Mag-log inAnggun buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Anggun justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul.
“Berisik sekali!” Sontak Anggun menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tatapannya tajam mengintimidasi, rambut berantakan, wajahnya masih kusut khas bangun tidur, tapi dahinya sedikit berkerut. “Masuk kamarku sembarangan, lalu sekarang mengganggu tidurku,” gumam pemuda itu sambil berdecak kesal. Anggun membelalakkan matanya. Apa maksudnya? Selama ini ia menjaga diri. Bukan karena suci atau kolot, tapi karena pilihan. Sebab, ia tahu batasnya sendiri. Dan pagi ini, batas itu terasa seperti diinjak lalu ditinggalkan begitu saja. Dadanya naik turun cepat. Amarah yang semula tertahan kini mendesak keluar, karena tuduhan pemuda itu. “Apa?” suara Anggun meninggi, pecah sebelum sempat disaring akal sehat. “Kamarmu?” Ia membelalakkan mata, lalu dengan tangan gemetar mengeluarkan kunci dari tas dan mengacungkannya ke arah pria itu. “Aku yang pesan kamar ini! Aku yang dapat kuncinya! Jangan asal menuduh!” Emosinya meluap. Semua rasa takut, bingung, dan nyeri samar di tubuh bercampur jadi satu. “Dan kamu masih berani bilang aku masuk sembarangan?” lanjutnya, suara wanita itu bergetar oleh marah yang tertahan. “Aku bangun cuma pakai pakaian dalam. Apa menurutmu itu kebetulan?” Anggun memungut sepatunya dengan gerakan kasar, nyaris melempar ke dalam tas. Matanya memerah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang terlalu lama ditekan hidupnya. “Aku jaga diri bertahun-tahun,” katanya tajam, menatap pria itu tanpa gentar meski jantungnya masih berdentum keras. “Dan kamu pikir kamu bisa seenaknya ambil ‘keuntungan’ cuma karena aku mabuk?” Melihat pemuda itu hanya menatapnya dengan malas,Anggun mengembuskan napas keras. Rahangnya mengeras. “Jangan pura-pura nggak tahu apa-apa. Jangan pasang tampang sok dirugikan.” Pemuda itu bergerak, duduk di tepi ranjang. Dada telanjangnya terekspos jelas, membuat Anggun refleks memalingkan wajah. Panas langsung menjalar ke pipinya. “Kamu yakin ini benar kam—” Kalimat itu terpotong oleh ketukan keras di pintu. Tok! Tok! Tok! Anggun tersentak. Ia menoleh ke arah pintu, lalu kembali melirik pemuda itu yang hanya diam, ekspresinya tak terbaca. Dengan langkah cepat, Anggun menuju pintu. Kepalanya masih berat, ingatannya kabur. Ia tetap yakin kamar ini kamar yang ia pesan. Begitu pintu terbuka, dua petugas berseragam coklat berdiri di sana, ditemani seorang staf hotel. Jantung Anggun seketika tenggelam. “Selamat pagi,” ucap salah satu petugas dengan suara tegas. “Kami dari Satpol PP. Kami menerima laporan dugaan perzinaan di kamar ini.” “Apa?” mata Anggun membelalak. “Perzinaan?” “Beberapa tamu melapor mendengar suara gaduh semalam. Teriakan, benturan, dan suara mencurigakan,” lanjut petugas itu. “Karena itu, kami melakukan pemeriksaan.” “Itu bukan kami!” Anggun menyela cepat. “Kami bahkan tidak—” Petugas kedua, Bayu, melangkah masuk tanpa menunggu izin. Pandangannya menyapu ruangan. Ranjang kusut. Pakaian berserakan. Seorang pria duduk bertelanjang dada di tepi ranjang. Cukup untuk menimbulkan tafsir. Staf hotel, Bimo, menunduk pada tabletnya. “Mbak, ada satu hal lagi. Berdasarkan data kami, kamar ini terdaftar atas nama Bapak Azura Permana.” Anggun membeku. “Apa?” Pemuda itu akhirnya bersuara. “Ini kamar saya.” Dunia Anggun terasa seperti