Share

Lantai Dua

Penulis: Suharni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-19 18:05:14

Jasmin buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Jasmin justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul.

“Berisik sekali!”

Sontak Jasmin menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tatapannya tajam mengintimidasi, rambut berantakan, wajahnya masih kusut khas bangun tidur, tapi dahinya sedikit berkerut.

“Masuk kamarku sembarangan, lalu sekarang mengganggu tidurku,” gumam pemuda itu sambil berdecak kesal.

Jasmin membelalakkan matanya. Apa maksudnya?

Selama ini ia menjaga diri. Bukan karena suci atau kolot, tapi karena pilihan. Sebab, ia tahu batasnya sendiri. Dan pagi ini, batas itu terasa seperti diinjak lalu ditinggalkan begitu saja.

Dadanya naik turun cepat. Amarah yang semula tertahan kini mendesak keluar, karena tuduhan pemuda itu.

“Apa?” suara Jasmin meninggi, pecah sebelum sempat disaring akal sehat. “Kamarmu?”

Ia membelalakkan mata, lalu dengan tangan gemetar mengeluarkan kunci dari tas dan mengacungkannya ke arah pria itu. “Aku yang pesan kamar ini! Aku yang dapat kuncinya! Jangan asal menuduh!”

Emosinya meluap. Semua rasa takut, bingung, dan nyeri samar di tubuh bercampur jadi satu.

“Dan kamu masih berani bilang aku masuk sembarangan?” lanjutnya, suara wanita itu bergetar oleh marah yang tertahan. “Aku bangun cuma pakai pakaian dalam. Apa menurutmu itu kebetulan?”

Jasmin memungut sepatunya dengan gerakan kasar, nyaris melempar ke dalam tas. Matanya memerah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang terlalu lama ditekan hidupnya.

“Aku jaga diri bertahun-tahun,” katanya tajam, menatap pria itu tanpa gentar meski jantungnya masih berdentum keras. “Dan kamu pikir kamu bisa seenaknya ambil ‘keuntungan’ cuma karena aku mabuk?”

Melihat pemuda itu hanya menatapnya malas, Jasmin mengembuskan napas keras, rahangnya mengeras. “Jangan pura-pura tidak tahu apa-apa. Jangan pasang tampang sok dirugikan.”

Pemuda itu bergerak, mengambil posisi duduk. Dada telanjangnya semakin terekspos jelas, membuat Jasmin langsung berusaha memalingkan wajahnya.

“Kau yakin kalau ini benar kam—”

Belum selesai pemuda itu bicara, pintu kamar diketuk dengan keras.

Tok! Tok!

Jasmin kembali terkejut dan menoleh ke arah pintu. Sejenak, ia menatap pemuda itu yang masih diam dengan ekspresi datar.

Dengan kesal, Jasmin melangkah ke arah pintu untuk membukanya. Ia pikir, mungkin itu petugas hotel jadi ia bisa memastikan juga bahwa ini benar kamar yang ia pesan.

Namun, begitu membuka pintu kamar, dua petugas berpakaian coklat bersama satu staff hotel berdiri di sana.

Jasmin yang tahu betul siapa orang-orang itu langsung membelalakkan mata lebar-lebar.

“Ini–”

Adalah Brad dan Frans, dua petugas polisi. Serta Mark, salah satu staf hotel.

“Maaf, Nona. Kami baru saja menerima laporan, bahwa di kamar ini telah terjadi perzinahan,” ucap Brad.

Mata Jasmin kembali membeliak. Perzinahan? Siapa yang melaporkan hal memalukan itu? Apakah semalam ada seseorang yang membuntutinya?

“Maaf, Tuan. Tapi sepertinya Anda salah paham. Saya tidak melakukan kesalahan. Kamar ini, saya yang pesan,” ucapnya meyakinkan.

“Maaf, Nona. Kami harus memeriksa ke dalam.” Frans menerobos masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban Jasmin. Sementara pria asing tadi masih duduk enteng di tepi ranjang tanpa baju.

