로그인Dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang berguncang hebat akibat amarah yang membakar benaknya, Dewi melangkah keluar dari kediaman Azura. Sepanjang jalan menuju rumah utama keluarga Permana, jemarinya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, kalimat-kalimat telak dari Anggun terus terngiang bagai tamparan yang tak kunjung usai.“Sampah yang sesungguhnya adalah wanita yang puluhan tahun lalu berselingkuh...”"Kurang ajar! Perempuan rendahan itu benar-benar harus disingkirkan!" makian Dewi pecah di dalam keheningan mobilnya.Dewi sebenarnya tidak tahu-menahu tentang masa lalu Anggun. Ia sama sekali tidak mengenal siapa itu Diki, tidak tahu latar belakang keluarga Anggun, ataupun kisah cinta lama wanita itu. Satu-satunya alasan Dewi mengetahui keberadaan Anggun adalah karena aduan dari Erika beberapa hari lalu. Erika bercerita dengan penuh amarah bahwa beberapa bulan lalu, ia sempat bertamu ke rumah pribadi Azura dan mendapati se
Pagi itu, langit di atas ibu kota tampak mendung, seolah melempar firasat buruk ke jendela rumah mewah milik Azura. Setelah suaminya berangkat ke kantor dengan kecupan hangat di kening yang sempat meredakan sisa ketegangan kemarin, Anggun memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur. Namun, ketenangan itu hancur berantakan ketika bel pintu utama berbunyi dengan ketukan yang tidak sabar dan kasar.Saat Anggun membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan pakaian glamor namun wajah yang sarat akan kebencian berdiri di hadapannya. Wanita itu adalah Dewi, ibu tiri Azura.Dewi tidak menunggu dipersilakan. Dengan keangkuhan yang mendarah daging, ia menerobos masuk, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan suara yang menggema angkuh. Pandangan matanya langsung tertuju pada bingkai foto pernikahan besar di ruang tamu. Wajah Dewi mengeras, matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap."Jadi benar... anak haram sialan itu benar-benar sudah gila," desis Dewi, suaranya bergetar menahan
Ketegangan di kediaman Azura dan Anggun kembali mencapai puncaknya sore itu. Pintu rumah mewah tersebut belum sepenuhnya tertutup rapat saat Erika melangkah masuk tanpa izin, memanfaatkan kelalaian pelayan yang sedang membersihkan area depan. Namun, langkah angkuh Erika seketika terhenti tepat di koridor menuju ruang tamu utama.Matanya yang dihiasi riasan tajam itu membelalak sempurna. Di dinding utama ruang tamu, terpajang sebuah bingkai foto besar yang sangat megah. Di dalam foto itu, Azura mengenakan setelan jas hitam elegan, merangkul pinggang Anggun yang tampil anggun luar biasa dengan kebaya pernikahan berwarna putih suci. Senyuman di wajah keduanya begitu lepas, begitu nyata, tanpa ada kepalsuan kontrak yang tersisa.Napas Erika mendadak memburu. Rasa syok dan tidak percaya menghantam dadanya. Ia memang pernah bertemu Anggun di rumah itu saat dengan angkuhnya mengira Anggun adalah pembantu baru Azura, tetapi saat itu ia hanya mengira Anggun adalah wanita biasa yang kebetulan d
Setelah Diki melangkah pergi dengan sisa-sisa harga diri yang runtuh, keheningan yang intens mendadak menyelimuti meja kafe tempat Azura dan Anggun berdiri.Keberanian Azura mengumumkan pernikahan mereka di depan umum seolah meruntuhkan dinding pembatas terakhir yang selama ini mengurung mereka dalam rasa cemas.Azura masih menggenggam jemari Anggun. Genggamannya begitu erat, menyalurkan kehangatan sekaligus keposesifan yang tak lagi ditutupi oleh topeng formalitas. Anggun bisa merasakan sisa-sisa ketegangan yang merambat dari telapak tangan suaminya."Azura... klien asingmu tadi, bagaimana?" tanya Anggun lembut, mencoba mencairkan atmosfer yang sempat membeku. Ia menatap ke arah pintu keluar kafe, tempat asisten Azura tampak sibuk membungkuk meminta maaf kepada sang klien yang tampak bingung.Tetapi, Azura tidak menoleh ke arah kliennya. Fokus matanya justru terkunci sepenuhnya pada wajah Anggun."Biarkan saja. Urusan bisnis bisa dijadwalkan ulang, Anggun. Tapi membiarkan pria dari m
Suara langkah kaki Dewi yang tergesa-gesa memecah keheningan rumah besar yang kini terasa seperti kuburan itu.Begitu melangkah masuk ke dalam kamar utama, bau alkohol dan kesedihan yang pekat langsung menyengat indra penciumannya. Ia mendapati Permana masih terduduk di lantai, bersandarkan ranjang dengan mata merah mendelik kosong dan bingkai foto Dewa yang masih erat dalam dekapannya.Dewi tidak memberikan waktu bagi suaminya untuk meratapi kesedihan lebih lama. Wanita itu melempar tas branded miliknya ke atas kasur, lalu melangkah mendekat dengan napas memburu."Mas, bangun! Jangan seperti orang mati begini!" seru Dewi, suaranya melengking egois, merusak kesunyian kamar."Aku baru saja pulang dari lapas. Kondisi Aira sangat memprihatinkan, Mas! Dia kurus, pucat, dan tempat itu sama sekali bukan tempat untuk putri kita!" lanjut Dewi.Permana perlahan mengangkat wajah. Tatapannya layu, ia menatap istrinya dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipi."Aira membunuh Dewa, Dewi...
Besi jeruji penjara terasa dingin dan berkarat saat Dewi menempelkan jemarinya yang gemetar di sana. Bau apak, keringat, dan desinfektan murahan menyeruak, mengikis sisa-sisa kemewahan yang biasanya melekat pada tubuh wanita paruh baya itu.Di seberang meja kayu yang retak-retak, Aira duduk dengan pakaian tahanan berwarna jingga yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kian kurus. Wajah gadis itu pucat, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya, menjadi saksi bisu malam-malam tanpa tidur di atas lantai semen yang dingin.Dewi memandang putrinya dengan dada yang sesak oleh rasa bersalah, tetapi sekaligus oleh ketakutan egois yang masih mencengkeramnya."Aira..." Suara Dewi bergetar, nyaris teredam oleh hiruk-pikuk suara tangisan dan bisikan dari bilik kunjungan lain. "Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."Aira mengangkat wajah. Matanya yang dulu berbinar kini tampak kosong, seperti sumur tua yang kering. Gadis itu menatap ibunya tanpa ekspresi, sebuah kekosongan yang justru lebih me
Sejak kecil, Dewa diajarkan satu hal, ia harus menjadi pewaris.Bukan karena cinta, melainkan karena kewajiban. Dewi membesarkannya dengan disiplin, kaku, dan ambisi yang dipaksakan. Prestasi adalah mata uang cinta. Gagal berarti tak layak diperhatikan. Maka Dewa tumbuh menjadi pria yang jarang ter
“Apakah tidak ada solusi lain?” tanya Anggun pada Bayu. Suara gadis itu sedikit bergetar. Namun, masih tetap berusaha untuk tegar. “Tidak ada,” sahut Bayu tegas. Anggun kian melemah. Jika benar tidak ada solusi lain. Artinya dia harus menikah. Namun, siapa yang mau menikahi orang asing. Anggun m
Anggun buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Anggun justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul. “Berisik sekali!” Sontak Anggun menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tat
“Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Anggun.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Anggun, keningnya ha







