INICIAR SESIÓNGemuruh peluru saling bersahutan, asap dari granat menebal di udara, menghalangi penglihatan di tengah peperangan. Bubuk mesiu saling bertebrangan ke titik yang telah ditargetkan. Gema dari peperangan antar dua organisasi memekakkan telinga, melangitkan permusuhan yang begitu kental.Cairan merah bagai tanda dari pengorbanan, menggenang di setiap tempat. Beberapa insan telah meluruh oleh kekalahan, nadi telah berhenti berdenyut—artinya kehidupan telah terenggut dari raga yang telah meluruh.Di antara kekacauan, seseorang berpakaian rapi bersembunyi di balik gentong minyak. Kepalanya menyembul, melesatkan peluru di titik yang telah ia targetkan.Bubuk mesiu keluar dari mulut pelurunya, menghantam beton yang menjadi tempat persembunyian musuh."Fuck," umpat Dante, aliran napas memburu, paru-paru memproses napas tanpa kendali.Dirasa pistol telah kehabisan mesiu, ia mengambil magasin cadangan di saku celana. Namun, gerakannya kalah cepat oleh kedatangan dua orang."Lihat, apa yang sedan
Sudah tidak dapat dipahami lagi, mengapa hari ini begitu banyak hal di luar dugaan terjadi. Membingungkan Liv. Belum lagi debar di jantungnya terus memacu perasaan tak nyaman.Dari pagi, perasaan mengganjal itu masih bersemayam. Hingga langit telah menghampar rona gelap di langit Los Angeles, perasaan tak enak itu masih bertempat di benaknya."Anna," bisik Liv.Anna yang sedang membalut telunjuk Liv yang terkena goresan pecahan guci, menaikan pandangan. Melirik tanya pada panggilan sang majikan."Liv mendengar semua yang Anna bicarakan dengan pelayan tadi." Sorot matanya kosong, tak memiliki pendaran bermakna apapun.Anna terdiam. Perasaan tak nyaman menyelusup masuk di setiap lapisan relung hatinya. Sesal pun menyertai menambah suasana terasa menghimpit."I-itu ... maafkan aku, Nyonya. Aku tidak bermaksud membicarakan Nyonya." Wajahnya direndahkan, punggung seperti ada desiran panas.Mengalihkan atensi ke arah Anna, kekosongan masih berpendar di sana. Anna menyimpulkan, benak sang ma
Di bawah rerimbunan pohon, bernaung dari sorot mentari yang kala itu mulai remang-remang, buat bayangan pohon mengenai wajah masygulnya.Punggung rapuh kecilnya seakan meminta kekuatan kepada batang pohon beringin, manik hijau terang bagai kelereng miliknya tak lagi menyoroti keceriaan.Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tak memiliki jawaban di kepalanya. Dia ingin kecewa, tetapi desiran tipis dari kepercayaan masih mengaliri benaknya."Nyonya." Mendapati kedatangan Anna, Liv tak menoleh barang sedikitpun. Dia masih terkejut, terbingung. Seakan ia berdiri di antara jurang dan ancaman harimau."Allison memberikan Nyonya ini." Sepotong pie almond tersuguhkan di depannya. Mengabaikan dessert tersebut, kepalanya bergerak menghindari tatapan Anna."Pergilah," pinta Liv, suara yang keluar terdengar serak, seperti tengah menahan desakan tangis di tenggorokan.Binar di manik Anna ragu, pertimbangan tipis membuat dalam dirinya berkelahi. Namun, akhirnya ia tetap memilih pergi.Sebelum a
Teropong menjadi perantara penglihatannya dengan titik yang menyimpan keberadaan George. Ear in telah terpasang rapat di telinga kanan, menjadi penghubung antar ia dengan atasannya.Pistol glock 19 telah terpasang tanpa siapapun dapat melihatnya, disusun di balik dinding rooftop, menyembunyikannya dari mata dunia."Target berjalan di trotoar depan hotel. Saat ini dia tidak menampakan gerak-gerik mencurigakan."Kekhawatiran menggerogoti relung Giordano, menyertakan Harry sebagai sniper andalan EOA. Mereka tahu, George bukan sembarang musuh yang bisa diluluhkan tanpa perhitungan. Memilih mata peluru dari jarak jauh adalah pilihan terbaik, membuat pengalihan menarik untuk memanipulasi keadaan.Dan Dante adalah satu-satunya umpan yang cocok untuk mangsa yang legit. Wajahnya terpasang sebagai umpan, saat Harry menjadi peran utama dalam penyerangan."Intai dia sampai ada pergerakan lain." Intonasinya dingin, menembus angin gurun Tucson. "Intai sekitarnya. Kabari aku jika ada anomali."Berp
Rencana telah matang sempurna, tak ada celah Dante biarkan demi kemenangan EOA.Baginya, Arizona adalah emas. Harta karun bagi setiap organisasi ilegal yang mengoperasikan n*rkotika sepertinya. Dan untuk merebut kekuasaan di tanah tandus itu, ia harus melawan predator yang terkenal keberingasannya.Beberapa kali mendapat teror, entah itu anggotanya yang tiba-tiba mati, atau bahkan ancaman cyber di gadgetnya.George tidak akan membiarkan siapapun menyentuh sejengkal pun tanah kekuasaannya, sementara Dante telah berani mengusik singa yang sedang tertidur.Rompi anti peluru telah membingkai sempurna di balik kaosnya, jaket boomber turtleneck melapisi kaos agar rompi anti peluru tak dapat dilihat jelas oleh orang-orang.Di balik jaket boomber yang ia resletingkan hingga leher, pistol, magasin, serta granat kecil terpasang sebagai senjata yang akan ia gunakan.Tibalah detik terjadinya peperangan demi satu wilayah untuk mencapai kekuasaan di dunia n*rkotika."Signore, anda yakin?" Persiap
Matahari merangsak naik perlahan saat waktu bergeser, langit telah mengusir gelap, membangunkan para insan di bumi Los Angeles.Cahaya redup dari lampu tidur menyapu halus sisi wajah Liv yang saat ini masih bertempat dalam dekapan Dante.Irama napasnya mengalun halus. Ia hanyut dalam kedamaian yang selalu ia dambakan. Kelopak matanya yang tertutup, menurunkan bulu mata lentiknya hingga bayangan lembut terlukis di bawah matanya.Di sisi pipi berwarna putih bagai lobak itu, telunjuk Dante menyapu, menelusuri halus garis pipi turun hingga rahang sang dara.Telaga birunya bertaut dipenuhi oleh damba tanpa tepi, bukan lagi tatap tajam yang selalu ia sorotkan. Perempuan ini ... dia bukan agunan dari hutang kreditunya, bukan juga pion di atas bidak permainan yang ia balut dengan ikatan suci.Kini ia seolah bermetamorfosis menjadi kelemahan yang menyusup tanpa Dante sadari. Menggoreskan retakan pada dinding sampai kekuasaan yang selama ini ia jaga agar tetap kokoh, kini lumpuh tanpa pondasi







