LOGINHans seorang CEO yang terpaksa menyamar sebagai mahasiswa yang meneliti tentang cilok agar mendapatkan resep cilok milik Julia. Tapi, Hans tidak sadar jika ia mulai jatuh cinta pada Julia.
View More"Don't think Papa di luar negeri tidak bisa pantau perusahaan. Jika you tidak mampu, jangan salahkan Papa kalau posisimu sebagai CEO digantikan oleh adikmu," ancam pak Burhan dengan nada datar.
Hans terdiam, berdiri menatap dinding berwarna grey. Perusahaan beberapa waktu ini memang mengalami stagnan. Bahkan ada kecenderungan klien bosan pada produk lama. Memikirkan semua itu menbuat Hans memijat kepalanya sendiri dengan tangan kiri. "Tapi, Pa–" "No, Hans. Papi tidak menerima kata tapi. Coba kamu lihat Hana, setiap perusahaan yang dipimpinnya selalu berkembang pesat tanpa ada kata tapi. Papa balik dari Amerika bulan depan. Ingat Hans, Papa tidak akan mentolerir satu persen pun kerugian," potong pak Burhan sebelum mematikan telepon. "Tidak bisa begitu dong, Pa. Papa! Hallo, Pa! Ah!" Hans mengayunkan tangan kanan yang memegang ponsel, rasanya ingin membanting ponsel mahal miliknya itu. Ia bertolak pinggang sambil menundukkan kepalanya dengan rahang bergerak-gerak. Lalu mendongak lagi ke atas. Tapi hal itu tidak mampu menurunkan rasa panas membara di dada. Hans menuju ke kursi CEO, menendang meja sebelum duduk. 'Coba lihat adekmu itu.', 'Hana memang kebanggaan Papa', 'Hana ikut Papa cari pengalaman di Amerika', Ingatan-ingatan itu membuat deru nafas Hans semakin berat. Brak! Tangannya menggebrak meja. "Lagi-lagi Hana Hana dan Hana. Jelas-jelas aku lebih baik dari Hana. Tapi, kenapa harus dia yang selalu mendapat perhatian Papa?! Aku tidak akan membiarkan Hana merebut milikku lagi!" Ucap Hans penuh tekad dengan sorot mata tajam. Suara ketukan pintu terdengar. "Masuk!" kata Hans mempersilahkan sambil membenarkan posisi duduk dan ekspresinya agar terlihat lebih berwibawa. "Ada apa?" tanya Hans ketika seorang Karyawati masuk membawa beberapa berkas. "Ini, Pak. Ada masalah di income perusahaan bulan ini," ujar karyawati itu dalam posisi berdiri dan tidak berani duduk. Di kepala Hans seketika seperti kabel kusut ketika mendengar kata 'masalah' itu. Tangannya dengan cepat merebut berkas di tangan karyawatinya. "Jelaskan," pintanya dengan nada datar sambil memeriksa berkas. Karyawati itu menelan salivanya sebelum menjelaskan, "beberapa brand milik perusahaan mulai mengalami penurunan minat. Terutama brand jajanan ringan." Berkas tersebut langsung dibanting di atas meja yang membuat karyawati tertunduk dengan nafas tertahan. Hans memejamkan mata sambil memijat pangkal alis menggunakan jari telunjuk dan jempol. "Keluar. Beritahukan manajer yang lain dan kepala divisi untuk meeting mendadak tiga puluh menit lagi," pinta Hans sambil mengayunkan telapak tangannya maju mundur. "Baik, Pak." Karyawati itu maju dan ingin mengambil berkas yang dibawanya tadi. Hans membuka mata kirinya. "Jangan diambil. Cepat keluar sana." Karyawati itu menganggukkan kepalanya lalu buru-buru keluar dari ruangan CEO yang dingin oleh AC. *** Waktu terasa berlalu begitu cepat, hingga kini Hans telah duduk di ruang rapat yang dominan putih. "Ini adalah laporan dari Marketing," ujar Hans sambil menunjukkan penurunan pendapatan melalui pivot table di layar monitor. Dari presentasi tersebut