เข้าสู่ระบบAnggun melihat kartu nama yang diberi Azura. Alisnya hampir menyatu. Ia tahu lokasi itu.
"Ini--" Anggun nyaris tak percaya, Azura justru tinggal di sebuah kawasan elit khusus orang kaya.
Ia pun memesan taksi online melalui ponselnya. Sepuluh menit menunggu, akhirnya kendaraan umum itu datang.
Koper Anggun dimasukkan ke dalam bagasi oleh supir taksi. Tidak berat, tapi tidak juga ringan. Isinya hanya beberapa pasang pakaian luar dan dalam.
"Mau diantar kemana, Mbak?" tanya si supir.
"Tolong antarkan ke alamat ini." Anggun memberikan kartu tadi kepada supir taksi untuk diperlihatkan tujuannya.
"Oh di perumahan 1 Park Homes, ya. Baiklah, Mbak. Harap untuk mengenakan sabuk pengaman." Tampaknya supir taksi itu sangat mengenal betul kawasan kediaman Azura.
1 Park Homes merupakan hunian mewah di Jakarta Selatan. Mengusung desain fasad bergaya kolonial klasik yang elegan, hunian ini menawarkan estetika yang memukau sekaligus kenyamanan maksimal.
Setiap unit dilengkapi fasilitas eksklusif seperti kolam renang pribadi, lift pribadi, rooftop untuk bersantai, intercom yang langsung terhubung ke guard house, panic button, serta garasi dan carport yang dapat menampung dua mobil.
Dengan one gate system dan jumlah unit yang terbatas, 1 Park Homes terasa semakin eksklusif. 1 Park Homes dijual dengan harga mulai 20 miliaran, dan harganya bisa lebih tinggi sesuai ukuran.
Perjalanan menuju rumah Azura terasa sunyi, meski supir memutar musik energik. Bahkan jalanan juga ramai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Saat mobil melewati gerbang 1 Park Homes, Anggun merapikan rambutnya. Ada sedikit peluh di sana. Entah karena matahari yang mulai terik, atau mungkin karena gugup.
Anggun turun di pinggir jalan perumahan, kopernya dikeluarkan dari bagasi oleh supir taksi. Lalu mencoba mencocokkan alamat dalam secarik kertas hitam yang diberi Azura tadi.
Akan tetapi, semuanya tampak sama persis. Pagar putih kombinasi warna gold. Halaman luas dan bersih, serta nomor rumah yang terlihat begitu jelas. Warnanya hitam, lengkap dengan nama pemiliknya.
'Permana Sutiyoso'.
Anggun mencoba menghubungi Azura, tetapi yang menjawab justru costumer service. Bukan sekali dua kali Anggun menghubungi suaminya itu, melainkan lebih. Namun, hasilnya tetap nihil. Azura tidak aktif. Kemudian ia mencoba mengirim pesan.
[Aku sudah sampai ke alamat yang kau kasih tadi.]
Pesan itu centang satu berwarna abu-abu. Lalu ia mencoba untuk menghubungi Azura lagi, tetapi tidak membuahkan hasil apapun. Azura masih belum aktif.
"Benarkah rumah ini?" gumam Anggun seraya menatap nama pemilik rumah itu.
Anggun memandang sekeliling perumahan, berdiri antara ragu dan gugup di depan pintu pagar rumah yang diduga milik keluarga Azura.
Anggun masih belum yakin, tetapi ingatannya kembali menangkap perkenalan kecil antara dirinya dan Azura.
"Azura Permana."
Lalu Anggun kembali memperhatikan nama yang tertera di alamat rumah itu. Akhirnya Anggun berpikir mantap, bahwa bangunan yang menjulang tinggi itu milik keluarga Azura.
Meski begitu, ia masih ragu untuk memencet bel rumah. Anggun pun menghela napas panjang, lalu mencoba menghubungi kembali Azura. Akan tetapi, berkali-kali panggilan itu dilakukannya, berkali-kali pula operator yang menjawab. Pesan yang tadi dikirim tak kunjung berubah status dan warnanya.
