Share

Bab 6 Dandelion

Semalaman Zian terus saja memikirkan gadis itu, sehingga ia tidak bisa tidur. Jam setengah sebelas malam Zian keluar dari rumah untuk menenangkan pikirannya saat ia menatap bintang hanya terbayang gadis itu saja, dia lalu membaca buku yang baru didapatkannya saat acara bedah buku ia juga membeli beberapa komik terbaru dan novel terbaru yang lainnya.  Saat membaca bayangan gadis yang ia jumpai dari hutan itu semakin lama semakin memudar lambat laun akhirnya hilang, Zian kembali fokus dengan bacaannya selang beberapa menit kemudian Zain pun datang dan langsung duduk disamping Zian. 

"Belum tidur? "tanya Zian. 

"Aku tidak bisa tidur."

"Kenapa? " tanya Zian heran. 

"Entah kenapa aku kepikiran Marina, saat berdansa bersamanya tadi wajahnya selalu terbayang-bayang."

Zian hanya tersenyum terus mendengar kata-kata Zain. 

"Kamu kenapa tersenyum Zian,  kamu lagi ngeledek aku ya?" kata Zain dengan wajah sedikit masam. 

"Enggak bukan gitu." kata Zian sambil menahan ketawanya. 

Zain mulai cemberut melihat sepupunya itu meledek dirinya. Kali ini benar-benar bayangan Marina tidak bisa hilang dari kepalanya, lalu gadis yang pernah hadir dalam mimpinya. Ah Zain mulai dilema memikirkan keduanya. 

"Gadis dalam mimpimu itu bagaimana?  Apa kau akan tetap mencarinya atau berpaling ke Marina? " tanya Zian. 

Zian malah membuat Zain semakin dilema. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Malam semakin larut tak terasa jam sudah menunjukkan setengah dua dan mereka masih saja mengobrol di taman samping rumah. 

"Zain sudah hampir jam dua sebaiknya kita tidur,  jangan sampai kita ketiduran di kelas besok" kata Zian sambil menutup buku yang dibacanya. 

"Kamu duluan saja, aku masih ingin di luar."

Zian lalu menariknya untuk bangun ikut masuk bersamanya kedalam rumah. 

"Ehhh sudah aku bilang aku masih mau di luar."

Zian terus saja memaksa Zain untuk masuk ke dalam meskipun Zain berkali-kali berkata kalau dia tidak akan ikut masuk. 

"Kalau menurutku ya Zain sebaiknya biarkan hatimu yang menentukan kamu akan tetap mencari gadis dalam mimpimu yang belum jelas atau Marina yang sudah jelas-jelas ada di depan matamu." saran Zian. 

Zain terdiam merenungi kata-kata Zian, lambat laun Zian pergi meninggalkan Zain sendirian di ruang makan. 

Keesokan paginya, sang fajar mulai menyapa. Zian dan Zain bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Terdengar suara klakson mobil dari luar beberapa kali di bunyikan. Zian lalu melihat dari balik jendela kamarnya dan itu ternyata Ziad. Zian dan Zain memang sedikit terlambat bangun tadi makanya tidak heran bila Ziad sudah ada di depan rumah untuk menjemput mereka berdua. 

"Ayah, aku dan Zian berangkat dulu!" teriak Zain dari kejauhan dengan terburu-buru bersama Zian. 

"Nak, sarapannya bagaimana?" jawab ayah Zain. 

Selepas mereka berdua naik Ziad langsung tancap gas, hingga perkataan ayah Zain tidak sempat mereka jawab. Sepanjang perjalanan Zain hanya memikirkan apa yang Zian katakan kepadanya semalam, sedangkan Ziad malah asik menyetir dengan suara musik rock yang ia bunyikan. Zian juga asik sendiri mendengar musik sambil membaca lanjutan novel yang semalam. Tanpa sadar mereka sudah sampai di sekolah tepat waktu, mereka bergegas masuk ke kelas untuk belajar usai belajar mereka bertiga kumpul di taman belakang sekolah. Hari itu giliran Zain yang membeli makanan ke kantin, sejak pagi tadi ia dan Zian tidak sempat sarapan, karena sedikit terlambat bangun. Saat memesan makanan Naya dan Marina datanga menyapanya, Zain merasa tiba-tiba gugup kalau berada di dekat Marina tidak seperti sebelumnya. Ketika ditanya dia malah menjawab yang lain pokoknya tidak nyambung banget dah. Naya yang melihat hal itu meledek Zain sehingga membuat wajahnya sedikit memerah. Tidak bisa membalas perlakuan Naya, Zain pun bergegas meninggalkan mereka berdua usai pesanannya sudah jadi. 

