LOGINKabin mobil itu masih terasa panas meski mesinnya tidak dinyalakan. Bau asin laut dan aroma parfum Kaliel yang bercampur menjadi satu menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Tatiana duduk di kursi penumpang, mencoba menata napasnya yang masih pendek-pendek, sementara jemarinya yang gemetar berusaha merapikan helai rambut yang berantakan di wajahnya.
Mereka harus ketempat yang lebih tertutup untuk melanjutkan ci
Cincin emas putih berdesain elegan yang kini melingkar di jari masing-masing menjadi tanda yang mengikat mereka. Kilau logam mulia itu seolah mempertegas status baru mereka di hadapan dunia kecil yang menghadiri pernikahan ini. Tatiana kini sepenuhnya menjadi milik Kaliel, begitu juga sebaliknya.Ada rasa hangat sekaligus aneh yang menjalar di dada Tatiana saat merasakan dinginnya cincin itu menyentuh kulit jarinya.Kaliel tidak melepaskan tangan Tatiana bahkan setelah prosesi pertukaran cincin selesai. Pria itu menatap jemari mereka yang saling bertautan, lalu membawa punggung tangan Tatiana ke depan bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh penekanan di sana."Kau tidak bisa lari ke mana pun lagi sekarang, Istriku," bisik Kaliel nyaris tak terdengar oleh orang lain, namun berhasil
Kaliel mematung. Kata yang baru saja diucapkan Tatiana seolah menolak untuk dicerna oleh otaknya yang biasa berpikir cepat. Untuk pertama kalinya, Kaliel terlihat linglung di tempat umum."Hamil? Kau? Kita?" tanya Kaliel beruntun, suaranya terdengar putus-putus dengan tatapan mata yang bergerak gelisah, mencoba mencari kepastian di wajah Tatiana.Melihat respons lambat pria di depannya, sumbu pendek emosi Tatiana yang dipicu hormon kehamilan kembali menyala. Rasa haru dan rapuh yang tadi menggelayutinya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa jengkel yang luar biasa.Tatiana langsung mendengus tajam, melepaskan cengkeramannya pada kemeja pria itu. "Aku tidak bisa hamil sendiri, dasar pria aneh!" ketusnya dengan mata melotot, membuat beberapa pengunjung mall yang lewat sempat menoleh sekilas. 
Tatiana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan yang hampir lolos saat kecupan-kecupan kecil Kaliel berpindah ke bahunya. Sentuhan pria itu selalu berhasil membuatnya lemas."Sudah, Kaliel... lepaskan dulu. Aku mau mandi," bisik Tatiana sambil menepuk pelan lengan yang masih mengunci pinggangnya.Kaliel mendengus pelan, namun akhirnya melonggarkan kunkungannya dengan enggan. "Mandilah. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makan siang yang enak untukmu. Jangan coba-coba kabur dari meja makan seperti kemarin."Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemercik air shower terdengar, Tatiana menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia memejamkan mata erat-erat. Hasrat seksualnya yang melonjak drastis bela
Mereka sudah ke kamar, membersihkan diri dan siap untuk tidur kalau saja pria tinggi itu tidak mendekap Tatiana di depan ranjang mereka.Kaliel terdiam sejenak saat merasakan hawa tubuh Tatiana yang menembus pakaian tidurnya.Ia menggeser telapak tangannya, menempelkannya pada punggung Tatiana yang terasa tidak biasa. "Kau hangat," gumam Kaliel, kernyitan di dahinya kembali dalam, kali ini karena rasa khawatir. "Apa kau salah makan hari ini?"Tatiana mendengus pelan di dalam pelukan pria itu, memukul dada Kaliel lemah. "Aku hampir tidak sanggup mengunyah makananku," sahutnya dengan suara yang mulai serak. "Di dalam perutku ini cuma ada dua cangkir kopi. Dasar jahat."Mendengar pengakuan itu, rasa bersalah langsung menyergapnya. Bagaimana bisa ia tidak m
Tidak bisa dipungkiri lagi, Tatiana kini memang sudah sangat bergantung pada Kaliel. Dinamika hubungan mereka yang intens dan perhatian pria itu yang tanpa batas, meski sering kali melelahkan. Perlahan-lahan mulai mengikis jarak di antara mereka.Beberapa hari setelah pertemuan penuh ketegangan dengan Jane, Kaliel membawa Tatiana ke sebuah butik estetik bernuansa putih bersih milik Claire Delacour. Tempat itu terasa memancarkan kemewahan yang sunyi di setiap sudutnya.Claire, seorang wanita paruh baya dengan gaya berkelas yang mengalungkan pita meteran di lehernya, berjalan memutari Tatiana. Matanya yang tajam dan berpengalaman meneliti setiap jengkal proporsi tubuh gadis itu dari atas sampai bawah dengan teliti.Setelah beberapa saat mengamati, Claire melipat tangan di depan dada, mengangguk-anggu
Tatiana mengembuskan napas panjang, merasa sangat lega karena urusan dengan Jane akhirnya selesai juga. "Nama mereka sulit-sulit sekali," omelnya pelan sambil memijat pelipisnya yang mendadak terasa agak pening mendengar deretan nama desainer dan pengrajin kelas atas tadi.Mereka berjalan keluar menuju area parkir. Dengan gerakan yang penuh perhatian dan sangat natural, Kaliel melangkah lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Tatiana."Serahkan padaku, Nona," ujar Kaliel dengan nada sopan yang dibuat-buat.Tatiana meliriknya sekilas sebelum masuk ke dalam mobil. "Dasar," cibirnya, meskipun sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyuman tipis atas perlakuan manis pria itu.***Mereka akhirnya sampai di
Pintu ganda itu tertutup dengan bantingan keras setelah Elise melangkah keluar dengan kemarahan yang tertahan. Keheningan yang menyesakkan langsung menyergap ruangan itu. Tatiana berdiri mematung, ia tidak tahu harus berbuat apa atau harus memulai pembicaraan dari
Sinar matahari pagi Sektor Onyx menembus jendela besar penthouse, menyinari Tatiana yang sedang sibuk di depan cermin. Hari ini ia merasa berbeda. Meskipun pekerjaannya membosank
Mobil sedan mewah itu melesat membelah jalanan yang mulai berganti dari jalanan desa yang sepi menuju jalan lintas sektor yang sesekali ramai. Di dalam mobil, hanya terdengar suara deru mesin yang halus dan hembusan AC yang dingin. Tatiana, yang rupanya benar-benar
Kaliel memijat tengkuk lehernya, tampak berusaha meredam egonya sendiri demi mencapai kesepakatan. Ia tahu jika ia terus membantah, Tatiana benar-benar tidak akan pernah mau menginjakkan kaki lagi di Sektor Onyx.







