Share

Aku Adalah Obatmu

Penulis: Suharni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-23 18:57:58

“Bajumu basah, gantilah dulu,” ucap Jasmin setelah membawa Azura ke dalam rumah Muskan.

Kini Jasmin berada di dalam kamar Azura. Wanita itu berniat menemaninya usai menyaksikan kejadian menyakitkan. Jasmin berniat menghibur lelaki tersebut.

Pemuda dengan kemeja putih itu akhirnya tertidur setelah mengalami banyak hal berat.

“Azura, maafkan Ibu, Nak.” Dalam mimpi, Azura kembali ke masa kecil. Menyaksikan dengan mata kepala dimana Ibunya jatuh pingsan.

“Ayah, Ibuku pingsan.” Azura kecil menghubungi Muskan melalui telpon genggam.

“Ayahmu tidak ada di sini! Jangan telepon dia lagi!” Naas, orang yang menjawab panggilan darurat tersebut adalah Sarah, alih-alih Muskan.

“Ibu!” Azura kecil berteriak ketakutan kala menyaksikan sang ibu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

“Aku membakar semua surat yang kau tulis. Aku memang merebut suamimu!” Kemudian mimpi itu beralih ke rumah sakit, tempat dimana Megan menjalani perawatan secara intensif. Di sana Sarah melabrak Megan yang dalam kondisi antara hidup dan mati.

“Jangan sentuh ibuku!” seru Azura kecil melindungi Megan.

“Minggir!” Sayang, Sarah justru mendorong keras bocah malang tersebut hingga jatuh terpental ke lantai.

“Anakmu akan menjadi yatim piatu selamanya,” imbuh Sarah emosional.

Tak lama setelah mimpi buruk itu menghantui, alam sadar Azura kembali menyapa.

Sementara Jasmin menghampirinya seraya membawa selimut putih. Gadis itu menyelimuti Azura yang tertidur di atas kursi sofa. Ia memperhatikan dengan seksama wajah polos nan teduh itu.

Kemudian beralih ke bagian hidung mancung lelaki gagah tersebut.

“Uhuk… uhuk… uhuk…” Tiba-tiba Azura terbatuk. Tak ayal Jasmin sigap berdiri. Takut pria itu salah paham. Namun, Jasmin berhenti. Ia kembali mengampiri Azura yang masih terbatuk sembari memegang dada.

Jasmin memeriksa suhu tubuh Azura. Ia memegang kening pemuda tersebut.

“Agak panas. Aku ambil obat dulu,” ucapnya sembari bergegas.

“Kakak.” Akan tetapi, Azura mencegatnya. Lelaki itu menggenggam pergelangan tangan Jasmin.

“Jangan pergi, ya?” pinta Azura seraya menghampiri Jasmin lebih dekat dan intens. Kedunya saling menatap penuh damba.

Jarak mereka kian lekat. Hingga deru napas saling beriringan. Seolah hendak berlomba siapa yang lebih kencang. Tatapan damba sepersekian menit itu tukas menyapa keduanya.

"Tidak, aku harus pergi dari sini. Sepertinya kau sudah membaik," tolak Jasmin seraya menarik diri.

"Ada yang ingin ku sampaikan padamu." Namun, pergerakannya seketika berhenti saat tahu ada sesuatu yang penting dari pemuda itu.

"Katakanlah, tapi sebelum itu lepaskan aku dulu," pinta Jasmin. Azura seketika setuju. Mereka pun saling menjaga jarak, kendati masih duduk di kursi yang sama.

Sebelum bicara, Azura menarik napas dalam-dalam. Seakan mengumpulkan keberanian lebih dulu.  Dalam hati, ia siap menerima segala konsekuensi atas perbuatannya.

Azura tidak bisa menyembunyikan masalah pendaftaran pernikahan itu lebih lama. Cepat atau lambat, Jasmin pasti tahu. Kecuali wanita itu memilih untuk tidak menikah seumur hidup.

"Semalam aku telah mendaftarkan pernikahan kita di catatan sipil," ungkap Azura akhirnya.

"Apa?" Sontak mata Jasmin membeliak. Ia berdiri menghadap pria itu.

"Mendaftarkan pernikahan? Tapi--" Kata-kata Jasmin terputus. Ia mencoba mengingat kembali kejadian semalam.

Tak lama matanya kembali membulat. "Astaga." Kemudian wanita itu membekap mulutnya begitu semua ingatan kembali stabil.

"Kakak, apa kau bersedia menikah denganku?"

"Bukankah ini sudah malam? Besok saja mendaftarnya."

"Tenang, aku punya kenalan."

"Ini kartu keluarga dan KTPku. Aku selalu membawanya kemana-mana agar lebih memudahkan mengurus sesuatu."

"Kebetulan, aku juga membawa kedua benda itu. Tadi belum sempat pulang ke rumah setelah kembali dari luar negeri."

Rentetan percakapan itu menyapa nalar Jasmin. Sungguh ia tak percaya ada babak itu dalam peristiwa selama.

Jasmin hanya tahu, bahwa ia telah melakukan kesalahan. Minum hingga mabuk, sampai berakhir di kamar hotel bersama pria asing.

Semua kejadian memalukan itu sangat disesali dara cantik tersebut. Andai bisa diulang kembali, ia tidak akan menyentuh alkohol. Lihatlah yang terjadi, ia banyak melakukan kesalahan tanpa sadar.

Plak!

Seketika Jasmin menampar Azura. "Bajingan!" seru wanita itu.

"Dialah orangnya. Kau jangan khawatir. Dia mampu menyembuhkan penyakitmu." Kemudian bisikan semesta semalam kembali diingatnya.

"Aakkh..." Sampai akhirnya Jasmin berteriak frustasi sembari menutup telinga. Beruntung kamar itu kedap suara. Sehingga orang di luar tak dapat mengakses mereka.

"Kakak, tolong maafkan aku. Anggap saja aku salah, tapi aku sungguh jatuh cinta padamu," ujar Azura mulai gelisah.

Ya, pria itu gelisah, karena takut Jasmin akan meninggalkannya setelah semua yang terjadi.

"Cinta kau bilang? Berapa usiamu sekarang? Dua puluh tahun! Sedangkan aku? Sebentar lagi usiaku menginjak tiga puluh satu tahun. Apa kau tahu apa artinya itu? Kita tidak cocok!" sarkas Jasmin berapi-api.

Mereka seolah tidak peduli pada upacara pemakaman yang sedang berlangsung di krematorium. Masih ada hal lain yang lebih penting untuk diselesaikan.

"Tapi--"

"Dengar..." Jasmin menunjuk wajah Azura sembari menatap kecewa.

"Apa kau tahu apa yang baru saja ku lalui? Aku sudah mengalami monopause dini. Kau tahu apa artinya itu? Aku tidak bisa menjadi seorang ibu. Aku tidak bisa memberimu anak. Dan kau justru mendaftarkan pernikahan tanpa sepengetahuanku? Keterlaluan!" imbuh Jasmin sangat marah.

Semula ia pikir hubungan mereka selangkah lebih maju. Awalnya saling mengenal latar belakang lebih dulu. Namun, siapa sangka Azura justru mengambil langkah jauh.

Sejujurnya Jasmin mulai membuka hati pada pemuda itu. Meski masih sebatas kenalan dalam proses hukum. Setidaknya mereka saling mengetahui satu sama lain.

"Tapi bukankah itu kali pertamamu melakukannya? Aku juga begitu. Anggap saja kita sama-sama saling membutuhkan. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja Tuhan sengaja mempertemukan kita berdua untuk saling menyembuhkan. Aku bisa memulihkan penyakit monopause itu. Tentu aku tahu usia kita terpaut jauh, tetapi aku yakin, kita bisa bahagia. Aku adalah obatmu," papar Azura panjang lebar.

Azura terlihat sungguh-sungguh melamar Jasmin. Tidak ada kebohongan dalam sorot mata pemuda tampan tersebut.

"Tidak! Aku tidak setuju." Sayang, Jasmin menolak. Bukan karena tidak yakin pada kemampuan Azura, melainkan karena latar belakang mereka.