“Ini–” Suara Jasmin tercekat begitu saja saat melihat lelaki itu duduk bagai tanpa dosa.

“Maaf, Nona. Kami terpaksa menahan Anda dan pasangan Anda,” ucap Brad.

“Tapi saya tidak melakukan kesalahan. Kamar ini, semalam aku pesan. Kalau tidak percaya, silahkan lihat kunci ini. Aku memegangnya. Dan pria ini, aku tidak mengenalnya.” Jasmin mengeluarkan kunci kamar hotel itu dan menunjukkan kepada dua petugas polisi tersebut. Tentu dengan harapan agar mereka percaya ucapannya.

“Tuan, maaf. Kami terpaksa menginterogasi Anda juga.” Frans mengabaikan ucapan Jasmin. Ia beralih pada pria asing tadi.

“Silahkan.” Lelaki yang masih belum diketahui namanya itu menyahut enteng. Sehingga Jasmin mengeraskan rahang penuh amarah.

Dada wanita itu kembali bergejolak. Ia mencengkeram kesepuluh jemarinya.

“Maaf, tapi bisakah Anda bekerjasama? Tolong kenakan pakaian Anda. Lalu tunjukkan KTP Anda, Tuan,” pinta Frans.

Pria itu mengenakan baju kaos putih miliknya yang tergeletak sembarang di atas lantai. Lalu memberikan kartu pengenal kepada dua petugas polisi tadi.

“Azura Muskan Frederick,” baca Brad pelan begitu mengambil alih KTP yang diketahui bernama Azura itu.

“Maaf, Tuan Azura. Anda harus ikut bersama kami ke kantor polisi. Harap kerjasamanya.”

Azura sejenak melirik Jasmin yang menggeleng kuat. Wanita tidak mau pergi ke kantor polisi. Ia tidak melakukan kekeliruan. Kamar itu adalah miliknya.

“Baiklah.”

“Tidak!”

Jasmin menolak keras. Kantor polisi adalah tempat dimana ia sering sambangi bersama klien selaku pengacara. Kali ini dialah yang menjadi tersangkanya. Ironisnya, kejahatan itu masuk rana perzinahan.

“Maaf, Nona. Tapi Anda harus kooperatif. Jika tidak, kami terpaksa menyeret Anda ke kantor polisi.”

Ucapan petugas itu bagai hantaman keras untuk Jasmin. Bagaimana bisa ia berakhir seperti ini.

Diseret paksa? Mustahil. Semasa hidup, Jasmin tidak pernah melakukan tindakan kriminal. Namun, hari ini ia harus menghadapi kenyataan memalukan itu.

“Hei, katakan sesuatu. Kita bahkan tidak saling mengenal. Mengapa kau diam saja?” Jasmin beralih pada Azura yang tampak tenang. Sikapnya dingin tak terbaca.

Pandangan Frans lantas beralih pada tempat tidur yang masih terlihat sedikit acak-acakan. Ada sedikit bercak darah di sana. Pria itu tersenyum tipis. Ia tahu makna dari tetesan darah tersebut.

“Maaf, Nona. Kami terpaksa membawa Anda ke kantor polisi. Kami tidak punya pilihan lain.” Petugas polisi itu tidak menegosiasi Jasmin.

“Tunggu!” cegat Jasmin.

“Sebelum Anda membawa saya ke kantor polisi. Biarkan saya menghubungi pengacara lebih dulu,” sambungnya.

Azura tersenyum tipis kala itu. Melihat Jasmin yang panik seolah menarik baginya.

Sementara di luar kamar, ada sepasang mata tengah mengawasi mereka. “Itulah sebabnya jika berani melawanku.”

Pria paruh baya itu menyeringai. Rencananya menjebak Jasmin telah berhasil.

Adalah Franky, lawan hukum Jasmin tiga tahun lalu. Mereka terlibat kasus hukum, yang mana Franky merupakan tergugat atas kasus pelecehan seksual yang dilaporkan seorang mahasiswa di sebuah Universitas swasta di kota itu.

