Share

Bab 34. Kubayar Mahal

Penulis: Wening
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-30 21:32:09

Aku menatap Sarah yang berdiri angkuh di tengah ruang. Namun dalam pandanganku, wanita pertamaku itu tetap anggun dan penuh kelembutan. Tangan itu terlihat begitu putih dan sosoknya semakin bersinar. Kerinduanku semakin menggelegak ingin menggenggamnya seperti dulu. Namun aku bahkan tak punya keberanian untuk melangkah maju.

“Kau tahu aku tak mungkin lagi memberimu kesempatan, Mas. Kesempatan yang ada berkali-kali kau lewatkan.”

Wanita yang statusnya masih istri itu berada dekat tapi terasa sa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 41. Tak Mungkin Lagi

    Fadhil berniat berjalan-jalan mengitari sekitaran komplek perumahan untuk mencari hawa segar dan mengurai rasa sesak di dadanya. Ketika sampai di ujung jalan, tampak suasana semarang lampu-lampu di pinggiran perkampungan. Memang perumahan Sarah dan Zubaidah bertetangga, dan terpisah sebuah jalan di seberang sana adalah perkampungan warga asli Betawi. Sementara perumahan di sekitar rata-rata dihuni pendatang seperti keluarga Fadhil.Sungguh terkadang takdir seperti mempermainkan tetapi sungguh semua hal yang terjadi adalah kuasa Allah. Siapa sangka Fadhil yang sedikit banyak pikirannya terisi Sarah dan anak-anaknya, sekarang justru melihatnya berada tak jauh di hadapan sana. Sarah sedang duduk termenung memperhatikan setiap arena dan wahana bermain bergantian. Tatapannya terkadang kosong tetapi sering kali tersenyum penuh binar yang tampak disinari lampu taman. Fadhil seperti paham apa yang calon mantan istrinya itu pikirkan.“Kau kangen anak-anak, kan?” guam Fadhil lirih.Melihat Sa

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 40. Sosok Itu

    Hari telah larut ketika lelaki tiga puluh lima tahun itu masih terjaga di kamar bernuansa biru dengan corak bulan bintang bertebaran di tembok dan langit-langit. saat itu, dirinyalah yang mendekorasi kamar Arjuna meniru kamar anak di rumah sana, hanya berbeda warna dari pink kombinasi hijau favorite sang ibu. Menjelang kelahiran putra mahkota ini, memang Fadhil sangat bersemangat menyambut. Karena semua hal disiapkan Sarah untuk bayi perempuannya begitu terlihat bagus, Fadhil mengadopsi hampir semuanya baik dekorasi kamar juga perabotan hanya saja dengan warna yang berbeda. Dulu dirinya merasa agar adil, tanpa sadar adil yang dimaksud adalah apa yang diberikan bukan apa yang didapat kedua bayi satu ayah beda ibu tersebut. Apa yang dimiliki Bayi Putri adalah nyaris murni usaha Sarah juga pemberian kakek dan neneknya. Sementara yang didapat Arjuna adalah ego Fadhil yang mengusahakan agar putranya mendapatkan apan yang dimiliki putri dari istri yang lain.“Bodohnya aku.” desis Fadhil

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Baru Sada Tak Berharga 2

    “Toko itu sudah ada dari kalian masih akur bersama dan sekarang juga masih sah sebagai pasangan suami istri, bagaimana mungkin tidak ada hak?” “Ya, itu kalau toko milik kami pribadi. Nyatanya Cahaya Mart milik mertuaku dan Sarah hanya mengelola. Apa menurutmu harta mertua menantunya juga punya hak?” tanya Fadhil sambil tersenyum miring.“Itu, aku ….” Fadhil tak menanggapi celoteh istri keduanya kali ini. Alih-alih meneruskan perdebatan, dirinya memilih menyibukkan diri menimang putranya yang sudah mengantuk.Zubaidah sendiri tak kehilangan akal. Dengan berbagai cara dirinya berusaha mempengaruhi sang suami untuk mempertahankan posisi di Cahaya Mart demi memiliki pemasukan untuk meringankan bebannya sebagai penyandang dana keluarga sejak Fadhil menjadi pengangguran.“Bagaimanapun kau itu kepala keluarga, Bang. Kau punya kewajiban menafkahi kami anak dan istrimu. Lagipula Mbak Sarah sedang tidak bisa mengelola toko sekarang, jadi kau mewakilinya.“Sekarang dia sudah kembali dan hari i

