Share

Di Tengah Jalan

Author: Suharni
last update Last Updated: 2025-12-22 19:42:07

Anggun terlihat canggung. Ia meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Lalu ia melirik Azura yang sedang memeriksa ponselnya dengan ekspresi aneh. Alis pria itu sedikit mengernyit.

Masih mengusap jemari yang dingin, lalu Anggun mencoba mengucapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dalam hati.

"Terimakasih sudah membantuku. Saya pasti akan membalas semua kebaikan Anda apapun itu," ucap Anggun akhirnya.

Azura mendongak, menatap wanita di depannya itu dengan datar. "Tidak perlu terlalu formal. Urusan balas budi itu, sebaiknya kau lupakan saja. Kita hanya perlu menjalankan peran selayaknya suami istri di depan semua orang. Baik itu keluargaku, ataupun kedua orang tuamu. Selebihnya, kita menjalani hidup masing-masing."

Frasa itu terasa begitu dingin, membuat Anggun menelan salivanya. Jelas ini bukan pernikahan impian yang dulu sering digaungkan bersama Rena, sahabatnya.

Tidak ada kebahagiaan, tidak ada kehangatan selayaknya pasangan pada umumnya. Terutama sentuhan yang paling didamba.

Sentuhan fisik itulah yang ditunggu-tunggu Anggun, agar ia melihat reaksi tubuhnya yang telah mengalami monopause dini.

Bukan sekedar menjadi obat penawar, melainkan saling membutuhkan satu sama lain. Sayangnya, ikatan itu hanya berdasarkan kesepakatan yang dipaksa oleh keadaan.

"Apa setelah ini, kita benar-benar menemui keluarga Anda?" Meski ragu, tetapi Anggun merasa harus mempertanyakan hal ini. Mengingat pria itu sudah meminta izin pada orang tuanya.

"Iya," jawab Azura singkat, sembari berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Anggun mendongak, lalu berdiri menghadap Azura. "Kita harus cepat, aku hampir tidak punya banyak waktu."

Nada itu cukup menekan, membuat Anggun bergerak mengambil langkah selanjutnya.

"Baiklah," lirih wanita itu.

Anggun masuk ke kamar, ia memasukkan beberapa pakaian seadanya ke dalam koper. Namun, mendadak ia merasakan sesuatu menusuk di bawah perutnya.

"Aduh," keluh wanita itu seraya meremas perutnya yang rata. Ia duduk di tepi ranjang. Sedikit keringat keluar dari pori-pori keningnya.

Namun, sedetik kemudian rasa nyeri itu hilang. Anggun pun menghela napas lega.

Sementara di ruang tamu, Azura mulai gelisah. Lima belas menit berlalu, Anggun tak kunjung keluar.

"Mengapa dia lama sekali?" gumam Azura.

Merasa terdesak oleh keadaan, akhirnya Azura memutuskan menyusul Anggun.

Tok! Tok! Tok!

Tiga kali Azura mengetuk pintu kamar Anggun. Segera Anggun beranjak, membuka pintu kamar.

"Sudah siap?" tanya Azura datar.

"Iya, aku ambil koper dulu," jawab Anggun seraya beranjak mengambil koper berisi pakaiannya.

Lagi-lagi Azura mengela napas berat. Namun, beberapa saat kemudian, perhatiannya teralihkan pada sebuah potret yang dirasa tak asing di dalam kamar Anggun.

Potret itu dibungkus dalam bingkai foto kayu, menggambarkan seorang anak remaja tengah bermain ayunan di sebuah taman.

Alis Azura hampir menyatu. "Gambar itu." Azura mencoba mengingat sesuatu untuk dicocokkan dalam gambar tersebut. Kemudian ia menggeleng pelan.

"Aku sudah siap," ucap Anggun.

Azura tidak menyahut. Ia kembali memperhatikan ponselnya yang terdapat pesan masuk. Lalu memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celana.

Di ruang tamu, Pras dan Fatma menunggu pasangan suami istri baru itu. Rasanya berat melepas putri mereka. Namun, keduanya hanya bisa menerima fakta.

"Om, Tante, kami permisi," ucap Azura pamit.

"Iya, sering-seringlah mampir kemari," ucap Fatma dengan berat hati. Matanya berkaca-kaca saat ia beralih pada putrinya. Ia menyentuh pipi Anggun sebelum akhirnya memeluk.

Sementara Pras membawa Azura sedikit menjauh dari dua wanita beda generasi itu. Pras terlihat membisikkan sesuatu ke kuping Azura, entah apa. Anggun dan Fatma tidak dapat mendengar.

Namun, dari mimik Azura mereka bisa menyimpulkan, bahwa pria itu sedang mendapat wejangan bermakna dari Pras.

