แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Susu Cabai
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-28 23:23:40

Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali.

“Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon.

“Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan.

Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?”

“Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet.

"Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita.

"Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–"

"Apa?!"

Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu.

"Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!"

Hans memilih mematikan sambungan telepon karena sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Padahal ia meminta mereka untuk menghafal apa saja yang dibeli oleh Julia.

***

“Kenapa, Kang?” tanya Junus melihat kang Tarnet berhenti menelpon sambil menatap layar ponsel.

“Dimatikan teleponnya,” jawab kang Tarnet lalu menghembuskan nafas berat.

“Gimana dengan bayaran kita, Kang?” tanya Junus berharap dapat imbalan dari usaha mereka.

“Jangan tanya,” ujar kang Tarnet menghempaskan ponsel ke tangan Junus yang berhasil menangkap ponsel itu.

Ia duduk dengan ekspresi gunda. Hari ini benar-benar hari tersial dalam hidupnya.

“Kenapa jangan tanya, Kang?” tanya Junus lagi.

“Diam!” bentak kang Tarnet sembari melotot yang membuat Junus langsung tertunduk diam...

***

“Brengsek! Dasar tidak berguna!” Hans mencengkeram wajah sendiri.

Menyandarkan tubuh ke kepala ranjang.

Mata Hans melihat pesan chat yang belum terbaca. Saat di buka ternyata foto Julia yang sedang mencengkeram rambut dan kerah baju kang Tarnet dan Junus.

Di bawah foto itu ada chat dengan kata yang disingkat: “Suruhanmu in so cute. Brknya u dan aku berfoto. Oh, lebih keren klw lehr u aku bengkokkan terlbh dulu (emot hantu dan emot mengedipkan mata)”

Membaca chat WA itu tanpa sadar ia menelan ludah. Merasa ngeri. Memblokir nomor itu dan menghempaskan HP-nya ke kasur menjauh darinya.

Ia kebingungan bagaimana caranya mendapatkan resep cilok itu. Cilok milik Julia memiliki rasa yang nikmat berbeda dengan cilok-cilok pada umumnya. Dengan resep itu pasti akan membuat kontribusi untuk perusahaan dan bisa mengamankan posisi CEO.

“Kalau cara halus kamu tolak. Cara kasar juga gagal. Jangan salahkan aku bermain licik,” gumam Hans dengan sorot mata tajam.

***

Selama hampir seminggu Julia berjualan dengan tenang. Sejak kejadian preman waktu itu, ia tidak lagi diganggu oleh Hans.

Kali ini Julia pulang dengan perasaan berbunga-bunga karena ciloknya laris manis dan kembali meraup keuntungan

“Mbak! Mbak!”

Julia menoleh karena merasa dipanggil.

Seorang pria berambut keriting, memakai kacamata, dan berkumis tipis datang menghampiri.

Mata Julia menganalisa penampilan pria cupu yang memakai kemeja cokelat di depannya. Rasanya seperti kenal, tapi asing juga.

“Mau beli cilok ‘kan? Sorry, Bang. Ciloknya udah habis. Abang telat. Besok saja,” tutur Julia.

“Bukan itu.” Pria itu mengatur nafas sebelum lanjut berbicara, “Namaku Mahendra Purnawan. Mahasiswa studi akhir. Kebetulan judul skripsiku tentang olahan makanan dan UMKM. Aku dengar cilok buatan Mbak yang paling enak. Jadi, aku minta izin untuk meneliti tentang usaha cilok milik, Mbak.”

“Ooo, untuk skripsian toh.” Mahendra mengangguki ucapan Julia. “Boleh saja. Jadi kapan mulai penelitiannya?” lanjutnya mengizinkan.

Bibir Mahendra memekar lebar. “Terima kasih, Mbak. Besok, bagaimana? Mungkin selama dua atau tiga mingguan. Alamat rumahnya dimana, Mbak?”

