LOGINSuara outdoor AC menderu dari balik jendela kamar. Dua sosok dewasa dalam kamar itu saling diam dan suasana menjadi kaku. Seorang terbaring diam sambil memejamkan mata dengan bulunya yang terus saja bergetar menandakan pemiliknya sebenarnya tidak benar-benar tidur. Seorang lagi berbaring miring sambil menyelipkan satu tangan ke dalam box bayi dan menepuk punggung kecil Arjuna yang telah lama terlelap karena kecapean bermain.Fadhil dan Zubaidah sebenarnya ingin menyelesaikan permasalah mereka dan berharap bisa membangun komunikasi agar semua menjadi jelas dan masalah tak berlarut-larut. Sayangnya keduanya tak ada yang berinisiatif memulainya terlebih dulu. Ego menguasai mereka berdua yang masing-masing enggan mengalah.Dalam hati, Fadhil kembali mengingat saat bersama Sarah. Setiap ada masalah wanita pertamanya itu selalu tak segan memulai sesuatu lebih dulu. Saat itu Fadhil sangat terganggu kalau dipaksa mengaku salah, atau saat dia meminta maaf tapi kemudian marah saat kembali dii
Sarah merasa risih karena Lisa terus menatapnya dengan pandangan yang menggoda. Meski sekarang mereka tak berada di ruang yang sama, tapi ekor mata Sarah masih menangkap raut penasaran pegawainya yang masih terus menatapnya dari baik partisi yang memisahkan ruangan Sarah dan sang asisten. “LIsa, sebenarnya kamu mau sampai kapan mengintipku dari sana? Apa aku sangat menarik untuk ditonton?”“Maaf, Bu.”“Kau kesini dulu!” perintah Sah tegas pada Lisa yang masih diam sambil kembali mengintip ragu-ragu.Begitupun dengan rasa penasaran tinggi Lisa tetap bangkit dan berjalan perlahan ke kursi yang sempat ditinggalkan dan duduk kembali dengan tubuh sedikit kaku.“Kau dengarlah baik-baik.”Lisa mengangguk patuh. Wajahnya sudah kembali serius mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Ibu Bos. Wajah tengil yang sering diperlihatkan ketika menggoda Sarah sekarang tak lagi terlihat, Lisa sungguh sangat profesional. Dirinya sangat mampu memposisikan diri hingga saat bekerja maksimal tetapi saat s
Suasana kantor Sarah di lantai basement sangat sepi. Lampu yang temaram membuatnya merasa mengantuk. Apalagi yang dilakukannya adalah memantau dan menunggu. Mantan Suaminya membawa Bayi Putri untuk bermain di luar. Meski sang mantan menyetujui hanya bertemu di Cahaya Mall, buka berarti Sarah akan begitu saja percaya menyerahkan putri kecilnya hanya dengan sang pengasuh.Laptop di depannya menampilkan setiap adegan yang terjadi beserta suaranya. Seorang teknisi telah dimintanya untuk mengatur fokus suara di tempat-tempat dimana putrinya berada. Meski tak bisa menghindari sedikit suara disekitar yang ikut terdengar, percakapan atau pertengkaran yang terjadi terdengar dengan jelas. Sarah sedikit merasa bersalah telah mengintip privasi orang lain.“Kopi, Bu.” Lisa mengangsurkan secangkir kopi hitam ke meja di depannya. Sarah hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Lisa mengintipnya sebentar tapi buru-buru berlalu keluar ruangan. Dalam hati menggerutu karena bosnya itu t
Fadhil sebenarnya segera menyadari keberadaan Zubaidah di playground. Meski menoleransi setiap tindakan istrinya yang terkadang tak masuk akal itu, bukan berarti dirinya sangat sabar. Itu hanya karena sudah malas dan sedikit perasaan pada pertengahan pernikahannya dengan Zubaidah hancur sudah saat harga dirinya terkoyak menerima sikap ibu dari Arjuna itu yang mempermasalahkan dana melahirkan dari ATM pribadinya.Sekarang, ketika hanya Arjuna yang menjadi pertimbangan utama hubungan mereka, bahkan Zubaidah tidak bisa menenangkannya, entah bagaimana lagi Fadhil harus bersikap.“Bi, kita ajak anak-anak makan selingan dulu,” kata Fadhil sambil melangkah ke sebuah restoran. Bibi mengikutinya dari belakang. Zubaidah yang semula bingung akhirnya mengikuti juga dari belakang. Dalam hati dirinya merasa terhina tetapi hal ini harus diluruskan. Dirinya istri dan ibu bagi mereka tetapi seperti orang asing. Ini sungguh tak masuk akal. Zubaidah merasa harus meluruskan hal ini.Ketika kedua anak