"Kami pamit, assalamu'alaikum." Akhirnya Azura dan Anggun benar-benar meninggalkan rumah itu.

Sebagi orang tua, jelas hati Fatma sedikit tak rela, terlebih pernikahan putri mereka bisa dibilang buru-buru. Akan tetapi, pasangan suami istri itu tidak bisa mengubah segalanya. Anggun telah memiliki suami. Ada kehidupan baru tengah menanti wanita itu di depan sana.

Fatma menghela napas berat seraya menunduk sedih.

"Sudahlah, anakmu sudah besar. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendoakan mereka," lirih Pras seraya mendekap pundak sang istri. Lalu mereka masuk ke dalam rumah.

Hari itu Azura naik taksi bersama Anggun. Sesuai kesepakatan awal, mereka akan bertemu keluarga pria itu. Akan tetapi, di tengah jalan Azura mendapat panggilan penting.

"Baiklah, aku paham," gumamnya. Azura mematikan panggilan itu.

"Stop di sini," kata Azura kepada supir taksi. Lalu ia beralih pada Anggun.

"Dengar, aku sangat terburu-buru. Kau tunggu taksi lain di sini. Dan ini alamat rumahku." Azura memberi kartu nama kepada Anggun. Dalam kartu tersebut, tertera jelas dimana tempat tinggal Azura.

"Tapi--"

"Aku tidak punya banyak waktu," seloroh Azura datar, tapi cukup mendesak.

Tentu Anggun bingung. Dia seperti diterlantarkan oleh suaminya di tengah jalan. Benar alamat rumah itu telah dikantongi, tetapi kediaman serta penghuninya masih begitu asing. Jelas Anggun butuh seseorang yang menemani.

Jika saja ia tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai istri Azura, sudah pasti mereka tidak akan percaya. Dengan kata lain, Anggun akan dicap orang gila.

"Tapi ngomong-ngomong saya belum punya nomor ponsel Anda," kata Anggun kemudian.

Azura mengeluarkan ponsel dari saku celana. Mereka bertukar nomor tanpa bicara.

"Dengar, tidak perlu terlalu formal. Orang-orang tidak akan percaya kita sudah menikah," ucap Azura datar kemudian.

Anggun tertegun sejenak, sedikit membenarkan di dalam hati, tetapi ia masih canggung untuk sekedar bicara santai.

Sampai akhirnya Anggun turun dari taksi. Matanya terus melihat mobil yang sedikit demi sedikit hilang dari pandangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kamu Masih Saja Cemburu?

    Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Suamiku Bos Sahabatku

    Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Ketika Azura Cemburu.

    Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Melangkah Bersama

    Pagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Malam yang Indah

    Malam itu tidak datang dengan tergesa. Lampu-lampu kota di balik jendela hanya menjadi latar buram ketika Anggun berdiri diam di tengah kamar, seolah sedang menimbang ulang seluruh hidupnya. Ada begitu banyak ketakutan yang pernah menahannya. Dimulai dari usia, status, masa lalu, kontrak yang mengikat tanpa rasa. Namun kini, semuanya berdiri berhadapan dengan satu perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.Sementara Azura berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Tatapan matanya lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia layangkan di dunia luar. Saat ini tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada pula paksaan.Tak lama Anggun menoleh, menatap pria itu lama, seolah ingin menghafal wajahnya, wajah seseorang yang sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi malam ini terasa jauh lebih dewasa dengan caranya mencintai.“Apa kamu masih ragu?” tanya Azura pelan.“Iya... aku takut kalau perasaan ini hanya singgah sebentar, lalu pergi diam-diam. Aku juga takut kalau set

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Saat Azura Membaca Vonis Dokter Tanpa Sengaja

    Kertas itu tidak seharusnya ada di sana. Azura tahu benda tipis itu begitu matanya menangkap lembaran putih yang tergeletak di meja makan, terselip di antara tablet vitamin dan map berisi dokumen perusahaan yang semestinya ia bawa ke ruang kerja. Tulisan dokter tercetak rapi, dingin, dan terlalu klinis untuk berada di ruang yang seharusnya hangat.Reflek Azura berhenti melangkah. Lalu tangannya terulur tanpa sadar, lantas berhenti di udara, seolah memberi dirinya sendiri waktu untuk berpikir ulang. Namun, rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam mendadak muncul, lebih personal mengalahkan kehati-hatian.Azura pun membacanya. Awalnya satu baris, lalu baris berikutnya. Kemudian masuk pada baris kalimat yang membuat dadanya mengeras.Diagnosis: tanda penuaan dini pada sistem reproduksi dan hormonal.Reflek Azura menghela napas pelan. Bukan marah, bukan kecewa. Yang datang justru pemahaman yang terlambat. Lalu menyusul potongan-potongan memori sikap Anggun yang selama ini ia anggap se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status