LOGIN“Itu ‘kan orangnya?” tanya preman gondrong pirang bernama kang Tarnet.
Preman botak bernama Junus memperhatikan Julia yang mendorong pulang gerobak cilok. “Iya itu, Kang. Mirip dengan yang di foto,” balas Junus. Kang Tarnet menoleh dengan alis bertautan. “Dia atau bukan?” tanya kang Tarnet sekali lagi. “Iya, Kang. Mirip dengan yang di foto.” Junus mengulangi jawabannya yang kedua kali. “Kalau mirip berarti bisa jadi iya bisa jadi bukan. Dasar bodoh! Sini HP-mu.” Kang Tarnet merebut ponsel dari tangan Junus yang memasang wajah memelas salah tingkah. Setelah itu, ia mencocokkan foto tersebut dengan wanita penjual cilok. Dari pakaian, wajah, dan topi yang dikenakan sama semua. “Ini bukan mirip. Tapi memang dia yang jadi target kita. Begitu saja tidak becus! Ambil!” Kang Tarnet mengembalikan ponsel milik Junus dengan setengah memarahi. Junus hanya pasrah dimarahi sambil mengambil kembali ponsel miliknya. Mereka mengikuti cewek yang memakai pakaian serba panjang itu cukup lama. Beberapa kali Junus memegangi betisnya sendiri. Membuat Kang Tarnet terganggu. “Kenapa?” “Capek, Kang. Betisku kram. Masih jauh rumahnya, Kang?” tanya Junus. “Mana kutahu, tanya saja ke orangnya,” jawab kang Tarnet asal karena ia juga merasakan betisnya mulai kram. “Mba—“ Kang Tarnet langsung menutup mulut Junus yang benar-benar ingin bertanya ke Julia. Buru-buru menarik Junus agar bersembunyi di balik tembok rumah bekas saat Julia akan menoleh ke arah mereka. “Aneh, sepertinya tadi ada yang manggil. Kok enggak ada orangnya?” Kepala Julia celingak-celinguk, mungkin saja ada pelanggan yang menanyakan jualannya. Mengangkat kedua bahunya. “Mungkin hanya perasaanku saja,” ujarnya lanjut mendorong gerobak. Kang Tarnet melepaskan bekapan lalu menyentil bibir Junus. “Dasar bodoh! Kenapa benaran dipanggil?!” Kang Tarnet setengah membentak. Junus mengelus bibirnya lalu menjawab, “kan Akang tadi yang suruh.” Jawaban polos Junus berhasil membuat kang Tarnet semakin stres. “Tapi, jangan dipanggil. Dasar botak tolol!” maki kang Tarnet sudah tidak paham kenapa memiliki bawahan yang memiliki pola pikir apa adanya ini. Sedangkan Junus hanya terdiam sambil memikirkan di mana letak kesalahannya. Mereka kembali mengikuti Julia sampai ke rumahnya. Kang Tarnet langsung memotret rumah Julia dan alamat rumahnya. “Kang, kenapa kita tidak pakai motor saja?" tanya Junus. “Aku gini-gini sudah dua puluh tahun jadi preman. Kalau pakai motor, target bakal curiga. Makanya harus jalan kaki,” jawab Kang Tarnet sambil memantau situasi rumah Julia. Namun, suasana di komplek itu tetap sepi dan tetangga-tetangga Julia juga tampak kosong tidak berpenghuni. Mereka terus memantau sampai langit mulai gelap. Mereka menarik kesimpulan, kawasan kompleks sepi dan target hanya tinggal dengan seorang anak SMA. Kang Tarnet tersenyum, ini adalah target yang mudah bagi mereka. “Ayo pulang. Malam ini kita beraksi,” ajak Kang Tarnet. *** Ketika malam sudah sangat gelap, dua orang saling mengikuti. Junus menggunakan topeng penutup kepala hitam. Sedangkan kang Tarnet menggunakan masker hitam, rambut gondrongnya yang melewati punggung menyulitkan untuk memakai penutup kepala. Mereka masing-masing membawa linggis pendek dan golok pendek. Mereka mengendap-endap ke pintu belakang. Junus menggunakan linggis untuk membobol pintu. KRAK Pintu kayu itu terbuka dengan mudah. Kang Tarnet dan Junus mematung sesaat. Setelah memastikan tidak ada suara dari dalam rumah barulah mereka masuk dengan langkah yang hati-hati. BROQ! Suara kentut Junus berbunyi keras. Kang Tarnet yang terkejut sekita kesal dan reflek menggetok kepala Junus sebelum meletakkan jarinya ke bibir sambil melotot. “Maaf, Kang. Masuk angin,” ungkap Junus berbisik sambil mengelus kepalanya. Mereka berhasil masuk ke area dapur. Kang Tarnet memperhatikan seluk beluk ruangan itu. “Kang! Kang!” panggil Junus sambil menepuk-nepuk pundak kang Tarnet. “Apaan?!” kesal kang Tarnet nadanya menekan. “Li... Lihat itu, Kang,” tunjuk Junus ke arah meja. Saat kang Tarnet mengikuti arah yang dimaksud, ternyata di sana ada anak SMA yang dilihatnya tadi sore sedang makan mie sambil menatap ke arah mereka. “Jangan bergerak,” perintah kang Tarnet sambil mengacungkan golok... Suara grasak-grusuk di dapur mengganggu tidur nyenyak Julia. “Kendra!” panggil Julia. “Ngapain sih di dapur?!” Pertanyaan Julia dijawab oleh suara loyang jatuh. PLANG! Seketika mata Julia terbuka lebar. “Kendra!” geram Julia dengan geraham mengatup, mengira itu adalah perbuatan adiknya. Julia keluar dari kamar menuju ke dapur. Beberapa kali ia menguap. Betapa kesalnya ia melihat ada sebuah gelas pecah di samping loyang aluminium itu. Ia melotot ke