Home / Romansa / Dari Facebook Jadi Suami Istri / BAB 2 Antara Profesionalisme dan Perasaan

Share

BAB 2 Antara Profesionalisme dan Perasaan

Author: Maulll
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-08 19:02:57

Malam setelah pertemuan di kafe itu, Maya tidak bisa tidur nyenyak. Langit-langit kamarnya seolah berubah menjadi layar raksasa yang memutar ulang setiap detik percakapannya dengan Arlan. Suara bariton pria itu, caranya menyesap kopi, hingga bagaimana matanya menyipit saat tertawa, semuanya terekam jelas. Namun, kenyataan bahwa Arlan adalah putra dari pemilik Dirgantara Group—raksasa properti yang menjadi kompetitor utama perusahaannya—menjadi ganjalan besar di hati Maya.

​Sebagai seorang auditor di PT Mahakarya Bangun Nusantara, Maya sering memegang data rahasia terkait tender dan strategi pembebasan lahan. Jika atasannya tahu dia berhubungan dekat dengan "pangeran" dari kubu lawan, karier yang ia bangun dengan susah payah selama lima tahun bisa hancur dalam semalam. Tuduhan spionase industri bukanlah hal sepele di dunia properti yang keras ini.

​Pukul delapan pagi, Maya sudah berada di kantornya. Ia mencoba fokus pada tumpukan dokumen laporan serah terima Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) dari sebuah proyek perumahan di Jawa Barat. Namun, konsentrasinya buyar saat pintu ruangannya diketuk.

​"Maya, dipanggil Pak Baskoro ke ruang rapat utama. Sekarang," ujar Siska, sekretaris direksi, dengan wajah serius.

​Jantung Maya berdegup kencang. Apakah mereka sudah tahu? pikirnya cemas. Ia merapikan roknya, menarik napas panjang, dan melangkah menuju ruang rapat. Di dalam, Pak Baskoro, direktur operasional yang dikenal bertangan besi, sudah duduk dengan kening berkerut.

​"Duduk, Maya," perintah Pak Baskoro. "Kita punya masalah besar di proyek Green Oasis. Warga menuntut serah terima fasilitas umum segera dilakukan, tapi pihak kontraktor lama menghilang. Saya dengar, ada perusahaan baru yang mencoba mengambil alih lahan di sebelah proyek kita untuk dijadikan kawasan komersial. Jika mereka bergerak lebih cepat, akses jalan warga kita bisa tertutup."

​Maya mengamati peta lokasi yang dibentangkan di meja. "Siapa perusahaan yang mencoba masuk itu, Pak?"

​"Dirgantara Group," jawab Pak Baskoro singkat. "Dan saya dengar, proyek itu dipimpin oleh putra mahkota mereka sendiri, Arlan Dirgantara. Dia baru kembali dari luar negeri dan ingin membuktikan taringnya."

​Dunia seolah runtuh di bawah kaki Maya. Jadi, proyek yang sering diceritakan Arlan lewat pesan singkat adalah proyek yang bersinggungan langsung dengan pekerjaan Maya. Arlan tidak pernah menyebutkan nama spesifik lokasinya, dan Maya pun bersikap terlalu naif dengan menganggap itu hanya kebetulan.

​"Saya ingin kamu turun ke lapangan besok," lanjut Pak Baskoro. "Audit semua fasilitas yang ada. Pastikan tidak ada celah bagi Dirgantara Group untuk mengklaim lahan akses tersebut. Kamu adalah orang yang paling mengerti urusan PSU. Jangan biarkan mereka menang."

​Maya hanya bisa mengangguk kaku. "Baik, Pak. Saya akan siapkan tim."

Sore harinya, Maya berdiri di lokasi proyek Green Oasis. Udara panas dan debu konstruksi menyambutnya. Di kejauhan, ia melihat deretan alat berat yang sedang meratakan tanah. Warna kuningnya yang mencolok mengingatkannya pada foto profil F******k Arlan.

​"Mbak Maya? Kenalin, saya mandor di sini, namanya Jaka," seorang pria paruh baya dengan kulit terbakar matahari menyapanya.

​"Mari Pak Jaka, tunjukkan pada saya titik koordinat batas lahan kita dengan lahan sebelah," ajak Maya sambil membuka berkas denah.

​Saat mereka berjalan menyusuri batas tanah yang dipenuhi semak belukar, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam berhenti di jalan setapak yang tidak jauh dari sana. Seorang pria turun dari mobil, mengenakan kemeja biru yang lengannya digulung hingga siku dan helm proyek putih.

​Itu Arlan.