Sembari menunggu kedatangan Zain,  Zian dan Ziad bernyanyi sedikit diiringi dengan alunan gitar yang dimainkan Zian. Lagu yang mereka nyanyikan adalah "Cinta Sendiri" milik Pasha Ungu. 

"Mungkin salahku selalu menunggumu dengan kata cintaku dengan kata rindu. 

Tak berniatku untuk memaksakanmu agar menerimaku biar kubisa milikimu. 

Buku sakuku jadi saksi diamku semua tertulis tentang dirimu. 

Mengapa senyummu selalu dipikiranku oh tuhan tolong aku kutak bisa menghindarinya. 

Aku hanya ingin engkau tahu aku mencintaimu secinta cintanya aku. 

Aku hanya ingin engkau tahu aku merindukanmu serindu rindunya aku. 

Kutakkan membebanimu untuk mencintaiku cukup aku saja yang mencintaimu."

Usai mereka berdua bernyanyi Zain pun datang dengan wajah yang masih sedikit memerah Ziad heran melihat tingkah Zain itu. 

"Kamu kenapa Zain? " tanya Ziad. 

Zain masih saja diam. 

"Mungkin dia bertemu seseorang yang membuat hatinya berdebar-debar." kata Zian yang mulai sedikit bercanda sambil memainkan gitarnya. 

Zain seperti orang yang tertangkap basah mencuri setelah mendengar ucapan Zian tadi. 

"Benar itu Zain? " tanya Ziad bingung. 

Zain mulai gagap tidak tahu harus jawab apa, suaranya tidak bisa keluar sama sekali. 

"Sudahlah kita makan saja dulu aku sudah lapar sekali ni." kata Zian yang sangat kelaparan. 

"Zian,  maksud kamu yang tadi itu apa ya. Zain habis bertemu dengan orang yang membuat hatinya berdebar-debar? " tanya Ziad sangat bingung sambil mencomot beberapa roti. 

Zain pun tersedak mendengar kalimat itu lagi,  Zian segera memberikan minuman kepadanya. Setelah keadaannya mulai baikan Zian pun mulai bercerita ke Ziad. Zain mencoba menghalangi, tapi Ziad juga tidak mau kalah sehingga Zain pun pasrah. 

Zian mulai bercerita tentang gadis yang disukai Zain dan prihal gadis misterius dalam mimpinya. Zian menceritakan sedetail-detailnya sehingga Ziad benar-benar faham seluk beluknya. Namun ada satu hal yang ia tahu kalau sebenarnya Marina menyukai orang lain dan itu adalah Zian, tetapi Zain bagaimana bukankah ia mengetahui hal itu. Mungkin Zian sudah mengatakan kalau ia tidak menyukai Marina. 

Sepulang sekolah Zain dan Ziad pulang duluan karena Zian akan mampir ke toko buku sebentar, Ziad katanya akan mengantar Zian sampai kesana, tetapi Zian menolak. Ia ingin berjalan kaki katanya sehingga Zain dan Ziad pulang duluan. Ketika sampai di toko buku dan menemukan buku yang dia cari, Zian lalu pergi ke suatu tempat lagi yaitu ke hutan tempat ia bertemu gadis itu. Sesampainya disana tak terlihat gadis itu, ia lalu menyusuri jalan rahasia dan sampai ke ladang bunga. Zian menyusuri ladang bunga itu sampai ke sebelah utara ia menemukan sebuah pohon disana dikelilingi hamparan bunga dandelion dan gadis itu berada berada disana duduk seorang sendiri. Zian lalu menghampiri gadis itu yang tengah menyanyikan sebuah lagu yang begitu merdu sambil memainkan gitarnya. Gadis itu bernyanyi dengan penghayatan sehingga ia tidak menyadari Zian berdiri di depannya. Ketia gadis itu membuka matanya Zian lalu menyapa. 