Julia berpikir sejenak. “Umm boleh. Di Kompleks Perumahan Anyer, nomor 9. Aku mulai jualan jam tujuh pagi,” ungkapnya.

“Baik, Mbak. Kalau begitu sampai jumpa besok, Mbak.” Mahendra melambaikan tangan sambil berjalan pergi.

Julia membalas lambaian tangan. Ia tersenyum. Namun senyumannya perlahan-lahan luntur.

“Kalau aku lanjut kuliah, pasti seperti dia juga. Ketemu wirausahawan atau wiraswasta untuk penelitian,” gumamnya agak murung.

Namun sesaat kemudian ia menggelengkan kepala.

“Apa sih kamu ini, Julia? Bersyukur dong. Mereka kan kuliah cari ilmu. Aku udah praktek langsung. Semangat-semangat!” ucap Julia menyemangati diri sendiri, lanjut mendorong gerobaknya.

***

“Kak, aku berangkat sekolah,” izin Kendra.

“Iya hati-hati. Belajar yang bener. Ingat ujian nasional enggak lama lagi. Awas aja kalau nilaimu turun. Aku gantung kamu di tiang bendera,” ancam Julia memberi tatapan tajam.

“Gimana kalau di tiang rumah, Kak? Biar aku enggak kepanasan,” balas Kendra sambil menahan tawanya.

“Malah request nih anak. Minta digantung beneran, hum?!” Julia bertolak pinggang sambil melotot.

“Kabor!” Kendra menarik gas sambil tertawa.

“Dasar anak ini, bandelnya,” gumam Julia tersenyum sambil menggeleng pelan.

Setelah keluar halaman rumah, Kendra menyapa Bang mamat yang berpapasan dengannya.

“Pagi, Julia,” sapa Bang Mamat saat menghampiri Julia.

“Eh, Bang Mamat. Bawa apaan tuh?” tanya Julia dengan nada bercanda saat menatap kantong hitam di tangan Bang Mamat.

“Nasi uduk. Sarapan bareng Abang yuk,” ajak Bang Mamat sambil menaik turunkan alis.

“Aduh, sorry nih. Tapi aku udah sarapan. Lagian ‘kan bang Mamat tahu sendiri kalau jam tujuh aku harus berangkat,” tutur Julia menolak secara halus.

Ia paham kalau Bang Mamat sedang berusaha mendekatinya lagi.

Terlihat jelas dari ekspresi Bang Mamat kalau sedang kecewa.

“Ya sudah. Ini buat kamu nanti makan siang. Jangan ditolak,” ucap Bang Mamat menyerahkan kantong nasi uduk.

Akhirnya mau tidak mau Julia harus menerima pemberian tersebut.

“Kalau begitu, aku terima. Terima kasih loh sudah ditraktir,” ucap Julia tetap tersenyum ramah.

“Sama-sama, Julia,” jawab Bang Mamat sambil mencolek dagu Julia menggunakan jari telunjuk.

Julia agak kaget dengan tindakan Bang Mamat tadi. Tapi, mengingat Bang Mamat yang beberapa kali membantu keluarganya saat susah, akhirnya ia tetap memaksakan senyuman di bibir.

Ia menyimpan makanan itu di gerobak cilok.

“Kalau begitu aku jalan dulu, Bang Mamat,” ucap Julia.

Namun belum juga keluar halaman rumah, Mahendra tiba menggunakan ojek.

Setelah membayar ojek, ia langsung menghampiri Julia.

“Aku belum telat ‘kan?” tanya Mahendra.

“Dikit lagi. Ini baru mau berangkat,” jawab Julia.

“Syukurlah.” Mahendra mengelus dadanya merasa lega.

“Woi, mata empat! Siapa kamu?! Beraninya dekat-dekat dengan Julia!” tanya Bang Mamat menghampiri Mahendra langsung mencengkeram kerah baju.

