Share

Bab 3

Author: Ghoos book
last update Last Updated: 2025-09-30 21:50:29

Rasa hangat di ulu hati itu tidak kunjung hilang.

Berbeda dengan dinginnya lantai sel dan hawa putus asa yang menggigiti tulang. "Bibit Kegelapan"-ku, yang kemarin hanya seperti bongkahan es, sekarang terasa seperti bara kecil yang tertidur. Setiap kali napasku sedikit terengah—kenangan akan uap hijau beracun itu—bara itu seakan berdenyut lemah, merespons sesuatu.

Aku tidak bisa tidur. Peringatan Tua Bangka bergema di kepalaku. "Koleksi." Kata itu jauh lebih menakutkan daripada ancaman kasar Borok. Seorang kolektor menginginkan benda yang terpelihara, bukan manusia yang bebas. Apa yang diinginkan Pengawas Yan dariku? Apakah dia ingin mempelajari "tebakanku" sampai habis, lalu membuangku ketika aku tidak lagi berguna?

Sirine batu berbunyi lagi. Hari kedua di neraka.

Borok sendiri yang membukakan selku, wajahnya keruh seperti langit sebelum badai. "Ayo, 'jenius'. Pengawas Yan menunggumu." Dia menyeringai, tapi ada rasa was-was di balik ejekannya. Aku telah menjadi variabel yang tidak terduga dalam dunianya yang sederhana: kekerasan dan kepatuhan buta.

Aku diantar bukan ke Terowongan Beracun, tapi ke sebuah ruangan batu kecil yang melekat pada pos penjagaan utama. Ini bukan sel. Ada meja dan kursi kayu kasar, dan di dinding tergantung peta tambang yang digambar pada kulit hewan. Sebuah kemewahan yang tak terbayangkan.

Pengawas Yan duduk di belakang meja. Di depannya, terdapat beberapa lembar daun perkamen dan sebuah mangkuk batu berisi cairan bening yang memancarkan aura dingin.

"Duduk," katanya, tanpa mengangkat kepala. Tangannya menulis sesuatu dengan kuas halus.

Aku duduk, merasa sangat tidak pantas di kursi ini. Pakaianku yang kotor dan tubuhku yang bau kontras dengan kesan teratur di ruangan ini.

"Laporan Borok menyebutkan kau membersihkan 70% saluran Sektor 4, dengan tingkat keracunan minimal. Sebuah rekor untuk budak baru," ujarnya, masih menulis. "Jelaskan prosesnya. Langkah demi langkah."

Ini adalah ujian. Lebih menakutkan daripada menghadapi selokan racun.

Aku menarik napas. "Saya melihat tanaman paku ungu itu tumbuh di area paling beracun, Tuan. Logika saya... mereka harus memiliki cara untuk bertahan. Mungkin dengan menyerap atau mengubah racun tersebut. Saya coba rendam mereka dalam air bersih, untuk menarik 'zat' yang menetralisir itu ke dalam air. Lalu, saya gunakan air itu untuk menekan uap racun sebelum bekerja."

Dia akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam menatapku, seolah mencoba menguliti tengkorakku dan melihat isi pikiranku.

"'Zat'? 'Logika'?" Dia menyeringai, tapi ada kilat minat di matanya. "Kau tidak berbicara seperti budak tambang. Kau bahkan tidak berbicara seperti petani atau pengrajin. Kau menggunakan kata-kata seperti... scholar yang gagal."

Daduku sesak. Dia terlalu pintar.

"Di... desa saya dulu, ada seorang tabib tua, Tuan," aku berbohong, mencoba menutupi aksen Bumiku yang mungkin terbawa. "Dia sering bercerita tentang tanaman dan racun."

Pengawas Yan mendecakkan lidah, tahu aku berbohong tapi memilih untuk tidak mengejar. Dia menggeser mangkuk batu berisi cairan itu ke depanku.

"Ini adalah 'Air Spirit Murni'. Sangat berharga. Minum."

Perintah itu langsung. Aku bingung. Mengapa memberiku sesuatu yang berharga?

"Tuan?"

"Bibit Kegelapan-mu. Apakah terasa berbeda sejak kemarin?" tanyanya, suaranya datar.