Rasa cemas bercampur takut mulai menjalar di dada Anggun. Sesekali dia melirik ke sekeliling, bingung harus bagaimana. Mustahil dia terus berdiri di depan pagar rumah itu seperti orang bodoh hingga disangka pencuri.
Kawasan elit itu memang sedikit sunyi, tetapi setiap rumah dilengkap dengan cctv dan langsung terakses ke dalam. Pemiliknya bisa melihat apa yang terjadi diluar. Namun, entah mengapa salah satu penghuninya tidak ada yang keluar.
Merasa sedikit lelah, akhirnya Anggun memutuskan untuk berjalan kembali ke depan pintu perumahan. Di sisi pintu masuk, ada sebuah pos satpam tak berpenghuni. Namun, terlihat masih terawat bersih.
Di sana ada bangku kayu berukuran sekitar satu meter yang sedikit berdebu, tapi cukup untuk duduk. Anggun meletakkan kopernya di sisi kanan, lalu mendaratkan tubuh ke bangku itu.
Matahari semakin terik, membuat peluhnya makin bercucuran. Sesekali Anggun mengibas wajah dengan lima jarinya. Sehingga menciptakan sedikit angin.
Kulit Anggun mulai terasa perih, perutnya melilit tidak karuan. Sementara kepala bagian belakang berkedut tajam. Rasanya sungguh membuat ia tak nyaman.
Anggun tidak melakukan banyak pergerakan. Ia terus melirik kiri dan kanan jalanan, berharap mobil Azura segera datang.
Tak lama Anggun merasa ada cairan mengucur dari celana dalamnya. Licin dan kasar.
"Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba perutku sakit? Apakah karena tadi belum sempat sarapan? Bahkan sekarang sudah masuk waktu makan siang," gumamnya bertanya pada diri.
Anggun memeluk perutnya yang kian melilit kuat. Membuatnya ingin menangis.
"Atau aku datang bulan?" lanjutnya masih bergumam. Ia mencoba menerka kondisinya. Jika hanya sekedar lapar, maka bagian ulu hati akan terasa ngilu. Akan tetapi, kali ini area sakit itu justru merayap ke bawah tubuhnya.
Pikiran Anggun kembali mencerna peristiwa semalam, tetapi lagi-lagi ia tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi.
Sudah empat bulan Anggun tidak mengalami menstruasi. Hasil USG menyatakan dia tidak akan mengalami haid selama beberapa bulan ke depan, kecuali ia telah pecah perawan.
Anggun tidak berpikir hal lainnya lagi. Ia mencoba memasukkan tangan ke area dasar tubuhnya yang berlapis celana biru navi.
"Darah?" Dan betapa terkejutnya Anggun saat melihat bercak darah di ketiga jemarinya.
"Apakah itu artinya?" Kata-kata itu tersendat, meragukan kejadian yang menghantarkan ia pada situasi saat ini.
"Tidak mungkin. Tapi kata dokter--" Anggun menggeleng pelan, berpikir mengapa harus sekarang? Saat ia duduk seorang diri tanpa teman.
***
Sementara itu di lain tempat, Azura mendaratkan tubuh ke dalam mobil setelah keluar dari sebuah cafe. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Hari ini ia memenangkan tender dengan jumlah fantastis dari biasanya.
Azura menghela napas berat sambil menyalakan mesin mobil yang sudah disiapkan oleh asistennya beberapa waktu lalu. Spontan Azura merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.
Saat layarnya menyala, puluhan panggilan tak terjawab menghiasi.
Ada dari beberapa nama, tetapi hanya satu yang menjadi pusat perhatian pria itu : Anggun.
Azura mendadak terpaku. Dia sama sekali tidak ingat, bahwa pagi tadi dia menurunkan Anggun di tengah jalan, dan meminta wanita itu pergi ke rumahnya seorang diri.