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 37. Baru Sadar Tak Berharga

    Menjadi miskin membuat Fadhil mampu menghemat melebihi emak-emak dengan suami bergaji minim. Ketika tak mampu menghabiskan makanan, tangannya cekatan mencari wadah untuk memindahkan makanan tersisa. Beberapa kotak makanan sekarang telah dikemas dalam kantong plastik bersih dan meletakkannya di meja. Sementara dirinya kembali berkutat membuat dapur dan ruang makan bersih dari makanan matang dan membersihkan semua wadah yang sempat dipakainya.Mengedarkan pandangan sekali lagi ke seantero rumah, Fadhil akhirnya keluar dan mengunci rumah kembali. dengan tentengan makanan yang dibawanya, Fadhil menaiki motor keluar dari halaman. Turun sebentar untuk menutup pagar lalu melesat ke luar dari blok tempatnya tinggal dulu mengabaikan pandangan heran para tetangga yang kebetulan sedang ada di luar atau di teras rumah mereka.“Itu Pak Fadhil bukan ya,?”“Iya kayaknya. Lama sekali baru kelihatan.”“Rumahnya dibiarkan kosong, entah di mana anak dan istri pertamanya.”“Dulu Pak Fadhil ramah dan suka

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Apa yang Perlu Dipertahankan?

    Fadhil masih bertahan di rumahnya bersama Sarah. Mencoba mengecek air dan memperbaiki apa yang tidak berfungsi. Ketika sampai ke dapur Fadhil menemukan bahwa peralatan dapur masih lengkap seperti sedia kala. Bahkan kompor gas masih bisa dinyalakan setelah diganti tabung gas serep yang masih terisi penuh.Saat membuka lemari penyimpanan, beberapa bahan masih tersedia, termasuk beras kemasan. Dan beberapa barang sudah kadaluarsa. Fadhil membuang yang sekiranya tak bisa digunakan lagi. Ketika tangannya meraih kemasan beras, ingatan tentang Sarah kembali menyerbu.“Beras kemasan jangan dipakai dulu, Mas, untuk jaga-jaga kalau bapak belum kirim beras dari kampung.” Kata-kata Sarah dulu terngiang di telinga. Istri pertamanya memang begitu pandai mengendalikan kondisi ekonomi keluarga. Semua rapi dalam pengawasannya. Mungkin aku terlalu nyaman memilikinya hingga kurang tantangan dalam hidup. Pilihan poligami hanyalah salah satu sebab sakitnya Sarah, tapi pada dasarnya dalam pernikahan merek

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 36. Aku Banyak Kehilangan

    Fadhil tertidur karena kelelahan, tepatnya lelah lahir batinnya. . Begitu pun dirinya tak benar-benar beristirahat karena mimpi buruk berulang kali mengganggu tidurnya yang gelisah. Hingga tengah hari saat suara adzan berkumandang, perutnya juga melilit lapar. Teringat pagi tadi tidak sempat sarapan, dan di toko saat ingin meminta tolong karyawan untuk membelikannya, Sarah datang dan sampai pulang bahkan Fadhil tak ingat mampir untuk mengisi perut. Suasana hatinya sangat kacau. “Rayyan, Syamil, ayah pulang!” Kedua anak lelaki sehat dan tampan berlari ke arah suara yang memanggil. Mata mereka penuh binar ceria menular pada sang ayah yang segera lupa akan rasa penat seharian duduk di kantor dengan setumpuk pekerjaan. Sementara di belakang mereka agak jauh sang bunda berdiri memperhatikan dengan binar yang sama. Bahagia.Fadhil tak sabar dan berlari menyongsong tapi tiba-tiba tersandung dan terjatuh. Dug!Semua hal yang membuatnya merasa membuncah bahagia lenyap dan membuatnya bingu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status