LOGIN
“Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”
Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Anggun.
“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Anggun, keningnya hampir menyatu. Masih terdengar ambigu penjelasan dokter itu.
“Sederhananya, Anda mengalami menopause dini.”
Ucapan itu menghantam dada Anggun begitu keras.
Hari itu, Anggun memeriksa siklus menstruasi sekaligus organ reproduksi setelah beberapa bulan tidak mendapat menstruasi. Namun, siapa sangka bila hasil pemeriksaan dokter justru menyatakan bila ia mengalami tanda-tanda menopause dini.
Ironisnya, usia Anggun masih terbilang produktif, tiga puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mengalami hal mengerikan itu.
Dunia Anggun seakan berhenti sejenak. Lantas otaknya kembali berputar, berkelana mencari solusi yang sekiranya bisa mengubah hasil diagnosa itu.
Seharusnya, wanita berdarah campuran Jawa Sulawesi tersebut menikmati masa-masa percintaan.
Profesinya sebagai manager bank nasional, serta dikagumi banyak kaum adam tidak bisa mengubah fakta, bahwa ia telah mengalami penuaan ovarium, atau yang lebih dikenal dengan menopause dini.
“Ini apa ada obatnya, Dok? Atau mungkin untuk memperbaiki siklus menstruasi saya,” kata Anggun dengan sedikit harapan.
"Menstruasi Anda bisa kembali normal jika melakukan pengobatan secara alami. Misalnya berhubungan intim bersama pasangan. Hal itu akan lebih mudah mengumpan mens Anda, Nona. Karena terlalu banyak konsumsi obat kimia juga tidak akan baik untuk kesehatan jangka panjang Anda."
Inilah yang tidak bisa dilakukan Anggun. Sejak hubungannya kandas bersama Diki, ia tidak mempunyai pasangan lagi.
Padalah, mereka sudah menjalin hubungan hampir sepuluh tahun. Pria itu justru mendua, hal yang sama sekali tidak bisa ditoleransi dan mau tak mau mengakhiri hubungan mereka.
Kini, Anggun berjalan gontai keluar area rumah sakit.
“Anggun, kau baru genap berusia tiga puluh tahun. Namun, sudah mengalami menopause. Apakah itu masuk akal?” Bahkan batin Anggun menolak hasil diagnosa.
Intuisinya menyatakan, bahwa ia masih punya kesempatan untuk menikah dan melahirkan beberapa bayi menggemaskan.
“Tidak! Setengah jam lalu aku baru saja memenangkan tender yang ke seratus. Dalam duniaku, aku sering mengalahkan orang lain. Menopause kecil ini, mau mengalahkanku? Tidak mungkin.”
Anggun mulai berselancar ke dunia maya. Mencari penyebab serta ciri-ciri penuaan ovarium sekaligus cara mengatasinya. Seolah gadis dengan tinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter itu tak percaya pada hasil pemeriksaan dokter.
Panas, cemas, mulut kering…
“Sial!” umpat Anggun sembari menutup kasar laptopnya. Ia membaca semua ciri-ciri menopause. Dan ya, semua ciri-ciri tersebut telah dialaminya. Anggun panik bukan main.
Sebagai wanita dengan prestasi melejit. Memiliki latar belakang keluarga terpandang. Karir bagus. Tubuh semampai bak model profesional.
Wajah selayaknya boneka. Rambut hitam lebat lurus. Gigi putih rapi. Kulit putih bersih. Dan yang tak kalah menariknya adalah Anggun merupakan putri tunggal, pewaris perusahaan investasi yang didirikan ayahnya empat puluh tahun silam.
Namun, semua poin plus itu tak berguna ketika dihadapkan dengan kenyataan pahit. Penuaan dini seakan merenggut masa depan gadis berparas cantik tersebut.
Anggun merasa tak berguna sebagai wanita. Kodrat bergelar ‘ibu’ yang didamba, mungkin tak akan pernah disandangnya.
Malam itu Anggun benar-benar putus asa. Diagnosa sang dokter membuat dadanya sesak, frustrasi menumpuk hingga akhirnya ia menyeret dirinya ke sebuah klub malam.
Musik berdentum keras, lampu berpendar, dan segelas demi segelas minuman favoritnya meluncur ke tenggorokan.
“Segelas lagi,” pinta Anggun pada barman, menyodorkan gelas kosong.
Di sampingnya, Rena, sahabat karibnya, mendecak pelan. “Aku sudah bilang sejak dulu. Terlalu lama hidup sendiri itu bisa mengubah sifat dan dirimu sendiri.”
Anggun terkekeh hambar. Ia menunduk, memutar gelas di tangannya. “Berubah jadi perawan tua, maksudmu?” gumamnya, senyum getir terbit di sudut bibir.
Rena menghela napas, lalu mencondongkan tubuh. “Sudah berapa lama kamu tidak menstruasi?”
Anggun tidak menjawab, hanya mengangkat bahunya pelan, lalu kembali menyesap minumannya.
“Aku serius, Anggun. Kamu sepertinya memang butuh pria yang tepat,” kata Rena lagi, tatapannya lebih serius. “Setelah putus dari laki-laki itu, kamu tidak pernah dekat sama pria manapun.”
Kata-kata itu menghantam tepat di kepala Anggun. Ia meneguk minumannya dalam satu tarikan, seolah ingin menenggelamkan suara sahabatnya sendiri.
“Cari pria?” Anggun tertawa pelan, nyaris tanpa suara. “Memangnya cuma itu solusi yang ada dan paling gampang?”
“Bukan gampang,” sahut Rena cepat. “Tapi realistis. Wanita juga butuh kehidupan seksual yang sehat. Lagipula, saran dokter juga begitu, kan?”
