Mag-log inFajar baru saja menyingsing ketika Sarah membuka jendela kamarnya. Cahaya keemasan perlahan menerobos sela-sela tirai, menyapu lantai kayu dan sajadah yang masih terbentang di sudut ruangan.Rumah itu belum benar-benar ramai. Hanya terdengar langkah kaki Bibi yang sesekali berlalu di dapur serta suara burung yang saling bersahutan dari pepohonan di halaman.Hari itu berbeda.Tidak ada rasa gugup yang membuat dadanya sesak. Tidak ada pula kegembiraan yang meledak-ledak sebagaimana sering ia lihat dalam kisah-kisah pernikahan.Yang ada hanyalah ketenangan.Sarah memandangi kedua telapak tangannya beberapa saat.Tangan yang dulu pernah gemetar menandatangani gugatan cerai.Tangan yang pernah menggenggam erat ranjang rumah sakit sambil mempertahankan hidupnya dan Putri.Tangan yang pernah bekerja siang malam demi memastikan ketiga anaknya tetap dapat makan dan bersekolah.Hari ini, tangan yang sama akan diulurkan kembali.Bukan untuk memulai mimpi tentang kehidupan yang sempurna.Melainka
Ruang tamu rumah Sarah terasa begitu lengang.Ruangan yang luas itu hanya diisi dua orang yang duduk saling berhadapan dalam diam. Dari kejauhan, mereka tampak seperti dua aksen kecil yang melengkapi ruang tanpa saling mengganggu.Bibi entah sedang berada di mana. Putri pun masih terlelap di kamarnya, seolah alam sengaja menghadiahkan sedikit waktu bagi dua orang yang diam-diam memiliki arti besar dalam hidupnya.Sarah memeluk bantal sofa lebih erat.“Dokter...” panggilnya pelan.Pria itu mengangkat kepala.“Kau memahami maksud ucapanmu tadi, kan?” Tatapan Dokter Wan tetap tenang.“Apa aku terlihat s
Akulah yang BergantungSarah langsung masuk ke kamar begitu tiba di rumah. Peristiwa yang baru saja terjadi masih membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.Air hangat memenuhi bak mandi. Perlahan ia membasuh wajah, rambut, lalu seluruh tubuhnya. Kehangatan air dan aroma sabun melati sedikit demi sedikit meluruhkan kepanikan yang sejak tadi menguasai pikirannya.Hampir setengah jam berlalu.Ketika keluar dari kamar, tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Ia telah mengenakan pakaian rumah yang rapi dan kerudung instan berwarna krem. Napasnya pun kembali teratur.Namun langkahnya terhenti di ambang pintu ruang tamu.Dokter Wan ternyata
Mendekati gerbang rumah, Sarah buru-buru membereskan barang bawaannya. Tas kerja, ponsel, dan beberapa berkas sudah berpindah ke kedua tangannya. Begitu mobil berhenti, ia berniat segera turun sebelum Putri menyadari kedatangannya.“Terima kasih banyak ya, Dok.” Ia bergeser mendekati pintu.Namun alih-alih membuka kunci pintu, Dokter Wan justru menurunkan kaca jendela.“Pak Ujang!” Penjaga yang sedang duduk di pos segera menoleh.“Eh, Pak Dokter! Sebentar!” Pak Ujang berlari kecil membuka gerbang sambil tersenyum lebar.Bahu Sarah langsung merosot.Selesai sudah harapannya pulang diam-diam.
Selesai makan siang, Sarah memutuskan tidak kembali ke kantor. Hari itu ia ingin segera pulang karena tidak tega meninggalkan Putri terlalu lama.Seperti biasa, Dokter Wan bersikeras mengantarnya.“Tidak usah pesan kendaraan online,” katanya sambil membuka kunci mobil. “Aku juga searah.”Sarah menghela napas pelan. Percuma menolak. Pada akhirnya ia kembali memilih duduk di kursi belakang, menjaga jarak yang menurutnya lebih pantas.Perjalanan dimulai dalam suasana santai. Berbeda dengan pertemuan-pertemuan mereka dahulu yang selalu canggung, kini percakapan mengalir begitu saja. Mereka sudah terlalu sering bertemu sehingga selalu ada hal baru untuk dibahas.Sarah akhirnya mengutarakan rasa penasarannya
Siang itu Sarah turun ke lobi kantor dengan ponsel di tangan. Jemarinya lincah menari di atas layar, hendak memesan taksi daring sebelum berangkat memenuhi undangan makan siang.Tin!Tin!Suara klakson membuatnya mengalihkan perhatian. Ia menengadah dan mendapati wajah tampan Dokter Wan menyembul dari balik jendela mobil.“Tidak usah pesan. Ayo pergi bersama.”Sarah mengernyit, melangkah mendekat hendak menolak dengan halus.“Tapi saya—”“Cepat naik,” potong Dokter Wan sambil melirik antrean kendaraan di belakangnya. “Lobi sudah mulai macet.”
Zubaidah pura-pura tak mendengar apapun yang dibicarakan para guru di ruangan. Dirinya sadar, setiap usaha ada resikonya. Begitu juga perjuangan mencari pasangan ideal. Terlalu idealis seperti yang dilakukannya dulu membuatnya tak laku menikah muda. Harga diri yang tinggi dan berharap dikejar sebag
Setelah menitipkan Arjuna, Fadhil bergegas ke kantor. Menyelesaikan pekerjaan dengan serius agar jelang makan siang bisa keluar kantor untuk melakukan hal lain. Yang dimaksud adalah pergi ke rumah Sarah. Beberapa mainan anak yang aman sudah dibeli untuk Bayi Putri. Fadhil tahu sekarang Sarah punya
Aku benar-benar sangat marah menghadapi sifat kekanakan Bang Fadhil. Istri ngambek itu kan biasa dan semua wanita juga melakukannya seperti juga Sarah dulu. Dia sering marah kalau suami kami sering di rumahku dan kalau uang belanja telat dikirimkan. Sekarang Bang Fadhil hanya punya aku seorang, ken
Aku membawa Putri ke dalam gazebo dan memberinya air putih. Selama ku gendong bayi lima bulan itu terus mengarahkan pandangannya padaku. mendongak keatas sambil membuka mulut terbengong lucu. Aku mencium pipinya gemas baru dia tersentak dan mulai meronta ingin melepaskan diri.“letakkan di sini saj