Azura berasal dari keluarga terpandang, sedangkan Jasmin datang dari keluarga sederhana. Sangat mustahil untuk bersama. Kendati status Azura tidak tercatat resmi dalam keluarga Muskan.

"Mengapa? Apa karena usiaku? Atau karena keluargaku?" tebak Azura akhirnya. Jasmin memalingkan wajah. Tidak bersedia menjawab.

"Bukankah kau sudah tahu statusku dalam keluarga ini? Aku hanyalah anak haram. Bahkan mereka tidak pernah menganggapku keluarga," lirih pemuda malang itu.

Sontak kali ini Jasmin melirik Azura. Ada rasa iba muncul di dalam sana. Jasmin tidak bermaksud mengingatkan status pemuda itu dalam keluarga konglomerat tersebut.

"Aku--"

"Bibirmu boleh tidak percaya padaku, tapi aku yakin. Hati kecilmu tidak demikian. Kau juga merasakan hal yang sama denganku," tukas Azura penuh percaya diri.

"Kau adalah orang hukum. Tentu kau hafal ciri-ciri penipu. Kau juga lihai dalam menilai seseorang. Apa kau tidak bisa melihat betapa aku sangat membutuhkanmu?" Lagi-lagi Azura sukses mengetuk pintu hati Jasmin.

Berdasarkan pengalaman di meja hijau, tentu Jasmin sanggup membedakan mimik seorang pembohong dan yang bersungguh-sungguh.

Terlebih selama mengenyam pendidikan, Jasmin pernah mempelajari psikologi serta pakar ekspresi. Kali ini ia menemukan kegigihan dalam sorot mata Azura. Sikap pria itu pun tidak berubah sejak tadi.

Di usia muda sepertinya, masih riskan untuk menipu. Terlebih beberapa waktu lalu Jasmin telah menyaksikan bagaimana pria itu diperlakukan ibu tirinya.

"Kakak-- Bukan, Sayang..."

Panggilan itu terdengar menggelikan di kuping Jasmin. Bagimana bisa Azura menyebutnya sedemikian rupa? Ternyata benar, usia hanyalah angka, tetapi yang utama tetaplah karakter.

"Secara hukum kau tercatat sebagai istriku. Anggap saja aku terlalu percaya diri, tetapi aku janji padamu. Aku pasti bisa menjadi suami yang baik. Monopause itu, aku pasti bisa sembuhkan." Lagi-lagi Azura meyakinkan Jasmin yang masih terpaku sejak tadi.

Kali ini Jasmin dibuat tak berkutik oleh pria yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya. Apakah bisikan semesta semalam tidak mengelabuinya? Pikir Jasmin.

"Atau kau ingin aku membuktikannya lagi?" Kali ini Jasmin melepas tangan Azura dari lengannya.

"Kau--" Wanita itu tersipu malu.

"Kau tidak perlu khawatir. Semalam kita tidak melakukan dosa. Kita tidak berzina, kau adalah istriku yang sah," goda Azura.

"Tunggu... Mengapa kau memberitahuku semua ini? Bukankah kau bisa saja menyembunyikannya dariku?" Ya, Jasmin penasaran alasan Azura mengungkap kebenaran pernikahan itu.

"Karena aku tidak ingin kau menikahi atasanmu," jelas Azura.

"Kau tahu?"

"Aku tidak tahu ada hubungan apa antara kau dengannya, tapi yang aku tahu pria itu baru saja menyebutmu istri... Apa kau tahu bagaimana perasaanku tadi? Ingin rasanya ku pukul wajah pria itu." Azura membayangkan wajah Jack untuk dipukuli.

Sehingga membuat Jasmin terkekeh. "Kau tertawa?" tanya Azura.

"Tidak! Aku tidak melakukan itu," bantah Jasmin seraya mengatup kedua bibirnya.

"Kalau begitu kita--" Kini tatapan Azura mulai berhasrat.

