แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Susu Cabai
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-27 18:41:25

“Itu ‘kan orangnya?” tanya preman gondrong pirang bernama kang Tarnet.

Preman botak bernama Junus memperhatikan Julia yang mendorong pulang gerobak cilok.

“Iya itu, Kang. Mirip dengan yang di foto,” balas Junus.

Kang Tarnet menoleh dengan alis bertautan.

“Dia atau bukan?” tanya kang Tarnet sekali lagi.

“Iya, Kang. Mirip dengan yang di foto.” Junus mengulangi jawabannya yang kedua kali.

“Kalau mirip berarti bisa jadi iya bisa jadi bukan. Dasar bodoh! Sini HP-mu.”

Kang Tarnet merebut ponsel dari tangan Junus yang memasang wajah memelas salah tingkah. Setelah itu, ia mencocokkan foto tersebut dengan wanita penjual cilok. Dari pakaian, wajah, dan topi yang dikenakan sama semua.

“Ini bukan mirip. Tapi memang dia yang jadi target kita. Begitu saja tidak becus! Ambil!” Kang Tarnet mengembalikan ponsel milik Junus dengan setengah memarahi.

Junus hanya pasrah dimarahi sambil mengambil kembali ponsel miliknya.

Mereka mengikuti cewek yang memakai pakaian serba panjang itu cukup lama.

Beberapa kali Junus memegangi betisnya sendiri. Membuat Kang Tarnet terganggu.

“Kenapa?”

“Capek, Kang. Betisku kram. Masih jauh rumahnya, Kang?” tanya Junus.

“Mana kutahu, tanya saja ke orangnya,” jawab kang Tarnet asal karena ia juga merasakan betisnya mulai kram.

“Mba—“

Kang Tarnet langsung menutup mulut Junus yang benar-benar ingin bertanya ke Julia. Buru-buru menarik Junus agar bersembunyi di balik tembok rumah bekas saat Julia akan menoleh ke arah mereka.

“Aneh, sepertinya tadi ada yang manggil. Kok enggak ada orangnya?” Kepala Julia celingak-celinguk, mungkin saja ada pelanggan yang menanyakan jualannya.

Mengangkat kedua bahunya.

“Mungkin hanya perasaanku saja,” ujarnya lanjut mendorong gerobak.

Kang Tarnet melepaskan bekapan lalu menyentil bibir Junus.

“Dasar bodoh! Kenapa benaran dipanggil?!” Kang Tarnet setengah membentak.

Junus mengelus bibirnya lalu menjawab, “kan Akang tadi yang suruh.”

Jawaban polos Junus berhasil membuat kang Tarnet semakin stres.

“Tapi, jangan dipanggil. Dasar botak tolol!” maki kang Tarnet sudah tidak paham kenapa memiliki bawahan yang memiliki pola pikir apa adanya ini.

Sedangkan Junus hanya terdiam sambil memikirkan di mana letak kesalahannya.

Mereka kembali mengikuti Julia sampai ke rumahnya. Kang Tarnet langsung memotret rumah Julia dan alamat rumahnya.

“Kang, kenapa kita tidak pakai motor saja?" tanya Junus.

“Aku gini-gini sudah dua puluh tahun jadi preman. Kalau pakai motor, target bakal curiga. Makanya harus jalan kaki,” jawab Kang Tarnet sambil memantau situasi rumah Julia.

Namun, suasana di komplek itu tetap sepi dan tetangga-tetangga Julia juga tampak kosong tidak berpenghuni.

Mereka terus memantau sampai langit mulai gelap. Mereka menarik kesimpulan, kawasan kompleks sepi dan target hanya tinggal dengan seorang anak SMA.

Kang Tarnet tersenyum, ini adalah target yang mudah bagi mereka.

“Ayo pulang. Malam ini kita beraksi,” ajak Kang Tarnet.

***

Ketika malam sudah sangat gelap, dua orang saling mengikuti.