terlihat persentase penurunan terbesar terlihat pada brand jajanan ringan. Pihak manajer saling memandang. Mereka sendiri paham kalau penurunan income akan berdampak pada gaji dan bonus karyawan. "Kalian bisa lihat sendiri. So, ada yang punya idea untuk mengatasi problem ini?" tanya Hans di depan meja lonjong dengan nada datar. Suasana di ruang meeting itu mendadak menjadi sangat hening sampai-sampai suara deru AC terdengar. Lalu, keheningan pecah oleh suara seorang karyawati. "Mohon maaf, Pak Hans. Tapi saran saya perlu lakukan analisis terlebih dahulu. Tanpa data kongkrit, kami kesulitan memberikan masukan," ujar manajer marketing yang memberikan laporan tiga puluh menit lalu. Hans mengangguk mengerti. Lalu, mendorong berkas hingga berhenti di tengah meja rapat. "Aku serahkan pada bidang data. Lakukan analisis data dan analisis bisnis. Deadline satu minggu dan kita akan meeting saat itu di waktu yang sama," ucap Hans sambil berdiri. "Siapapun yang mengusulkan konsep asal bisa dieksekusi perusahaan akan mendapatkan bonus 10 juta. Meeting selesai," tutup Hans sebelum melangkahkan kaki ke pintu keluar. Karena sudah tidak tahan berada di perusahaan, Hans memilih pulang lebih awal. Ia berpikir untuk mencari tempat menenangkan diri. Hans menyetir dengan tangan kiri sebab tangan kanannya sibuk memijat pelipis. Pandangan matanya membuyar di saat menyetir karena memikirkan masalah perusahaan dan tekanan dari ayahnya serta memikirkan solusi agar tetap bertahan. Di tempat yang berdekatan, Julia sedang mendorong gerobak cilok untuk menyebrang jalan. Mata Hans seketika melebar ketika tersadar dan melihat sebuah gerobak jualan melintas kurang dari lima meter di depan mobilnya. PIIIP! Hans sekuat tenaga menginjak rem bersamaan dengan menekan klakson. Ban mobil yang bergesekkan dengan aspal mengeluarkan bunyi menderit dan meninggalkan bekas kehitaman. Karena terlalu terkejut, Julia membeku dengan mata melotot melihat mobil sudah di depan matanya. Sedetik kemudian, tabrakan pun tidak dapat terhindarkan. BRUAK!Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya.Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua proses penjua
“Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam
Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih
"Kakak! Awas!" teriak Kendra sambil melemparkan piring. Julia berbalik dengan cepat lalu menahan tangan kang Tarnet menggunakan kaki. KRASH! Piring pecah saat menghantam kepala kang Tarnet. Junus menyerang dari belakang tapi Julia berhasil menangkap tangan Junus dan membanting ke arah kang Tarnet hingga bertabrakan. "Beraninya nyerang diam-diam!" Julia yang sudah sangat geram langsung mengambil loyang dan menghantamkan ke arah kepala kang Tarnet dan Junus berulangkali. PLAK! PLAK! PLAK! Suara nyaring bersahutan dengan teriakan kesakitan dari Junus dan kang Tarnet. Kendra mengambil golok dan linggis tanpa memperdulikan Julia yang masih menghajar dua preman itu. "Hiyat!" Julia lompat tinggi-tinggi lalu memberikan pukulan terakhir ke arah kang Tarnet. Mata kang Tarnet berputar dengan wajah kebiruan. "Huh, puas rasanya," kata Julia sambil menyeka kening. "Ampun... Jangan pukul lagi. Aku punya istri tiga dan 10 anak. Tidak ada yang tanggung hidup mereka," mohon Kang T
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews