LOGIN"Pergi! Aku enggak mau lihat mukamu lagi!" usir Julia, matanya berkaca-kaca karena menahan sesak di dalam dada. "Dengarkan penjelasanku, Julia," bujuk Hans. "Penjelasan apa?! Penjelasan kalau kamu selama ini mempermainkanku demi mencuri resepku? Kenapa? Kamu sudah dapat resepnya kan? Untuk apa datang lagi? Untuk menertawakan ku? Silakan!" tutur Julia sambil mengusap air matanya yang terus tumpah.
View More"Jangan kira karena Papa di luar negeri Papa tidak mengetahui masalah perusahaan. Jika kamu tidak mampu, jangan salahkan Papa kalau posisimu sebagai CEO digantikan oleh adikmu," ancam pak Burhan dengan nada datar.
Bibir terkunci tidak menemukan alasan untuk membantah. Tubuh kekar Hans runtuh dari dalam. Pendapatan perusahaan stagnan, ada kemungkinan penurunan minat, pergantian trend, dan ah! "Tapi, Pa–" "Tidak, Hans. Papi tidak menerima kata tapi. Belajarlah dari Hana, tanpa kata 'tapi' semua perusahaan yang pernah dipimpinnya selalu ada kemajuan. Ingat Hans, Papa tidak akan mentolerir satu persen pun kerugian," potong pak Burhan sebelum mematikan telepon. "Papa tidak bisa bandingkan aku dengan Hana. Halo! Halo, Pa?! Papa!" Menatap layar ponsel yang menunjukkan sambungan telepon terputus. Hans menghempaskan ponselnya begitu saja ke atas meja kerja. Kenapa selalu membandingkan Hana dengan dirinya? Bahkan sudah ratusan kali Hana dipuji, sedangkan ia? CK! Tok Tok Tok Suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu. Membuat tangan Hans segera bergerak merapikan apa saja yang kusut di tubuhnya. "Masuk!" kata Hans mempersilahkan setelah merasa semua sudah rapi. "Ada apa?" tanya Hans ketika seorang Karyawati masuk membawa beberapa berkas. "Ini, Pak. Ada masalah di income perusahaan bulan ini," ujar karyawati itu dalam posisi berdiri dan tidak berani duduk. Di kepala Hans seketika seperti kabel kusut ketika mendengar kata 'masalah'. Tangannya dengan cepat merebut berkas di tangan Karyawati itu. Mulai membaca isi berkas tersebut. "Jelaskan," pinta Hans dengan nada datar. Karyawati itu menelan salivanya sebelum menjelaskan, "beberapa brand milik perusahaan mulai mengalami penurunan minat. Terutama brand jajanan ringan." Berkas tersebut langsung dibanting di atas meja yang membuat karyawati tertunduk dengan nafas tertahan. Hans memejamkan mata sambil memijat pangkal alis menggunakan jari telunjuk dan jempol. "Keluar. Beritahukan manajer yang lain dan kepala divisi untuk meeting mendadak tiga puluh menit lagi," pinta Hans sambil mengayunkan telapak tangannya maju mundur. "Baik, Pak." Karyawati itu maju dan ingin mengambil berkas yang dibawanya tadi. Hans membuka mata kirinya. "Jangan diambil. Cepat keluar sana." Karyawati itu menganggukkan kepalanya lalu buru-buru keluar dari ruangan CEO yang dingin oleh AC. *** Waktu terasa berlalu begitu cepat, hingga kini Hans telah duduk di ruang rapat yang dominan putih. "Ini adalah laporan dari Marketing," ujar Hans sambil menunjukkan penurunan pendapatan melalui pivot table di layar monitor. Dari presentasi tersebut terlihat persentase penurunan terbesar terlihat pada brand jajanan ringan. Pihak manajer saling memandang. Mereka sendiri paham kalau penurunan income akan berdampak pada gaji dan bonus karyawan. "Kalian bisa lihat sendiri. So, ada yang punya idea untuk mengatasi problem ini?" tanya Hans di depan meja lonjong dengan nada datar. Suasana di ruang meeting itu mendadak menjadi sangat hening sampai-sampai suara deru AC terdengar. Lalu, keheningan pecah oleh suara seorang karyawati. "Mohon maaf, Pak Hans. Tapi saran saya perlu lakukan analisis terlebih dahulu. Tanpa data kongkrit, kami kesulitan memberikan masukan," ujar manajer marketing bernama Keina yang memberikan laporan tiga puluh menit lalu. Hans mengangguk mengerti. Lalu, mendorong berkas hingga berhenti di tengah meja rapat. "Aku serahkan pada bidang data. Lakukan analisis data dan analisis bisnis. Deadline satu minggu dan kita akan meeting saat itu di waktu yang sama," ucap Hans sambil berdiri. "Siapapun yang mengusulkan konsep asal bisa dieksekusi perusahaan akan mendapatkan bonus 10 juta. Meeting