Share

Pesta Malam Itu

Author: Suharni
last update publish date: 2026-01-23 16:57:54

Waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam, tetapi Anggun masih sibuk dengan segudang aktifitasnya di kantor. Berjibaku dengan laporan rekening koran tiga orang nasabah berbeda, tapi datang dari instansi yang sama.

Mata Anggun menyapu baris demi baris isi rekening koran itu. Memastikan semuanya tanpa cela. Sesekali Anggun meneguk kopi latte buatannya untuk menghilangkan rasa kantuk yang mulai nakal.

"Sudah berapa?" tanya Hery begitu masuk ruangan Anggun.

"Baru dua ratus," jawab Anggun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Ego yang Runtuh

    Permana menatap Anggun dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Kalimat wanita muda itu—“tempat itu terlalu beracun untuk ditumpangi sebuah ketulusan”—terdengar begitu lugas, tanpa kepalsuan, dan langsung menghujam ulu hatinya.Sebagai pria yang terbiasa mendikte jalannya bisnis dan rumah tangga dengan otoritas mutlak, Permana bersiap mendengar argumen yang penuh pembelaan diri yang cengeng atau serangan balik yang histeris. Namun, apa yang ia dapatkan dari Anggun justru sebuah ketenangan yang dewasa, sebuah kedewasaan yang bahkan tidak pernah ia temukan pada diri Dewi, istrinya sendiri.Ruang tamu rumah itu mendadak hening. Hanya ada deru napas Permana yang berat di antara aroma teh melati hangat yang baru saja disajikan Anggun di atas meja kaca.Permana melangkah perlahan menuju sofa, lalu duduk tanpa melepaskan pandangannya dari Anggun. Egonya yang semula membara perlahan mulai menyusut, berganti dengan rasa lelah yang teramat sangat yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Pertemuan Perdana Antara Anggun dan Permana

    Sementara Azura dan Anggun sedang menghabiskan waktu berdua di dalam kehangatan vila pegunungan mereka, badai baru justru sedang berkumpul di Jakarta. Di dalam ruang kerjanya yang luas namun terasa mati, Permana berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman rumah utama. Pria paruh baya itu memegang segelas wiski yang belum disentuhnya sama sekali. Pikirannya tidak tenang. Kalimat-kalimat tegas Azura dua hari lalu terus berputar di otaknya bagaikan kaset rusak yang merobek sisa-sisa harga dirinya.“Anggun adalah duniaku sekarang, Pa. Restu atau tidak dari keluarga ini, tidak akan pernah mengubah statusnya sebagai istri sahku selamanya.”Permana menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak. Kehilangan Dewa telah menghancurkan separuh jiwanya. Kenyataan bahwa Aira membusuk di penjara telah merenggut kewibawaannya. Dan kini, Azura—satu-satunya putra yang tersisa, yang ia harapkan bisa meneruskan takhta bisnis keluarga—justru memilih membangkang demi seorang wanita asing.Ras

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Liburan Romantis

    Keesokan paginya, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih tenang. Ketegangan yang dipicu oleh kedatangan Dewi dua hari lalu perlahan menguap, digantikan oleh rutinitas pagi yang hangat.Azura berdiri di dekat jendela besar ruang tengah, menatap cangkir kopi di tangannya dengan pandangan yang dalam. Meskipun Anggun telah menunjukkan ketegaran yang luar biasa dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda trauma yang mendalam, hati kecil Azura tetap digerogoti oleh rasa bersalah.Sebagai seorang suami, Azura merasa bertanggung jawab atas ketidaknyamanan yang menimpa istrinya akibat konflik internal keluarganya. Ia tidak ingin Anggun terus-menerus dihadapkan pada atmosfer kota yang bising dan penuh intrik. Pria itu lantas meletakkan cangkirnya, lalu berjalan menghampiri Anggun yang sedang melipat beberapa helai pakaian di ruang bersantai."Anggun," panggil Azura lembut.Anggun mendongak, seraya menyugar rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang telinga, lalu tersenyum manis."Iya,