Keesokan harinya, atmosfer hangat dari jamuan makan malam bersama Permana masih menyelimuti kediaman Azura dan Anggun. Namun, di sudut kota yang lain, kepanikan yang luar biasa sedang membakar habis kewarasan Dewi.Di dalam kamar hotel mewah tempat ia menginap sementara waktu untuk menghindari Permana, Dewi mondar-mandir dengan napas memburu. Di sofa depan tempat tidurnya, Erika duduk dengan wajah yang sama pucatnya. Informasi yang baru saja mereka terima dari salah satu orang dalam di rumah utama keluarga Permana benar-benar meruntuhkan sisa-sisa pertahanan mereka."Kamu bilang apa, Erika?! Mas Permana mendatangi rumah anak haram itu sendirian?!" Suara Dewi meninggi, melengking panik, merusak wibawa glamornya yang biasa."Iya, Tante! Dan yang lebih buruk, orang rumah bilang Om Permana pulang dari sana dengan wajah yang sangat tenang, bahkan tersenyum!" Erika mengepalkan jemarinya frustrasi."Tante tahu artinya, kan? Perempuan bernama Anggun itu pasti sudah memengaruhi Om Permana! Log
Suasana di dalam penthouse Azura dan Anggun terasa jauh lebih ringan dan lega setelah kepergian Permana. Beban besar yang selama ini menghimpit pundak Azura seolah terangkat seketika saat menyadari bahwa ayahnya kini telah melihat kebenaran yang sesungguhnya. Malam itu, setelah berdiskusi dengan penuh kedewasaan, mereka memutuskan untuk menindaklanjuti restu tersirat dari Permana dengan cara yang paling terhormat."Kita akan mengadakan jamuan makan malam resmi di sini, Anggun," ucap Azura seraya mengelus jemari istrinya lembut saat mereka bersantai di sofa. "Hanya kita berdua dan Papa. Aku ingin menyambut Papa di rumah kita yang sebenarnya, tanpa gangguan dari siapa pun."Anggun tersenyum manis, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang suaminya. "Aku setuju, Mas. Om Permana baru saja kehilangan Dewa, dan hatinya pasti masih terluka parah. Makan malam yang hangat di rumah yang damai mungkin bisa sedikit mengobati batinnya."Mendengar betapa tingginya rasa empati dan kedewasaan istriny
Permana menatap Anggun dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Kalimat wanita muda itu—“tempat itu terlalu beracun untuk ditumpangi sebuah ketulusan”—terdengar begitu lugas, tanpa kepalsuan, dan langsung menghujam ulu hatinya.Sebagai pria yang terbiasa mendikte jalannya bisnis dan rumah tangga dengan otoritas mutlak, Permana bersiap mendengar argumen yang penuh pembelaan diri yang cengeng atau serangan balik yang histeris. Namun, apa yang ia dapatkan dari Anggun justru sebuah ketenangan yang dewasa, sebuah kedewasaan yang bahkan tidak pernah ia temukan pada diri Dewi, istrinya sendiri.Ruang tamu rumah itu mendadak hening. Hanya ada deru napas Permana yang berat di antara aroma teh melati hangat yang baru saja disajikan Anggun di atas meja kaca.Permana melangkah perlahan menuju sofa, lalu duduk tanpa melepaskan pandangannya dari Anggun. Egonya yang semula membara perlahan mulai menyusut, berganti dengan rasa lelah yang teramat sangat yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng
Sementara Azura dan Anggun sedang menghabiskan waktu berdua di dalam kehangatan vila pegunungan mereka, badai baru justru sedang berkumpul di Jakarta. Di dalam ruang kerjanya yang luas namun terasa mati, Permana berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman rumah utama. Pria paruh baya itu memegang segelas wiski yang belum disentuhnya sama sekali. Pikirannya tidak tenang. Kalimat-kalimat tegas Azura dua hari lalu terus berputar di otaknya bagaikan kaset rusak yang merobek sisa-sisa harga dirinya.“Anggun adalah duniaku sekarang, Pa. Restu atau tidak dari keluarga ini, tidak akan pernah mengubah statusnya sebagai istri sahku selamanya.”Permana menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak. Kehilangan Dewa telah menghancurkan separuh jiwanya. Kenyataan bahwa Aira membusuk di penjara telah merenggut kewibawaannya. Dan kini, Azura—satu-satunya putra yang tersisa, yang ia harapkan bisa meneruskan takhta bisnis keluarga—justru memilih membangkang demi seorang wanita asing.Ras