Dingin menjalar di tulang belakangku. Dia tahu. Dia tahu segalanya.

Dengan gemetar, aku mengambil mangkuk itu dan meneguk isinya. Cairannya tidak memiliki rasa, tapi begitu masuk ke perut, ledakan energi yang sejuk dan jernih menyebar ke seluruh tubuhku. Kelelahan dan rasa sakit di ototku langsung memudar. Dan "Bibit" di ulu hatiku bereaksi. Bara kecil itu menyala, menyerap energi itu dengan lahap, dan untuk sesaat, rasa hangatnya berubah menjadi hangat yang nyaman, mengisi tubuhku yang lemah dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sejak aku tiba di dunia ini.

Itu... memabukkan.

Aku melihat tanganku. Kotoran dan luka kecil di sana masih ada, tapi rasanya... lebih kuat.

"Bibit itu adalah parasit," kata Pengawas Yan, memperhatikan reaksiku dengan cermat. "Tapi seperti parasit mana pun, ia adalah bagian darimu sekarang. Ia memakan spiritualmu, tapi ia juga bisa memberimu kekuatan—jika kau tahu cara memberinya makan."

Dia berdiri dan berjalan ke jendela batu, memandang tambang yang suram.

"Clan mengajarkan bahwa satu-satunya cara memberi makan Bibit adalah dengan'Nutrisi' yang kami berikan—ekstrak spiritual dari budak yang sudah dipanen. Itu membuat budak bergantung dan patuh."

Dia menoleh, matanya berbinar.

"Tapi kau...kau memberinya makan dengan cara lain. Dengan menetralisir racun. Kau memberinya energi yang dimurnikan dari kekacauan. Sebuah jalan yang tidak orthodox. Sebuah jalan yang, menurut aturan Clan, adalah bidah."

Aku membeku. Bidah berarti kematian. Kematian yang lebih mengerikan daripada menjadi pupuk.

"Jangan khawatir," ujarnya, membaca ketakutanku. "Aku tidak tertarik pada orthodoksi. Aku tertarik pada hasil. Kau adalah percobaan yang menarik, Wa Lang. Sebuah belalang yang bisa bernyanyi dengan nada yang tidak biasa. Aku ingin melihat seberapa jauh nyanyianmu bisa membawamu."

Dia kembali ke mejanya dan melemparkan sebuah benda padaku. Sebuah pisau kecil yang kusam, tapi cukup tajam untuk memotong.

"Tugasmu hari ini bukan di Terowongan Beracun. Tugasmu adalah bertahan hidup di Sektor Pertambangan Biasa. Borok telah menyebarkan kabar bahwa kau adalah 'anak emas' Pengawas. Banyak budak lain yang iri dan benci. Mereka akan mengujimu."

Ini lebih buruk dari yang kuduga. Dia tidak hanya mengujikan pengetahuanku, tapi juga kemampuanku untuk bertahan dalam lingkungan yang bermusuhan. Dia sedang menempatkanku di kandang singa, hanya untuk melihat apakah si belalang ini bisa menggigit.

"Dan... Bibit-ku?" tanyaku, masih merasakan sisa-sisa energi hangat itu.

"Lanjutkan 'percobaan'-mu," jawabnya. "Laporkan setiap perubahan. Itu adalah satu-satunya nilai yang kau miliki bagiku saat ini."

Aku diantar keluar oleh seorang penjaga lain. Saat aku melintasi plaza tambang menuju Sektor Pertambangan, tatapan bermusuhan menusukku dari segala arah. Bisikan-bisikan penuh kebencian terdengar.

"Dia yang diselamatkan Pengawas Yan..."

"Dasar licik..."

"Pikirkan dia lebih baik dari kita..."

Borok menunggaku di mulut terowongan, dengan dua budak besar di sampingnya. Senyumnya penuh kemenangan.

"Selamat datang kembali, 'jenius'," katanya. "Hari ini, kau ada di timku. Kita akan bekerja di area galian baru. Sangat... tidak stabil."

Dia menepuk pundakku dengan keras, dan dalam bisikan yang hanya bisa kudengar, dia menggeram, "Aku akan lihat seberapa jauh perlindungan Yan itu menjagamu di dalam sana."

