Mag-log inDUUG!Tanah bergetar keras akibat hentakan kaki Aisha.Retakan panjang menjalar dari bawah kaki Serena. Tanah di bawah perempuan itu amblas.Pasir yang sudah gembur akibat hantaman berulang runtuh, menelan kedua kaki Serena sampai ke paha. Ia menjerit. Konsentrasinya pecah.Payung besi yang melesat ke arah Aksa oleng di udara, lalu menghunjam pasir sejengkal dari kepalanya.BRAK!Aksa menatap rangka besi yang tertancap di samping wajahnya. Napasnya tertahan."Hampir saja, Bocah," gumam Hor'laq.Lalu Aksa mengerti. Sepanjang pertarungan, Aisha selalu menghantam tanah di sekitar tempat yang sama. Menggiring Serena, sedikit demi sedikit, ke satu titik.Sedikit lagi, Aksa. Tahan sedikit lagi.Jadi itu maksudnya.Aisha melesat ke arah Serena dengan pedang terhunus."Sudah selesai, ular betina."Serena meronta, berusaha menarik kakinya dari pasir. Gagal. Tangannya merogoh balik pakaian, tetapi Aisha sudah terlalu dekat.SRAAAK!Kain tenda di sisi kanan mereka robek dari dalam.Sesosok tubuh
"Hor'laq... apa yang terjadi?"Katar di tangan Aksa bergetar hebat. Guratannya menyala merah, sementara getaran dari bilahnya menjalar hingga ke lengan."Maaf, Bocah. Aku terpaksa menyerap Prana dari ledakan tadi. Kalau tidak, kau bisa terluka lebih parah."Aksa menatap bilah katar. "Jadi, senjata ini bisa menyerap Prana?""Nanti dulu, Bocah!" bentak Hor'laq. "Prana yang kuserap terlalu banyak. Kalau dibiarkan, Jalur Pranamu bisa rusak!""Terus aku harus bagaimana?""Sebagian sudah kugunakan untuk menyembuhkan lukamu," sahut Zhar'ak.Cincin di jarinya terus berpendar kehijauan.Aksa melirik bahu kirinya, lalu sisi tubuh yang tadi terserempet belati. Luka bakar dan sayatan di sana sudah menutup. Rasa sakitnya pun menghilang."Tapi masih ada sisanya," lanjut Zhar'ak. "Kau harus segera mengendalikannya."Tiba-tiba, Prana yang mendesak di lengan kanan Aksa berbelok. Guratan Rajah Kecepatan di punggung tangan kanannya menyala terang. Cahaya itu menjalar ke tangan kiri, lalu turun hingga ke
Ledakan itu mengguncang pasir di depannya. Hempasannya menghantam tubuh Aksa dan melemparkannya ke belakang. Telinganya berdenging, sementara pasir panas menyengat wajahnya.“Hor’laq! Cambuk itu bisa meledak!” serunya dalam pikirannya.“Dia pengguna Rajah Muatan Ledak! Jangan sampai ujung cambuk itu menyentuh tubuhmu!” balas Hor’laq.Aksa mendarat dengan satu lutut di pasir. Di depannya, tanah bekas ledakan menghitam. Asap tipis mengepul dari lubang dangkal yang masih menyisakan panas. Matanya melebar. Kalau tadi ia terlambat selangkah saja, mungkin tubuhnya sudah mengalami nasib yang sama.Ia bangkit dan kembali menghadap Saleh, yang sedang memutar cambuk sambil menyeringai.“Kenapa? Kaget?”Aksa mengeratkan genggaman pada katar. Ia bergeser perlahan ke samping, matanya tak lepas dari ujung cambuk itu.Di belakang Saleh, Aksa melihat Aisha masih bertarung sengit melawan Serena. Tubuhnya penuh luka, tetapi Rajah Penyembuh miliknya terus bekerja, membuat luka-luka itu tidak terlalu men
Desingan tajam itu semakin dekat. Aksa refleks memiringkan tubuhnya.TASSS!Sesuatu menyambar lewat di depan wajahnya, begitu dekat hingga ia merasakan embusan anginnya. Ujungnya menghantam tanah tepat di tempat ia berdiri tadi.Aksa lalu melompat mundur berusaha menjaga jarak.“Aksa!” seru Aisha dari kejauhan.“Aku tidak apa-apa!” jawab Aksa tanpa mengalihkan pandangan dari seorang pria yang tiba-tiba muncul.“Saleh! Lama kali kau datang!” teriak perempuan rajah racun itu.Aksa menoleh ke pria bernama Saleh itu. Berbadan sedang dengan kulit sama hitamnya dengan pria yang mereka ikat dalam tenda tadi.“Maaf, Serena. Perutku mules dari tadi.” Jawabnya sambil mengelus perutnya.“Huh! Kebiasaanmu ga mencuci tangan sebelum makan belum berubah juga ya.”Pria itu terkekeh pelan lalu mengamati Aksa.“Siapa dia?” tanyanya heran. “Berani sekali menyerang perkemahan kita.”“Entahlah.” Perempuan yang dipanggil Serena itu lalu berjalan mendekati pria itu, “Dia datang untuk membebaskan budak hina
Aksa mengalirkan Prana ke kedua kakinya dan melesat ke bawah payung besi yang masih berputar. Ia merunduk rendah, bertumpu pada kedua tangan, lalu membalikkan tubuhnya ke belakang dalam satu gerakan salto. Ujung kakinya menghantam payung itu dari bawah dengan seluruh tenaga.DUAAK!Payung itu terpental ke atas, hanya sejengkal dari kepala Aisha. Aksa mendarat dengan kedua kaki dan langsung berdiri tegak.Belum sempat Aksa mengatur napas, jarum-jarum kecil melesat dari tangan Serena ke berbagai titik di tubuhnya dan tubuh Aisha. Aisha mengayunkan pedangnya dan menepis semuanya.Tring! Tring! Tring!Jarum-jarum itu terpental ke segala arah.Di saat yang sama, Aksa kembali mengerahkan Rajah Kecepatan. Tubuhnya melesat ke belakang Serena, begitu cepat hingga perempuan itu baru menyadarinya ketika ia sudah berdiri di sana. Mata Serena melebar. Aksa langsung menusukkan katarnya ke punggung lawannya.Serena memutar tubuh. Tusukan itu meleset dan hanya menggores bahunya.“Ugh!”Tubuh Serena t
Bayangan di balik kain tenda itu semakin jelas. Aksa segera menoleh kepada budak perempuan itu. Ia menunjuk sumpalan kain di dekat kakinya, lalu memberi isyarat agar perempuan itu memasangnya kembali. Tanpa membuang waktu, perempuan itu menyumpal mulutnya dan menaruh kembali kedua tangannya di belakang. Aksa mengacungkan ibu jempol kepadanya, kemudian merapat ke sisi pintu tenda. Langkah kaki itu semakin dekat. Aksa menahan napas, menunggu orang itu masuk. Tak lama kemudian, kain tenda itu tersibak. Damian muncul sambil membawa beberapa barang. Saat ia hendak menghampiri budak perempuan itu, Aksa langsung menghantam tengkuknya dengan gagang Katar. Barang-barang yang dibawanya terlepas dari tangan. Tubuh Damian terhuyung sebelum akhirnya ambruk ke tanah. Aksa segera berjongkok di samping Damian yang tak sadarkan diri, lalu menoleh kepada perempuan itu. “Tolong ambilkan tali itu. Bantu aku mengikatnya,” bisik Aksa sambil menunjuk seutas tali di samping kotak yang berisi ber