Anggun memejamkan mata sesaat.
“Kehidupan seksual… tetap saja harus dengan orang yang tepat,” gumamnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Selama ini, Anggun memang selalu menjaga batasan. Ia tak akan menyerahkan tubuhnya pada sembarang orang. Itu adalah prinsipnya.
Barman kembali datang, menuangkan minuman baru. “Ini pesanan tambahan, Kak.”
Ketika Anggun baru saja mengambil gelas minuman itu, Rena kembali bersuara sambil menyenggol lengannya pelan, “Eh, liat deh dia. Ganteng ya.”
Anggun menoleh ke arah yang dituju oleh sahabatnya. Di sana, ia melihat seorang pemuda duduk sendirian. Dari postur dan wajahnya, Anggun bisa menebak jika usia pemuda itu mungkin jauh di bawahnya.
“Sadar, kamu sudah punya pacar,” tukas Anggun malas.
“Ck, bukan buat aku, tapi kamu,” balas Rena sambil berdecak pelan, tapi ketika ia ingin kembali bicara, ponselnya lebih dulu bergetar, menampilkan panggilan masuk dari kekasihnya. “Eh, pacarku menelpon, aku pergi dulu ya.”
Tanpa menunggu jawaban Anggun, Rena segera melangkah pergi dengan cepat. Sementara itu, Anggun hanya bisa mendengus kesal.
Anggun melirik jam di ponselnya, hampir tengah malam. Kepalanya terasa semakin berat. Tak ingin pingsan di bar, akhirnya Anggun memutuskan untuk pergi ke hotel terdekat.
Anggun keluar dari bar dengan langkah sedikit gontai. Sebenarnya, hotel di sekitar bar itu lebih tampak seperti tempat singgah sederhana, bukan hotel berbintang empat atau lima. Namun, setidaknya bisa menjadi tempat tidur semalam yang cukup aman, mungkin.
Setelah mengisi buku tamu dan menerima sebuah kunci logam kecil dengan gantungan nomor kamar, Anggun naik ke lantai dua.
Di depan kamar, ia menyelipkan kunci ke lubang sampai akhirnya pintu itu terbuka sendiri dengan bunyi lirih.
“Ah…,” gumamnya pelan, mengira memang begitu caranya. Kepalanya terlalu penuh untuk curiga.
Anggun melangkah masuk, menutup pintu seadanya, lalu menjatuhkan diri ke ranjang. Tas tergeletak entah di mana. Sepatu pun tak sempat dilepas rapi. Dunia mengecil, lampu kamar terasa terlalu terang, lalu semuanya padam.
***
Pagi berikutnya, Anggun terbangun dengan dahi berkerut, mulut kering, dan kepala berdenyut seperti dipukul palu kecil berulang kali.
“Nghh …” lenguh Anggun pelan sambil meregangkan tangan. Ia bergeser, hendak mencari ponsel, tetapi lengannya menyentuh sesuatu yang hangat.
Anggun membeku, lalu perlahan menoleh.
Dengan napas tertahan, Anggun menurunkan pandangan pada diri sendiri. Tubuhnya terasa berbeda. Ada rasa pegal yang tak biasa di pinggang, lalu sensasi nyeri samar di bagian bawah perutnya, seperti sisa tekanan yang tertinggal. Jantungnya makin berisik, berdentum tak karuan.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba meraba ingatan. Kosong. Yang ada hanya sisa rasa tak nyaman itu, cukup jelas untuk menyalakan dugaan yang tak ingin ia akui.
“Ini… beneran?” bisiknya lirih, lebih seperti bertanya pada tubuhnya sendiri.
Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,
Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.
Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola
Pagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi
Malam itu tidak datang dengan tergesa. Lampu-lampu kota di balik jendela hanya menjadi latar buram ketika Anggun berdiri diam di tengah kamar, seolah sedang menimbang ulang seluruh hidupnya. Ada begitu banyak ketakutan yang pernah menahannya. Dimulai dari usia, status, masa lalu, kontrak yang mengikat tanpa rasa. Namun kini, semuanya berdiri berhadapan dengan satu perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.Sementara Azura berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Tatapan matanya lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia layangkan di dunia luar. Saat ini tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada pula paksaan.Tak lama Anggun menoleh, menatap pria itu lama, seolah ingin menghafal wajahnya, wajah seseorang yang sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi malam ini terasa jauh lebih dewasa dengan caranya mencintai.“Apa kamu masih ragu?” tanya Azura pelan.“Iya... aku takut kalau perasaan ini hanya singgah sebentar, lalu pergi diam-diam. Aku juga takut kalau set
Kertas itu tidak seharusnya ada di sana. Azura tahu benda tipis itu begitu matanya menangkap lembaran putih yang tergeletak di meja makan, terselip di antara tablet vitamin dan map berisi dokumen perusahaan yang semestinya ia bawa ke ruang kerja. Tulisan dokter tercetak rapi, dingin, dan terlalu klinis untuk berada di ruang yang seharusnya hangat.Reflek Azura berhenti melangkah. Lalu tangannya terulur tanpa sadar, lantas berhenti di udara, seolah memberi dirinya sendiri waktu untuk berpikir ulang. Namun, rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam mendadak muncul, lebih personal mengalahkan kehati-hatian.Azura pun membacanya. Awalnya satu baris, lalu baris berikutnya. Kemudian masuk pada baris kalimat yang membuat dadanya mengeras.Diagnosis: tanda penuaan dini pada sistem reproduksi dan hormonal.Reflek Azura menghela napas pelan. Bukan marah, bukan kecewa. Yang datang justru pemahaman yang terlambat. Lalu menyusul potongan-potongan memori sikap Anggun yang selama ini ia anggap se