miring seketika. “Tidak… saya dapat kunci kamar dari resepsionis. Saya pikir—” “Nanti kami akan telusuri hal ini karena sepertinya memang kesalahan resepsionis,” potong Bimo cepat, jelas gugup. “Tapi secara data, Mbak bukan tamu terdaftar di kamar ini.” Bayu mengangguk. “Artinya, Mbak berada di kamar laki-laki yang bukan suami Mbak.” Anggun mengepalkan tangan. “Tapi itu bukan kesengajaan. Bukan salah saya juga karena saya dikasih kunci yang ini.” Namun, penjelasan itu tak banyak berarti. Bayu melirik mereka bergantian. “Kami perlu memastikan. Apakah semalam terjadi hubungan badan antara Mbak dan Mas ini?” Pertanyaan itu jatuh berat. Anggun terdiam. Wajahnya menegang. Ia menunduk, menatap lantai karpet. Ingatannya berputar tidak utuh. Yang ia ingat hanya bangun pagi dengan kepala berdenyut dan tubuhnya… hanya tertutup pakaian dalam. “Saya…” suaranya tercekat. “Saya tidak ingat.” “Apa maksudnya tidak ingat?” tanya Bayu, nada suaranya mengeras. “Saya mabuk,” jawab Anggun jujur. “Ingatan saya kosong. Tapi saat bangun, saya sudah tidak berpakaian lengkap.” Pandangan Bayu langsung beralih ke pemuda itu. “Kalau Anda?” tanya Bayu. Azura menghela napas pelan. “Saya juga minum banyak semalam. Saya tidak sepenuhnya sadar.” Keheningan terasa menekan. “Laporannya menyebutkan suara gaduh dari kamar ini,” kata Bayu sambil menatap ranjang. “Dan kondisi kamar mendukung dugaan itu.” “Itu bisa dari kamar lain,” bantah Anggun cepat, panik mulai merayap. “Hotel ini penuh. Dindingnya tipis.” Bayu tidak langsung menjawab. Ia mencatat sesuatu. “Tidak ada bukti kekerasan,” ucapnya akhirnya. “Tapi juga tidak ada bukti kuat yang membantah dugaan perzinaan.” Bayu menarik napas dalam. “Kalau begitu, sesuai prosedur, Mbak dan Mas harus kami bawa untuk pendataan lebih lanjut.” Wajah Anggun memucat. “Pendataan apa?” “Pendataan di kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan,” jawab Danang, rekan Bayu tegas. “Sesuai hukum yang berlaku, kalian harus dinikahkan.” Anggun tersentak. Napasnya tersendat. “Apa?” suaranya meninggi, nyaris pecah. “Tidak. Saya tidak mau. Ini tidak masuk akal. Kami tidak melakukan apa-apa.” Tubuhnya menegang, langkahnya refleks mundur setengah inci, seolah jarak sekecil itu bisa menyelamatkannya. Azura turun dari ranjang, lalu menatap Anggun, sorot matanya kini serius. “Kami tidak akan melakukan itu. Saya tidak mengenal wanita ini.” “Jika kalian menolak pendataan pernikahan, maka kasus dugaan perzinaan ini akan kami teruskan sebagai laporan terbuka. Jadi, kalian akan kami arak di luar hotel sebagai pasangan zina, agar proses hukum berlangsung transparan,” jelas Bayu dengan tatapan serius. Anggun membeku. Jika hal itu dilakukan, jelas reputasinya sebagai manager bank akan tercoreng habis. Namun, Anggun juga tidak bisa menerima dinikahkan dengan pria asing yang usianya tampak jauh lebih muda darinya!Sementara Azura dan Anggun sedang menghabiskan waktu berdua di dalam kehangatan vila pegunungan mereka, badai baru justru sedang berkumpul di Jakarta. Di dalam ruang kerjanya yang luas namun terasa mati, Permana berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman rumah utama. Pria paruh baya itu memegang segelas wiski yang belum disentuhnya sama sekali. Pikirannya tidak tenang. Kalimat-kalimat tegas Azura dua hari lalu terus berputar di otaknya bagaikan kaset rusak yang merobek sisa-sisa harga dirinya.“Anggun adalah duniaku sekarang, Pa. Restu atau tidak dari keluarga ini, tidak akan pernah mengubah statusnya sebagai istri sahku selamanya.”Permana menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak. Kehilangan Dewa telah menghancurkan separuh jiwanya. Kenyataan bahwa Aira membusuk di penjara telah merenggut kewibawaannya. Dan kini, Azura—satu-satunya putra yang tersisa, yang ia harapkan bisa meneruskan takhta bisnis keluarga—justru memilih membangkang demi seorang wanita asing.Ras