Junus menggunakan topeng penutup kepala hitam. Sedangkan kang Tarnet menggunakan masker hitam, rambut gondrongnya yang melewati punggung menyulitkan untuk memakai penutup kepala.

Mereka masing-masing membawa linggis pendek dan golok pendek.

Mereka mengendap-endap ke pintu belakang. Junus menggunakan linggis untuk membobol pintu.

KRAK

Pintu kayu itu terbuka dengan mudah.

Kang Tarnet dan Junus mematung sesaat. Setelah memastikan tidak ada suara dari dalam rumah barulah mereka masuk dengan langkah yang hati-hati.

BROQ!

Suara kentut Junus berbunyi keras.

Kang Tarnet yang terkejut sekita kesal dan reflek menggetok kepala Junus sebelum meletakkan jarinya ke bibir sambil melotot.

“Maaf, Kang. Masuk angin,” ungkap Junus berbisik sambil mengelus kepalanya.

Mereka berhasil masuk ke area dapur. Kang Tarnet memperhatikan seluk beluk ruangan itu.

“Kang! Kang!” panggil Junus sambil menepuk-nepuk pundak kang Tarnet.

“Apaan?!” kesal kang Tarnet nadanya menekan.

“Li... Lihat itu, Kang,” tunjuk Junus ke arah meja.

Saat kang Tarnet mengikuti arah yang dimaksud, ternyata di sana ada anak SMA yang dilihatnya tadi sore sedang makan mie sambil menatap ke arah mereka.

“Jangan bergerak,” perintah kang Tarnet sambil mengacungkan golok...

Suara grasak-grusuk di dapur mengganggu tidur nyenyak Julia.

“Kendra!” panggil Julia. “Ngapain sih di dapur?!”

Pertanyaan Julia dijawab oleh suara loyang jatuh.

PLANG!

Seketika mata Julia terbuka lebar.

“Kendra!” geram Julia dengan geraham mengatup, mengira itu adalah perbuatan adiknya.

Julia keluar dari kamar menuju ke dapur. Beberapa kali ia menguap.

Betapa kesalnya ia melihat ada sebuah gelas pecah di samping loyang aluminium itu. Ia melotot ke arah Kendra yang sudah hampir menghabiskan mie-nya.

“Apa-apaan kamu, Kendra?! Kenapa gelasnya bisa pecah?!” tanya Julia dengan nada marah.

“Bukan salahku, kak. Ulah mereka,” elak Kendra sambil menunjuk menggunakan wajahnya yang sedang mengunyah mie.

Julia melihat dua sosok bayangan terbaring di sudut ruangan yang tidak tersorot lampu dari ruang tengah. Ia mencari saklar lampu.

Ceklek

Saat lampu menyala, terlihat dua orang bertubuh besar sudah terbaring babak belur. Ada golok dan linggis yang berserakan di atas lantai.

“Siapa mereka? Maling?” tanya Julia santai. Tidak ada ekspresi panik di wajahnya.

Kendra menyeruput kuah mie sampai habis lalu meletakkan piringnya.

“Sepertinya bukan. Tadi mereka tanyain kakak. Kata mereka buat apa tadi...? Um, resep rahasia kalau enggak salah. Kakak kenal mereka?” ungkap Kendra sambil ke arah wastafel dan mencuci piring yang baru saja dia gunakan.

Mendengar kata 'resep rahasia', Julia langsung teringat cowok yang berpakaian rapi yang memaksanya untuk menjual resep cilok.

“Enggak kenal sih. Tapi, aku tahu siapa yang nyuruh mereka.”

Julia menghampiri preman-preman itu. Lalu menarik kerak baju Junus dengan kasar.

“Yang nyuruh kalian si Hans Hans itu ‘kan? Cepat ngaku!” desaknya.

Junus yang sudah kena mental sejak awal karena dihajar langsung mengangguk.

“I... Iya, Mbak. Ampun.”

Kang Tarnet melirik ke arah Kendra yang sedang meletakkan piring di rak piring.