​Maya membeku. Arlan tampak sedang berbicara dengan beberapa stafnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah lahan milik PT Mahakarya. Mata Arlan kemudian beralih, memindai area sekitar hingga akhirnya tertangkap pada sosok wanita dengan kemeja putih dan kerudung yang berkibar tertiup angin.

​Arlan tampak terkejut. Ia memberikan instruksi singkat pada stafnya, lalu berjalan lebar-lebar menuju arah Maya.

​"Maya? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Arlan dengan nada yang tidak percaya.

​"Bekerja, Arlan. Sama seperti kamu," jawab Maya berusaha tetap profesional meski suaranya sedikit bergetar.

​Arlan menatap papan nama perusahaan yang tersemat di kantong kemeja Maya. Matanya menyipit. "Mahakarya? Kamu bekerja untuk Baskoro?"

​"Dan kamu memimpin proyek Dirgantara yang ingin menutup akses jalan warga kami?" balas Maya cepat.

​Hening sejenak di antara mereka. Suara mesin ekskavator yang menderu di latar belakang terasa seperti musik latar yang tegang. Persahabatan manis yang terjalin lewat aplikasi biru itu kini berhadapan dengan tembok raksasa bernama loyalitas korporasi.

​"Maya, dengarkan aku," Arlan melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh mandor Jaka yang berdiri beberapa meter di belakang. "Aku tidak bermaksud menutup akses. Secara teknis, lahan itu memang milik keluargaku sejak lama. Aku hanya menjalankan rencana bisnis yang sudah ada."

​"Rencana bisnis yang merugikan ratusan kepala keluarga di Green Oasis, Arlan. Kamu tahu betul regulasi PSU. Fasilitas umum harus bisa diakses," sahut Maya tegas. Ia tidak ingin perasaannya mengaburkan logika hukum yang ia kuasai.

​"Aku tahu. Itulah kenapa aku ingin kita bicara sebagai teman, bukan sebagai musuh di lapangan," pinta Arlan.

​"Kita tidak bisa jadi teman di sini, Arlan. Di sini, kamu adalah ancaman bagi proyekku, dan aku adalah penghalang bagi ambisimu," Maya menutup map dokumennya dengan keras. "Permisi, saya harus melanjutkan audit."

​Maya berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Ia bisa merasakan tatapan Arlan yang menusuk punggungnya. Ada rasa perih di dadanya, rasa kecewa karena pertemuan kedua mereka yang nyata harus terjadi dalam suasana penuh permusuhan.

​Malam itu, ponsel Maya bergetar berkali-kali. Pesan dari Arlan masuk bertubi-tubi.

​Arlan: "Maya, tolong jangan blokir aku. Mari bicara secara objektif."

Arlan: "Aku punya solusi yang bisa menguntungkan kedua belah pihak. Lahan itu tidak harus menjadi konflik."

Arlan: "Aku merindukan obrolan kita yang dulu, sebelum kita tahu siapa di balik layar masing-masing."

​Maya menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin membalas, ia ingin percaya bahwa ada jalan tengah. Namun, di saat yang sama, ia baru saja menerima email dari Pak Baskoro yang berisi instruksi untuk mencari "titik lemah" perizinan Dirgantara Group agar bisa diperkarakan ke jalur hukum.

​Dunia profesional menuntutnya untuk menjadi predator, sementara hatinya hanya ingin menjadi seorang wanita yang jatuh cinta pada pria yang ia temui di media sosial.

​Maya meletakkan ponselnya di meja rias dan bercermin. Ia melihat pantulan dirinya yang tampak lelah. Sebuah pikiran gila terlintas di benaknya. Jika persaingan perusahaan ini tidak bisa didamaikan, maka salah satu dari mereka harus mengalah. Tapi siapa? Dan pada harga berapa?

​Tiba-tiba, sebuah telepon masuk. Bukan dari Arlan, melainkan dari ibunya di kampung.

​"Maya, apa kabar, Nak? Itu... Ibu mau tanya, surat dari pengacara soal tanah warisan kakek sudah kamu baca? Katanya ada perusahaan besar yang mau beli tanah kita di desa dengan harga tinggi untuk dijadikan resor. Namanya kalau tidak salah... Dirgantara."

​Maya merasa kepalanya berdenyut hebat. Ini bukan lagi sekadar urusan kantor. Arlan dan keluarganya kini merambah masuk ke dalam sejarah pribadinya. Seolah takdir sedang mempermainkannya dengan benang yang saling kusut.

​Ia mengambil kembali ponselnya dan mengetik satu kalimat pendek untuk Arlan.

​Maya: "Temui aku besok malam. Bukan sebagai auditor, bukan sebagai pengembang. Hanya sebagai Maya dan Arlan."

Maya tahu, keputusan ini mungkin akan menjadi awal dari kehancuran kariernya, atau justru awal dari sebuah pernikahan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi, persis seperti suasana hatinya yang kini dipenuhi ketidakpastian. Antara F******k, kenyataan, dan masa depan, Maya sedang berdiri di persimpangan jalan yang paling berbahaya dalam hidupnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 20 Rahasia Sang Mandor

    Hujan di Singapura telah reda, meninggalkan aspal yang mengilap di bawah lampu jalanan Clarke Quay. Namun, di dalam mobil yang melaju menuju pelabuhan udara, keheningan yang tercipta jauh lebih dingin daripada udara malam. Maya masih memegang ponselnya, menatap layar yang kini gelap setelah panggilan video dari ibunya berakhir. Arlan, di sampingnya, tampak seolah baru saja dihantam oleh godam besar."Lima puluh tahun," gumam Arlan, suaranya hampir tidak terdengar di antara deru mesin mobil. "Jika akta itu valid, maka seluruh fondasi Dirgantara Group... pusat perbelanjaan itu, kompleks perkantoran Sudirman, hingga proyek Green Oasis... semuanya berdiri di atas tanah pinjaman."Maya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan logikanya yang mulai goyah. Sebagai auditor, ia terbiasa dengan angka-angka yang hilang, tapi ia tidak pernah menyangka akan menemukan bahwa seluruh "kerajaan" pria yang dicintainya adalah sebuah pinjaman sejarah. "Kakekku adalah seorang mandor, Arla

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 19 Dansa di Atas Bara

    Singapura menyambut mereka dengan kemilau lampu neon yang memantul di atas permukaan Marina Bay yang tenang. Namun, bagi Maya dan Arlan, keindahan kota singa ini terasa seperti labirin yang penuh dengan jebakan tak kasat mata. Mereka tidak lagi tinggal di apartemen mewah yang disediakan perusahaan, melainkan di sebuah hotel butik kecil di kawasan Heritage yang tidak terdaftar dalam radar protokol Dirgantara maupun Mahakarya.Target mereka malam ini adalah *The Grand Zenith Gala*, sebuah pesta eksklusif yang diadakan oleh firma hukum *Vanguard & Co.*—firma yang sama yang telah memanipulasi karier Maya selama tiga bulan terakhir. Firma ini bukan sekadar penyedia jasa hukum; mereka adalah arsitek keuangan di balik pencucian uang internasional yang digunakan Clarissa untuk menyokong ambisi Hendra Dirgantara yang gagal."Ingat, Maya," bisik Arlan sambil merapikan simpul dasi kupu-kupunya di depan cermin. "Tujuan kita bukan untuk berkonfrontasi. Kita butuh kunci enkripsi fisi

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 18 Jaring di Balik Layar

    Lampu neon di ruang kerja darurat kediaman Menteng berderit pelan, menciptakan irama monoton yang menemani kesunyian dini hari. Maya duduk mematung di depan layar monitor, matanya terpaku pada baris kode yang baru saja ia pecahkan dari server ruko Tangerang. Di sampingnya, segelas kopi yang sudah dingin tak tersentuh. Arlan masuk membawa dua helai selimut, wajahnya tampak lelah setelah berjam-jam berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengamankan Gunawan. "Maya, istirahatlah. Gunawan sudah di sel, Ibu sudah dalam pengawalan ketat di desa. Tidak ada lagi yang perlu kamu cemaskan malam ini." Maya tidak menoleh. Jemarinya menunjuk ke sebuah folder tersembunyi yang diberi nama sandi *'Project Glass'*. "Ada satu hal yang terlewat, Arlan. Gunawan memang yang menarik pelatuk ancaman itu, tapi dia tidak bekerja sendiri di sisi administratif. Dia butuh seseorang yang tahu persis jadwal auditku, lokasi ibuku, dan bahkan detail terkecil tentang akun bank pribadiku