"Suaramu bagus sekali." puji Zian. 

"Kamu? Bagaimana dengan lukamu?"

"Bagaimana kamu bisa tahu?  Apa jangan-jangan kamu yang mengendarai mobil yang ugal-ugalan itu? " tanya Zian sedikit terkejut. 

"Iya, aku minta maaf, untuk hal itu." 

Zian masih tidak percaya gadis yang lembut tutur katanya itu adalah orang yang menabrak dirinya. Gadis itu lalu memetik setangkai benih dandelion kemudian meniupnya. 

"Dandelion sosok yang kuat meskipun tampak rapuh,  tapi memiliki semangat yang hebat dalam mencari kehidupan baru di luar sana.  Mampu terbang tinggi, menjelajah luas menentang angin,  sampai akhirnya mendarat di tempat yang baru kemudian tumbuh menjadi jiwa yang baru. Tujuan hidupnya hanya satu. Setelah dia terbang melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang penuh kesulitan, suatu hari nanti,  sejauh apapun dia pergi, dia akan kembali ke tempat dimana dia berasal." kata gadis itu. Zian lalu ingat dandelion yang ada di rumah sakit waktu itu. 

"Jangan-jangan kamu gadis yang selalu membawakanku bunga dandelion?" tanya Zian. 

"Iya, itu adalah bunga dandelion, sedangkan yang putih ini adalah benih dandelion " kata gadis itu lagi. Zian masih menatap benih dandelion yang berterbangan di angkasa lepas. Gadis itu kemudian berkata, 

"Apa kamu tidak mengingat tempat ini?  apa kamu tidak ingat padaku?" kata gadis itu. 

Zian berfikir terus apa maksud gadis itu apakah kita saling mengenal, tetapi di mana? Bahkan kita baru pertama kali bertemu waktu insiden itu terjadi. Gadis itu terus saja meniup benih-benih dandelion terlihat seperti salju turun. Saat Zian memperhatikan gadis itu terus menerus meniup benih dandelion tiba-tiba ia teringat sesuatu. Yaitu masa kecilnya, ia dan gadis itu sering bermain disana. 

Waktu itu saat kami berumur sepuluh tahun, Zian dan Zain selalu bermain di danau biru. Tempat itu dulu sangat indah, bahkan menjadi tempat piknik kami, saat kami bermain baseball tiba-tiba bolanya entah kemana menghilang Zian terus mencari kemana arah bola itu terbang terakhir kali dan ia menyusuri hutan sampai ke ladang bunga. Ia terus mencari bola itu, tapi tidak ketemu padahal Zian yakin bola itu jatuh tidak terlalu jauh, tetapi kenapa ia tidak bisa menemukannya. Saat itulah ia melihat seorang gadis melempar-lemparkan bola itu dan dia memintanya namun gadis itu tidak mau memberikannya. Mereka berdua bertengkar memperebutkan bola itu lalu angin meniup hamparan benih-benih dandelion sehingga berterbangan seperti salju mereka berdua sangat takjub melihat hal itu dan perlahan mulai melepaskan bola dari genggamannya lalu Zian pun berkata, "Dandelion sosok yang kuat meskipun tampah rapuh,  tapi memiliki semangat yang hebat dalam mencari kehidupan baru di luar sana.  Mampu terbang tinggi,  menjelajah luas menentang angin,  sampai akhirnya mendarat di tempat yang baru kemudian tumbuh menjadi jiwa yang baru. Tujuan hidupnya hanya satu. Setelah dia terbang melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang penuh kesulitan, suatu hari nanti,  sejauh apapun dia pergi, dia akan kembali ke tempat dimana dia berasal."

"Dandelion? " heran gadis itu. 

"Bunga yang kuning itu adalah dandelion, sedangkan yang putih berterbangan seperti salju itu adalah benihnya." kata Zian. Keduanya berhenti bertengkar dan menikmati benih dandelion yang masih tertiup angin. 

"Namaku Zian." kata Zian sambil menyodorkan tangannya. 

"Aku Natasya." sambil menyambut tangan Zian dan tersenyum manis. 