selesai," tutup Hans sebelum melangkahkan kaki ke pintu keluar. Karena sudah tidak tahan berada di perusahaan, Hans memilih pulang lebih awal. Ia berpikir untuk mencari tempat menenangkan diri. Hans menyetir dengan tangan kiri sebab tangan kanannya sibuk memijat pelipis. Pandangan matanya membuyar di saat menyetir karena memikirkan masalah perusahaan dan tekanan dari ayahnya serta memikirkan solusi agar tetap bertahan. Di tempat yang berdekatan, Julia sedang mendorong gerobak cilok untuk menyebrang jalan. Mata Hans seketika melebar ketika tersadar dan melihat sebuah gerobak jualan melintas kurang dari lima meter di depan mobilnya. PIIIP! Hans sekuat tenaga menginjak rem bersamaan dengan menekan klakson. Ban mobil yang bergesekkan dengan aspal mengeluarkan bunyi menderit dan meninggalkan bekas kehitaman. Karena terlalu terkejut, Julia membeku dengan mata melotot melihat mobil sudah di depan matanya. Sedetik kemudian, tabrakan pun tidak dapat terhindarkan. BRUAK!"Kemarin murung sekarang tidak jualan. Dia sebenarnya kenapa? Bisa gawat kalau dia tidak mau jualan lagi," monolog Hans dalam hati. Hans menjadi melamun karena masalah ini. Jika Julia benar-benar berhenti jualan, maka rencananya mendapatkan resep cilok itu akan gagal sepenuhnya. "Pak Hans... Pak Hans," panggil manajer Keina. "Oh, iya. Maaf." Hans segera memperbaiki cara duduknya dan berusaha kembali fokus. Ia terlalu memikirkan Julia sampai lupa kalau sedang berada dalam meeting perusahaan. "Anda baik-baik saja, Pak Hans?" tanya manajer Keina. "Ya-ya, it's okay. Lanjutkan saja," ucap Hans tetap bersikap professional. Beberapa orang manajer senior saling memandang. Sikap tidak fokus CEO mereka hari ini sangat tidak lazim dengan Hans yang mereka kenal sebagai CEO yang tegas dan teliti. "Begini, Pak Hans. Dari beberapa data dan masukan dari beberapa meeting sebelumnya, saya menyimpulkan perlunya menurunkan harga pada brand yang telah mengalami penurunan minat dan p
Kini Julia duduk di depan belasan keluarga Bang Mamat dan hanya didampingi oleh Kendra. "Aku akan terima lamaran dengan dua syarat," ujar Julia.Ia tidak dapat menghindari pertunangan ini. Tapi, ia memilih memberikan syarat. Tapi, bagi bang Mamat sebuah syarat tidak berarti apa-apa asal dapat memiliki Julia."Katakan saja, Julia. Abang pasti akan penuhi," jawab bang Mamat dengan percaya diri. "Pertama, aku tidak suka dihalang-halangi kalau mau kerja. Kedua, tanggal pernikahan diundur sampai Kendra wisuda. Kecuali Bang Mamat berjanji menanggung biaya kuliah Kendra maka pertunangan bisa dipercepat sampai tahun depan." Julia menjadi sedikit murung di kata terakhirnya. Sebenarnya Julia hanya menganggap bang Mamat sebagai abangnya dan tidak lebih. Tapi, ia tidak dapat menolak pertunangan ini. "Tanggung biaya kuliah Kendra?" tanya bang Mamat merasa agak berat. "Kenapa, Bang? Enggak sanggup?" Kendra balik bertanya. Bang Mamat tampak berpikir sejenak. menunggu hingga Kendra wisuda itu
"Empat juta sembilan ratus, lima juta. Sudah lima juta aja nih!" Julia meletakkan keuntungan jualannya itu di dompet. "Di bank aku sudah punya simpanan dua ratus sepuluh juta. Seharusnya sudah cukup buat perluas usahaku dan simpanan buat modal Kendra lanjut kuliah." Bibir Julia merekah lebar. Usahanya hampir dua tahun akhirnya berbuah manis. "Tapi, aku harus nambah gerobak cilok lagi atau buka tempat permanen?" monolonya sendiri sambil berpikir. Namun fokus Julia segera buyar oleh teriakan Kendra dari luar rumah. "Kak, kakak!" teriak Kendra sambil lari masuk. Alis Julia mengerut karena kesal. "Bisa enggak usah teriak-teriak?! Sakit kupingku!" Omelan Julia tidak terlalu digubris karena Kendra terlalu panik. "Gawat, Kak!" kata Kendra. "Apa yang gawat?" tanya Julia santai sambil memasukkan dompetnya ke saku. "Aku dengar Bang Mamat mau melamar kakak!" ungkap Kendra. Sesaat tubuh Julia membeku sebelum menggerakkan kepalanya menatap Kendra. "What?!" kata J
Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya. Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua pr
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews