Share

Jasmin Melihatnya

Penulis: Suharni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-22 19:42:07

“Kemarin aku pergi bersama Ayah. Ayah juga ada di sana,” terang Azura, berusaha meluruskan kesalah pahaman.

“Kau pikir kau pantas memanggil suamiku Ayah? Kau lahir di luar nikah. Anak haram! Pergi dari keluarga Muskan!” Sarah kian murka, alih-alih percaya.

Wanita dengan kunciran rambut perak itu mengusir sang anak tiri. Mendorongnya keras hingga jatuh ke dalam kolam.

Sialnya, situasi memalukan itu justru disaksikan Jasmin. Gadis itu pun terkejut sekaligus simpatik.

Ya, simpatik. Bagaimana tidak, hari itu masih suasana berkabung. Bahkan semua tamu masih berada di ruang duka memberi ucapan belasungkawa atas meninggalnya putra pertama keluarga kaya itu.

Namun, di tempat lain. Istri Muskan justru membuat keributan. Menuding Azura tanpa tendensi.

“Jangan kira setelah Marcel meninggal, kau bisa masuk ke dalam keluarga Muskan begitu saja! Pergi dari sini! Pergi!” usir Sarah sekali lagi.

Bukan salah Azura menjadi anak di luar nikah. Dia tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga mana. Azura tidak bisa memilih orang tua yang melahirkannya.

Bukankah tidak ada kata ‘anak haram’ di dunia ini? yang ada hanyalah perbuatan kedua orang tuanya disebut haram.

Melihat peristiwa memilukan itu, hati Jasmin mulai luluh. Sungguh ia merasa iba pada nasib Azura yang ternyata tidak beruntung.

Pria itu memang terlahir dari keluarga konglomerat. Namun, takdir tak berpihak padanya. Ia kerap dirundung oleh Sarah, sang ibu tiri. Tidak ada yang memihak padanya. Kecuali Muskan, sang ayah biologis.

“Bu, ini hari pemakaman Marcel. Jangan membuat keributan. Ayo pergi.” Nasib baik, Celena sang Kaka tiri tidak turut serta dalam keributan yang diciptakan oleh Ibu kandungnya kala itu.

Celena merupakan Nona muda dalam keluarga Muskan. Adik kandung Marcel. Wanita berambut tebal lurus itu tidak pernah menghardik Azura, apa lagi mencacinya secara langsung.

Ia hanya perlu memanfaatkan pria tersebut untuk meraup keuntungan. Munafik. Inilah julukan yang pantas disandang gadis berusia tiga puluh lima tahun tersebut.

Begitu Sarah dan Celena menghilang dari pandangan Azura, lantas pria itu melihat Jasmin tengah berdiri di balik dinding kaca sebelah kanan. Sedang menatap haru.

Hari itu Azura sungguh memprihatinkan. Sosok itu tidak menggambarkan kehidupan 'Tuan muda' dari keluarga kaya raya seperti kebanyakan. Lebih tepatnya Azura persis anak pembantu dalam keluarga Muskan.

Azura bangkit. Ia meninggalkan tempat itu. Menuruni anak tangga satu persatu bersama Jasmin. Ya, gadis itu ikut serta.

“Tuan Azura,” panggil Jasmin akhirnya setelah beberapa menit mengikuti Azura.

“Tuan.” Azura tidak menyahut. Ia terlalu malu untuk sekedar mengangkat kepala menghadap wanita yang beberapa jam lalu menghabiskan malam dengannya.

Jasmin mencegat Azura, memegang lengan kanannya agar menghentikan langkah sejenak.

“Tidak usah menghiburku. Sejak dulu aku memang begini,” lirih Azura.

“Aku tidak bermaksud menguping pembicara kalian,” ucap Jasmin penuh sesal.

“Kalau kamu mengikuti skandal keluarga kaya, urusan keluarga Muskan ini sudah jadi rahasia umum.” Kalimat Azura kali ini sukses membuat hati Jasmin tercubit.

Jika benar skandal keluarga Muskan sudah menjadi konsumsi publik. Lantas mengapa ia tidak pernah tahu? Profesinya sebagai pengacara, seakan tak berarti di depan keluarga lelaki tampan tersebut.

Pantas saja Sarah mencaci pemuda malang itu tanpa welas asih. Jasmin mengira keluarga itu cukup harmonis.

Dikelilingi harta berlimpah. Status sosial yang menjulan tinggi. Karir meroket bagai pesawat tempur yang melaju kencang. Namun, siapa sangka bila semua itu hanya tampak luar semata. Faktanya adalah keluarga Muskan saling meledak tanpa banyak yang tahu.

Ironisnya, keluarga yang dikenal dengan marga Frederick itu saling membunuh satu sama lain. Memperebutkan harta warisan. Dimana tak ada satu pun titik keringat mereka di dalamnya.

Harta bernilai triliunan itu merupakan hasil jerih payah Muskan sewaktu masih remaja.

Pria tua itu rela bekerja apa saja demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Salah satunya adalah menggadai rumah peninggalan mendiang sang nenek untuk dijadikan modal usaha.

Tahun berganti tahun. Tibalah masa dimana Muskan berada di puncak kejayaan. Kerja keras yang selama ini dilakoni tidak berkhianat.

Hasilnya luar biasa. Ia berhasil mendirikan perusahaan farmasi, meski masih dalam skala kecil saat itu.

Lima tahun kemudian, satu persatu investor datang menyapa. Mengajak bergabung dalam perusahaan mereka.

Sudah banyak perusahaan kecil yang diakuisisi oleh pria yang dikenal bertangan dingin tersebut. Sehingga menambah pundi-pundi harta karunnya.

Saat berusia dua puluh delapan tahun, Muskan akhirnya menikahi Sarah Mendes. Dalam pernikahan itu lahirlah sepasang anak yang diberi nama Marcel Muskan Frederick dan Celena Muskan Frederick.

Akan tetapi, pernikahan itu hanya tampak bahagia di luar saja. Muskan tidak pernah menemukan kedamaian sekaligus kenyamanan dalam pernikahan itu meski telah dikaruniai sepasang anak tampan dan cantik. Itulah sebabnya ia memilih berselingkuh.

Adalah Megan, wanita yang berhasil memenangkan hati serta jiwanya. Megan merupakan gadis sederhana. Parasnya yang cantik dan anggun membuat Muskan takluk.

Dari hubungan terlarang itu, lahirlah seorang putra tampan yang saat ini menjadi buah bibir khalayak ramai. Azura Muskan Frederick.

Kehadiran anak itu seolah menjadi penghinaan besar bagi Sarah dan kedua anaknya. Alhasil merekapun hanya bisa bersandiwara menerima kehadiran Azura di depan Muskan.

Namun, ketika pria tua itu tiada, maka Sarah dengan leluasa menyerang sang anak tiri secara fisik maupun verbal tanpa ampun.

Ajaibnya, wajah Azura justru mirip Marcel. Hal itulah yang membuat Sarah semakin membenci pemuda malang tersebut. Ia merasa terhina. Bagaimana bisa wajah putranya justru sama persis dengan anak gundik dari sang suami.

“Mengapa setelah kamu pergi, pagi ini dia meninggal? Katakan! Kamu apakan dia?” Kata-kata Sarah kembali bermain di pelupuk mata Jasmin.

“Maaf, aku tidak bermaksud melihat urusan keluargamu,” lirih Jasmin penuh penyesalan.

“Aku dan kakakku satu ayah beda ibu. Seperti yang ibunya katakan, aku anak haram yang berharap kakaknya meninggal,” ujar Azura.

Hal itu kian membuat hati Jasmin terenyuh. Ia simpatik sekaligus haru. Seakan turut merasakan apa yang dialami Azura.

Hingga akhirnya Jasmin membelai hangat pipi pemuda berusia dua puluh tahun tersebut. “Aku kira semalam aku salah lihat,” ucap wanita itu.

Sekali lagi Jasmin menyeka air mata yang mulai menetes di pipi Azura. Pemuda itu menangis seperti semalam di bar.

“Kakak, soal semalam… terimakasih sudah datang,” ungkap Azura tulus.