Keesokan paginya, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih tenang. Ketegangan yang dipicu oleh kedatangan Dewi dua hari lalu perlahan menguap, digantikan oleh rutinitas pagi yang hangat.Azura berdiri di dekat jendela besar ruang tengah, menatap cangkir kopi di tangannya dengan pandangan yang dalam. Meskipun Anggun telah menunjukkan ketegaran yang luar biasa dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda trauma yang mendalam, hati kecil Azura tetap digerogoti oleh rasa bersalah.Sebagai seorang suami, Azura merasa bertanggung jawab atas ketidaknyamanan yang menimpa istrinya akibat konflik internal keluarganya. Ia tidak ingin Anggun terus-menerus dihadapkan pada atmosfer kota yang bising dan penuh intrik. Pria itu lantas meletakkan cangkirnya, lalu berjalan menghampiri Anggun yang sedang melipat beberapa helai pakaian di ruang bersantai."Anggun," panggil Azura lembut.Anggun mendongak, seraya menyugar rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang telinga, lalu tersenyum manis."Iya,
Dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang berguncang hebat akibat amarah yang membakar benaknya, Dewi melangkah keluar dari kediaman Azura. Sepanjang jalan menuju rumah utama keluarga Permana, jemarinya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, kalimat-kalimat telak dari Anggun terus terngiang bagai tamparan yang tak kunjung usai.“Sampah yang sesungguhnya adalah wanita yang puluhan tahun lalu berselingkuh...”"Kurang ajar! Perempuan rendahan itu benar-benar harus disingkirkan!" makian Dewi pecah di dalam keheningan mobilnya.Dewi sebenarnya tidak tahu-menahu tentang masa lalu Anggun. Ia sama sekali tidak mengenal siapa itu Diki, tidak tahu latar belakang keluarga Anggun, ataupun kisah cinta lama wanita itu. Satu-satunya alasan Dewi mengetahui keberadaan Anggun adalah karena aduan dari Erika beberapa hari lalu. Erika bercerita dengan penuh amarah bahwa beberapa bulan lalu, ia sempat bertamu ke rumah pribadi Azura dan mendapati se
Pagi itu, langit di atas ibu kota tampak mendung, seolah melempar firasat buruk ke jendela rumah mewah milik Azura. Setelah suaminya berangkat ke kantor dengan kecupan hangat di kening yang sempat meredakan sisa ketegangan kemarin, Anggun memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur. Namun, ketenangan itu hancur berantakan ketika bel pintu utama berbunyi dengan ketukan yang tidak sabar dan kasar.Saat Anggun membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan pakaian glamor namun wajah yang sarat akan kebencian berdiri di hadapannya. Wanita itu adalah Dewi, ibu tiri Azura.Dewi tidak menunggu dipersilakan. Dengan keangkuhan yang mendarah daging, ia menerobos masuk, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan suara yang menggema angkuh. Pandangan matanya langsung tertuju pada bingkai foto pernikahan besar di ruang tamu. Wajah Dewi mengeras, matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap."Jadi benar... anak haram sialan itu benar-benar sudah gila," desis Dewi, suaranya bergetar menahan