"Hei, apa yang kau lakukan? Diluar masih ada acara penghormatan terakhir saudaramu. Sebaiknya kita pergi dari sini. Mereka pasti sedang mencarimu." Jasmin menahan dada Azura yang mulai mendekatinya.

"Dia bukan saudaraku!" sarkas Azura penuh penakanan. Raut wajahnya yang bahagia seketika berubah tak suka.

"Bukankah kau--"

"Apa kau ingin tahu seperti apa hubungan kami?" Kali ini Azura akan menceritakan semua tentang keluarga Muskan.

Bagaimana hubungannya dengan kedua saudara tiri, Sarah, dan juga sang ayah biologis. Azura tak akan sungkan untuk bercerita kepada Jasmin.

Wanita itu telah menjadi bagian dari dirinya. Terlebih Jasmin orang ahli hukum. Sudah bisa dipastikan semua perkara pelik yang dihadapi bertahun-tahun silam, tunduk di tangannya.

"Tidak perlu beritahuku jika itu hanya akan membuka lukamu." Pelan tapi pasti, Jasmin mulai menerima kehadiran Azura dalam hidupnya.

"Tidak! Kau harus tahu. Dengan begitu kau bisa membantuku membalas dendam."

"Ha?"

"Bukankah kau ingin tahu bagaimana saudaraku Marcel meninggal?"

"Apa?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Aku Adalah Obatmu

    “Bajumu basah, gantilah dulu,” ucap Jasmin setelah membawa Azura ke dalam rumah Muskan.Kini Jasmin berada di dalam kamar Azura. Wanita itu berniat menemaninya usai menyaksikan kejadian menyakitkan. Jasmin berniat menghibur lelaki tersebut.Pemuda dengan kemeja putih itu akhirnya tertidur setelah mengalami banyak hal berat.“Azura, maafkan Ibu, Nak.” Dalam mimpi, Azura kembali ke masa kecil. Menyaksikan dengan mata kepala dimana Ibunya jatuh pingsan.“Ayah, Ibuku pingsan.” Azura kecil menghubungi Muskan melalui telpon genggam.“Ayahmu tidak ada di sini! Jangan telepon dia lagi!” Naas, orang yang menjawab panggilan darurat tersebut adalah Sarah, alih-alih Muskan.“Ibu!” Azura kecil berteriak ketakutan kala menyaksikan sang ibu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.“Aku membakar semua surat yang kau tulis. Aku memang merebut suamimu!” Kemudian mimpi itu beralih ke rumah sakit, tempat dimana Megan menjalani perawatan secara intensif. Di sana Sarah melabrak Megan yang dalam kondisi antar

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Jasmin Melihatnya

    “Kemarin aku pergi bersama Ayah. Ayah juga ada di sana,” terang Azura, berusaha meluruskan kesalah pahaman.“Kau pikir kau pantas memanggil suamiku Ayah? Kau lahir di luar nikah. Anak haram! Pergi dari keluarga Muskan!” Sarah kian murka, alih-alih percaya.Wanita dengan kunciran rambut perak itu mengusir sang anak tiri. Mendorongnya keras hingga jatuh ke dalam kolam.Sialnya, situasi memalukan itu justru disaksikan Jasmin. Gadis itu pun terkejut sekaligus simpatik.Ya, simpatik. Bagaimana tidak, hari itu masih suasana berkabung. Bahkan semua tamu masih berada di ruang duka memberi ucapan belasungkawa atas meninggalnya putra pertama keluarga kaya itu.Namun, di tempat lain. Istri Muskan justru membuat keributan. Menuding Azura tanpa tendensi.“Jangan kira setelah Marcel meninggal, kau bisa masuk ke dalam keluarga Muskan begitu saja! Pergi dari sini! Pergi!” usir Sarah sekali lagi.Bukan salah Azura menjadi anak di luar nikah. Dia tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga mana. Az