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Racun dan Drama

    Dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang berguncang hebat akibat amarah yang membakar benaknya, Dewi melangkah keluar dari kediaman Azura. Sepanjang jalan menuju rumah utama keluarga Permana, jemarinya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, kalimat-kalimat telak dari Anggun terus terngiang bagai tamparan yang tak kunjung usai.“Sampah yang sesungguhnya adalah wanita yang puluhan tahun lalu berselingkuh...”"Kurang ajar! Perempuan rendahan itu benar-benar harus disingkirkan!" makian Dewi pecah di dalam keheningan mobilnya.Dewi sebenarnya tidak tahu-menahu tentang masa lalu Anggun. Ia sama sekali tidak mengenal siapa itu Diki, tidak tahu latar belakang keluarga Anggun, ataupun kisah cinta lama wanita itu. Satu-satunya alasan Dewi mengetahui keberadaan Anggun adalah karena aduan dari Erika beberapa hari lalu. Erika bercerita dengan penuh amarah bahwa beberapa bulan lalu, ia sempat bertamu ke rumah pribadi Azura dan mendapati se

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Lawan yang Salah

    Pagi itu, langit di atas ibu kota tampak mendung, seolah melempar firasat buruk ke jendela rumah mewah milik Azura. Setelah suaminya berangkat ke kantor dengan kecupan hangat di kening yang sempat meredakan sisa ketegangan kemarin, Anggun memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur. Namun, ketenangan itu hancur berantakan ketika bel pintu utama berbunyi dengan ketukan yang tidak sabar dan kasar.Saat Anggun membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan pakaian glamor namun wajah yang sarat akan kebencian berdiri di hadapannya. Wanita itu adalah Dewi, ibu tiri Azura.Dewi tidak menunggu dipersilakan. Dengan keangkuhan yang mendarah daging, ia menerobos masuk, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan suara yang menggema angkuh. Pandangan matanya langsung tertuju pada bingkai foto pernikahan besar di ruang tamu. Wajah Dewi mengeras, matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap."Jadi benar... anak haram sialan itu benar-benar sudah gila," desis Dewi, suaranya bergetar menahan

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Aib yang Kembali Terkuak

    Ketegangan di kediaman Azura dan Anggun kembali mencapai puncaknya sore itu. Pintu rumah mewah tersebut belum sepenuhnya tertutup rapat saat Erika melangkah masuk tanpa izin, memanfaatkan kelalaian pelayan yang sedang membersihkan area depan. Namun, langkah angkuh Erika seketika terhenti tepat di koridor menuju ruang tamu utama.Matanya yang dihiasi riasan tajam itu membelalak sempurna. Di dinding utama ruang tamu, terpajang sebuah bingkai foto besar yang sangat megah. Di dalam foto itu, Azura mengenakan setelan jas hitam elegan, merangkul pinggang Anggun yang tampil anggun luar biasa dengan kebaya pernikahan berwarna putih suci. Senyuman di wajah keduanya begitu lepas, begitu nyata, tanpa ada kepalsuan kontrak yang tersisa.Napas Erika mendadak memburu. Rasa syok dan tidak percaya menghantam dadanya. Ia memang pernah bertemu Anggun di rumah itu saat dengan angkuhnya mengira Anggun adalah pembantu baru Azura, tetapi saat itu ia hanya mengira Anggun adalah wanita biasa yang kebetulan d

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Api yang Tidak Bernama

    Empat puluh dua hari setelah terpecahnya kasus kematian Dewa, semua kembali berjalan seperti biasa. Azura kembali ke aktifitasnya. Permana mulai aktif berkantor, menggantikan peran Dewa sementara. Sedangkan Dewi menggantikan posisi Aira. Sementara Anggun, tetap melanjutkan hidup seperti biasa. Beke

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Sakit Perut Melilit

    Anggun melihat kartu nama yang diberi Azura. Alisnya hampir menyatu. Ia tahu lokasi itu."Ini--" Anggun nyaris tak percaya, Azura justru tinggal di sebuah kawasan elit khusus orang kaya.Ia pun memesan taksi online melalui ponselnya. Sepuluh menit menunggu, akhirnya kendaraan umum itu datang.Koper

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Di Tengah Jalan

    Anggun terlihat canggung. Ia meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Lalu ia melirik Azura yang sedang memeriksa ponselnya dengan ekspresi aneh. Alis pria itu sedikit mengernyit. Masih mengusap jemari yang dingin, lalu Anggun mencoba mengucapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dalam

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kesepakatan Meyakinkan

    Beberapa saat setelah pernikahan. Pras dan Fatma membawa Anggun dan Azura ke rumah mereka. "Kemarilah, ikut Mama." Sesampainya di rumah, Fatma menyeret pelan Anggun untuk dibawa ke dalam kamar. Meninggalkan Azura yang selalu bungkam."Jelaskan sama Mama, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status