Share

Dari Dingin Menjadi Obsesi
Dari Dingin Menjadi Obsesi
Penulis: Suharni

Diagnosa Dokter

Penulis: Suharni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-19 17:15:44

“Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”

Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Jasmin.

“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Jasmin,  keningnya hampir menyatu. Masih terdengar ambigu penjelasan dokter itu.

“Sederhananya, Anda mengalami menopause dini.”

Ucapan itu menghantam dada Jasmin begitu keras.

Hari itu, Jasmin memeriksa siklus menstruasi sekaligus organ reproduksi setelah beberapa bulan tidak mendapat menstruasi. Namun, siapa sangka bila hasil pemeriksaan dokter justru menyatakan bila ia mengalami tanda-tanda menopause dini.

Ironisnya, usia Jasmin masih terbilang produktif, tiga puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mengalami hal mengerikan itu.

Dunia Jasmin seakan berhenti sejenak. Lantas otaknya kembali berputar, berkelana mencari solusi yang sekiranya bisa mengubah hasil diagnosa itu. 

Seharusnya, wanita berdarah campuran Jerman Kanada tersebut menikmati masa-masa percintaan. 

Profesinya sebagai pengacara dan dikagumi banyak kaum adam tidak bisa mengubah fakta, bahwa ia telah mengalami penuaan ovarium, atau yang lebih dikenal dengan menopause dini.

“Ini apa ada obatnya, Dok? Atau mungkin untuk memperbaiki siklus menstruasi saya,” kata Jasmin dengan sedikit harapan.

"Menstruasi Anda bisa kembali normal jika melakukan pengobatan secara alami. Misalnya berhubungan intim bersama pasangan. Hal itu akan lebih mudah mengumpan mens Anda, Nona. Karena terlalu banyak konsumsi obat kimia juga tidak akan baik untuk kesehatan jangka panjang Anda."

Inilah yang tidak bisa dilakukan Jasmin. Sejak hubungannya kandas bersama Jack, ia tidak mempunyai pasangan lagi.

Padalah, mereka sudah menjalin hubungan hampir sepuluh tahun. , pria itu justru mendua, hal yang sama sekali tidak bisa ditoleransi dan mau tak mau mengakhiri hubungan mereka.

Kini, Jasmin berjalan gontai keluar area rumah sakit.

“Jasmin, kau baru genap berusia tiga puluh tahun. Namun, sudah mengalami menopause. Apakah itu masuk akal?” Bahkan batin Jasmin menolak hasil diagnosa.

Intuisinya menyatakan, bahwa ia masih punya kesempatan untuk  menikah dan melahirkan beberapa bayi menggemaskan.

“Tidak! Setengah jam lalu aku baru saja memenangkan kasus yang ke seratus lima puluh. Dalam duniaku, aku sering mengalahkan orang lain. Menopause kecil ini, mau mengalahkanku? Tidak mungkin.”

Jasmin mulai berselancar ke dunia maya. Mencari penyebab serta ciri-ciri penuaan ovarium sekaligus cara mengatasinya. Seolah gadis dengan tinggi seratus tujuh puluh lima senti meter itu tak percaya pada hasil pemeriksaan dokter.

Panas, cemas, mulut kering…

“Sial!” umpat Jasmin sembari menutup kasar laptopnya. Ia membaca semua ciri-ciri menopause. Dan ya, semua ciri-ciri tersebut telah dialaminya. Jasmin panik bukan main.

Sebagai wanita dengan prestasi melejit. Memiliki latar belakang keluarga terpandang. Karir bagus. Tubuh semampai bak model profesional.

Wajah selayaknya boneka. Rambut hitam lebat lurus. Gigi putih rapi. Kulit putih bersih. Dan yang tak kalah menariknya adalah Jasmin merupakan putri tunggal, pewaris perusahaan garmen yang didirikan ayahnya empat puluh tahun silam.

Namun, semua poin plus itu tak berguna ketika dihadapkan dengan kenyataan pahit. Penuaan dini seakan merenggut masa depan gadis berparas cantik tersebut.

Jasmin merasa tak berguna sebagai wanita. Kodrat bergelar ‘ibu’ yang didamba, mungkin tak akan pernah disandangnya.