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 17 Operasi Tengah Malam

    Hujan deras mengguyur Jakarta, menciptakan tabir air yang mengaburkan pandangan. Di sebuah ruko tua yang terletak di sudut terpencil kawasan industri Tangerang, sebuah lampu neon yang rusak berkedip-kedip, menerangi papan nama kusam bertuliskan *PT Sentosa Logistik Utama*. Ini adalah salah satu dari lima vendor fiktif yang ditemukan Maya dalam auditnya—perusahaan yang secara administratif menyerap miliaran rupiah dari Dirgantara Group, namun secara fisik hanya berupa bangunan kosong yang dikelilingi ilalang. Arlan mematikan mesin SUV hitamnya sekitar lima puluh meter dari lokasi. Di dalam kabin yang gelap, cahaya dari tablet Maya menyinari wajah mereka yang tegang. Di kursi belakang, dua pria tegap dari tim keamanan profesional yang disewa Arlan memeriksa peralatan komunikasi mereka. "Berdasarkan pelacakan GPS dari ponsel Pak Lukman sebelum disita, dia melakukan panggilan terakhir ke menara seluler di area ini," bisik Maya. "Dan menurut data penggunaan

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 16 Pembersihan Massal

    Gedung Dirgantara Group yang menjulang tinggi di kawasan Sudirman biasanya tampak seperti benteng kekuasaan yang tak tergoyahkan. Namun pagi itu, suasananya lebih mirip dengan sarang lebah yang baru saja disodok dengan galah besi. Kabar tentang kembalinya Arlan Dirgantara sebagai pimpinan tim restrukturisasi khusus telah menyebar ke setiap lantai, dari lobi hingga ruang dewan direksi yang eksklusif.Arlan melangkah masuk melalui pintu kaca utama dengan langkah yang tidak lagi ragu. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, namun ia sengaja tidak mengenakan dasi—sebuah pernyataan simbolis bahwa ia bukan lagi "anak manis" perusahaan yang patuh pada tradisi kolot. Di sampingnya, Maya berjalan dengan tas kerja berisi dokumen-dokumen yang bisa meledakkan karier siapa pun di gedung itu."Siap, Maya?" tanya Arlan pelan saat mereka berada di dalam lift eksekutif."Aku lahir untuk hari seperti ini, Arlan," jawab Maya dengan senyum tipis yang mematikan. "Ingat, mereka akan men

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 15 Kepulangan ke Sarang Srigala

    Suasana di Bandar Udara Internasional Changi pagi itu sangat kontras dengan ketenangan yang Maya rasakan di Kalimantan. Suara pengumuman penerbangan dalam berbagai bahasa, deru koper yang ditarik di atas lantai marmer, dan aroma kopi mahal yang tajam menyambut kepulangannya dari masa cuti singkat sekaligus tugas audit lapangannya. Maya berdiri di depan dinding kaca besar, menatap pesawat-pesawat yang lepas landas menuju cakrawala biru. Di sampingnya, Arlan berdiri dengan kemeja yang lebih rapi, meski bekas terbakar matahari di wajahnya masih sangat kentara."Kamu yakin ingin melakukan ini sekarang?" tanya Arlan, suaranya rendah namun penuh kekhawatiran. "Begitu kita mendarat di Jakarta, semua kamera dan mata-mata ayahku akan langsung tertuju padamu. Kamu tidak lagi berada di bawah perlindungan hukum firma Singapura jika kita keluar dari zona aman ini."Maya membetulkan letak kacamatanya, menatap pantulan dirinya di kaca. "Kita tidak bisa selamanya bersembunyi di balik h

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 7 Jejak Digital yang Mematikan

    Pagi itu, kantor PT Mahakarya Bangun Nusantara tidak lagi terasa seperti tempat kerja bagi Maya. Atmosfernya lebih menyerupai ruang interogasi. Belum sempat Maya meletakkan tasnya di meja, dua orang petugas keamanan perusahaan sudah berdiri di depan kubikelnya.​"Mbak Maya, Anda diminta segera ke r

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 6 Perjamuan di Istana Singa

    Malam itu, Jakarta diguyur hujan yang lebih tenang, namun suasana di dalam mobil SUV hitam Arlan terasa lebih membeku daripada es di kutub. Maya mengenakan gaun beludru berwarna biru tua yang dipadukan dengan syal sutra—pilihan yang menurut Arlan "aman" namun "berkelas" untuk bertemu ayahnya, Sang

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 5 Badai di Lantai Tiga Puluh

    Pukul tujuh pagi, gedung pencakar langit PT Mahakarya Bangun Nusantara tampak angkuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Maya berdiri di depan pintu lift, jemarinya meremas tali tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam pantulan pintu lift yang mengilat, ia melihat sosok wanita yang

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 4 Skenario di Ambang Pintu

    Hujan semakin menderu saat SUV hitam milik Arlan membelah kegelapan jalanan menuju desa tempat tinggal ibu Maya. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, ketegangan terasa lebih mencekam daripada badai di luar. Maya mencengkeram sabuk pengamannya, matanya terpaku pada wiper yang bergerak cepat menyap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status