Franky terbukti bersalah dan harus mendekam di penjara. Dari situlah ia menaruh dendam terhadap Jasmin.

Begitu keluar jeruji besi, alih-alih berkumpul bersama keluarga, lelaki berkacamata itu menyusun rencana licik untuk menjatuhkan reputasi Jasmin.

Hari ini Franky berhasil menjebak pengacara cantik itu. Suatu kebetulan tak terduga. Semalam ia melihat wanita itu banyak menghabiskan alkohol. Ia pun tak ingin melewatkan kesempatan.

"Nikmatilah hidup di penjara. Kau memang pantas mendapatkannya," gumam Franky seraya mengenakan kacamata hitamnya. Lalu beranjak meninggalkan hotel itu.

"Silahkan ikut kami ke kantor polisi, Tuan, Nona." Sementara di dalam kamar hotel itu, Jasmin masih bergelut argumen bersama petugas kepolisian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Aku Adalah Obatmu

    “Bajumu basah, gantilah dulu,” ucap Jasmin setelah membawa Azura ke dalam rumah Muskan.Kini Jasmin berada di dalam kamar Azura. Wanita itu berniat menemaninya usai menyaksikan kejadian menyakitkan. Jasmin berniat menghibur lelaki tersebut.Pemuda dengan kemeja putih itu akhirnya tertidur setelah mengalami banyak hal berat.“Azura, maafkan Ibu, Nak.” Dalam mimpi, Azura kembali ke masa kecil. Menyaksikan dengan mata kepala dimana Ibunya jatuh pingsan.“Ayah, Ibuku pingsan.” Azura kecil menghubungi Muskan melalui telpon genggam.“Ayahmu tidak ada di sini! Jangan telepon dia lagi!” Naas, orang yang menjawab panggilan darurat tersebut adalah Sarah, alih-alih Muskan.“Ibu!” Azura kecil berteriak ketakutan kala menyaksikan sang ibu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.“Aku membakar semua surat yang kau tulis. Aku memang merebut suamimu!” Kemudian mimpi itu beralih ke rumah sakit, tempat dimana Megan menjalani perawatan secara intensif. Di sana Sarah melabrak Megan yang dalam kondisi antar

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Jasmin Melihatnya

    “Kemarin aku pergi bersama Ayah. Ayah juga ada di sana,” terang Azura, berusaha meluruskan kesalah pahaman.“Kau pikir kau pantas memanggil suamiku Ayah? Kau lahir di luar nikah. Anak haram! Pergi dari keluarga Muskan!” Sarah kian murka, alih-alih percaya.Wanita dengan kunciran rambut perak itu mengusir sang anak tiri. Mendorongnya keras hingga jatuh ke dalam kolam.Sialnya, situasi memalukan itu justru disaksikan Jasmin. Gadis itu pun terkejut sekaligus simpatik.Ya, simpatik. Bagaimana tidak, hari itu masih suasana berkabung. Bahkan semua tamu masih berada di ruang duka memberi ucapan belasungkawa atas meninggalnya putra pertama keluarga kaya itu.Namun, di tempat lain. Istri Muskan justru membuat keributan. Menuding Azura tanpa tendensi.“Jangan kira setelah Marcel meninggal, kau bisa masuk ke dalam keluarga Muskan begitu saja! Pergi dari sini! Pergi!” usir Sarah sekali lagi.Bukan salah Azura menjadi anak di luar nikah. Dia tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga mana. Az

