Home / Romansa / Dari Dingin Menjadi Obsesi / Sakit Perut Melilit

Share

Sakit Perut Melilit

Author: Suharni
last update Last Updated: 2025-12-23 18:57:58

Anggun melihat kartu nama yang diberi Azura. Alisnya hampir menyatu. Ia tahu lokasi itu.

"Ini--" Anggun nyaris tak percaya, Azura justru tinggal di sebuah kawasan elit khusus orang kaya.

Ia pun memesan taksi online melalui ponselnya. Sepuluh menit menunggu, akhirnya kendaraan umum itu datang.

Koper Anggun dimasukkan ke dalam bagasi oleh supir taksi. Tidak berat, tapi tidak juga ringan. Isinya hanya beberapa pasang pakaian luar dan dalam.

"Mau diantar kemana, Mbak?" tanya si supir.

"Tolong antarkan ke alamat ini." Anggun memberikan kartu tadi kepada supir taksi untuk diperlihatkan tujuannya.

"Oh di perumahan 1 Park Homes, ya. Baiklah, Mbak. Harap untuk mengenakan sabuk pengaman." Tampaknya supir taksi itu sangat mengenal betul kawasan kediaman Azura.

1 Park Homes merupakan hunian mewah di Jakarta Selatan. Mengusung desain fasad bergaya kolonial klasik yang elegan, hunian ini menawarkan estetika yang memukau sekaligus kenyamanan maksimal.

Setiap unit dilengkapi fasilitas eksklusif seperti kolam renang pribadi, lift pribadi, rooftop untuk bersantai, intercom yang langsung terhubung ke guard housepanic button, serta garasi dan carport yang dapat menampung dua mobil.

Dengan one gate system dan jumlah unit yang terbatas, 1 Park Homes terasa semakin eksklusif. 1 Park Homes dijual dengan harga mulai 20 miliaran, dan harganya bisa lebih tinggi sesuai ukuran.

Perjalanan menuju rumah Azura terasa sunyi, meski supir memutar musik energik. Bahkan jalanan juga ramai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang.

Saat mobil melewati gerbang 1 Park Homes, Anggun merapikan rambutnya. Ada sedikit peluh di sana. Entah karena matahari yang mulai terik, atau mungkin karena gugup.

Anggun turun di pinggir jalan perumahan, kopernya dikeluarkan dari bagasi oleh supir taksi. Lalu mencoba mencocokkan alamat dalam secarik kertas hitam yang diberi Azura tadi.

Akan tetapi, semuanya tampak sama persis. Pagar putih kombinasi warna gold. Halaman luas dan bersih, serta nomor rumah yang terlihat begitu jelas. Warnanya hitam, lengkap dengan nama pemiliknya.

'Permana Sutiyoso'.

Anggun mencoba menghubungi Azura, tetapi yang menjawab justru costumer service. Bukan sekali dua kali Anggun menghubungi suaminya itu, melainkan lebih. Namun, hasilnya tetap nihil. Azura tidak aktif. Kemudian ia mencoba mengirim pesan.

[Aku sudah sampai ke alamat yang kau kasih tadi.]

Pesan itu centang satu berwarna abu-abu. Lalu ia mencoba untuk menghubungi Azura lagi, tetapi tidak membuahkan hasil apapun. Azura masih belum aktif.

"Benarkah rumah ini?" gumam Anggun seraya menatap nama pemilik rumah itu.

Anggun memandang sekeliling perumahan, berdiri antara ragu dan gugup di depan pintu pagar rumah yang diduga milik keluarga Azura.

Anggun masih belum yakin, tetapi ingatannya kembali menangkap perkenalan kecil antara dirinya dan Azura.

"Azura Permana."

Lalu Anggun kembali memperhatikan nama yang tertera di alamat rumah itu. Akhirnya Anggun berpikir mantap, bahwa bangunan yang menjulang tinggi itu milik keluarga Azura.

Meski begitu, ia masih ragu untuk memencet bel rumah. Anggun pun menghela napas panjang, lalu mencoba menghubungi kembali Azura. Akan tetapi, berkali-kali panggilan itu dilakukannya, berkali-kali pula operator yang menjawab. Pesan yang tadi dikirim tak kunjung berubah status dan warnanya.

Rasa cemas bercampur takut mulai menjalar di dada Anggun. Sesekali dia melirik ke sekeliling, bingung harus bagaimana. Mustahil dia terus berdiri di depan pagar rumah itu seperti orang bodoh hingga disangka pencuri.

Kawasan elit itu memang sedikit sunyi, tetapi setiap rumah dilengkap dengan cctv dan langsung terakses ke dalam. Pemiliknya bisa melihat apa yang terjadi diluar. Namun, entah mengapa salah satu penghuninya tidak ada yang keluar.

Merasa sedikit lelah, akhirnya Anggun memutuskan untuk berjalan kembali ke depan pintu perumahan. Di sisi pintu masuk, ada sebuah pos satpam tak berpenghuni. Namun, terlihat masih terawat bersih.

Di sana ada bangku kayu berukuran sekitar satu meter yang sedikit berdebu, tapi cukup untuk duduk. Anggun meletakkan kopernya di sisi kanan, lalu mendaratkan tubuh ke bangku itu.