Siapa sangka, bila peristiwa semalam umpama obat pelipur lara bagi Azura. Namun, tetap tulus mencintai Jasmin. Seketika Azura merasa tidak salah mendaftarkan pernikahan mereka.

“Adik, terimakasih juga sudah datang.” Pun gadis berusia tiga puluh tahun tersebut. Dalam hati tak kalah bersyukurnya. Azura ibarat obat penenang sekaligus penawar diagnosa medis yang belum lama ini diterimanya.

Rupanya insting tidak salah menerka. Azura bukan orang jahat. Pria itu sanggup menyembuhkan monopuase dini Jasmin. Pikirnya kala itu.

“Bajumu basah, gantilah dulu,” ucap Jasmin setelah menemani Azura ke dalam rumah Muskan.

Kini Jasmin berada di dalam kamar Azura. Wanita itu berniat menemaninya usai menyaksikan kejadian menyakitkan. Jasmin berniat menghibur lelaki tersebut.

Pemuda dengan kemeja putih itu akhirnya tertidur setelah mengalami banyak hal berat.

“Azura, maafkan Ibu, Nak.” Dalam mimpi, Azura kembali ke masa kecil. Menyaksikan dengan mata kepala dimana Ibunya jatuh pingsan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Aku Adalah Obatmu

    “Bajumu basah, gantilah dulu,” ucap Jasmin setelah membawa Azura ke dalam rumah Muskan.Kini Jasmin berada di dalam kamar Azura. Wanita itu berniat menemaninya usai menyaksikan kejadian menyakitkan. Jasmin berniat menghibur lelaki tersebut.Pemuda dengan kemeja putih itu akhirnya tertidur setelah mengalami banyak hal berat.“Azura, maafkan Ibu, Nak.” Dalam mimpi, Azura kembali ke masa kecil. Menyaksikan dengan mata kepala dimana Ibunya jatuh pingsan.“Ayah, Ibuku pingsan.” Azura kecil menghubungi Muskan melalui telpon genggam.“Ayahmu tidak ada di sini! Jangan telepon dia lagi!” Naas, orang yang menjawab panggilan darurat tersebut adalah Sarah, alih-alih Muskan.“Ibu!” Azura kecil berteriak ketakutan kala menyaksikan sang ibu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.“Aku membakar semua surat yang kau tulis. Aku memang merebut suamimu!” Kemudian mimpi itu beralih ke rumah sakit, tempat dimana Megan menjalani perawatan secara intensif. Di sana Sarah melabrak Megan yang dalam kondisi antar

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Jasmin Melihatnya

    “Kemarin aku pergi bersama Ayah. Ayah juga ada di sana,” terang Azura, berusaha meluruskan kesalah pahaman.“Kau pikir kau pantas memanggil suamiku Ayah? Kau lahir di luar nikah. Anak haram! Pergi dari keluarga Muskan!” Sarah kian murka, alih-alih percaya.Wanita dengan kunciran rambut perak itu mengusir sang anak tiri. Mendorongnya keras hingga jatuh ke dalam kolam.Sialnya, situasi memalukan itu justru disaksikan Jasmin. Gadis itu pun terkejut sekaligus simpatik.Ya, simpatik. Bagaimana tidak, hari itu masih suasana berkabung. Bahkan semua tamu masih berada di ruang duka memberi ucapan belasungkawa atas meninggalnya putra pertama keluarga kaya itu.Namun, di tempat lain. Istri Muskan justru membuat keributan. Menuding Azura tanpa tendensi.“Jangan kira setelah Marcel meninggal, kau bisa masuk ke dalam keluarga Muskan begitu saja! Pergi dari sini! Pergi!” usir Sarah sekali lagi.Bukan salah Azura menjadi anak di luar nikah. Dia tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga mana. Az