Zian terbangun dari ingatannya ia akhirnya tahu kalau gadis itu adalah Natasya teman masa kecilnya. 

"Natasya..?"

"Akhirnya kamu mengingatku."

"Kemana saja kamu selama ini, sejak hari itu aku selalu datang kesini, tetapi kamu tidak pernah muncul." kata Zian penuh kerinduan padanya. 

"Ceritanya panjang Zian, aku tidak bisa menceritakannya padamu."

"Sekarang kamu juga bersekolah di tempat aku bersekolah?" tanya Zian. 

"Iya "

"Lalu kamu kenapa tidak pernah terlihat?"

"Aku jarang masuk, sejak insiden hari itu. Sejak hari itu aku langsung diskor oleh kepala sekolah selama seminggu. Dan di hari itu juga aku kehilangan ibuku. Aku hancur sejadi-jadinya, pergi hanya mengikuti kemana arah angin menuntunku dan angin menuntunku kesini. Dan aku teringat kata-katamu waktu itu, kemudian aku bangkit dan melanjutkan sekolah, tetapi sepertinya siswa-siswa disana tidak ingin aku kembali. Mereka selalu saja membuatku terlibat masalah hingga sekarang aku terancam di keluarkan dari sekolah dan hal itu benar terjadi aku dikeluarkan dari sekolah." kata Natasya panjang lebar. 

"Jadi kamu yang diceritakan Zain waktu itu,  kalau teman sekelasnya dikeluarkan dari sekolah, karena ketahuan mencuri uang sekolah." 

"Iya, tetapi itu bukan diriku. Aku hanya difitnah oleh orang."

"Sudah bersabarlah, kamu tidak sendiri kok. Aku akan selalu ada untukmu." kata Zian sambil menatap mata gadis itu sedalam-dalamnya. 

Natasya lalu menceritakan sebab danau biru yang dikatakan angker oleh orang. Alasannya adalah karena perusahaan menginginkan tempat, tetapi sang pemilik tidak ingin menjual tanahnya segala cara yang dilakukan pihak perusahaan agar mereka mau menjual tanahnya dan sampai akhirnya insiden itu terjadi yaitu orang suruhan dari perusahaan membunuh pemilik tanah dan merebutnya secara paksa bahkan ia membuat surat jual beli palsu sehingga keluarga orang itu tidak menuntutnya dan mereka berpikir kalau kejadian yang menimpa keluarganya itu murni kecelakaan yaitu tenggelam di danau biru bersama uang hasil jual tanah. Tiba-tiba pemilik perusahaan itu didatangi oleh arwah pemilik tanah yang ingin mengambil tanah. Kejadian itu terus terjadi setiap malam membuat pemilik perusahaan menjadi gila hingga mati. Kemudian terungkap sudah kebenarannya , tetapi berita yang beredar di khalayak ramai berbeda, diberitakan kalau pemilik perusahaan itu mati, karena kutukan dari hutan itu bahkan ada yang beranggapan kalau pemilik perusahaan itu menjadi tumbal danau biru. Makanya tidak ada yang berani kesana. Natasya sering ke tempat itu setiap kali merasa sedih. 

"Jadi kamu yang dilihat oleh Zain waktu itu."

"Aku tidak tahu kalau Zain melihatku."

Zian tertawa terbahak-bahak mengingat hal itu, karena cerita tersebut Ziad harus sampai repot-repot nginap dirumahnya karena sangat ketakutan akan hantu. 

"Kamu kenapa ketawa? "

"Aku ingat temanku Ziad,  gara-gara kamu muncul dan terlihat oleh Zain. Ziad jadi membayangkan hal-hal mistis ditambah ibuku yang mengatakan kalau menjelang senja itu dedemit suka berkeliaran dan Ziad berpikir kalau kamulah dedemit yang muncul itu, ia sampai menginap dirumahku karena sangat takut." kata Zain cerita panjang lebar. 

"Benarkah."

"Iya."

Keduanya tertawa lepas satu sama lain dan masalah yang ada pada Natasya sepertinya menghilang bak ditiup angin dan teka teki yang selama ini menjalar di kepala Zian akhirnya bisa terjawab dengan tuntas bahkan membawanya kepada sang pujaan hatinya yang selalu ia nanti. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status