Zubaidah kembali ke area pengunjung dengan menghentakkan kakinya dengan wajah yang cemberut. Wanita itu kemudian berjalan cepat menuju area pakaian dewasa dan mencoba melihat-lihat apakah ada yang cocok untuk dibeli. Hanya saja meskipun tangannya aktif memilah setiap barang yang tergantung itu, pikirannya tidak di sana. Bayangan suami dan anaknya sedang bermain bersama Sarah juga bayi perempuannya terus menari di pelupuk mata.Pemandangan seperti dalam pikiran Zubaidah, akan tampak keluarga yang manis dengan dua bayi kembar tak identik. Betapa lucunya dan sudah pasti akan menjadi pusat perhatian . Zubaidah menggelengkan kepala sambil memejamkan mata.“Ibu, apa Anda baik-baik saja?” tanya pengunjung lain yang mengira Zubaidah sedang pusing atau sakit.“Iya. Saya baik-baik saja, terima kasih.” Karena malu Zubaidah segera berlalu dari sana. Menaiki eskalator menuju lantai atas berniat memilih memanjakan diri di stand kuliner. Melihat beragam menu favoritnya hati Zubaidah menjadi kem
Dimeja makan Fadhil seperti biasa sarapan sambil sibuk menyuapi Arjuna. Di kursi bayi biru miliknya, Arjuna memegang sendok dan berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut. Pipi tirusnya sudah belepotan bubur. Beruntung mengenakan bip atau celemek bayi hingga baju yang baru saja dikenakan tidak ikut kotor.Zubaidah memperhatikan ayah dan anak itu dengan canggung. Meski Fadhil berpakaian santai, tapi tampaknya tidak akan tinggal di rumah hari ini. Arjuna juga didandani dengan pakaian rapi untuk bepergian.“Apa tidak libur?” tanya Zubaidah hati-hati.“Libur. Tapi ini hari kunjungan ke Putri. Arjuna akan kuajak biar bermain bersama.Wajah kalem Zubaidah kembali kaku. Senyum di wajahnya yang berusaha ditahan demi kenyamanan bersama pagi ini runtuh sudah. Menghiraukan mereka berdua Zubaidah segera menyelesaikan sarapan dan beranjak ke kamar.Dalam kamar, wanita itu kembali murung. Ditatapnya wajah tegas dengan kulit sawo matang dan hidung mancung kecilnya di cermin. Pandangannya menyapu ke
Memikirkan banyak hal aku menjadi ketakutan sendiri. Takut tanpa sadar berbuat dosa, takut semua hal yang sedang aku rencanakan tidak berjalan lancar. Pertimbangan yang sudah berulangkali ku kaji bisa saja goyah dan aku akan melakukan perjalanan jauh , meninggalkan
Suasana meja makan begitu sepi. Hanya suara denting sendok mereka bertiga saja yang terdengar. Kepala keluarga itu berkali-kali melirik anak dan istrinya seperti ingin tahu sesuatu tapi tak menanyakan apapun sampai satu persatu meletakkan kembali sendok dan garpu telungkup di piring lalu mendorongn
Asap rokok mengepul di balkon lantai tiga, rumah Dokter Wirawan. Meski tak sampai menghabiskan berbatang-batang rokok, lelaki yang kesehariannya itu kalem dan sangat menjaga kesehatannya itu mulai terbatuk-batuk. Dengan suara grusak-grusuk menarik perhatian nyonya rumah. Mendapat laporan bahwa putr
‘Berangkatlah lebih dulu, aku dijemput temanku.’Pria tampan dalam audi putih itu mendesah kecewa. Begitupun dirinya tak bisa memaksakan kehendak hati untuk menyanding sebentar saja wanita yang sangat didambanya. Pelan tapi pasti tangannya bergerak dan kendaraannya pun berputar lalu bergerak menjau