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Bukan Marga Frederick

    “Mengapa dia di sini?” Benak Jasmin bertanya, bagaimana bisa Azura ada di antara keluarga Muskan. Anehnya, lelaki itu justru menerima tamu berdatangan selayaknya keluarga duka.Sementara Jack mengintip mantan sekaligus anak buahnya itu dari arah belakang. Jarak mereka tidak begitu jauh. Sekitar lima meter.Jasmin dan Azura saling menatap satu sama lain. Seperti ada makna tersirat dari keduanya. Benak Jasmin masih mempertanyakan posisi Azura dalam keluarga konglomerat itu. Sedangkan Azura sendiri masih dalam suasana berkabung. Mimik pria dengan setelan jas hitam itu menunjukkan kehilangan sekaligus rindu.Ya, Azura merindukan Jasmin. Aroma tubuhnya, lekukannya, suaranya, dan sentuhannya. Azura merasa tumbuh sesuatu yang istimewa di dalam sana terkait Jasmin.“Turut berduka cita, Tuan muda.” Jack menghampiri dua insan beda generasi itu. Menjulurkan tangan kepada Azura sebagai ucapan belasungkawa.“Astaga, ternyata aku tidur bersama Tuan muda.” Sontak Jasmin terkesiap begitu tahu latar b

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kantor Polisi

    Jasmin merapikan pakaiannya yang tidak kusut. Lalu menatap marah Azura. Sejak tadi pria itu diam saja. Seolah menunjukkan sikap kooperatifnya sebagai tersangka perzinahan.“Brengsek!” Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Jasmin mengumpat tepat di depan Azura. Dalam hati ia bersumpah tak akan memaafkan pria itu.Beberapa hari lalu Jasmin bergelut dengan kasus hukum, yang mana kasus tersebut adalah tentang perzinahan.Dalam kasus tersebut, Jasmin membela seorang gadis belia yang dijebak oleh kekasihnya. Dalam masa persidangan, Jasmin menentang keras kasus perzinahan. Ia bahkan menolak keras opini masyarakat yang kerap menormalisasikan zina.Namun, siapa sangka pagi itu Jasmin justru menjadi tersangka kasus perzinahan. Hal kontra dengan sikap serta prinsipnya.“Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu? Apa kau bisu?” Di mobil polisi, Jasmin mempertanyakan sikap Azura yang terkesan acuh.“Mengapa aku harus? Bukankah benar yang mereka tuduhkan? Semalam kita–”“Cukup!”Jasmin membekap mulut

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Lantai Dua

    Jasmin buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Jasmin justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul.“Berisik sekali!”Sontak Jasmin menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tatapannya tajam mengintimidasi, rambut berantakan, wajahnya masih kusut khas bangun tidur, tapi dahinya sedikit berkerut.“Masuk kamarku sembarangan, lalu sekarang mengganggu tidurku,” gumam pemuda itu sambil berdecak kesal.Jasmin membelalakkan matanya. Apa maksudnya?Selama ini ia menjaga diri. Bukan karena suci atau kolot, tapi karena pilihan. Sebab, ia tahu batasnya sendiri. Dan pagi ini, batas itu terasa seperti diinjak lalu ditinggalkan begitu saja.Dadanya naik turun cepat. Amarah yang semula tertahan kini mendesak keluar, karena tuduhan pemuda itu.“Apa?” suara Jasmin meninggi, pecah sebelum sempat disaring akal sehat. “Kamarmu?”Ia membelalakkan mata, lalu dengan tangan gemetar mengelu

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Diagnosa Dokter

    “Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Jasmin.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Jasmin, keningnya hampir menyatu. Masih terdengar ambigu penjelasan dokter itu.“Sederhananya, Anda mengalami menopause dini.”Ucapan itu menghantam dada Jasmin begitu keras.Hari itu, Jasmin memeriksa siklus menstruasi sekaligus organ reproduksi setelah beberapa bulan tidak mendapat menstruasi. Namun, siapa sangka bila hasil pemeriksaan dokter justru menyatakan bila ia mengalami tanda-tanda menopause dini.Ironisnya, usia Jasmin masih terbilang produktif, tiga puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mengalami hal mengerikan itu.Dunia Jasmin seakan berhenti sejenak. Lantas otaknya kembali berputar, berkelana mencari solusi yang sekiranya bisa mengubah hasil diagnosa itu. Seharusnya, wanita berdarah ca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status