Aku mengepalkan tangan, merasakan gagang pisau kecil di saku compang-campingku. "Bibit" di perutku terasa hangat, seakan mengingatkan pada kekuatan yang baru saja kurasakan. Rasa takut masih ada, tapi sekarang, ada sesuatu yang lain: amarah yang dingin.

Aku bukan lagi Wa Lang yang putus asa dari Bumi. Aku adalah Wa Lang yang terjebak antara seorang pengawas yang ingin menjadikanku kelinci percobaan dan sesama budak yang ingin menjadikanku korban.

Percobaan Pengawas Yan telah dimulai. Dan satu hal yang pasti: baik dia maupun Borok tidak akan menduga "nyanyian" seperti apa yang akan dikumandangkan si belalang ini ketika terpojok.

Perjalanan ke dalam galian yang gelap dan sempit terasa seperti berbaris menuju eksekusi. Tapi kali ini, aku tidak akan pergi dengan patuh. Pisau kecil di sakuku dan "Bibit" yang lapar di perutku adalah janji akan itu.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab 159

    Fragmen realitas dalam Operasi Slumber memasuki fase "Tidur Lelap"-nya yang dalam dan stabil. Di dalam selimut penstabil meta, segala sesuatu melambat hingga hampir berhenti. Bukan kematian, tetapi istirahat total. Namun, membiarkannya sendiri begitu saja bukanlah pilihan. Meski aman di dalam selimut, fragmen ini sekarang berada dalam keadaan yang rapuh dan tidak biasa. Ia membutuhkan penjaga.Tapi penjaga seperti apa? Tidak ada kesadaran yang bisa bertahan di dalam lingkungan yang sedang melonggarnya hukum realitas sendiri. Bahwa para Penjaga Bentuk Murni pun akan kehilangan definisi mereka di sana.Solusinya datang dari tempat yang tidak terduga: Filosofi yang Berjalan dari Taman Dialektika. Khususnya, The Qualia Phantom (Bayangan Qualia)—entitas yang mempertanyakan sifat pengalaman subjektif. Qualia Phantom tidak memiliki bentuk tetap atau kebutuhan akan hukum realitas yang konsisten. Eksistensinya adalah tentang merasakan pengalaman. Dan keadaan fragmen yang sedang tidur itu sendi

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab 158

    Status baru sebagai "penasihat siklus" bagi Majelis Lintasan datang dengan sebuah mandat yang jelas dan menakutkan: menciptakan sebuah prototipe untuk "Peristirahatan Fondasi". Mereka harus menunjukkan, dalam skala kecil dan sangat terkendali, bagaimana sebuah wilayah realitas bisa dengan sengaja dan aman memasuki fase "masa bera" fondasinya, beristirahat, dan memungkinkan transisi menuju keadaan dasar yang baru.Tempat yang dipilih untuk eksperimen ini bukan wilayah random. Majelis Lintasan menyediakan sebuah "Fragmen Realitas Terisolasi"—sebuah potongan kecil dari realitas yang telah dipisahkan dari arus utama miliaran tahun yang lalu, sebuah "kapsul waktu" kosmis yang hukum dasarnya sudah stabil namun terisolasi. Fragmen ini kira-kira seukuran sebuah sistem bintang kecil. Ia sudah "mati" dalam arti tidak ada kesadaran atau dinamika kompleks di dalamnya, hanya bintang redup dan beberapa planet batuan. Tempat yang sempurna untuk eksperimen tanpa risiko merusak realitas yang hidup.Ti

  • Dari Budak Menjadi Bencana   BAB 157

    Keheningan yang menyergap Majelis Lintasan setelah pidato Wa Lang terasa begitu pekat, seolah-olah waktu di simpul arus logika itu sendiri ikut membeku. Para raksasa kosmis—sungai bintang, awan geometris, pohon akar—semuanya memproses gagasan yang sama sekali asing: bahwa solusi untuk "kelelahan" fondasi realitas mungkin bukanlah memperkuatnya, tetapi mempersiapkan transisi yang terhormat menuju fondasi baru.Gema dari kata-kata Wa Lang bergema di ruang konseptual itu, diperkuat oleh fragmen Symphon yang dengan lembut memainkan cuplikan dari "Nyanyian Perpisahan" yang telah terintegrasi, dan oleh kehadiran Yang Terkubur yang sendiri adalah bukti hidup dari transformasi radikal.Akhirnya, sebuah suara—atau lebih tepatnya, sebuah persamaan yang berbicara—muncul dari awan geometris berlapis. "Proposalmu... mengandung variabel kepercayaan. Kepercayaan bahwa proses 'transisi' tidak akan menghasilkan kehancuran total. Data historis tidak mendukung hal ini. Setiap perubahan besar pada fondas