Wajah Mahendra menjadi pucat pasi. Apa lagi tatapan Bang Mamat sangat sangar ditambah dipelototi seperti akan dimakan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 9

    Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya.Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua proses penjua

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 8

    “Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 7

    Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 6

    "Kakak! Awas!" teriak Kendra sambil melemparkan piring. Julia berbalik dengan cepat lalu menahan tangan kang Tarnet menggunakan kaki. KRASH! Piring pecah saat menghantam kepala kang Tarnet. Junus menyerang dari belakang tapi Julia berhasil menangkap tangan Junus dan membanting ke arah kang Tarnet hingga bertabrakan. "Beraninya nyerang diam-diam!" Julia yang sudah sangat geram langsung mengambil loyang dan menghantamkan ke arah kepala kang Tarnet dan Junus berulangkali. PLAK! PLAK! PLAK! Suara nyaring bersahutan dengan teriakan kesakitan dari Junus dan kang Tarnet. Kendra mengambil golok dan linggis tanpa memperdulikan Julia yang masih menghajar dua preman itu. "Hiyat!" Julia lompat tinggi-tinggi lalu memberikan pukulan terakhir ke arah kang Tarnet. Mata kang Tarnet berputar dengan wajah kebiruan. "Huh, puas rasanya," kata Julia sambil menyeka kening. "Ampun... Jangan pukul lagi. Aku punya istri tiga dan 10 anak. Tidak ada yang tanggung hidup mereka," mohon Kang T

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 5

    “Itu ‘kan orangnya?” tanya preman gondrong pirang bernama kang Tarnet.Preman botak bernama Junus memperhatikan Julia yang mendorong pulang gerobak cilok.“Iya itu, Kang. Mirip dengan yang di foto,” balas Junus.Kang Tarnet menoleh dengan alis bertautan. “Dia atau bukan?” tanya kang Tarnet sekali lagi.“Iya, Kang. Mirip dengan yang di foto.” Junus mengulangi jawabannya yang kedua kali.“Kalau mirip berarti bisa jadi iya bisa jadi bukan. Dasar bodoh! Sini HP-mu.”Kang Tarnet merebut ponsel dari tangan Junus yang memasang wajah memelas salah tingkah. Setelah itu, ia mencocokkan foto tersebut dengan wanita penjual cilok. Dari pakaian, wajah, dan topi yang dikenakan sama semua. “Ini bukan mirip. Tapi memang dia yang jadi target kita. Begitu saja tidak becus! Ambil!” Kang Tarnet mengembalikan ponsel milik Junus dengan setengah memarahi.Junus hanya pasrah dimarahi sambil mengambil kembali ponsel miliknya.Mereka mengikuti cewek yang memakai pakaian serba panjang itu cukup lama. Beberapa

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 4

    Julia menoleh ke belakang. “Buset, ngejar dia. Beneran mau nagih duit kemarin nih.” Ia menambah tenaga sehingga jaraknya dengan Hans semakin menjauh. Hans menghentikan langkah, melihat wanita Cilok itu berbelok di perempatan jalan. Ia tidak menyangka cewek cilok itu lebih sulit dikejar. “Ini cewek apa kuda? Lari seperti orang kesetanan saja,” ujar Hans ngos-ngosan. Ia buru-buru berbalik ke arah mobil. Julia sekali lagi memeriksa ke belakang, sudah tidak melihat cowok yang mengejarnya. Menghentikan langkahnya lalu duduk di trotoar jalan. “Buset tuh orang. Bikin capek orang saja,” ujar Julia sambil mengatur nafas di pinggir jalan yang ramai oleh kendaraan berlalu-lalang. Menggunakan topi hitamnya untuk mengipas-ngipas wajah yang terasa panas. Ia menoleh ke samping, matanya melotot melihat mobil yang kemarin menghampirinya. “Mampus,” pikir Julia tidak dapat berkata-kata. Segera berdiri dari posisi duduknya. Hans turun dari mobil dengan ekspresi kesal. “Kenapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status