Malam itu Jasmin benar-benar putus asa. Diagnosa sang dokter membuat dadanya sesak, frustrasi menumpuk hingga akhirnya ia menyeret dirinya ke sebuah klub malam.

Musik berdentum keras, lampu berpendar, dan segelas demi segelas minuman favoritnya meluncur ke tenggorokan.

“Segelas lagi,” pinta Jasmin pada barman, menyodorkan gelas kosong.

Di sampingnya, Reyna, sahabat karibnya, mendecak pelan. “Aku sudah bilang sejak dulu. Terlalu lama hidup sendiri itu bisa mengubah sifat dan dirimu sendiri.”

Jasmin terkekeh hambar. Ia menunduk, memutar gelas di tangannya. “Berubah jadi perawan tua, maksudmu?” gumamnya, senyum getir terbit di sudut bibir.

Reyna menghela napas, lalu mencondongkan tubuh. “Sudah berapa lama kamu tidak menstruasi?”

Jasmin tidak menjawab, hanya mengangkat bahunya pelan, lalu kembali menyesap minumannya.

“Aku serius, Jasmin. Kamu sepertinya memang butuh pria yang tepat,” kata Reyna lagi, tatapannya lebih serius. “Setelah putus dari laki-laki itu, kamu tidak pernah dekat sama pria manapun.”

Kata-kata itu menghantam tepat di kepala Jasmin. Ia meneguk minumannya dalam satu tarikan, seolah ingin menenggelamkan suara sahabatnya sendiri.

“Cari pria?” Jasmin tertawa pelan, nyaris tanpa suara. “Memangnya cuma itu solusi yang ada dan paling gampang?”

“Bukan gampang,” sahut Reyna cepat. “Tapi realistis. Wanita juga butuh kehidupan seksual yang sehat. Lagipula, saran dokter juga begitu, kan?”

Jasmin memejamkan mata sesaat.

“Kehidupan seksual… tetap saja harus dengan orang yang tepat,” gumamnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Selama ini, Jasmin memang selalu menjaga batasan. Ia tak akan menyerahkan tubuhnya pada sembarang orang. Itu adalah prinsipnya.

Barman kembali datang, menuangkan minuman baru. “Ini pesanan tambahan, Kak.”

Ketika Jasmin baru saja mengambil gelas minuman itu, Reyna kembali bersuara sambil menyenggol lengannya pelan, “Eh, liat deh dia. Ganteng ya.”

Jasmin menoleh ke arah yang dituju oleh sahabatnya. Di sana, ia melihat seorang pemuda duduk sendirian. Dari postur dan wajahnya, Jasmin bisa menebak jika usia pemuda itu mungkin jauh di bawahnya.

“Sadar, kamu sudah punya pacar,” tukas Jasmin malas.

“Ck, bukan buat aku, tapi kamu,” balas Reyna sambil berdecak pelan, tapi ketika ia ingin kembali bicara, ponselnya lebih dulu bergetar, menampilkan panggilan masuk dari kekasihnya. “Eh, pacarku menelpon, aku pergi dulu ya.”

Tanpa menunggu jawaban Jasmin, Reyna segera melangkah pergi dengan cepat. Sementara itu, Jasmin hanya bisa mendengus kesal.

Jasmin melirik jam di ponselnya, hampir tengah malam. Kepalanya terasa semakin berat. Tak ingin pingsan di bar, akhirnya Jasmin memutuskan untuk pergi ke hotel terdekat.

Jasmin keluar dari bar dengan langkah sedikit gontai. Sebenarnya, hotel di sekitar bar itu lebih tampak seperti tempat singgah sederhana, bukan hotel berbintang empat atau lima. Namun, setidaknya bisa menjadi tempat tidur semalam yang cukup aman, mungkin.

Setelah mengisi buku tamu dan menerima sebuah kunci logam kecil dengan gantungan nomor kamar, Jasmin naik ke lantai dua. 

Di depan kamar, ia menyelipkan kunci ke lubang. Tangannya gemetar. Ia tidak benar-benar memutarnya. Pintu itu terbuka sendiri dengan bunyi lirih.