Ketegangan di kediaman Azura dan Anggun kembali mencapai puncaknya sore itu. Pintu rumah mewah tersebut belum sepenuhnya tertutup rapat saat Erika melangkah masuk tanpa izin, memanfaatkan kelalaian pelayan yang sedang membersihkan area depan. Namun, langkah angkuh Erika seketika terhenti tepat di koridor menuju ruang tamu utama.Matanya yang dihiasi riasan tajam itu membelalak sempurna. Di dinding utama ruang tamu, terpajang sebuah bingkai foto besar yang sangat megah. Di dalam foto itu, Azura mengenakan setelan jas hitam elegan, merangkul pinggang Anggun yang tampil anggun luar biasa dengan kebaya pernikahan berwarna putih suci. Senyuman di wajah keduanya begitu lepas, begitu nyata, tanpa ada kepalsuan kontrak yang tersisa.Napas Erika mendadak memburu. Rasa syok dan tidak percaya menghantam dadanya. Ia memang pernah bertemu Anggun di rumah itu saat dengan angkuhnya mengira Anggun adalah pembantu baru Azura, tetapi saat itu ia hanya mengira Anggun adalah wanita biasa yang kebetulan d
Setelah Diki melangkah pergi dengan sisa-sisa harga diri yang runtuh, keheningan yang intens mendadak menyelimuti meja kafe tempat Azura dan Anggun berdiri.Keberanian Azura mengumumkan pernikahan mereka di depan umum seolah meruntuhkan dinding pembatas terakhir yang selama ini mengurung mereka dalam rasa cemas.Azura masih menggenggam jemari Anggun. Genggamannya begitu erat, menyalurkan kehangatan sekaligus keposesifan yang tak lagi ditutupi oleh topeng formalitas. Anggun bisa merasakan sisa-sisa ketegangan yang merambat dari telapak tangan suaminya."Azura... klien asingmu tadi, bagaimana?" tanya Anggun lembut, mencoba mencairkan atmosfer yang sempat membeku. Ia menatap ke arah pintu keluar kafe, tempat asisten Azura tampak sibuk membungkuk meminta maaf kepada sang klien yang tampak bingung.Tetapi, Azura tidak menoleh ke arah kliennya. Fokus matanya justru terkunci sepenuhnya pada wajah Anggun."Biarkan saja. Urusan bisnis bisa dijadwalkan ulang, Anggun. Tapi membiarkan pria dari m
Empat puluh dua hari setelah terpecahnya kasus kematian Dewa, semua kembali berjalan seperti biasa. Azura kembali ke aktifitasnya. Permana mulai aktif berkantor, menggantikan peran Dewa sementara. Sedangkan Dewi menggantikan posisi Aira. Sementara Anggun, tetap melanjutkan hidup seperti biasa. Beke
Anggun melihat kartu nama yang diberi Azura. Alisnya hampir menyatu. Ia tahu lokasi itu."Ini--" Anggun nyaris tak percaya, Azura justru tinggal di sebuah kawasan elit khusus orang kaya.Ia pun memesan taksi online melalui ponselnya. Sepuluh menit menunggu, akhirnya kendaraan umum itu datang.Koper
Anggun terlihat canggung. Ia meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Lalu ia melirik Azura yang sedang memeriksa ponselnya dengan ekspresi aneh. Alis pria itu sedikit mengernyit. Masih mengusap jemari yang dingin, lalu Anggun mencoba mengucapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dalam
Beberapa saat setelah pernikahan. Pras dan Fatma membawa Anggun dan Azura ke rumah mereka. "Kemarilah, ikut Mama." Sesampainya di rumah, Fatma menyeret pelan Anggun untuk dibawa ke dalam kamar. Meninggalkan Azura yang selalu bungkam."Jelaskan sama Mama, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria itu,