Ia memanfaatkan kelengahan Kendra dan Julia.

Mengambil golok dan menyerang Julia.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 9

    Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya.Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua proses penjua

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 8

    “Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 7

    Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 6

    "Kakak! Awas!" teriak Kendra sambil melemparkan piring. Julia berbalik dengan cepat lalu menahan tangan kang Tarnet menggunakan kaki. KRASH! Piring pecah saat menghantam kepala kang Tarnet. Junus menyerang dari belakang tapi Julia berhasil menangkap tangan Junus dan membanting ke arah kang Tarnet hingga bertabrakan. "Beraninya nyerang diam-diam!" Julia yang sudah sangat geram langsung mengambil loyang dan menghantamkan ke arah kepala kang Tarnet dan Junus berulangkali. PLAK! PLAK! PLAK! Suara nyaring bersahutan dengan teriakan kesakitan dari Junus dan kang Tarnet. Kendra mengambil golok dan linggis tanpa memperdulikan Julia yang masih menghajar dua preman itu. "Hiyat!" Julia lompat tinggi-tinggi lalu memberikan pukulan terakhir ke arah kang Tarnet. Mata kang Tarnet berputar dengan wajah kebiruan. "Huh, puas rasanya," kata Julia sambil menyeka kening. "Ampun... Jangan pukul lagi. Aku punya istri tiga dan 10 anak. Tidak ada yang tanggung hidup mereka," mohon Kang T

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 5

    “Itu ‘kan orangnya?” tanya preman gondrong pirang bernama kang Tarnet.Preman botak bernama Junus memperhatikan Julia yang mendorong pulang gerobak cilok.“Iya itu, Kang. Mirip dengan yang di foto,” balas Junus.Kang Tarnet menoleh dengan alis bertautan. “Dia atau bukan?” tanya kang Tarnet sekali lagi.“Iya, Kang. Mirip dengan yang di foto.” Junus mengulangi jawabannya yang kedua kali.“Kalau mirip berarti bisa jadi iya bisa jadi bukan. Dasar bodoh! Sini HP-mu.”Kang Tarnet merebut ponsel dari tangan Junus yang memasang wajah memelas salah tingkah. Setelah itu, ia mencocokkan foto tersebut dengan wanita penjual cilok. Dari pakaian, wajah, dan topi yang dikenakan sama semua. “Ini bukan mirip. Tapi memang dia yang jadi target kita. Begitu saja tidak becus! Ambil!” Kang Tarnet mengembalikan ponsel milik Junus dengan setengah memarahi.Junus hanya pasrah dimarahi sambil mengambil kembali ponsel miliknya.Mereka mengikuti cewek yang memakai pakaian serba panjang itu cukup lama. Beberapa

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 4

    Julia menoleh ke belakang. “Buset, ngejar dia. Beneran mau nagih duit kemarin nih.” Ia menambah tenaga sehingga jaraknya dengan Hans semakin menjauh. Hans menghentikan langkah, melihat wanita Cilok itu berbelok di perempatan jalan. Ia tidak menyangka cewek cilok itu lebih sulit dikejar. “Ini cewek apa kuda? Lari seperti orang kesetanan saja,” ujar Hans ngos-ngosan. Ia buru-buru berbalik ke arah mobil. Julia sekali lagi memeriksa ke belakang, sudah tidak melihat cowok yang mengejarnya. Menghentikan langkahnya lalu duduk di trotoar jalan. “Buset tuh orang. Bikin capek orang saja,” ujar Julia sambil mengatur nafas di pinggir jalan yang ramai oleh kendaraan berlalu-lalang. Menggunakan topi hitamnya untuk mengipas-ngipas wajah yang terasa panas. Ia menoleh ke samping, matanya melotot melihat mobil yang kemarin menghampirinya. “Mampus,” pikir Julia tidak dapat berkata-kata. Segera berdiri dari posisi duduknya. Hans turun dari mobil dengan ekspresi kesal. “Kenapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status