Share

Bab 6

Author: Susu Cabai
last update publish date: 2026-07-28 14:59:16

"Kakak! Awas!" teriak Kendra sambil melemparkan piring.

Julia berbalik dengan cepat lalu menahan tangan kang Tarnet menggunakan kaki.

KRASH!

Piring pecah saat menghantam kepala kang Tarnet.

Junus menyerang dari belakang tapi Julia berhasil menangkap tangan Junus dan membanting ke arah kang Tarnet hingga bertabrakan.

"Beraninya nyerang diam-diam!"

Julia yang sudah sangat geram langsung mengambil loyang dan menghantamkan ke arah kepala kang Tarnet dan Junus berulangkali.

PLAK! PLAK! PLAK!

Suara nyaring bersahutan dengan teriakan kesakitan dari Junus dan kang Tarnet.

Kendra mengambil golok dan linggis tanpa memperdulikan Julia yang masih menghajar dua preman itu.

"Hiyat!" Julia lompat tinggi-tinggi lalu memberikan pukulan terakhir ke arah kang Tarnet.

Mata kang Tarnet berputar dengan wajah kebiruan.

"Huh, puas rasanya," kata Julia sambil menyeka kening.

"Ampun... Jangan pukul lagi. Aku punya istri tiga dan 10 anak. Tidak ada yang tanggung hidup mereka," mohon Kang Tarnet.

“Buset! Muka modelan gini istrinya banyak juga,” ejek Julia meremehkan.

"Untuk apa basa-basi, Kak? lebih baik bunuh saja!" ujar Kendra mengayunkan golok ke arah kang Tarnet.

"AKH!"

Suasana di ruang dapur menjadi hening setelah teriakan melengking seperti perempuan histeris keluar dari pita suara kang Tarnet. Bahkan Kendra dan Julia sampai melongo tak percaya.

"Muka sangar, suara Taylor Swift," kata Julia karena kaget mendengar suara lain kang Tarnet.

Wajah kang Tarnet tertunduk sambil menutup mulut menggunakan tangannya. Hancurlah sudah harga dirinya sebagai preman.

Julia memberikan kode mata agar Kendra mundur sebelum ia maju.

“Berdiri!" tegas Julia sambil menjambak rambut kang Tarnet.

Kang Tarnet yang sudah tak berdaya tetap berdiri dengan kaki terlihat gemetaran.

“Di antara kalian berdua pasti kamu ketuanya, kan? Siapa namamu dan nama temanmu itu?” tanya Julia.

“I... Iya, Mbak. Na... Namaku Ta... Ta—”

“Ngomong apaan dah?! I i, na na na, ta ta ta. Ngomong yang jelas!” Julia menggoyangkan jambakannya ke kiri dan ke kanan.

Kang Tarnet hanya pasrah menahan rasa sakit di akar rambutnya.

“Iya, Mbak. Namaku Tarnet, biasa dipanggil Kang Tarnet. Dia namanya Junus,” jawab kang Tarnet dengan cepat.

“Oh. Ternyata Kang Tarnet dan Junus.”

Julia ingin menjambak rambut Junus.Tapi, saat menarik penutup kepala, malah menunjukkan kepala yang botak plontos.

“Botak rupanya kau,” lanjut Julia.

Junus tersenyum sambil mengangguk.

“Iya, Mbak.”

“Apa senyam senyum? Berdiri juga kau!” perintah Julia sambil mencengkram leher baju Junus.

“Aku tahu siapa yang nyuruh kalian berdua. Nanti kalian sampaikan pesanku ke Hans itu. Jangan sampai aku lihat batang hidungnya. Karena bakal aku patahin tulang dan bengkokin lehernya itu. Ngerti enggak?!” tanya Julia setengah membentak.

“Iya, Mbak. Kami pasti akan sampaikan ke Bos Hans. Kalau begitu kamu pergi dulu, Mbak,” ujar Kang Tarnet melangkah pergi walau rambutnya sedang dijambak.

“Eee enak saja.”

Julia menarik rambut kang Tarnet lebih kuat agar balik ke samping dirinya.

Kang Tarnet memejamkan mata, rasa perih di rambutnya sampai membuat kepalanya nyut-nyutan.

“Kalian sudah mecahin gelas. Ganggu waktu tidur cantikku, lalu mau pergi gitu aja tanpa ganti rugi? Mimpi!” tutur Julia menegaskan kata 'mimpi' ke arah wajah Kang Tarnet hingga terkena semburan air liur.

Tapi, kang Tarnet tidak berani melawan dan bahkan sekedar menyeka wajah.

“Ganti rugi?” tanya Kang Tarnet merasa ada yang tidak beres.

Julia mengangguk sambil tersenyum tulus.

***

Beberapa saat kemudian, Kang Tarnet hanya bisa pasrah. Selain isi dompetnya dikuras semua, HP seharga lima juta yang baru dibeli dan jam tangan kesayangannya juga diambil.

Hanya ponsel milik Junus yang tidak diambil karena merk-nya hp di bawah sejuta.

“Bagus HP ini, Kak. Sepertinya HP mahal,” ucap Kendra seraya memeriksa spesifikasi alat canggih tersebut.

“Buat kamu saja. Kan kamu pengen punya HP, kan?” tawar Julia karena HP lama Kendra dan miliknya sudah dijual untuk modal bikin gerobak cilok.

“Terima kasih, Kak.” Kendra tersenyum lebar.

“Sama-sama. Fotoin aku,” pinta Julia.

Kendra mengangguk dan menekan aplikasi kamera.

“Buka maskermu!” tegas Julia yang membuat Kang Tarnet membuka maskernya.

Lalu Julia menyilangkan kaki sambil tersenyum manis dengan tangan yang masih menjambak dan mencengkram kedua preman itu.

CEKREK! CEKREK! CEKREK!

Kendra memotret beberapa kali.

“Wih! Lumayan juga hasil kamera malamnya,” ucap Kendra saat memeriksa hasil foto.

“Sana pergi!” usir Julia.

"Golokku?" tanya kang Tarnet ingin mengambil golok miliknya.

"Nih golok!" Julia menunjukkan tinjunya ke arah kang Tarnet.

Kang Tarnet hanya tersenyum kecut lalu berjalan mundur. Namun, sesekali ia menoleh ke arah ponsel dan jam tangan yang ada di tangan anak SMA itu. Wajahnya memelas dan merasa sesak.

Berbanding terbalik dengan Julia dan Kendra yang tersenyum senang.

“Lumayan juga tuh preman-preman. Duitnya banyak.” Julia menghitung beberapa lembar uang berbeda pecahan itu yang totalnya empat ratus tujuh puluh satu ribu.

“Kan kamu sudah punya ponsel. Jadi, jam tangan ini, milikku,” ucap Julia mengambil jam tangan tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 12

    "Kemarin murung sekarang tidak jualan. Dia sebenarnya kenapa? Bisa gawat kalau dia tidak mau jualan lagi," monolog Hans dalam hati. Hans menjadi melamun karena masalah ini. Jika Julia benar-benar berhenti jualan, maka rencananya mendapatkan resep cilok itu akan gagal sepenuhnya. "Pak Hans... Pak Hans," panggil manajer Keina. "Oh, iya. Maaf." Hans segera memperbaiki cara duduknya dan berusaha kembali fokus. Ia terlalu memikirkan Julia sampai lupa kalau sedang berada dalam meeting perusahaan. "Anda baik-baik saja, Pak Hans?" tanya manajer Keina. "Ya-ya, it's okay. Lanjutkan saja," ucap Hans tetap bersikap professional. Beberapa orang manajer senior saling memandang. Sikap tidak fokus CEO mereka hari ini sangat tidak lazim dengan Hans yang mereka kenal sebagai CEO yang tegas dan teliti. "Begini, Pak Hans. Dari beberapa data dan masukan dari beberapa meeting sebelumnya, saya menyimpulkan perlunya menurunkan harga pada brand yang telah mengalami penurunan minat dan p

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 11

    Kini Julia duduk di depan belasan keluarga Bang Mamat dan hanya didampingi oleh Kendra. "Aku akan terima lamaran dengan dua syarat," ujar Julia.Ia tidak dapat menghindari pertunangan ini. Tapi, ia memilih memberikan syarat. Tapi, bagi bang Mamat sebuah syarat tidak berarti apa-apa asal dapat memiliki Julia."Katakan saja, Julia. Abang pasti akan penuhi," jawab bang Mamat dengan percaya diri. "Pertama, aku tidak suka dihalang-halangi kalau mau kerja. Kedua, tanggal pernikahan diundur sampai Kendra wisuda. Kecuali Bang Mamat berjanji menanggung biaya kuliah Kendra maka pertunangan bisa dipercepat sampai tahun depan." Julia menjadi sedikit murung di kata terakhirnya. Sebenarnya Julia hanya menganggap bang Mamat sebagai abangnya dan tidak lebih. Tapi, ia tidak dapat menolak pertunangan ini. "Tanggung biaya kuliah Kendra?" tanya bang Mamat merasa agak berat. "Kenapa, Bang? Enggak sanggup?" Kendra balik bertanya. Bang Mamat tampak berpikir sejenak. menunggu hingga Kendra wisuda itu

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 10

    "Empat juta sembilan ratus, lima juta. Sudah lima juta aja nih!" Julia meletakkan keuntungan jualannya itu di dompet. "Di bank aku sudah punya simpanan dua ratus sepuluh juta. Seharusnya sudah cukup buat perluas usahaku dan simpanan buat modal Kendra lanjut kuliah." Bibir Julia merekah lebar. Usahanya hampir dua tahun akhirnya berbuah manis. "Tapi, aku harus nambah gerobak cilok lagi atau buka tempat permanen?" monolonya sendiri sambil berpikir. Namun fokus Julia segera buyar oleh teriakan Kendra dari luar rumah. "Kak, kakak!" teriak Kendra sambil lari masuk. Alis Julia mengerut karena kesal. "Bisa enggak usah teriak-teriak?! Sakit kupingku!" Omelan Julia tidak terlalu digubris karena Kendra terlalu panik. "Gawat, Kak!" kata Kendra. "Apa yang gawat?" tanya Julia santai sambil memasukkan dompetnya ke saku. "Aku dengar Bang Mamat mau melamar kakak!" ungkap Kendra. Sesaat tubuh Julia membeku sebelum menggerakkan kepalanya menatap Kendra. "What?!" kata J

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 9

    Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya. Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua pr

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 8

    “Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 7

    Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status