Mag-log inSetelah Diki melangkah pergi dengan sisa-sisa harga diri yang runtuh, keheningan yang intens mendadak menyelimuti meja kafe tempat Azura dan Anggun berdiri.Keberanian Azura mengumumkan pernikahan mereka di depan umum seolah meruntuhkan dinding pembatas terakhir yang selama ini mengurung mereka dalam rasa cemas.Azura masih menggenggam jemari Anggun. Genggamannya begitu erat, menyalurkan kehangatan sekaligus keposesifan yang tak lagi ditutupi oleh topeng formalitas. Anggun bisa merasakan sisa-sisa ketegangan yang merambat dari telapak tangan suaminya."Azura... klien asingmu tadi, bagaimana?" tanya Anggun lembut, mencoba mencairkan atmosfer yang sempat membeku. Ia menatap ke arah pintu keluar kafe, tempat asisten Azura tampak sibuk membungkuk meminta maaf kepada sang klien yang tampak bingung.Tetapi, Azura tidak menoleh ke arah kliennya. Fokus matanya justru terkunci sepenuhnya pada wajah Anggun."Biarkan saja. Urusan bisnis bisa dijadwalkan ulang, Anggun. Tapi membiarkan pria dari m
Suara langkah kaki Dewi yang tergesa-gesa memecah keheningan rumah besar yang kini terasa seperti kuburan itu.Begitu melangkah masuk ke dalam kamar utama, bau alkohol dan kesedihan yang pekat langsung menyengat indra penciumannya. Ia mendapati Permana masih terduduk di lantai, bersandarkan ranjang dengan mata merah mendelik kosong dan bingkai foto Dewa yang masih erat dalam dekapannya.Dewi tidak memberikan waktu bagi suaminya untuk meratapi kesedihan lebih lama. Wanita itu melempar tas branded miliknya ke atas kasur, lalu melangkah mendekat dengan napas memburu."Mas, bangun! Jangan seperti orang mati begini!" seru Dewi, suaranya melengking egois, merusak kesunyian kamar."Aku baru saja pulang dari lapas. Kondisi Aira sangat memprihatinkan, Mas! Dia kurus, pucat, dan tempat itu sama sekali bukan tempat untuk putri kita!" lanjut Dewi.Permana perlahan mengangkat wajah. Tatapannya layu, ia menatap istrinya dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipi."Aira membunuh Dewa, Dewi...
Besi jeruji penjara terasa dingin dan berkarat saat Dewi menempelkan jemarinya yang gemetar di sana. Bau apak, keringat, dan desinfektan murahan menyeruak, mengikis sisa-sisa kemewahan yang biasanya melekat pada tubuh wanita paruh baya itu.Di seberang meja kayu yang retak-retak, Aira duduk dengan pakaian tahanan berwarna jingga yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kian kurus. Wajah gadis itu pucat, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya, menjadi saksi bisu malam-malam tanpa tidur di atas lantai semen yang dingin.Dewi memandang putrinya dengan dada yang sesak oleh rasa bersalah, tetapi sekaligus oleh ketakutan egois yang masih mencengkeramnya."Aira..." Suara Dewi bergetar, nyaris teredam oleh hiruk-pikuk suara tangisan dan bisikan dari bilik kunjungan lain. "Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."Aira mengangkat wajah. Matanya yang dulu berbinar kini tampak kosong, seperti sumur tua yang kering. Gadis itu menatap ibunya tanpa ekspresi, sebuah kekosongan yang justru lebih me
Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,
Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.
Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola
Sejak kecil, Dewa diajarkan satu hal, ia harus menjadi pewaris.Bukan karena cinta, melainkan karena kewajiban. Dewi membesarkannya dengan disiplin, kaku, dan ambisi yang dipaksakan. Prestasi adalah mata uang cinta. Gagal berarti tak layak diperhatikan. Maka Dewa tumbuh menjadi pria yang jarang ter
“Apakah tidak ada solusi lain?” tanya Anggun pada Bayu. Suara gadis itu sedikit bergetar. Namun, masih tetap berusaha untuk tegar. “Tidak ada,” sahut Bayu tegas. Anggun kian melemah. Jika benar tidak ada solusi lain. Artinya dia harus menikah. Namun, siapa yang mau menikahi orang asing. Anggun m
Anggun buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Anggun justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul. “Berisik sekali!” Sontak Anggun menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tat
“Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Anggun.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Anggun, keningnya ha