“Ah…,” gumamnya pelan, mengira memang begitu caranya. Kepalanya terlalu penuh untuk curiga.

Jasmin melangkah masuk, menutup pintu seadanya, lalu menjatuhkan diri ke ranjang. Tas tergeletak entah di mana. Sepatu pun tak sempat dilepas rapi. Dunia mengecil, lampu kamar terasa terlalu terang, lalu semuanya padam.

***

Pagi berikutnya, Jasmin terbangun dengan dahi berkerut, mulut kering, dan kepala berdenyut seperti dipukul palu kecil berulang kali.

“Nghh …” lenguh Jasmin pelan sambil meregangkan tangan. Ia bergeser, hendak mencari ponsel, tetapi lengannya menyentuh sesuatu yang hangat.

Jasmin membeku, lalu perlahan menoleh.

Dengan napas tertahan, Jasmin menurunkan pandangan pada diri sendiri. Tubuhnya terasa berbeda. Ada rasa pegal yang tak biasa di pinggang, lalu sensasi nyeri samar di bagian bawah perutnya, seperti sisa tekanan yang tertinggal. Jantungnya makin berisik, berdentum tak karuan.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba meraba ingatan. Kosong. Yang ada hanya sisa rasa tak nyaman itu, cukup jelas untuk menyalakan dugaan yang tak ingin ia akui.

“Ini… beneran?” bisiknya lirih, lebih seperti bertanya pada tubuhnya sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Aku Adalah Obatmu

    “Bajumu basah, gantilah dulu,” ucap Jasmin setelah membawa Azura ke dalam rumah Muskan.Kini Jasmin berada di dalam kamar Azura. Wanita itu berniat menemaninya usai menyaksikan kejadian menyakitkan. Jasmin berniat menghibur lelaki tersebut.Pemuda dengan kemeja putih itu akhirnya tertidur setelah mengalami banyak hal berat.“Azura, maafkan Ibu, Nak.” Dalam mimpi, Azura kembali ke masa kecil. Menyaksikan dengan mata kepala dimana Ibunya jatuh pingsan.“Ayah, Ibuku pingsan.” Azura kecil menghubungi Muskan melalui telpon genggam.“Ayahmu tidak ada di sini! Jangan telepon dia lagi!” Naas, orang yang menjawab panggilan darurat tersebut adalah Sarah, alih-alih Muskan.“Ibu!” Azura kecil berteriak ketakutan kala menyaksikan sang ibu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.“Aku membakar semua surat yang kau tulis. Aku memang merebut suamimu!” Kemudian mimpi itu beralih ke rumah sakit, tempat dimana Megan menjalani perawatan secara intensif. Di sana Sarah melabrak Megan yang dalam kondisi antar

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Jasmin Melihatnya

    “Kemarin aku pergi bersama Ayah. Ayah juga ada di sana,” terang Azura, berusaha meluruskan kesalah pahaman.“Kau pikir kau pantas memanggil suamiku Ayah? Kau lahir di luar nikah. Anak haram! Pergi dari keluarga Muskan!” Sarah kian murka, alih-alih percaya.Wanita dengan kunciran rambut perak itu mengusir sang anak tiri. Mendorongnya keras hingga jatuh ke dalam kolam.Sialnya, situasi memalukan itu justru disaksikan Jasmin. Gadis itu pun terkejut sekaligus simpatik.Ya, simpatik. Bagaimana tidak, hari itu masih suasana berkabung. Bahkan semua tamu masih berada di ruang duka memberi ucapan belasungkawa atas meninggalnya putra pertama keluarga kaya itu.Namun, di tempat lain. Istri Muskan justru membuat keributan. Menuding Azura tanpa tendensi.“Jangan kira setelah Marcel meninggal, kau bisa masuk ke dalam keluarga Muskan begitu saja! Pergi dari sini! Pergi!” usir Sarah sekali lagi.Bukan salah Azura menjadi anak di luar nikah. Dia tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga mana. Az