Matahari semakin terik, membuat peluhnya makin bercucuran. Sesekali Anggun mengibas wajah dengan lima jarinya. Sehingga menciptakan sedikit angin.

Kulit Anggun mulai terasa perih, perutnya melilit tidak karuan. Sementara kepala bagian belakang berkedut tajam. Rasanya sungguh membuat ia tak nyaman.

Anggun tidak melakukan banyak pergerakan. Ia terus melirik kiri dan kanan jalanan, berharap mobil Azura segera datang.

Tak lama Anggun merasa ada cairan mengucur dari celana dalamnya. Licin dan kasar.

"Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba perutku sakit? Apakah karena tadi belum sempat sarapan? Bahkan sekarang sudah masuk waktu makan siang," gumamnya bertanya pada diri.

Anggun memeluk perutnya yang kian melilit kuat. Membuatnya ingin menangis.

"Atau aku datang bulan?" lanjutnya masih bergumam. Ia mencoba menerka kondisinya. Jika hanya sekedar lapar, maka bagian ulu hati akan terasa ngilu. Akan tetapi, kali ini area sakit itu justru merayap ke bawah tubuhnya.

Pikiran Anggun kembali mencerna peristiwa semalam, tetapi lagi-lagi ia tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi.

Sudah empat bulan Anggun tidak mengalami menstruasi. Hasil USG menyatakan dia tidak akan mengalami haid selama beberapa bulan ke depan, kecuali ia telah pecah perawan.

Anggun tidak berpikir hal lainnya lagi. Ia mencoba memasukkan tangan ke area dasar tubuhnya yang berlapis celana biru navi.

"Darah?" Dan betapa terkejutnya Anggun saat melihat bercak darah di ketiga jemarinya.

"Apakah itu artinya?" Kata-kata itu tersendat, meragukan kejadian yang menghantarkan ia pada situasi saat ini.

"Tidak mungkin. Tapi kata dokter--" Anggun menggeleng pelan, berpikir mengapa harus sekarang? Saat ia duduk seorang diri tanpa teman.

***

Sementara itu di lain tempat, Azura mendaratkan tubuh ke dalam mobil setelah keluar dari sebuah cafe. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Hari ini ia memenangkan tender dengan jumlah fantastis dari biasanya.

Azura menghela napas berat sambil menyalakan mesin mobil yang sudah disiapkan oleh asistennya beberapa waktu lalu. Spontan Azura merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.

Saat layarnya menyala, puluhan panggilan tak terjawab menghiasi.

Ada dari beberapa nama, tetapi hanya satu yang menjadi pusat perhatian pria itu : Anggun.

Azura mendadak terpaku. Dia sama sekali tidak ingat, bahwa pagi tadi dia menurunkan Anggun di tengah jalan, dan meminta wanita itu pergi ke rumahnya seorang diri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kamu Masih Saja Cemburu?

    Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Suamiku Bos Sahabatku

    Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Ketika Azura Cemburu.

    Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Melangkah Bersama

    Pagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Malam yang Indah

    Malam itu tidak datang dengan tergesa. Lampu-lampu kota di balik jendela hanya menjadi latar buram ketika Anggun berdiri diam di tengah kamar, seolah sedang menimbang ulang seluruh hidupnya. Ada begitu banyak ketakutan yang pernah menahannya. Dimulai dari usia, status, masa lalu, kontrak yang mengikat tanpa rasa. Namun kini, semuanya berdiri berhadapan dengan satu perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.Sementara Azura berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Tatapan matanya lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia layangkan di dunia luar. Saat ini tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada pula paksaan.Tak lama Anggun menoleh, menatap pria itu lama, seolah ingin menghafal wajahnya, wajah seseorang yang sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi malam ini terasa jauh lebih dewasa dengan caranya mencintai.“Apa kamu masih ragu?” tanya Azura pelan.“Iya... aku takut kalau perasaan ini hanya singgah sebentar, lalu pergi diam-diam. Aku juga takut kalau set

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Saat Azura Membaca Vonis Dokter Tanpa Sengaja

    Kertas itu tidak seharusnya ada di sana. Azura tahu benda tipis itu begitu matanya menangkap lembaran putih yang tergeletak di meja makan, terselip di antara tablet vitamin dan map berisi dokumen perusahaan yang semestinya ia bawa ke ruang kerja. Tulisan dokter tercetak rapi, dingin, dan terlalu klinis untuk berada di ruang yang seharusnya hangat.Reflek Azura berhenti melangkah. Lalu tangannya terulur tanpa sadar, lantas berhenti di udara, seolah memberi dirinya sendiri waktu untuk berpikir ulang. Namun, rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam mendadak muncul, lebih personal mengalahkan kehati-hatian.Azura pun membacanya. Awalnya satu baris, lalu baris berikutnya. Kemudian masuk pada baris kalimat yang membuat dadanya mengeras.Diagnosis: tanda penuaan dini pada sistem reproduksi dan hormonal.Reflek Azura menghela napas pelan. Bukan marah, bukan kecewa. Yang datang justru pemahaman yang terlambat. Lalu menyusul potongan-potongan memori sikap Anggun yang selama ini ia anggap se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status