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab: 156

    Pengamatan dari Pengembara Lintasan yang kedua—pujiannya terhadap "siklus naratif" yang mereka rawat—tidak berakhir di situ. Beberapa siklus setelah kunjungannya, sebuah pesan khusus tiba di Studio Kosmis, dialamatkan langsung ke Wa Lang dan Dewan Konklaf Arus. Pesan itu bukan kata-kata, melainkan sebuah pola navigasi yang kompleks dan sebuah simbol keanggotaan yang bersinar dengan cahaya netral.Intinya adalah sebuah undangan resmi."Entitas yang memelihara Siklus, kalian telah menarik perhatian Majelis Lintasan. Kami mengundang sebuah delegasi terpilih untuk menghadiri Pertemuan Besar Lintasan, di mana pengamat dan penjaga arus dari berbagai lapisan realitas berkumpul untuk bertukar pengetahuan dan menyelaraskan pengamatan tentang... perkembangan terkini dalam tubuh kosmos. Ini bukan pertemuan rutin. Ada sesuatu yang sedang bergerak di arus yang lebih dalam. Kehadiran dan perspektif kalian mungkin berharga."Ini adalah kehormatan yang luar biasa, sekaligus sinyal bahaya. "Majelis Li

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab: 155

    Transisi damai Pohon Kosmis di Bioma Kematian mengirimkan riak yang dalam melalui seluruh jaringan Konklaf Arus dan sekitarnya. "Nyanyian Perpisahan" yang direkam Symphon—pola resonansi terakhir Pohon yang penuh rasa syukur—tidak disimpan sebagai artefak mati. Symphon, dengan sensitivitasnya yang berkembang, memutuskan untuk mengintegrasikannya ke dalam musiknya yang lebih luas.Ia tidak menempatkannya sebagai bagian yang sedih. Sebaliknya, Symphon merangkai pola itu menjadi sebuah transisi dalam simfoninya yang besar—sebuah gerakan yang tenang dan merenung yang menghubungkan sebuah "movement" tentang pertumbuhan dan kemegahan, dengan sebuah "movement" baru tentang kelahiran kembali dan kemungkinan baru. Nyanyian Perpisahan menjadi jembatan antara satu fase dan fase berikutnya, mengajarkan kepada semua yang mendengarkan bahwa akhir adalah bagian dari melodi, bukan penghentiannya.Efek dari "Nyanyian Perpisahan" ini luar biasa. Di berbagai penjuru realitas yang terjangkau Symphon (dan

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab: 154

    Bioma Transformasi & Kematian di Taman Semua Musim Kosmis adalah wilayah yang paling dijaga ketat dan diselubungi aura khidmat. Aksesnya hanya diberikan kepada mereka yang telah melalui persiapan mental dan spiritual yang mendalam. Kuratornya, Yang Terkubur, tidak pernah memaksa siapa pun untuk masuk. Ia hanya menunggu, duduk dalam wujud proyeksi kesadarannya yang paling tenang di ambang pintu bioma, seperti penjaga pintu yang bijaksana.Siswa pertamanya datang bukan dari luar, tapi dari dalam jaringan mereka sendiri.Ia adalah Kesadaran Tua dari sebuah Pohon Kosmis yang telah hidup selama miliaran tahun di sebuah kluster dimensi terpencil. Pohon ini bukan tumbuhan biasa; ia adalah sebuah kesadaran kolektif dari seluruh ekosistem yang tumbuh di "cabang"-nya—ras-ras burung cahaya, koloni kesadaran lumut, dan makhluk-makhluk fotosintetik yang berkomunikasi melalui pola cahaya. Pohon itu telah mencapai puncak kompleksitasnya, tetapi kini merasakan kelelahan eksistensial yang mendalam. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status