata pun, dan melangkah keluar.
Namun, tidak bagi Kaliel.
Pasir pantai yang basah terasa dingin di bawah kaki Tatiana, tapi angin laut yang kencang setidakn
Cincin emas putih berdesain elegan yang kini melingkar di jari masing-masing menjadi tanda yang mengikat mereka. Kilau logam mulia itu seolah mempertegas status baru mereka di hadapan dunia kecil yang menghadiri pernikahan ini. Tatiana kini sepenuhnya menjadi milik Kaliel, begitu juga sebaliknya.Ada rasa hangat sekaligus aneh yang menjalar di dada Tatiana saat merasakan dinginnya cincin itu menyentuh kulit jarinya.Kaliel tidak melepaskan tangan Tatiana bahkan setelah prosesi pertukaran cincin selesai. Pria itu menatap jemari mereka yang saling bertautan, lalu membawa punggung tangan Tatiana ke depan bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh penekanan di sana."Kau tidak bisa lari ke mana pun lagi sekarang, Istriku," bisik Kaliel nyaris tak terdengar oleh orang lain, namun berhasil
Kaliel mematung. Kata yang baru saja diucapkan Tatiana seolah menolak untuk dicerna oleh otaknya yang biasa berpikir cepat. Untuk pertama kalinya, Kaliel terlihat linglung di tempat umum."Hamil? Kau? Kita?" tanya Kaliel beruntun, suaranya terdengar putus-putus dengan tatapan mata yang bergerak gelisah, mencoba mencari kepastian di wajah Tatiana.Melihat respons lambat pria di depannya, sumbu pendek emosi Tatiana yang dipicu hormon kehamilan kembali menyala. Rasa haru dan rapuh yang tadi menggelayutinya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa jengkel yang luar biasa.Tatiana langsung mendengus tajam, melepaskan cengkeramannya pada kemeja pria itu. "Aku tidak bisa hamil sendiri, dasar pria aneh!" ketusnya dengan mata melotot, membuat beberapa pengunjung mall yang lewat sempat menoleh sekilas. 
Tatiana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan yang hampir lolos saat kecupan-kecupan kecil Kaliel berpindah ke bahunya. Sentuhan pria itu selalu berhasil membuatnya lemas."Sudah, Kaliel... lepaskan dulu. Aku mau mandi," bisik Tatiana sambil menepuk pelan lengan yang masih mengunci pinggangnya.Kaliel mendengus pelan, namun akhirnya melonggarkan kunkungannya dengan enggan. "Mandilah. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makan siang yang enak untukmu. Jangan coba-coba kabur dari meja makan seperti kemarin."Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemercik air shower terdengar, Tatiana menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia memejamkan mata erat-erat. Hasrat seksualnya yang melonjak drastis bela
Mereka sudah ke kamar, membersihkan diri dan siap untuk tidur kalau saja pria tinggi itu tidak mendekap Tatiana di depan ranjang mereka.Kaliel terdiam sejenak saat merasakan hawa tubuh Tatiana yang menembus pakaian tidurnya.Ia menggeser telapak tangannya, menempelkannya pada punggung Tatiana yang terasa tidak biasa. "Kau hangat," gumam Kaliel, kernyitan di dahinya kembali dalam, kali ini karena rasa khawatir. "Apa kau salah makan hari ini?"Tatiana mendengus pelan di dalam pelukan pria itu, memukul dada Kaliel lemah. "Aku hampir tidak sanggup mengunyah makananku," sahutnya dengan suara yang mulai serak. "Di dalam perutku ini cuma ada dua cangkir kopi. Dasar jahat."Mendengar pengakuan itu, rasa bersalah langsung menyergapnya. Bagaimana bisa ia tidak m
Tidak bisa dipungkiri lagi, Tatiana kini memang sudah sangat bergantung pada Kaliel. Dinamika hubungan mereka yang intens dan perhatian pria itu yang tanpa batas, meski sering kali melelahkan. Perlahan-lahan mulai mengikis jarak di antara mereka.Beberapa hari setelah pertemuan penuh ketegangan dengan Jane, Kaliel membawa Tatiana ke sebuah butik estetik bernuansa putih bersih milik Claire Delacour. Tempat itu terasa memancarkan kemewahan yang sunyi di setiap sudutnya.Claire, seorang wanita paruh baya dengan gaya berkelas yang mengalungkan pita meteran di lehernya, berjalan memutari Tatiana. Matanya yang tajam dan berpengalaman meneliti setiap jengkal proporsi tubuh gadis itu dari atas sampai bawah dengan teliti.Setelah beberapa saat mengamati, Claire melipat tangan di depan dada, mengangguk-anggu
Tatiana mengembuskan napas panjang, merasa sangat lega karena urusan dengan Jane akhirnya selesai juga. "Nama mereka sulit-sulit sekali," omelnya pelan sambil memijat pelipisnya yang mendadak terasa agak pening mendengar deretan nama desainer dan pengrajin kelas atas tadi.Mereka berjalan keluar menuju area parkir. Dengan gerakan yang penuh perhatian dan sangat natural, Kaliel melangkah lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Tatiana."Serahkan padaku, Nona," ujar Kaliel dengan nada sopan yang dibuat-buat.Tatiana meliriknya sekilas sebelum masuk ke dalam mobil. "Dasar," cibirnya, meskipun sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyuman tipis atas perlakuan manis pria itu.***Mereka akhirnya sampai di
Satu tahun berlalu, dan waktu perlahan-lahan melakukan tugasnya, bukan menghapus luka, tapi menumpuknya dengan rutinitas hingga terasa lebih ringan dipikul.Buku itu akhirnya terbit. Sebuah novel berjudul
Pagi itu langit Carasano tampak kelabu, seolah awan mendung sengaja turun untuk membungkus kota dalam suasana muram. Tatiana menuruni tangga dengan langkah gontai. Malam itu dia mimpi buruk lagi, mimpinya selalu sama, tentang ledakan, api, dan suara Kaliel yang mas
Satu bulan berlalu, namun waktu seolah tidak bergerak bagi Tatiana. Di sebuah rumah sederhana di Sektor Carasano, ia mencoba menata kembali hidupnya yang hancur. Suasana di sini jauh lebih tenang dibandingkan kemegahan Sektor Onyx yang penuh kenangan menyakitkan.&n
Eric menjambak rambut Tatiana dengan kasar, memaksa kepala wanita itu terdongak hingga wajah mereka sejajar. Ia mendekatkan bibirnya ke pipi Tatiana, berbisik dengan nada mengejek sambil menatap lurus ke arah Kaliel. "Lihat itu," desis Eric. "Kau bilang dia tidak a