Keesokan paginya, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih tenang. Ketegangan yang dipicu oleh kedatangan Dewi dua hari lalu perlahan menguap, digantikan oleh rutinitas pagi yang hangat.Azura berdiri di dekat jendela besar ruang tengah, menatap cangkir kopi di tangannya dengan pandangan yang dalam. Meskipun Anggun telah menunjukkan ketegaran yang luar biasa dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda trauma yang mendalam, hati kecil Azura tetap digerogoti oleh rasa bersalah.Sebagai seorang suami, Azura merasa bertanggung jawab atas ketidaknyamanan yang menimpa istrinya akibat konflik internal keluarganya. Ia tidak ingin Anggun terus-menerus dihadapkan pada atmosfer kota yang bising dan penuh intrik. Pria itu lantas meletakkan cangkirnya, lalu berjalan menghampiri Anggun yang sedang melipat beberapa helai pakaian di ruang bersantai."Anggun," panggil Azura lembut.Anggun mendongak, seraya menyugar rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang telinga, lalu tersenyum manis."Iya,
Dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang berguncang hebat akibat amarah yang membakar benaknya, Dewi melangkah keluar dari kediaman Azura. Sepanjang jalan menuju rumah utama keluarga Permana, jemarinya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, kalimat-kalimat telak dari Anggun terus terngiang bagai tamparan yang tak kunjung usai.“Sampah yang sesungguhnya adalah wanita yang puluhan tahun lalu berselingkuh...”"Kurang ajar! Perempuan rendahan itu benar-benar harus disingkirkan!" makian Dewi pecah di dalam keheningan mobilnya.Dewi sebenarnya tidak tahu-menahu tentang masa lalu Anggun. Ia sama sekali tidak mengenal siapa itu Diki, tidak tahu latar belakang keluarga Anggun, ataupun kisah cinta lama wanita itu. Satu-satunya alasan Dewi mengetahui keberadaan Anggun adalah karena aduan dari Erika beberapa hari lalu. Erika bercerita dengan penuh amarah bahwa beberapa bulan lalu, ia sempat bertamu ke rumah pribadi Azura dan mendapati se
Anggun terlihat canggung. Ia meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Lalu ia melirik Azura yang sedang memeriksa ponselnya dengan ekspresi aneh. Alis pria itu sedikit mengernyit. Masih mengusap jemari yang dingin, lalu Anggun mencoba mengucapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dalam
Beberapa saat setelah pernikahan. Pras dan Fatma membawa Anggun dan Azura ke rumah mereka. "Kemarilah, ikut Mama." Sesampainya di rumah, Fatma menyeret pelan Anggun untuk dibawa ke dalam kamar. Meninggalkan Azura yang selalu bungkam."Jelaskan sama Mama, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria itu,
“Apakah tidak ada solusi lain?” tanya Anggun pada Bayu. Suara gadis itu sedikit bergetar. Namun, masih tetap berusaha untuk tegar. “Tidak ada,” sahut Bayu tegas. Anggun kian melemah. Jika benar tidak ada solusi lain. Artinya dia harus menikah. Namun, siapa yang mau menikahi orang asing. Anggun m
Anggun buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Anggun justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul. “Berisik sekali!” Sontak Anggun menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tat







