Share

30.

Author: silent-arl
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-05 18:07:41

Ketegangan di teras itu terpecah ketika seorang pria tua muncul dari balik pintu sambil membawa baki berisi teko teh dan beberapa gelas. Ia memandang Kaliel dan Edward bergantian, lalu tersenyum lebar seolah tidak merasakan hawa dingin yang memancar dari kedua pria itu. 

"Wah, jarang sekali ada dua tamu tampan datang ke sini sekaligus," ujar sang kakek ramah. "Kebetulan istriku sedang memasak sesuatu yang segar

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   128.

    Tatiana hampir mengangguk, menyerahkan seluruh kesadarannya pada pesona Kaliel. Namun, tepat sebelum bibir mereka kembali bertautan, sebuah ingatan membuatnya tersadar. Ia menahan dada Kaliel pelan."Joe. Bukannya dia akan datang?" bisik Tatiana dengan napas yang masih memburu.Kaliel mendesah pelan, sedikit kecewa karena momentumnya terganggu. Namun, ia tidak melepaskan Tatiana.Pria itu justru menyusupkan telapak tangannya yang hangat ke punggung polos Tatiana, mengusap-usapnya dengan gerakan lambat yang menenangkan sekaligus sensual. "Ini masih pagi, Sayang," bisik Kaliel serak di depan bibir Tatiana. "Joe tidak akan berani mengacaukan rumahku sepagi ini."Kehangatan usapan tangan Kaliel di punggungnya membuat tubuhnya meremang. Tanpa bisa ditahan la

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   127.

    Suasana canggung yang tersisa dari malam sebelumnya ternyata tidak serta-merta pergi begitu pagi hari tiba. Tatiana terbangun beberapa saat setelah Kaliel. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, gadis itu melangkah keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah.Langkahnya mendadak terhenti di undakan tangga. Di ruang tengah yang minimalis itu, ia mendapati Kaliel sedang fokus melakukan olahraga paginya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan kaos, hanya memakai celana pendek olahraga hitam. Butiran keringat tampak berkilau di atas kulitnya yang kecokelatan, mengalir melewati lekukan otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna setiap kali pria itu bergerak.Tenggorokan Tatiana tiba-tiba terasa sangat kering. Ia refleks mengecap bibirnya sendiri yang mendadak terasa pias, terpaku di tempatnya berdiri dengan pandangan yang sulit dialihkan dari

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   126.

    Tatiana terus menatap kalung berlian di tangannya tanpa ada niat untuk mengenakannya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba mencerna kegilaan situasi hari ini.Kaliel yang baru saja selesai mandi berdehem pelan sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat tatapan kosong Tatiana yang tak kunjung beralih dari kotak perhiasan, ia terkekeh tipis. "Kau tampak menyeramkan, Sayang. Seperti sedang merencanakan hal yang jahat."Tatiana mendongak, menatap Kaliel dengan raut wajah yang masih diliputi kecemasan. "Tentu saja aku takut, Kaliel. Menikah bukan hal yang sesederhana seperti yang kau bayangkan."Kaliel melempar handuknya ke atas kursi kosong, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. "Bagiku sederhana. Hal-hal di dunia ini menjadi rumit hanya karena kau terlalu banyak berandai-andai

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   125.

    Mobil mereka melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area perbatasan yang kacau itu sejauh mungkin. Di tengah deru mesin yang, Kaliel memindahkan satu tangannya dari kemudi, lalu meremas lembut jemari Tatiana yang masih terasa dingin."Kita sudah memastikan polisi datang sebelum pergi tadi, kan?" Pria itu terdengar terlalu santai.Tatiana mengembuskan napas lega yang panjang, ketegangan yang sejak tadi menumpuk di bahunya perlahan menguap. Ia menoleh, menatap wajah Kaliel dari samping yang tampak begitu tenang di balik kemudi. "Kau... sama sekali tidak punya rasa takut, ya?"Kaliel terkekeh rendah, namun sorot matanya yang melirik Tatiana sesaat tampak begitu tulus. "Satu-satunya yang membuatku takut di dunia ini adalah kau, Tatiana. Urat tegang, rasa takut, dan kecemasanku hanya ak

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   124.

    Refleks Kaliel bergerak secepat kilat. Ia langsung menarik tubuh Tatiana ke dalam dekapan dadanya, menggunakan badannya sendiri sebagai tameng sembari melindungi kepala gadis itu dengan kedua tangan."Kita keluar dari—" Kata-kata Kaliel terputus oleh rentetan suara tembakan susulan yang menggema lebih dekat, diiringi suara kaca pecah dan derap langkah kaki yang kacau. Sadar pintu keluar utama terlalu berisiko, Kaliel menarik Tatiana mundur, menyusuri koridor sempit hingga menemukan sebuah toilet umum yang tandanya sudah agak usang dan tampak rusak.Begitu mendorong pintu di salah satu bilik, Kaliel mendesak Tatiana masuk. "Berdiri di atas dudukan toilet, sembunyikan kakimu dari celah bawah pintu," bisiknya tajam penuh penekanan.Tatiana yang jantungnya berpacu hebat menatap Kaliel panik. "Lal

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   123.

    Keesokan harinya, suasana tenang di Sektor Carasano mulai terusik. Kawasan yang selama ini terkenal sangat aman dan minim kriminalitas itu mendadak diguncang oleh berita-berita miring. Kasus pencurian kecil, penjambretan, hingga aksi nekat seperti yang dialami Tatiana kemarin mulai sering terjadi di berbagai sudut sektor.Saat sedang berjalan-jalan pagi, Tatiana tak sengaja mendengar obrolan serius di depan toko kue. Sepasang suami istri muda tampak sedang berbincang tegang dengan sang pemilik toko kue yang wajahnya terlihat cemas.Tatiana memperlambat langkahnya, berpura-pura melihat etalase sambil menajamkan pendengarannya."Ini benar-benar gila," ucap pria muda itu sambil menggelengkan kepala. "Carasano tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kemarin kedai dekat bundaran dirampok, lalu tadi malam a

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   48.

    Kaliel bukanlah mafia kelas teri yang akan tersulut emosi hanya karena drama picisan di depan publik. Ia adalah pria dengan perhitungan matang, yang memimpin kerajaan bisnis dan kekuatan bawah tanah dengan tangan besi. Alih-alih marah, Kaliel justru menyunggingkan

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   47.

    Sinar matahari pagi yang masih redup menyelinap melalui celah gorden penthouse, namun Tatiana sudah terjaga lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak. Dengan posisi menyamping, ia t

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   46.

    Kaliel tidak bisa lagi menahan diri. Ia merangsek maju, mencengkeram kerah kemeja Edward hingga pria itu terangkat sedikit dari lantai. Matanya menatap penuh kebencian saat ia mendesis tepat di wajah Edward. "Mundur, Edward. Kau sudah punya Elise. Kembali padanya d

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   45.

    Kaliel perlahan melepaskan ciumannya, namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Napasnya yang memburu terasa panas di kulit Tatiana, dan matanya menatap dengan intensitas yang nyaris membuat nyali Tatiana menciut."Inga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status