Share

30.

Author: silent-arl
last update publish date: 2026-05-05 18:07:41

Ketegangan di teras itu terpecah ketika seorang pria tua muncul dari balik pintu sambil membawa baki berisi teko teh dan beberapa gelas. Ia memandang Kaliel dan Edward bergantian, lalu tersenyum lebar seolah tidak merasakan hawa dingin yang memancar dari kedua pria itu. 

"Wah, jarang sekali ada dua tamu tampan datang ke sini sekaligus," ujar sang kakek ramah. "Kebetulan istriku sedang memasak sesuatu yang segar

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   30.

    Ketegangan di teras itu terpecah ketika seorang pria tua muncul dari balik pintu sambil membawa baki berisi teko teh dan beberapa gelas. Ia memandang Kaliel dan Edward bergantian, lalu tersenyum lebar seolah tidak merasakan hawa dingin yang memancar dari kedua pria itu."Wah, jarang sekali ada dua tamu tampan datang ke sini sekaligus," ujar sang kakek ramah. "Kebetulan istriku sedang memasak sesuatu yang segar dan beberapa lauk lainnya. Bagaimana kalau kalian bergabung untuk makan siang? Meja kami memang kecil, tapi kursinya cukup."Tatiana menggaruk hidungnya sambil mengirim sinyal pada kakek pemilik pengiapan. “Oh mereka akan pergi sekarang,” ia memutar tubuhnya, mata bulat itu menatap Edward dan Kaliel bergantian. “Ya, kan?”“Aku tidak keberatan.” jawab Kaliel acuh,

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   29.

    Edward duduk di dalam mobil hitamnya yang terparkir di ujung jalan. Di tangannya bukan lagi laporan keuangan atau semua perintah yang Bram minta, melainkan sebuah tablet yang menampilkan data pelacakan GPS dari armada taksi kota.Ia sudah menghabiskan dya hari terakhir untuk menyaring ratusan data perjalanan dari malam itu. Secara teknis, keinginnya untuk menjaga Elise sudah selesai karena Kaliel sudah mengambil alih. Secara profesional, ia seharusnya kembali ke markas Bram dan memberikan setiap pergerakan Kaliel. Namun, jemarinya terus bergerak, menelusuri satu nomor pelat taksi yang terekam di CCTV keluar dari area The Victory tepat sepuluh menit setelah ambulans pergi."Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, Edward?" gumamnya pada diri sendiri.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   28.

    Dua hari kemudian…Elise membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa nyeri yang menusuk di area perutnya. Cahaya lampu di atasnya terasa begitu menyilaukan, membuatnya harus mengerjap beberapa kali.Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ruangan itu sunyi. Tidak ada siapa pun di samping tempat tidurnya. Hanya ada bunyi dari mesin monitor jantung yang menemani kesunyiannya. Untuk sesaat, Elise merasa dunianya benar-benar runtuh, ia telah memberikan segalanya, namun saat maut hampir menjemputnya, ia tetap berakhir sendirian di ruangan putih yang dingin ini.Pintu ruangan bergeser terbuka. Langkah kaki yang berat terdengar mendekat.Kaliel muncul dari balik tirai. Ekspresinya tidak bisa dibaca, ada guratan kebencian yang tak mungkin

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   27.

    Deburan ombak menyambut Tatiana saat ia turun dari taksi di pinggir jalan aspal yang berbatasan langsung dengan hamparan pasir putih. Bau garam dan angin laut yang kencang langsung menerpa wajahnya, mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut sejak dari kasino.Tatiana berdiri mematung, menatap garis pantai yang berpendar di bawah cahaya bulan. Pesisir ini... ia mengenalnya dengan sangat baik. Ini adalah tempat yang ia tulis dengan penuh cinta di dalam naskahnya, tempat di mana ia membayangkan momen bulan madu yang sempurna, penuh dengan tawa dan janji-janji manis."Ah, sial..." bisik Tatiana pedih. Ia tertawa miris, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Seharusnya tempat ini menjadi momen romantis, bukan seperti ini. Melarikan diri... atau apalah namanya ini." ia menjambak rambutnya saking frustasi.Dengan lang

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   26.

    Langkah Tatiana terhenti tepat di ambang pintu ruang privat. Suara sirene ambulans yang memecah keheningan malam di luar kasino terdengar semakin mendekat, hingga akhirnya berhenti tepat di depan lobi The Victory.Beberapa petugas medis dengan tandu dorong berlari masuk ke dalam ruangan, memecah kerumunan di sana. Tatiana hanya bisa mematung di sudut, menyaksikan bagaimana tubuh lemah Elise diangkat ke atas tandu.Pemandangan di depannya terasa seperti gerakan lambat. Kaliel berdiri dengan tangan yang masih bersimbah darah Elise, wajahnya kaku dan penuh kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Di sampingnya, Edward juga tampak bersiap, jasnya sudah basah di atas perut Elise. Keduanya tampak begitu kompak dalam satu tujuan yaitu menyelamatkan Elise.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   25.

    Edward masih belum bergeming, jari-jarinya tetap melingkar di lengan Tatiana dengan kekuatan yang tidak berubah. Ia melirik Bram sekilas, memberikan kode bisu bahwa ia hanya akan bergerak jika ada instruksi resmi. "Aku menunggu perintah Tuan Bram, Kaliel. Aku tidak bekerja untukmu," ucap Edward datar, seolah tidak terpengaruh oleh moncong senjata yang mungkin meledak kapan saja.Bram tertawa, suara tawanya menggema di ruang privat yang kedap suara itu. Ia menyilangkan kaki, tampak sangat menikmati bagaimana Tatiana menjadi rebutan. Bram tidak peduli dengan ketegangan fisik di depannya, dia tahu kartu as-nya adalah Tatiana. Dia yakin, jika Kaliel tersudut atau hancur, Tatiana yang memiliki hati lembut itu pasti akan kembali merangkak padanya demi menyelamatkan pria itu."Jangan menatapku seolah aku penculik, Kaliel," ujar Bram santai. "Aku hanya menerima tawaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status