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Bukan Marga Frederick

    “Mengapa dia di sini?” Benak Jasmin bertanya, bagaimana bisa Azura ada di antara keluarga Muskan. Anehnya, lelaki itu justru menerima tamu berdatangan selayaknya keluarga duka.Sementara Jack mengintip mantan sekaligus anak buahnya itu dari arah belakang. Jarak mereka tidak begitu jauh. Sekitar lima meter.Jasmin dan Azura saling menatap satu sama lain. Seperti ada makna tersirat dari keduanya. Benak Jasmin masih mempertanyakan posisi Azura dalam keluarga konglomerat itu. Sedangkan Azura sendiri masih dalam suasana berkabung. Mimik pria dengan setelan jas hitam itu menunjukkan kehilangan sekaligus rindu.Ya, Azura merindukan Jasmin. Aroma tubuhnya, lekukannya, suaranya, dan sentuhannya. Azura merasa tumbuh sesuatu yang istimewa di dalam sana terkait Jasmin.“Turut berduka cita, Tuan muda.” Jack menghampiri dua insan beda generasi itu. Menjulurkan tangan kepada Azura sebagai ucapan belasungkawa.“Astaga, ternyata aku tidur bersama Tuan muda.” Sontak Jasmin terkesiap begitu tahu latar b

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kantor Polisi

    Jasmin merapikan pakaiannya yang tidak kusut. Lalu menatap marah Azura. Sejak tadi pria itu diam saja. Seolah menunjukkan sikap kooperatifnya sebagai tersangka perzinahan.“Brengsek!” Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Jasmin mengumpat tepat di depan Azura. Dalam hati ia bersumpah tak akan memaafkan pria itu.Beberapa hari lalu Jasmin bergelut dengan kasus hukum, yang mana kasus tersebut adalah tentang perzinahan.Dalam kasus tersebut, Jasmin membela seorang gadis belia yang dijebak oleh kekasihnya. Dalam masa persidangan, Jasmin menentang keras kasus perzinahan. Ia bahkan menolak keras opini masyarakat yang kerap menormalisasikan zina.Namun, siapa sangka pagi itu Jasmin justru menjadi tersangka kasus perzinahan. Hal kontra dengan sikap serta prinsipnya.“Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu? Apa kau bisu?” Di mobil polisi, Jasmin mempertanyakan sikap Azura yang terkesan acuh.“Mengapa aku harus? Bukankah benar yang mereka tuduhkan? Semalam kita–”“Cukup!”Jasmin membekap mulut

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Lantai Dua

    Jasmin buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Jasmin justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul.“Berisik sekali!”Sontak Jasmin menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tatapannya tajam mengintimidasi, rambut berantakan, wajahnya masih kusut khas bangun tidur, tapi dahinya sedikit berkerut.“Masuk kamarku sembarangan, lalu sekarang mengganggu tidurku,” gumam pemuda itu sambil berdecak kesal.Jasmin membelalakkan matanya. Apa maksudnya?Selama ini ia menjaga diri. Bukan karena suci atau kolot, tapi karena pilihan. Sebab, ia tahu batasnya sendiri. Dan pagi ini, batas itu terasa seperti diinjak lalu ditinggalkan begitu saja.Dadanya naik turun cepat. Amarah yang semula tertahan kini mendesak keluar, karena tuduhan pemuda itu.“Apa?” suara Jasmin meninggi, pecah sebelum sempat disaring akal sehat. “Kamarmu?”Ia membelalakkan mata, lalu dengan tangan gemetar mengelu

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Diagnosa Dokter

    “Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Jasmin.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Jasmin, keningnya hampir menyatu. Masih terdengar ambigu penjelasan dokter itu.“Sederhananya, Anda mengalami menopause dini.”Ucapan itu menghantam dada Jasmin begitu keras.Hari itu, Jasmin memeriksa siklus menstruasi sekaligus organ reproduksi setelah beberapa bulan tidak mendapat menstruasi. Namun, siapa sangka bila hasil pemeriksaan dokter justru menyatakan bila ia mengalami tanda-tanda menopause dini.Ironisnya, usia Jasmin masih terbilang produktif, tiga puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mengalami hal mengerikan itu.Dunia Jasmin seakan berhenti sejenak. Lantas otaknya kembali berputar, berkelana mencari solusi yang sekiranya bisa mengubah hasil diagnosa itu. Seharusnya, wanita berdarah ca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status