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Bukan Marga Frederick

    “Mengapa dia di sini?” Benak Jasmin bertanya, bagaimana bisa Azura ada di antara keluarga Muskan. Anehnya, lelaki itu justru menerima tamu berdatangan selayaknya keluarga duka.Sementara Jack mengintip mantan sekaligus anak buahnya itu dari arah belakang. Jarak mereka tidak begitu jauh. Sekitar lima meter.Jasmin dan Azura saling menatap satu sama lain. Seperti ada makna tersirat dari keduanya. Benak Jasmin masih mempertanyakan posisi Azura dalam keluarga konglomerat itu. Sedangkan Azura sendiri masih dalam suasana berkabung. Mimik pria dengan setelan jas hitam itu menunjukkan kehilangan sekaligus rindu.Ya, Azura merindukan Jasmin. Aroma tubuhnya, lekukannya, suaranya, dan sentuhannya. Azura merasa tumbuh sesuatu yang istimewa di dalam sana terkait Jasmin.“Turut berduka cita, Tuan muda.” Jack menghampiri dua insan beda generasi itu. Menjulurkan tangan kepada Azura sebagai ucapan belasungkawa.“Astaga, ternyata aku tidur bersama Tuan muda.” Sontak Jasmin terkesiap begitu tahu latar b

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kantor Polisi

    Jasmin merapikan pakaiannya yang tidak kusut. Lalu menatap marah Azura. Sejak tadi pria itu diam saja. Seolah menunjukkan sikap kooperatifnya sebagai tersangka perzinahan.“Brengsek!” Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Jasmin mengumpat tepat di depan Azura. Dalam hati ia bersumpah tak akan memaafkan pria itu.Beberapa hari lalu Jasmin bergelut dengan kasus hukum, yang mana kasus tersebut adalah tentang perzinahan.Dalam kasus tersebut, Jasmin membela seorang gadis belia yang dijebak oleh kekasihnya. Dalam masa persidangan, Jasmin menentang keras kasus perzinahan. Ia bahkan menolak keras opini masyarakat yang kerap menormalisasikan zina.Namun, siapa sangka pagi itu Jasmin justru menjadi tersangka kasus perzinahan. Hal kontra dengan sikap serta prinsipnya.“Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu? Apa kau bisu?” Di mobil polisi, Jasmin mempertanyakan sikap Azura yang terkesan acuh.“Mengapa aku harus? Bukankah benar yang mereka tuduhkan? Semalam kita–”“Cukup!”Jasmin membekap mulut

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Lantai Dua

    Jasmin buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Jasmin justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul.“Berisik sekali!”Sontak Jasmin menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tatapannya tajam mengintimidasi, rambut berantakan, wajahnya masih kusut khas bangun tidur, tapi dahinya sedikit berkerut.“Masuk kamarku sembarangan, lalu sekarang mengganggu tidurku,” gumam pemuda itu sambil berdecak kesal.Jasmin membelalakkan matanya. Apa maksudnya?Selama ini ia menjaga diri. Bukan karena suci atau kolot, tapi karena pilihan. Sebab, ia tahu batasnya sendiri. Dan pagi ini, batas itu terasa seperti diinjak lalu ditinggalkan begitu saja.Dadanya naik turun cepat. Amarah yang semula tertahan kini mendesak keluar, karena tuduhan pemuda itu.“Apa?” suara Jasmin meninggi, pecah sebelum sempat disaring akal sehat. “Kamarmu?”Ia membelalakkan mata, lalu dengan tangan gemetar mengelu

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Diagnosa Dokter

    “Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Jasmin.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Jasmin, keningnya hampir menyatu. Masih terdengar ambigu penjelasan dokter itu.“Sederhananya, Anda mengalami menopause dini.”Ucapan itu menghantam dada Jasmin begitu keras.Hari itu, Jasmin memeriksa siklus menstruasi sekaligus organ reproduksi setelah beberapa bulan tidak mendapat menstruasi. Namun, siapa sangka bila hasil pemeriksaan dokter justru menyatakan bila ia mengalami tanda-tanda menopause dini.Ironisnya, usia Jasmin masih terbilang produktif, tiga puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mengalami hal mengerikan itu.Dunia Jasmin seakan berhenti sejenak. Lantas otaknya kembali berputar, berkelana mencari solusi yang sekiranya bisa mengubah hasil diagnosa itu. Seharusnya, wanita berdarah ca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status