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Bukan Marga Frederick

    “Mengapa dia di sini?” Benak Jasmin bertanya, bagaimana bisa Azura ada di antara keluarga Muskan. Anehnya, lelaki itu justru menerima tamu berdatangan selayaknya keluarga duka.Sementara Jack mengintip mantan sekaligus anak buahnya itu dari arah belakang. Jarak mereka tidak begitu jauh. Sekitar lima meter.Jasmin dan Azura saling menatap satu sama lain. Seperti ada makna tersirat dari keduanya. Benak Jasmin masih mempertanyakan posisi Azura dalam keluarga konglomerat itu. Sedangkan Azura sendiri masih dalam suasana berkabung. Mimik pria dengan setelan jas hitam itu menunjukkan kehilangan sekaligus rindu.Ya, Azura merindukan Jasmin. Aroma tubuhnya, lekukannya, suaranya, dan sentuhannya. Azura merasa tumbuh sesuatu yang istimewa di dalam sana terkait Jasmin.“Turut berduka cita, Tuan muda.” Jack menghampiri dua insan beda generasi itu. Menjulurkan tangan kepada Azura sebagai ucapan belasungkawa.“Astaga, ternyata aku tidur bersama Tuan muda.” Sontak Jasmin terkesiap begitu tahu latar b

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kantor Polisi

    Jasmin merapikan pakaiannya yang tidak kusut. Lalu menatap marah Azura. Sejak tadi pria itu diam saja. Seolah menunjukkan sikap kooperatifnya sebagai tersangka perzinahan.“Brengsek!” Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Jasmin mengumpat tepat di depan Azura. Dalam hati ia bersumpah tak akan memaafkan pria itu.Beberapa hari lalu Jasmin bergelut dengan kasus hukum, yang mana kasus tersebut adalah tentang perzinahan.Dalam kasus tersebut, Jasmin membela seorang gadis belia yang dijebak oleh kekasihnya. Dalam masa persidangan, Jasmin menentang keras kasus perzinahan. Ia bahkan menolak keras opini masyarakat yang kerap menormalisasikan zina.Namun, siapa sangka pagi itu Jasmin justru menjadi tersangka kasus perzinahan. Hal kontra dengan sikap serta prinsipnya.“Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu? Apa kau bisu?” Di mobil polisi, Jasmin mempertanyakan sikap Azura yang terkesan acuh.“Mengapa aku harus? Bukankah benar yang mereka tuduhkan? Semalam kita–”“Cukup!”Jasmin membekap mulut

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Lantai Dua

    Jasmin buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Jasmin justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul.“Berisik sekali!”Sontak Jasmin menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tatapannya tajam mengintimidasi, rambut berantakan, wajahnya masih kusut khas bangun tidur, tapi dahinya sedikit berkerut.“Masuk kamarku sembarangan, lalu sekarang mengganggu tidurku,” gumam pemuda itu sambil berdecak kesal.Jasmin membelalakkan matanya. Apa maksudnya?Selama ini ia menjaga diri. Bukan karena suci atau kolot, tapi karena pilihan. Sebab, ia tahu batasnya sendiri. Dan pagi ini, batas itu terasa seperti diinjak lalu ditinggalkan begitu saja.Dadanya naik turun cepat. Amarah yang semula tertahan kini mendesak keluar, karena tuduhan pemuda itu.“Apa?” suara Jasmin meninggi, pecah sebelum sempat disaring akal sehat. “Kamarmu?”Ia membelalakkan mata, lalu dengan tangan gemetar mengelu

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Diagnosa Dokter

    “Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Jasmin.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Jasmin, keningnya hampir menyatu. Masih terdengar ambigu penjelasan dokter itu.“Sederhananya, Anda mengalami menopause dini.”Ucapan itu menghantam dada Jasmin begitu keras.Hari itu, Jasmin memeriksa siklus menstruasi sekaligus organ reproduksi setelah beberapa bulan tidak mendapat menstruasi. Namun, siapa sangka bila hasil pemeriksaan dokter justru menyatakan bila ia mengalami tanda-tanda menopause dini.Ironisnya, usia Jasmin masih terbilang produktif, tiga puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mengalami hal mengerikan itu.Dunia Jasmin seakan berhenti sejenak. Lantas otaknya kembali berputar, berkelana mencari solusi yang sekiranya bisa mengubah hasil diagnosa itu. Seharusnya, wanita berdarah ca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status