INICIAR SESIÓNRencana telah matang sempurna, tak ada celah Dante biarkan demi kemenangan EOA.Baginya, Arizona adalah emas. Harta karun bagi setiap organisasi ilegal yang mengoperasikan n*rkotika sepertinya. Dan untuk merebut kekuasaan di tanah tandus itu, ia harus melawan predator yang terkenal keberingasannya.Beberapa kali mendapat teror, entah itu anggotanya yang tiba-tiba mati, atau bahkan ancaman cyber di gadgetnya.George tidak akan membiarkan siapapun menyentuh sejengkal pun tanah kekuasaannya, sementara Dante telah berani mengusik singa yang sedang tertidur.Rompi anti peluru telah membingkai sempurna di balik kaosnya, jaket boomber turtleneck melapisi kaos agar rompi anti peluru tak dapat dilihat jelas oleh orang-orang.Di balik jaket boomber yang ia resletingkan hingga leher, pistol, magasin, serta granat kecil terpasang sebagai senjata yang akan ia gunakan.Tibalah detik terjadinya peperangan demi satu wilayah untuk mencapai kekuasaan di dunia n*rkotika."Signore, anda yakin?" Persiap
Matahari merangsak naik perlahan saat waktu bergeser, langit telah mengusir gelap, membangunkan para insan di bumi Los Angeles.Cahaya redup dari lampu tidur menyapu halus sisi wajah Liv yang saat ini masih bertempat dalam dekapan Dante.Irama napasnya mengalun halus. Ia hanyut dalam kedamaian yang selalu ia dambakan. Kelopak matanya yang tertutup, menurunkan bulu mata lentiknya hingga bayangan lembut terlukis di bawah matanya.Di sisi pipi berwarna putih bagai lobak itu, telunjuk Dante menyapu, menelusuri halus garis pipi turun hingga rahang sang dara.Telaga birunya bertaut dipenuhi oleh damba tanpa tepi, bukan lagi tatap tajam yang selalu ia sorotkan. Perempuan ini ... dia bukan agunan dari hutang kreditunya, bukan juga pion di atas bidak permainan yang ia balut dengan ikatan suci.Kini ia seolah bermetamorfosis menjadi kelemahan yang menyusup tanpa Dante sadari. Menggoreskan retakan pada dinding sampai kekuasaan yang selama ini ia jaga agar tetap kokoh, kini lumpuh tanpa pondasi
Musim panas dan musim semi adalah penantian panjang usai derita dari musim dingin menahan. Melihat batang dari pohon akhirnya kembali menumbuhkan pucuk, bunga-bunga indah bermunculan, aroma kesegaran tercium menyegarkan.Tak salah mengapa orang-orang sangat menantikan musim semi. Tak hanya berakhirnya musim dingin yang menyiksa, musim semi juga menjadi tanda atas datangnya musim panas."Ayo makan burung. Tidak perlu malu-malu." Melempar biji-bijian di atas paving blok, mengundang burung-burung merpati menghampirinya agar mendapat hadiah kecil."Mereka lucu sekali." Antusias memberi pangan pada burung-burung tersebut, bahkan sosok yang mengajaknya ke tempat ini ia abaikan."Kau begitu menyukai mereka." Berdiri di samping Liv tak cukup membuatnya diacuhkan, burung-burung tersebut telah menyita sepenuhnya perhatian Liv."Mereka menggemaskan." Tawanya ringan, tapi mampu menggetarkan hal lain pada diri Dante."Makanlah yang banyak. Ayo makan burung, makan." Menaburkan dalam jumlah banyak
"Jadi?" Menahan desir geli merayapi perut, lekas bermigrasi ke bibir agar tersimpul sebuah senyum mengejek sang istri yang kini nampak duduk malu-malu.Jemari di antara paha memilin kain, menjadikan benda tersebut perisai dari rasa malu. Giginya menghimpit bibir bagian dalam, menahan mulut agar tidak memberi klarifikasi panjang lebar.Akhirnya, kepala hanya bergeleng, tanpa ada suara sebagai jawaban, menghindari telaga jernih bagai samudra milik Dante yang seakan tengah menembus ke setiap lapisan isi kepalanya."Dunia ini memang sempit." Punggung dihempaskan pada sandaran kursi mobil, meloloskan satu helaan napas panjang."Kita bertemu dengan tidak sengaja di toko permen, padahal sebelumnya aku ingin menjemputmu."Dalam diam yang merupakan caranya menghindar, bulatan mata yang menyimpan iris hijau terang itu membola tak percaya. "Lalu memberikan permen ini." Satu kotak coklat berikut satu kaleng permen Dante perlihatkan.Liv tahu, Dante tidak memiliki maksud lain, tapi sudut hatinya
"Dari yang aku lihat-lihat, sepertinya kau sangat menyukai makanan Meksiko. Kenapa?" Seperti yang telah Liv janjikan—untuk membayar kebaikan Taylor, ia membawa Taylor ke restoran Meksiko. Bibirnya mengkerut, menimang rasa yang datang pada lidahnya terhadap makanan Meksiko. "Umm, karena ... enak saja."Udara dihentakkan dari hidung, merotasikan bola mata mendengar jawaban demikian."Tidak ada alasan spesifik?""Rasanya berbeda dari makanan-makanan kita. Liv suka khas dari kulit tacos, campuran daging dan sayuran yang menyatu di mulut seperti umami tersendiri."Sudut bibir Taylor terangkat tipis, geli mendengar penjelasan rinci Liv yang menyerupai food vloger. "Aku rasa kau cocok menjadi food vloger."Pertengahan alis Liv melipat, tanyakan melalui gurat wajah ungkapan Taylor."Tapi Liv tidak suka makan banyak.""Kau bisa merincikan rasa makanan. Sementara food vloger menjual kemampuannya dalam menjelaskan rasa makanan. Lidah mereka cenderung tajam.""Lidah yang tajam, ya?" Langkah tu
Dinding abu-abu gelap berdiri kokoh membentuk sebuah ruangan didominasi warna-warna gelap, seakan memberi kesan pada para penghuni yang memiliki akses 'tuk menempati ruangan tersebut.Berderet gagah para pimpinan EOA, tatap mata mereka lain dari manusia biasanya. Tajamnya bagai serigala yang berhasil menemukan mangsa. Aura pekat nan gelap membuat ruangan terasa kehabisan oksigen."456 gram kokain telah dikirim ke gudang Sells. Estimasi tiba adalah hari Jum'at minggu ini. Kita tidak memiliki banyak untuk meladeni George." Seorang petinggi yang menjabat sebagai konselor bersuara begitu rapat dimulai, Daniel El Savador."Signore Greyson, apa rencana anda untuk menghadapi George?" Daniel mengimbuhkan, buat semua atensi berporos pada sosok yang duduk di ujung meja.Pena di atas meja Dante ketuk, tungkai di bawah meja ia buat saling menumpu. Kelereng birunya berlabuh di pintu kaca yang menjadi penghubung ruang rapat dengan koridor."Seperti yang kalian tahu, aku sudah membuat perjanjian, t