arah Kendra yang sudah hampir menghabiskan mie-nya. “Apa-apaan kamu, Kendra?! Kenapa gelasnya bisa pecah?!” tanya Julia dengan nada marah. “Bukan salahku, kak. Ulah mereka,” elak Kendra sambil menunjuk menggunakan wajahnya yang sedang mengunyah mie. Julia melihat dua sosok bayangan terbaring di sudut ruangan yang tidak tersorot lampu dari ruang tengah. Ia mencari saklar lampu. Ceklek Saat lampu menyala, terlihat dua orang bertubuh besar sudah terbaring babak belur. Ada golok dan linggis yang berserakan di atas lantai. “Siapa mereka? Maling?” tanya Julia santai. Tidak ada ekspresi panik di wajahnya. Kendra menyeruput kuah mie sampai habis lalu meletakkan piringnya. “Sepertinya bukan. Tadi mereka tanyain kakak. Kata mereka buat apa tadi...? Um, resep rahasia kalau enggak salah. Kakak kenal mereka?” ungkap Kendra sambil ke arah wastafel dan mencuci piring yang baru saja dia gunakan. Mendengar kata 'resep rahasia', Julia langsung teringat cowok yang berpakaian rapi yang memaksanya untuk menjual resep cilok. “Enggak kenal sih. Tapi, aku tahu siapa yang nyuruh mereka.” Julia menghampiri preman-preman itu. Lalu menarik kerak baju Junus dengan kasar. “Yang nyuruh kalian si Hans Hans itu ‘kan? Cepat ngaku!” desaknya. Junus yang sudah kena mental sejak awal karena dihajar langsung mengangguk. “I... Iya, Mbak. Ampun.” Kang Tarnet melirik ke arah Kendra yang sedang meletakkan piring di rak piring. Ia memanfaatkan kelengahan Kendra dan Julia. Mengambil golok dan menyerang Julia."Kemarin murung sekarang tidak jualan. Dia sebenarnya kenapa? Bisa gawat kalau dia tidak mau jualan lagi," monolog Hans dalam hati. Hans menjadi melamun karena masalah ini. Jika Julia benar-benar berhenti jualan, maka rencananya mendapatkan resep cilok itu akan gagal sepenuhnya. "Pak Hans... Pak Hans," panggil manajer Keina. "Oh, iya. Maaf." Hans segera memperbaiki cara duduknya dan berusaha kembali fokus. Ia terlalu memikirkan Julia sampai lupa kalau sedang berada dalam meeting perusahaan. "Anda baik-baik saja, Pak Hans?" tanya manajer Keina. "Ya-ya, it's okay. Lanjutkan saja," ucap Hans tetap bersikap professional. Beberapa orang manajer senior saling memandang. Sikap tidak fokus CEO mereka hari ini sangat tidak lazim dengan Hans yang mereka kenal sebagai CEO yang tegas dan teliti. "Begini, Pak Hans. Dari beberapa data dan masukan dari beberapa meeting sebelumnya, saya menyimpulkan perlunya menurunkan harga pada brand yang telah mengalami penurunan minat dan p
Kini Julia duduk di depan belasan keluarga Bang Mamat dan hanya didampingi oleh Kendra. "Aku akan terima lamaran dengan dua syarat," ujar Julia.Ia tidak dapat menghindari pertunangan ini. Tapi, ia memilih memberikan syarat. Tapi, bagi bang Mamat sebuah syarat tidak berarti apa-apa asal dapat memiliki Julia."Katakan saja, Julia. Abang pasti akan penuhi," jawab bang Mamat dengan percaya diri. "Pertama, aku tidak suka dihalang-halangi kalau mau kerja. Kedua, tanggal pernikahan diundur sampai Kendra wisuda. Kecuali Bang Mamat berjanji menanggung biaya kuliah Kendra maka pertunangan bisa dipercepat sampai tahun depan." Julia menjadi sedikit murung di kata terakhirnya. Sebenarnya Julia hanya menganggap bang Mamat sebagai abangnya dan tidak lebih. Tapi, ia tidak dapat menolak pertunangan ini. "Tanggung biaya kuliah Kendra?" tanya bang Mamat merasa agak berat. "Kenapa, Bang? Enggak sanggup?" Kendra balik bertanya. Bang Mamat tampak berpikir sejenak. menunggu hingga Kendra wisuda itu
"Empat juta sembilan ratus, lima juta. Sudah lima juta aja nih!" Julia meletakkan keuntungan jualannya itu di dompet. "Di bank aku sudah punya simpanan dua ratus sepuluh juta. Seharusnya sudah cukup buat perluas usahaku dan simpanan buat modal Kendra lanjut kuliah." Bibir Julia merekah lebar. Usahanya hampir dua tahun akhirnya berbuah manis. "Tapi, aku harus nambah gerobak cilok lagi atau buka tempat permanen?" monolonya sendiri sambil berpikir. Namun fokus Julia segera buyar oleh teriakan Kendra dari luar rumah. "Kak, kakak!" teriak Kendra sambil lari masuk. Alis Julia mengerut karena kesal. "Bisa enggak usah teriak-teriak?! Sakit kupingku!" Omelan Julia tidak terlalu digubris karena Kendra terlalu panik. "Gawat, Kak!" kata Kendra. "Apa yang gawat?" tanya Julia santai sambil memasukkan dompetnya ke saku. "Aku dengar Bang Mamat mau melamar kakak!" ungkap Kendra. Sesaat tubuh Julia membeku sebelum menggerakkan kepalanya menatap Kendra. "What?!" kata J
Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya. Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua pr
“Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam
Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih







